Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Keberangkatan Louis


__ADS_3

Felia tidak bisa berpikir jernih saat mengingat kejadian di ruang rapat, seketika tubuhnya terasa berbeda saat Louis menyentuh bibirnya tapi bibir ini tidak merasakan apapun dari sentuhan Louis.


"Ada apa denganku? Kenapa sentuhan Louis tidak ada gunanya di tubuhku. Apa jangan-jangan tubuhku ini lebih menyukai sentuhan Edbert dari pada Louis." Felia membatin dengan menatap layar komputer yang masih menyala.


Tubuhnya mengarahkan ke layar komputer sedangkan pikiran terus mengingat sentuhan Louis, di saat ia sibuk bengong menatap layar komputer seseorang datang menyentuh pundak.


"Kak!" panggil seorang melihat Felia bengong melihat layar komputer, ia tersadar saat seorang lelaki menatapnya sambil menatap berdiri di meja kerja.


"Kenapa, Bill? Kamu butuh sesuatu?" tanya Felia mengubah posisinya duduknya menjadi tegap.


"Nggak kak. Bos Louis meminta aku memanggil kakak."


Felia menunjuk jarinya kearahnya dengan mata masih menatap Bill, "Aku?"


"Baiklah, aku akan menemui bos. Kamu bisa kembali bekerja," ucapnya kembali dengan melihat Bill mengangguk.


Felia membereskan meja kerja, ia beranjak dari kursi dan melangkah keruangan Louis. Ia terus melangkah sampai kakinya sampai di pintu ruangan Louis, Felia menggunakan tangannya untuk mengetuk pintu. Mendengar suara ketukan dari luar membuat Louis bersuara, pintu terbuka melihat Felia sudah berada di ruangannya.


Tatapan Felia tak sengaja menatap Edbert, lelaki itu tersenyum kecil dengan pandangan kembali menatap Louis.


"Kamu kenapa memanggilku ke sini?" tanya Felia penasaran, lelaki itu menatap Felia dengan serius.


"Aku manggil kamu kemari untuk membahas sesuatu sama kamu." Felia masih diam mendengarkan semua perkataan Louis.


"Ayah meminta aku untuk menghadiri acara rekan bisnis, sekalian menemui rekan bisnis yang ingin bekerja sama dengan perusahaan ini. Jadi ayah datang ke perusahaan untuk membahas itu, dan kantor ini sementara akan diambil ahli oleh ayah."

__ADS_1


"Nanti kalau kamu butuh apa-apa tinggal bilang sama ayah saja. Masalah laporan kamu bisa meminta ayah untuk menandatangani semua laporan perusahaan, aku harap kamu bisa bekerja sama dengan ayah." katanya masih memandang Felia, wanita itu malah menatap Edbert yang sibuk menatap layar handphone.


"Berapa lama?" tanya Felia kembali menatap Louis saat tatapan awalnya mengarahkan ke Edbert.


"Dua sampai tidak bulan."


"Dua sampai tiga bulan? Yang benar saja Louis pergi selama itu, dan pria ini malah membiarkan perusahaan di ambil ahli oleh Edbert." batin Felia nampak tidak percaya dengan perkataan Louis, dia tidak mungkin membiarkan perusahaan ini di ambil ahli selama dua sampai tiga bulan 'kan?


"Sayang!"


"Felia!" panggil Louis membuatnya tersadar, ia kembali menatap kekasihnya.


"Apa tidak bisa acara itu di undur atau dipercepat waktu pulangnya." kata Felia mengkhawatirkan dirinya, Louis mengira bahwa Felia sedang mengkhawatirkannya.


Louis memutuskan menghampiri Felia, ia beranjak dari kursi menuju Felia. Wanita ini masih menatapnya saat tatapan mereka sama-sama bertemu, Louis menyentuh kedua tangan Felia dengan pandangan masih mengarahkan Felia.


"Kalau gitu aku ikut sama kamu." mendengar ucapan Felia mampu membuat kedua lelaki itu kaget tepatnya Edbert.


Louis menghela nafas dengan ucapan Felia, "Maaf sayang. Kamu tidak bisa membawa kamu ikut bersamaku, aku gak mau melihat kamu kelelahan. Aku mohon sama kamu, kamu tetap di sini membantu ayah mengurus kantor."


