
Melihat Felia datang ia segara menghampiri wanita itu, Edbert membawa Felia ke sofa panjang di dekat jendela kantor. Felia diam sejenak saat tangan Edbert mengarahkan ke perut ratanya.
"Ayah, kenapa ayah terus mengelus perut aku." ucap Felia membuat Edbert menatap Felia.
Yang awalnya Edbert memeluk tubuh Felia dengan tangannya terus mengelus perut rata Felia, ia dengan cepat mengubah posisinya saling menatap Felia.
"Karena sebentar lagi anak saya akan hadir di rahim kamu."
"Apa? Gimana bisa, aku gak percaya kalau anak ini akan menjadi anak ayah. Aku yakin anak yang akan hadir adalah anak aku dengan Louis."
"Kamu yakin kalau anak itu anaknya Louis?" kali ini Edbert bertanya kepada Felia dengan memastikan kalau mereka sudah melakukan hubungan suami istri.
"Saya mau tanya sama kamu. Kamu berapa kali melakukan itu sama Louis?" pertanyaan itu membuat Felia berpikir sejenak, baru sekali masa ya sudah membuahkan hasil.
Tak ada jawaban dari Felia ia dengan cepat menjawab apa yang dia katakan, "Sekali. Hanya sekali kalian melakukan itu, dan saya sudah berkali-kali melakukan itu sama kamu. Jadi saya pastikan anak itu adalah anak saya bukan hasil jerih payah yang dibuat Louis."
"Bisa ajakan kalau melakukan hubungan itu satu kali akan membuahkan hasil."
"Bisa. Tapi prosesnya lama karena sebelum Louis melakukan itu sama kamu saya sudah menaruh benih di rahim kamu." ucap Edbert terus terang, mendengar itu membuat Felia melongo tak percaya.
"Apa? Aku 'kan udah bilang sama om, jangan melakukan itu di dalam. Kenapa om malah melakukannya, nanti kalau Louis curiga gimana."
"Suami kamu tidak akan curiga Felia. Karena suami kamu lebih mementingkan wanita lain dari pada kamu." batin Edbert masih menatap Felia.
Edbert dengan cepat menyentuh dagu Felia membuat kekasihnya menatapnya, "Kamu gak perlu khawatir Louis tidak akan tau anak yang ada di rahim kamu bukan anaknya melainkan anak saya. Apapun yang terjadi nanti saya akan selalu ada untuk kamu, dan aku akan merawat anak kita."
"Tapi gimana om bisa tau kalau aku akan mengandung anak om." kata Felia penasaran, pasalnya ia belum merasakan tanda-tanda kehamilan.
"Karena saya sudah menghitungnya, jadi kita tunggu saja siapa tau anak itu akan hadir." ujar Edbert lalu pria itu langsung mencium Felia.
__ADS_1
Baru saja Louis pulang dari villa dan memberikan hadiah berupa kalung, malah dia sudah bersama dengan Mayra. Sekarang mereka berada di sebuah mall, mall yang sering Mayra kunjungi.
Mayra terus meminta Louis menemaninya ke mall, mulai dari belanja sampai ke salon. Sibuk dengan kegiatan salon membuat Louis bosan, entah sudah berapa lama ia menunggu wanita itu yang pasti hidupnya sudah sangat membosankan.
Tanpa di sadari Mayra ia mengirim pesan untuk istrinya, pesan itu semakin lama dia kirim semakin banyak. Saking asiknya bicara dengan Felia Louis tidak sadar kalau Mayra sudah selesai.
"Sayang." panggilan Mayra mampu membuat Louis mengakhiri pesan tersebut, ia memasukan handphone kembali dan menatap Mayra.
"Kamu ini serius banget main handphonenya. Sebenarnya kamu lagi balas pesan dari siapa?" ujar Mayra menatap Louis curiga, Louis yang melihat Mayra mulai curiga langsung beranjak dan menyentuh kedua tangan Mayra.
"Aku lagi balas pesan dari rekan kerja, kenapa kamu curiga gini. Aku mana mungkin mengkhianati kamu apalagi sampai melupakan kamu."
"Kamu 'kan bilang sendiri aku tidak boleh mengkhianati kamu, sampai kontrak perjanjian itu selesai dan kamu tidak akan menggangu rumah tanggaku." kata Louis dengan jelas, Mayra yang mendengar itu langsung memeluk Louis.
Sekarang ia sudah mulai nyaman dengan pria ini dan malah ia sudah melupakan misinya sendiri, selesai dari salon keduanya memutuskan untuk pergi dari mall dan memilih mencari makanan.
