Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Malam Yang Panjang


__ADS_3

"Apa Louis sudah tau kalau anak yang kamu kandung bukan anaknya?" pertanyaan yang dilontarkan Edbert mampu membuat Felia menatap lelaki itu, lelaki yang sibuk menyiapkan sarapan di dapur sedangkan dia hanya memperhatikan Edbert dari jauh.


"Dia sama sekali tidak mengetahuinya. Aku merasa sudah sangat bersalah sudah berbohong kepadanya, apa menurut ayah aku jujur aja tentang anak ini supaya tidak ada kesalahpahaman antara aku dengan Louis tentang anak ini." kata Felia yang masih memperhatikan Edbert, Edbert memilih menatap Felia saat ia sudah memindahkan masakan di piring.


"Itu tergantung kamu ayah sama sekali tidak keberatan tapi apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu?" kali ini Edbert yang memberikan sebuah pertanyaan yang membuatnya bingung.


Sungguh ini jalan yang membuatnya bingung, di satu sisi dia ingin memberitahu yang sebenarnya tentang kehamilannya dan tentang hubungannya dengan ayah mertuanya. Tapi di sisi lain ia tidak ingin kehilangan Louis apalagi sampai pernikahan ini hancur.


Edbert yang mengerti dengan sikap Felia mulai mendekati menantunya, "Apapun keputusan kamu ayah pasti akan mendukungnya, tapi kamu harus tau resikonya kalau Louis akan tau semuanya. Apa kamu yakin dengan keputusan kamu sekarang, Felia?"


Lagi-lagi ia dibuat bingung dengan ucapannya sendiri, entah kenapa ia tidak ingin kehilangan Louis dan dia juga tidak ingin kehilangan ayah mertuanya. Anggap saja dia egois yang ingin mencintai dua lelaki sekaligus, dia merasa kalau sikapnya ini sudah tidak seperti dulu lagi.


Begitu lama Edbert menunggu ucapan Felia barulah wanita itu berbicara di saat ia sudah duduk di samping wanita ini, "Tunggu sampai anak ini lahir baru aku memberitahu semuanya tentang hubungan kita dan tentang anak ini."


Edbert mengangguk dengan tangan menggenggam tangan Felia, lalu ia sibuk mempersiapkan sarapan untuk Felia dan untuk dirinya.


Kebohongan yang dilakukan Louis membuatnya semakin menggila, apalagi ia selalu berhasil bertemu Laura yang tidak dicurigai oleh Felia. Dia sangat bahagia rencana yang dia susun berjalan sempurna, dia juga ingin rencana ini tidak diketahui oleh Felia dan juga Edbert.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Laura yang melihat Louis menurunkan kedua kakinya.


Tanpa membalikan tubuh Louis melirik wanita yang masih sibuk di ranjang dengan selimut menutupi setengah badan, "Aku mau ke dapur mau ngambil minuman, kenapa kamu mau ikut juga?"


"Tidak. Boleh ambilkan aku minuman soda di kulkas?" pinta Laura membuat Louis mengangguk, Louis melangkah menuju dapur saat ia melihat jam dinding sudah menunjukan pukul tujuh malam.


Yang berarti ia sudah lama bergulat dengan Laura, ia mengatakan ingin menjemput Felia setelah pekerjaannya selesai dan dia melupakan itu semua saat ia sibuk bersama dengan Laura.


Louis buru-buru mengambil dua minuman, ia kembali ke kamar dengan membawa dua minuman. Di sana Laura melihat Louis memberikan minuman soda, lalu lelaki itu sibuk mencari sesuatu.


"Kamu lagi cari apa sayang?" tanya Laura yang sibuk membuka minuman kaleng.

__ADS_1


"Handphone. Kamu lihat handphone aku gak?" ucap Louis yang beralih menatap Laura.


Laura memberikan handphone Louis saat ia menemukan handphone itu di sampingnya, "Aku tadi melihat banyak pesan dan telepon dari istri kamu, sepertinya istri kamu mengkhawatirkan kamu sampai kamu tidak mengetahui handphone kamu berbunyi."


Louis dengan cepat mengambil handphone itu dan kembali menghubungi Felia, akhirnya panggilan itu terhubung saat ia mendengar suara Felia.


"Sayang, kamu kemana aja dari tadi aku hubungi kamu. Ini udah malam kamu tidak menjemput aku di rumah ayah?" kata Felia dari sebrang sana, sedangkan Laura yang melihat Louis sibuk menelpon Felia langsung memeluk tubuh Louis.


Louis yang ingin bicara dengan Felia merasa Laura sudah mulai memancingnya, ia sedikit menjauhkan handphone dari telinga lalu ia menatap Laura.


"Stop jangan sekarang sayang, aku lagi bicara dengan istriku. Nanti kalau dia mendengar suara kamu gimana, kamu mau istriku tau tentang hubungan kita?" kali ini Laura terdiam saat mendengar ucapan Louis, Louis yang merasa Laura mulai diam memilih mencium bibir kekasihnya.


Ia tidak ingin melihat Laura diabaikan dan dia kembali dengan handphonenya, "Maaf sayang, apa malam ini kamu bisa menginap di rumah ayah dulu. Malam ini aku tidak bisa menjemput kamu."


