Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Apa Sekarang Kau Menyesal?


__ADS_3

Setelah selesai Edbert mengantar Felia pulang, sedangkan Tania melambaikan tangan kepada Felia saat wanita itu sudah masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan Felia tetap diam tanpa sedikitpun bersuara, Edbert yang melihat itu menggenggam tangan Felia membuat Felia sadar.


"Kamu tidak apa-apa Felia?" tanya Edbert tanpa melihat kearah Felia.


"Tidak apa-apa yah."


"Kamu masih kepikiran perkataan saya yang barusan?" mendengar itu Felia segera menatap Edbert yang masih fokus menyetir.


"Ucapan ayah barusan cuman bercanda kan nggak serius." Edbert tersenyum saat mendengar pertanyaan Felia, lalu dia mencari tempat untuk menghentikan mobil.


Saat mobil itu berhenti Edbert menatap Felia begitupun dengan Felia, "Apa yang ayah katakan itu kebenaran Felia. Saya memang mencintai kamu saat kamu datang meminta restu hubungan kamu dengan Louis, tapi ayah berusaha untuk menghilangkan perasaan ayah ke kamu. Sudah lama ayah memendam perasaan ini Felia, apakah kamu mau menikah denganku Felia?"


Felia kaget saat mendengar ungkapan hati yang keluar dari mulut Edbert, Sebenarnya ia sudah mengetahui perasaan ayah mertuanya tapi dia menganggap kalau perasaan itu sebatas menantu dan ayah. Melihat respon Felia Edbert sudah mengira dan menebak kalau Felia tidak akan menerimanya.


Dia akan membuang perasaan itu dan menganggap perasaan ini tidak ada, tapi dugaannya salah kalau perkataan Felia membuatnya tidak percaya.


"Aku juga mencintaimu ayah." gumam Felia pelan. Dia kira Edbert tidak mendengar perkataannya tapi ternyata kuping Edbert terlalu tajam untuk suaranya.


"Felia, apa ucapan kamu itu benar?" tanya Edbert yang tidak terlalu mendengar jelas apa yang dikatakan Felia, karena dia kaget saat mendengarnya.


"Aku tau ayah mendengarnya. Tapi ayah apa ayah ingin menungguku... Menunggu jawabanku. Jujur aku takut untuk menjalin hubungan dengan orang baru, apalagi kalau aku mendengar tanggapan orang lain tentang aku menerima perasaan ayah mertuaku sendiri." kata Felia membuat wanita itu sedikit menunduk lalu dia memberanikan diri menatap Edbert.


"Ya! Ayah akan selalu menunggu kamu Felia sampai kamu benar-benar menerima ayah." Felia tersenyum melihat reaksi Edbert, apa sebahagia itu saat ayah mertuanya mendapat jawaban darinya.


Tapi ia akan mencoba menerima orang baru termasuk ayah, walau dia pernah melakukan kesalahan di masa lalu sampai membuatnya hamil. Tetapi sekarang ia akan kembali membuka lembaran baru dan menerima orang baru lagi.


Keesokannya Edbert akan mengungkapkan ke semua karyawan tentang hubungannya dengan Felia, tidak hanya itu saja Edbert akan memberikan sebuah undangan pertunangannya dengan Felia.


Tibalah mereka di kantor, semua karyawan sudah berkumpul di ruangan khusus. Disanalah Edbert datang bersama dengan Felia, melihat keberadaan Felia di antara Edbert membuat semua karyawan pada bertanya-tanya.

__ADS_1


Apa mereka memiliki hubungan? Kenapa Felia bisa dekat dengan Edbert? Itulah yang ada di benak mereka saat melihat keberadaan Felia di sisi Edbert.


"Baik semuanya, terima kasih kalian sudah menyempatkan waktu untuk saya. Saya meminta kalian berkumpul di sini untuk menyampaikan berita bahagia ke kalian. Pertama saya mengucapkan terima kasih karena berkat kalian perusahaan semakin maju dan yang kedua saya dengan Felia akan segera bertunangan."


Mendengar berita itu semua karyawan pada membisu tanpa mengucapkan sepatah katapun, antara kaget atau apakah yang ada di benak mereka yang pasti mereka terkejut dengan apa yang Edbert katakan.


"Pak! Apa perkataan bapak barusan benar atau memang semua yang bapak ucapkan hanyalah kebohongan." ucap salah satu karyawan lelaki yang mengungkapkan secara langsung mengenai perkataan Edbert.


"Apa menurut kamu saya bohongan? Yang saya katakan benar, saya dengan Felia akan segera bertunangan dan sebentar lagi saya dengan Felia akan segera menikah. Jadi saya ingin mengatakan hal itu saja, mengenai kalian setuju atau tidak itu hak kalian. Saya tidak peduli dengan tanggapan kalian yang penting di sini saya sudah menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan ke kalian." ucap Edbert kepada para karyawan.


***


Dia pikir karyawannya akan menganggapnya aneh, tapi dia salah semua karyawan di sini pada setuju dengan keputusannya. Buktinya saja ada yang mengucapkan selamat dan ucapan lain membuat mereka berdua bahagia.


"Gimana sekarang Felia apa kamu sudah membuka hati untukku?" tanya Edbert yang melihat kearah Felia yang sibuk menatap kearah lain.


