
Edbert masih berjaga untuk memastikan apa saja yang akan mereka rencanakan, sampai dimana dia mendengar kalau Laura akan menghancurkan Felia. Edbert yang mendengar itu mengepal satu tangannya, dengan tatapan mengarahkan kepada mereka.
Dia terus menatap mereka semua, sekarang tatapan itu sudah beralih kearah Laura. Wanita yang sedang tertawa lepas dengan mereka semua, Edbert yang melihat itu tidak akan membiarkan Laura begitu saja, dia akan melakukan apapun demi menyelamatkan Felia.
"Tidak akan aku biarkan kau menghancurkan Felia Laura. Kau akan tau siapa saya, dan siapa kau sebenarnya. Saya tidak akan membiarkan kamu menghancurkan Felia, sebelum kamu melakukan itu akan aku buat hidupmu menderita Laura." ucapnya dalam hati dengan terus mengepal tangannya lalu tatapannya masih tertuju pada Laura.
Edbert meninggalkan tempat itu, dia menganggap semua ini tidak terjadi dan ia akan memulai rencananya sebelum wanita itu melakukannya lebih dulu. Edbert tersenyum melihat menantunya itu sibuk menggendong buah hatinya.
"Mau aku bantu?" tanya Edbert melihat Felia kesusahan menyusui anaknya, apalagi wanita itu sedang sarapan sampai makanannya tidak tersentuh.
"Boleh ayah." Edbert mengambil piring yang berada di meja kecil, lalu ia menarik bangku di sebelah ranjang.
Dengan telaten Edbert menyuapi Felia dengan wanita itu sibuk menyusui anaknya, Edbert terus menyuapi Felia dengan sabar sampai putranya itu terlelap selesai disusui.
Edbert menerima bayi yang diberikan Felia dari tangan wanita itu, dia melangkah ke ranjang bayi untuk meletakan anaknya.
"Selamat tidur anak Dady." ucapnya pelan dengan menyentuh pipi gembul Alfred.
"Dimana Louis? Dia belum kembali juga." kata Edbert yang tidak mendapatkan Louis di sana, Felia menggeleng saat Edbert menanyakan keberadaan Louis.
"Yasudah jangan mikirin Louis, dia itu tidak tau diri. Istrinya habis lahiran bukannya di tunggu malah ditinggal, dasar anak kurang ajar gak akan kubiarkan dia pergi-pergi lagi." oceh Edbert membuat Felia menggeleng, lalu Edbert kembali menatap Felia.
Wanita ini baru saja melahirkan sudah terlihat cantik, kecantikan Felia tidak pernah pudar sampai kapanpun itu. Dia merasa kalau Felia tetaplah cantik walaupun badannya tidak seindah dulu.
"Ayah. Kenapa ayah melihatku seperti itu? Apa ada yang salah denganku." ucap Felia yang sibuk mencari letak kesalahannya, tapi Edbert menggeleng dan dia memilih duduk di atas ranjang pasien.
"Tidak ada yang salah sama kamu Felia, ayah kaget aja kenapa kamu semakin hari semakin cantik. Malah kamu habis melahirkan tapi kecantikan kamu semakin bertambah."
"Ayah, sudah jangan puji aku. Aku gak mau dipuji seperti itu yang ada wajahku ini akan merah akibat ulahmu itu." protes Felia membuat Edbert terkekeh, dia segera menatap Felia dengan kedua tangan Felia ia genggam.
"Sayang, aku tidak suka kamu memanggilku ayah. Di depan Louis kamu boleh manggil aku ayah tetapi kalau bukan di depan Louis, kamu boleh memanggilku yang lain." kata Edbert membuat Felia tersenyum lalu dia memberikan sebuah anggukan untuk menjawab perkataan Edbert.
__ADS_1
"Baiklah."
Beberapa menit mereka terdiam akhirnya Edbert memulai pembicaraan, "Apa boleh saya menyentuhmu?"
"Nggak boleh, aku habis lahiran yang ada aku pendarahan kalau kau menyentuhku." tolak Felia dengan halus, Edbert tersenyum saat mendengar penolakan Felia lalu dia menyentuh wajah Felia.
"Aku tidak akan menyerang mu Felia, aku hanya memintamu untuk mencium pipiku bukan menyerang kamu." ujar Edbert membuat Felia malu, dia mengira kalau Edbert akan menyerangnya kembali di saat ia melahirkan.
"Aku kira...!!"
"Kamu kira apa? Kamu kira aku akan menyentuh tubuh kamu, tidak mungkin Felia. Sekarang kamu habis melahirkan mana mungkin saya menyerang kamu, nanti kalau tubuhmu sudah pulih baru saya menyerang kamu lagi."
***
Tanpa menunggu jawaban dari Felia Edbert segera menyerang Felia, tepatnya menyerang wajah Felia apalagi bibir wanita itu. Bibir yang sudah lama tidak ia sentuh dan akhirnya ia bisa merasakan bibir manis Felia.