"Apa pekerjaan kamu terlalu banyak sampai kamu tidak bisa menjemput ku?" tanya Felia yang mengetahui kalau Louis tidak bisa menjemputnya malah suaminya ini memilih memikirkan pekerjaan.


"Ya udah malam ini aku akan menginap di rumah ayah. Tapi kamu jangan terlalu fokus mengerjakan semua pekerjaan kamu, ingat harus jaga kesehatan jangan sampai sakit."


"Iya, sayang." akhirnya panggilan itu berakhir dan Louis kembali melihat Laura.


***


"Apa Louis tidak jadi menjemput kamu malam ini?" lontar Edbert yang membawa mangkok berisi buah yang sudah di potong.


"Iya, sepertinya dia terlalu sibuk mengurus kantor jadi ia lebih memilih lembur." ucap Felia membuat Edbert duduk di samping Felia.


"Bagus dong kalau gitu jadi kita bisa berduaan. Jarang-jarang kita punya waktu berduaan seperti ini." Felia terus saja menggeleng kepala melihat tingkah laku Edbert, dia sangat senang berada di rumah ayah mertuanya apalagi lelaki ini selalu mengajak anaknya bicara.


Paginya Louis masih setia di kamar dengan memeluk tubuh Laura, keduanya sama-sama pulas di satu ranjang dengan selimut yang menutupi setengah tubuh mereka. Louis yang lebih dulu terbangun melihat kearah Laura, wanita ini selalu cantik di matanya dan ia terus membelai wajah Laura sampai ia mencium kening wanita ini.

__ADS_1


Laura yang merasa tubuhnya di sentuh kembali membuka mata, dia melihat Louis sudah sibuk menjamah seluruh tubuhnya sampai dirinya merasakan sensasi lidah Louis yang begitu menyentuh kulitnya.


"Eugh... Emhhh..." suara ******* itu keluar saat Louis menyadari Laura sudah merasakan kenikmatan, dia melihat Laura menikmati sentuhannya.


"Apa kamu menikmatinya, sayang?" tanya Louis yang memilih menghentikan kegiatan panasnya, lalu dia masih menatap Laura yang sangat menikmati permainannya.


"Iya, ini sangat nikmat. Aku ingin kamu memuaskan ku Louis, aku tidak tahan di jamah sama kamu." ucap Laura yang tidak bisa mengendalikan diri, walau Louis sudah menghentikan kegiatannya tapi ia masih merasakan sentuhan Louis.


Louis yang mendengar itu segera melanjutkan kegiatan panasnya lagi, kegiatan yang akan dia lanjut sampai siang hari. Barulah kegiatan itu selesai dan Louis memutuskan untuk menjemput Felia.


"Sayang, kenapa kamu pergi lagi. Aku tidak mau kamu pergi lagi, kenapa kamu tidak menginap lagi aja di sini." kata Laura yang melihat Louis sudah rapih, ia tersenyum melihat Laura memeluknya dengan erat.


Louis melepaskan pelukan itu dan kembali menatap Laura, "Maaf sayang aku tidak bisa menginap terlalu lama di rumah kamu, aku harus menjemput istriku di rumah ayah. Nanti kita masih bisa bertemu di tempat kerja, jadi kamu tidak perlu murung begitu."


"Enak ya jadi istri kamu bisa melihat kamu kapanpun sedangkan aku hanya bisa menunggu kedatangan kamu." lontar Laura membuat Louis terkekeh, dia dengan cepat mencium bibir Laura yang membuatnya gemas.


Ciuman itu terlepas dan ia kembali menatap Laura, "Jangan bicara gitu sayang, kamu masih bisa bertemu aku lagi. Nanti kita masih punya banyak waktu berduaan tanpa kamu membandingkan diri kamu dengan Felia."


Akhirnya Laura mengantar Louis sampai gerbang rumah, mobil hitam itu pergi setelah ia kembali masuk ke dalam rumah. Sedangkan Edbert masih nyaman dengan keberadaan Felia, ia tidak rela kalau wanita ini pergi.


"Sudah ya meluknya sebentar lagi Louis datang, aku gak mau Louis salah paham sama kamu." ucap Felia yang terus membelai rambut Edbert, dia sangat nyaman di dekat menantunya.


Apalagi dia ingin Felia menjadi miliknya tanpa ditinggal pergi seperti ini, barulah Edbert bangun dari tidurnya dan memilih menatap Felia.


Tanpa bicara Edbert masih menatap wajah Felia sampai dirinya tergoda, dia segera melahap bibir merah muda itu dengan sangat rakus sampai dirinya tidak rela kalau bibir itu di lepas gitu aja. Saking nikmatnya ciuman itu sampai mereka berdua melepaskan ciuman saat keduanya mendengar suara khas mobil Louis.


Edbert menggunakan jari tangannya untuk menghapus jejak ciumannya di bibir Felia, dia melihat Louis sudah datang. Felia sangat merinding melihat tingkah laku Edbert, baru pertama kali melihat tingkah Edbert yang genit kepadanya di saat Louis masih ada di sana.


Akhirnya keduanya meninggalkan rumah Edbert saat mobil mereka sudah menjauh dari pandangannya, barulah Edbert kembali masuk ke dalam untuk bersiap ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2