Felia melangkah menuju lantai bawah tidak melihat Louis, suaminya itu terus saja tidak pulang dan kadang pulangnya seminggu sekali dengan alasan pekerjaan. Dia sebagai istri memaklumi pekerjaannya itu, tapi lama kelamaan dia semakin curiga kalau sikap Louis tidak seperti biasanya.
Felia melihat jam menunjukan pukul sepuluh malam dan dia baru membuat sarapan, Felia mengambil segelas susu dan juga roti yang terletak di meja makan. Tidak hanya susu saja yang akan dia bawa melainkan kopi, di jam segini pasti Edbert sedang sibuk diruang kerja.
Dan benar saja selesai sarapan ia memutuskan pergi ke kamar Edbert, di sana ia melihat Edbert sibuk mengurus laporan kantor. Saking sibuknya Edbert belum sadar kalau Felia berada di sana.
"Om, minum dulu." ucap Felia dengan meletakan satu gelas berisi kopi hangat, tanpa menjawab ucapan Felia lelaki itu memberikan anggukan.
Felia masih berada di sana tanpa beranjak sedikitpun, dia malah memperhatikan Edbert bekerja. Wajah serius yang ia lihat membuatnya gemas, keunggulan yang dimiliki Edbert benar-benar sempurna ditambah pria ini sangatlah berbeda.
Wajah yang tampan, hidung yang mancung, rahang yang tajam membuatnya semakin tergila-gila. Apalagi ia sangat menyukai otot-otot tubuh pria ini sangat sempurna, wajahnya yang memiliki bulu halus sangatlah mempesona. Sangat sempurna dibandingkan Louis, Louis tidak seperti dengan Edbert walaupun wajah mereka hampir sama tapi Louis tidak memiliki bulu halus yang dimiliki Edbert.
Saking seriusnya Felia memandang Edbert, dia tidak sadar kalau Edbert menatapnya. Lelaki itu malah tersenyum dan terfokus dengan kecantikan Felia. Edbert sengaja beranjak dari kursi kerja menuju tempat Felia, dia masih membayangkan tubuh Edbert sampai seseorang menyentuh pundaknya.
__ADS_1
"Lagi bayangin apa, hem." bisik Edbert tepat di telinga Felia, mendengar itu Felia dengan cepat membalikan badan menatap Edbert.
"Kenapa pria ini ada di sini. Bukannya dia masih ada di sana." batin Felia menatap Edbert yang berada di hadapannya.
"Saya sudah ada di sini Felia. Kamu-nya aja yang bengong sambil menatap saya, kamu lagi bayangin apa sampai tidak sadar saya sudah ada di samping kamu." ucap Edbert terus memandang Felia, wanita itu malah memalingkan wajah untuk tidak menatap Edbert.
"Sayang." panggilnya lembut saat Edbert menyentuh wajahnya, entah bagaimana dia bisa terpesona dengan pria ini yang pasti pria ini selalu membuatnya jatuh hati.
"Sudah jangan malu gitu, saya sudah tau kamu lagi membayangkan apa. Tanpa kamu bilang saya sudah mengetahuinya."
"Sayang aku kangen." ucapnya kembali setelah sekian detik terdiam, melihat ekspresi Felia bingung ia dengan cepat menyentuh bibir Felia.
"Sayang kangen ini dan..." Edbert mendekat tepat di teling Felia, "Kangen tubuh kamu."
Wajahnya sudah sangat merah apalagi Edbert membuatnya malu, gimana bisa lelaki ini selalu bicara itu sampai dirinya tidak bisa menatap lelaki ini.
"Sayang, jangan nunduk gitu. Gak usah malu saya sudah melihat semua tubuh kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir akan tubuhmu ini. Semua yang ada ditubuh kamu aku sudah melihatnya tanpa terkecuali, jadi malam ini aku akan menikmatinya lagi." tutur Edbert tanpa memalingkan pandangannya ke wajah Felia.
"Tapi..."
"Tapi apa sayang."
Sebelum Edbert memulainya lelaki ini masih menatapnya, "Malam ini adalah malam bahagia kita. Malam pertama kita yang harus kita lakukan."
"Maksud kamu?" pertanyaan itu mampu membuat Edbert tersenyum, senyuman yang tidak bisa diartikan hanya dia yang bisa mengartikannya.
"Iya, malam pertama kita. Saya akan membuat sesuatu di rahim kamu sampai di rahim kamu terdapat benih yang aku buat."
Saat Felia ingin menjawab ucapan Edbert, lelaki ini sudah mengunci mulutnya dengan bibir pria ini. Dia tidak habis pikir kenapa ia mau melakukan ini dan lebih parahnya malam pertamanya di renggut oleh ayah mertuanya sendiri.
__ADS_1