Ciuman itu semakin dalam membuat Felia susah mengimbangi pergerakan Edbert, ia berusaha mengikuti arah bibir Edbert sampai dirinya berhasil mengikuti permainan lelaki ini. Edbert membantu Felia untuk tidur sedangkan ia sibuk menciumi bibir Felia.
"Kenapa berhenti?" harusnya pertanyaan itu keluar dari mulut Felia tapi Felia masih belum bisa membuka suara, Edbert yang mengerti tatapan itu segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Felia.
"Maaf sayang aku tidak bisa melanjutkan kegiatan kita, aku tidak ingin kelepasan nantinya. Aku akan menunggu kamu sembuh total baru aku bisa menyerang mu kembali." kata Edbert saat tangannya menyentuh wajah Felia.
Selama di rumah sakit Edbert selalu menemani Felia sampai wanita itu sudah terlelap kembali, saat Felia sudah tertidur dia baru melihat Louis muncul.
"Felia sudah tidur yah?" pertanyaan itu sontak membuatnya menatap arah pandangannya, dia melihat Louis baru saja masuk ke kamar Felia.
Kamar rawat yang di inap oleh Felia beserta anaknya, sedangkan Louis baru muncul batang hidungnya.
"Habis kemana aja kamu jam segini baru balik?" tanya Edbert yang melihat Louis dengan tatapan datar.
"Maaf ayah aku lupa kabarin ayah, selesai aku beli sarapan aku ditelepon Novan untuk ke kantor makanya aku tidak sempat kabarin Felia."
__ADS_1
"Kamu yakin?" Louis melihat tatapan ayahnya seperti mencurigainya, dia juga tidak ingin ayahnya tau kalau sebenarnya dia tidak ke kantor melainkan bertemu dengan Laura.
"Iya yah. Mana mungkin aku bohong, aku sudah bilang sama ayah aku tidak mungkin menyembunyikan apapun dari ayah. Aku sudah janji untuk menjaga Felia seperti permintaan ayah."
"Bagus kalau kamu paham maksud ayah. Kalau sampai ayah mengetahui sesuatu dari kamu, ayah tidak akan segan-segan menghajar kamu Louis. Paham kamu!" Louis tak berani mengatakan yang sebenarnya, takutnya Edbert akan menghajarnya kalau ayahnya tau semuanya.
Edbert keluar dari kamar inap Felia, hanya Louis yang menjaga Felia di dalam sedangkan ia menunggu di bangku tunggu.
• Cafe
Saat Louis keluar ingin mencari sarapan, ia tidak sengaja bertemu dengan Laura di tempat yang sama. Wanita itu sedang duduk sendiri menikmati segelas minuman, Louis yang melihat itu segera menghampiri Laura.
Laura yang mengetahui kehadiran Louis segera melemparkan senyuman, lalu Louis duduk di depan Laura.
"Tumben kamu ada di sini, buat apa kamu kemari Laura." ucap Louis yang melihat Laura sibuk mengaduk minuman.
"Biasalah kalau bukan makan." Louis menganggukkan kepala saat Laura kembali menyantap minuman itu.
"Gimana sama istri kamu apa dia sudah melahirkan seorang anak?" tanya Laura yang mengetahui bulan kelahiran Felia.
"Ya. Dia sudah melahirkan seorang anak laki-laki, sekarang dia di rawat di rumah sakit ternama." Laura memberikan anggukan saat menjawab perkataan Louis, dia kembali menatap Louis yang memanggil pelayan cafe.
Laura bangkit dari tempat duduk, dia lebih tertarik menghampiri Louis dan memilih duduk di pangkuan Louis. "Sayang, maaf aku tidak bilang sama kamu kalau aku mau resign dari kantor kamu. Aku tau aku salah gak bilang sama kamu, tapi aku lakuin ini supaya istri kamu tidak curiga dengan hubungan kita."
Louis menyingkirkan tangan Laura, dia sama sekali tidak melirik Laura melainkan menatap kearah lain, "Sayang."
"Setidaknya kamu bilang sama aku kalau kamu mau resign dari kantor bukan tiba-tiba kamu memberikan surat pengunduran diri."
"Iya aku tau aku salah, jadi kamu mau kan maafin aku?" ucap Laura yang melihat Louis tidak memandangnya, Laura yang geram dengan sikap Louis segera membuat laki-laki itu menatapnya.
"Seharusnya aku yang marah sama kamu bukan kamu, semenjak istri kamu hamil aku diabaikan sama kamu. Makanya aku berpikir kalau kamu tidak menyukaiku lagi, dan aku memutuskan untuk resign supaya aku tidak menggangu rumah tangga kamu." tutur Laura membuat Louis menatap wajah Laura, dia melihat ada kekecewaan di wajah Laura membuatnya tidak tega mendiamkan wanita ini.
__ADS_1
"Baiklah aku maafin kamu, tapi kalau kamu seperti ini lagi aku tidak akan memaafkan kamu." mendengar itu Laura segera menghamburkan pelukan di tubuh Louis dengan Louis tersenyum melihat tingkah manja Laura.