Felia tersenyum senang saat kebahagiaannya sudah datang, tetapi ia juga takut kalau kebahagiaan ini akan menjadi sia-sia. Semoga aja apa yang dia takutkan tidak seperti apa yang dia bayangkan.


Tidak butuh waktu lama lagi pertunangan mereka akan segera dilaksanakan dua hari lagi, semua persiapan yang dilakukan Edbert sangatlah cepat sampai Felia tidak percaya kalau persiapannya sudah sangat sempurna.


"Ayah, apa waktunya tidak terlalu cepat sampai mengurus pertunangan kita selama dua hari ini." kata Felia yang melihat Edbert begitu sibuk mengurus pertunangannya.


Edbert menghentikan pekerjaan lalu dia memilih menatap Felia, "Tidak Felia, lebih baik kita lakukan secepat mungkin supaya saya tidak kehilangan kamu lagi."


"Apa aku boleh membantu mengurus pertunangan kita?" tawar Felia membuat lelaki itu menghampiri Felia saat dia sudah meminta pekerja dekor untuk meninggalkannya.


"Sudah kamu tinggal duduk manis aja, biar semua ayah yang ngurus. Nanti kalau masalah pernikahan kita baru kamu yang akan ikut serta." kata Edbert membuat Felia tersenyum lalu mengangguk.


° Dua Hari Kemudian °

__ADS_1



Pelaksanaan pertunangan Felia dan Edbert akan segera lakukan, semua tamu undangan pada menunggu acara yang akan mereka lihat. Dan waktunya untuk memulai acara tersebut, di sisi lain Louis tidak mengatakan apapun kalau dirinya datang ke acara pertunangan ayahnya.


Dia hanya melihat dari kejauhan bagaimana ayah dan mantan istrinya itu melaksanakan pertunangan, di sana keduanya sama-sama terlihat bahagia saat acara tersebut dilakukan. Membuat hatinya teriris melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Felia.


Andai kebahagiaan itu untuknya pasti dia akan bahagia di dunia ini, tapi ia malah menghancurkan kebahagiaan yang sudah ada di depan mata. Apa sekarang dia bodoh sudah menyia-nyiakan wanita hebat seperti Felia, andai ia tidak melakukan kebodohan itu pasti hidupnya tidak seperti ini.


"Kenapa? Sekarang kau menyesal melihat mantan istrimu bahagia bersama dengan ayahmu." ucap seseorang yang duduk di sebelahnya, Louis yang penasaran menatap orang asing itu.


Dan benar saja kalau orang yang bicara dengannya barusan adalah Bob, orang kepercayaan ayahnya sekaligus sekretaris pribadi Edbert. Pria itu sedang menatap kearah Edbert dan Felia yang sedang menampilkan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Sedangkan dia yang melihat itu sedikit kecewa dengan apa yang dia lakukan, "Buat apa kau menyesal dengan perbuatan kamu sekarang, seharusnya kamu sadar dan introspeksi diri kalau apa yang kamu lakukan tidak benar. Dan sekarang sudah terjadi pada diri kamu sendiri, jangan lakukan kejadian yang dulu kepada wanita lain."


"... Karena suatu saat kamu akan mengalami yang sama melebihi kamu menyakiti perasaan Felia." selesai mengatakan itu Bob pergi dan memilih duduk di dekat Novan.


Louis sangat kecewa pada dirinya sendiri, yang dikatakan Bob benar sekarang hanya ada penyesalan di hatinya bukan lagi kesenangan seperti dulu. Wanita yang ia cintai sampai dimiliki oleh ayahnya sendiri, karena ulahnya sendiri yang membiarkan wanita seperti Felia di ambil orang lain.


Louis tersenyum melihat nasibnya sendiri lalu dia memilih pergi saat acara pertunangan itu masih berjalan, dia tidak ingin melihat kehancuran dirinya di depan orang lain apalagi bertemu dengan Felia. Rasanya dia malu bertemu dengan mereka berdua.


Louis keluar dari gedung pertunangan dan memilih mengeluarkan sebatang rokok, rokok itu ia letakan di mulut dan dia sibuk mengambil korek untuk menghidupkan batang rokok. Setelah rokok itu sudah menyala dan dia menghisap rokok tersebut, tiba-tiba saja dia mendengar suara langkah kaki yang datang.


Langkah kaki itu terhenti di sampingnya membuat Louis acuh kepada orang asing di sampingnya, "Jangan terlalu kebanyakan merokok, rokok itu tidak baik untuk kesehatan kamu."


Louis berhenti dan memilih menatap orang tersebut, dia melihat Tania berada di dekatnya dengan sibuk menatapnya.


"Jangan terlalu disesali pak. Saya tau bapak menyesal dengan semuanya tapi bapak harus bangkit dengan penyesalan bapak jangan sampai merusak kesehatan bapak." ucap Tania membuat hati Louis merasa senang, karena ada seseorang yang masih peduli dengannya.


"Terima kasih Tania kamu sudah mau peduli dengan saya. Maaf kamu tidak usah panggil saya dengan sebutan bapak, karena kamu bukan asisten rumah tangga saya Tania. Kamu panggil saya Louis aja itu lebih baik untuk kamu." urai Louis membuat Tania mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2