"Kamu gak usah khawatir aku tidak akan berbuat macam-macam, aku ke sana cuman membahas kantor bukan membahas yang lain. Aku janji setelah aku pulang aku akan membawa kamu liburan. Gimana?" ucap Louis melihat Felia diam, wanita ini seakan memikirkan ucapannya.


"Baiklah, aku izinin kamu pergi. Tapi kamu harus tepati janji kamu untuk ngajak aku liburan." kedua laki-laki itu tersenyum mendapatkan jawaban dari Felia.


***

__ADS_1


Tepat pukul dua belas siang Louis sudah berada di rumah untuk menyiapkan keperluannya, dia turun dari kamar membawa beberapa koper untuk ia bawa ke dalam bagasi mobil. Di sana ia melihat Felia duduk di ruang tamu dengan sibuk melamun, mendengar suara langkah kaki Felia beranjak dari sofa melangkah kearah Louis.


Melihat wajah Felia di tekuk membuat Louis tersenyum dengan menyentuh wajah Felia, "Jangan cemberut gitu. Aku akan usahakan menyelesaikan pekerjaan aku di sana, kamu jangan khawatirkan aku kamu harus jaga kesehatan jangan sampai aku pulang kamu sakit."


"Kamu yakin aku gak boleh ikut sama kamu?" ucap Felia saat ia terus memohon untuk ikut bersama dengan Louis.


Lagi-lagi pria itu tersenyum mendengar ucapan kekasihnya, ia menggenggam tangan Felia di saat Edbert masih menatap keromantisan mereka.


"Maaf sayang, kali ini aku tidak bisa ngajak kamu pergi. Aku janji akan menyelesaikan pekerjaan aku di sana, ini semua demi kita. Demi hubungan kita jadi kamu gak boleh mikirin macam-macam, oke!" tutur Louis dengan lembut, tangan lelaki itu digunakan untuk menyentuh puncak kepala Felia.


Edbert yang dari tadi hanya menonton adegan mereka memilih menghampiri mereka berdua, "Sudah jangan lama-lama nanti ketinggalan jadwal penerbangan."


Louis mengangguk mendengar ucapan Edbert, ia meminta supir membawa koper dengan tangan masih menggenggam tangan Felia. Keduanya masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan Louis ke bandara, tak butuh waktu lama mobil mereka tiba di bandara.


Mereka bertiga turun dari mobil di saat supir pribadinya mengambil troli menyimpan koper, Louis mendorong troli tersebut dengan tangan satunya masih menggenggam tangan Felia. Tiba di pintu utama bandara mereka masuk dan langkah kaki mereka berhenti, saat tiba di pintu yang terdapat satu petugas yang mengecek keperluan penerbangan.


"Sampai di sini aja kamu nganterin aku ke bandara, kamu langsung pulang sama ayah. Ingat pesan aku jangan kelelahan jaga kesehatan kamu, aku gak mau nanti kamu sakit saat aku pulang nanti." Felia mengangguk menjawab ucapan Louis, lelaki itu mendekati Felia untuk mencium kening kekasihnya.


Ciuman mereka terlepas saat mendengar suara seseorang dari belakang, "Sudah ciumannya nanti kamu telat."


Louis memilih menatap Edbert saat lelaki itu berdiri di samping Felia, "Ayah aku titip Felia ya! Aku gak mau melihat dia kelelahan apalagi sakit."


"Ya. Ya. Kamu tenang aja ayah akan menjaga pacar kesayangan kamu ini." kata Edbert dengan menyentuh pundak Felia, Louis mengangguk dan dia pergi masuk ke tempat di mana terdapat petugas.


Melihat punggung pria itu sudah menghilang Edbert menatap Felia yang masih menatap kepergian Louis, "Sudah jangan kamu tangisi dia. Lagian apa gunanya kamu merindukan dia di saat aku masih bisa menemani kamu."

__ADS_1


Mendengar ucapan Edbert mampu membuatnya tak percaya, bagaimana bisa lelaki ini mengatakan hal itu di saat putranya pergi. Edbert membawa Felia menuju mobil, mereka berdua duduk di bangku belakang dengan supir sibuk menyetir.


__ADS_2