Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Sebuah Penolakan Yang Sangat Menyakitkan


__ADS_3

Mendengar itu Laura tertawa membuat Louis bingung dengan sikap Laura, "Aku menghargai kamu? Apa aku tidak salah dengar dengan ucapanmu itu. Aku tidak mungkin menikah denganmu, kamu saja belum berpisah dengan Felia gimana aku bisa percaya dengan perkataanmu, Louis."


"Aku sudah bilang sama kamu tunggu Felia tiba ke Indonesia baru aku akan menyelesaikan masalahku, baru aku bisa menikahi kamu setelah urusanku dengan Felia selesai."


"Sudahlah. Aku capek berdebat sama kamu aku mau istirahat." Louis kembali duduk di sofa saat ia melihat kepergian Laura.


Tania yang dari tadi menguping pembicaraan mereka jadi tidak enak, karena dari tadi ia melihat bosnya bertengkar dengan kekasihnya. Tania membawa segelas minuman untuk Louis dan meletakan gelas itu.


"Tuan tidak apa-apa?" tanya Tania yang duduk di bawah sedangkan Louis berada di sofa.


Louis tersenyum saat asisten rumah tangganya ini mengkhawatirkannya, "Saya tidak apa-apa Tania. Kamu lanjut bekerja aja jangan mikirin saya."


Tania mengangguk dan dia kembali bekerja, di sisi lain Nia selalu memberikan perhatian kecil untuk Edbert tapi reaksi pria itu masih acuh. Nia datang keruangan Edbert membawa segelas kopi, Edbert yang sedang serius mengerjakan laporan kantor tidak mendengar Nia datang.


Tanpa ada suara apapun dari Nia, wanita itu sama sekali tidak pergi ia masih memandangi pria tampan yang ada di depannya.


"Bapak kalau lagi serius gini makin ganteng aja. Gak salah aku suka dengan pria ini." batin Nia yang terus memandang Edbert.


Edbert memposisikan tubuhnya tidak sengaja melihat Nia, wanita itu sedang sibuk melamun tanpa mendengar suaranya dari tadi.


"Nia!" Nia sadar saat suara bariton yang bergema di ruangan ini masuk ke pikirannya, dan dia melihat mata lelaki itu menatapnya dengan tajam.


"I-iya pak." sahut Nia membuat lelaki itu bersandar di punggung kursi.


"Kamu tidak mendengar suara saya Nia? Kenapa kamu ada di ruangan saya, bukannya kamu masih banyak pekerjaan selain melamun di sini."


"Ma-maaf pak. Saya datang keruangan bapak mau mengantarkan kopi untuk bapak."


"Kopi? Bukannya ini bukan tugas kamu? Seharusnya tugas ini diberikan OB bukan kamu yang mengerjakannya." kata Edbert saat ia melirik gelas yang berada di meja lalu dia melihat nampan di tangan Nia.


"Sudah kamu kembali bekerja, lain kali jangan melakukan pekerjaan yang bukan menjadi tugas kamu. Yang ada nanti kamu malah dimanfaatin orang lain Nia." tutur Edbert kembali membuat Nia mengangguk.


Wanita itu kembali ke tempat semula, baru saja Nia keluar dari ruangan pribadinya ia mendengar suara telepon. Raut wajahnya seketika berubah melihat Felia menghubunginya.

__ADS_1


"Ayah apa kabar? Gimana keadaan ayah di sana semuanya baik-baik aja kan?" tanya Felia dari balik layar handphone.


"Ya sayang saya baik-baik aja. Gimana kamu di sana kamu suka tinggal di sana, apa sekarang kamu sudah terbiasa mengurus perusahaan sendiri."


"Iya aku senang di sini, tapi aku juga kangen sama ayah, aku kangen sama Alfred."


"Saya juga merindukan kamu Felia. Oh ya kapan kamu kembali dan mengurus surat perpisahan kamu dengan Louis." tutur Edbert yang sedikit penasaran dengan jawaban Felia.


Semenjak Felia pergi menantunya ini tidak pernah membahas hubungannya dengan Louis, malah seperti tidak menikah sama sekali.


"Saat aku kembali aku akan mengurus surat perceraian aku dengan Louis." saat mereka asik berbicara Novan datang memberitahu jadwalnya kembali, "Ya sudah ayah aku istirahat dulu besok aku harus kembali bekerja."


Edbert mengangguk tidak lupa dengan senyumannya, "Bye ayah."


Nia dari tadi berada di sana, dia sangat penasaran siapa wanita itu. Barusan dia tidak salah dengar kalau wanita itu adalah menantunya, tapi kenapa sikapnya bukan seperti seorang ayah dan menantu, seperti seorang kekasih aja.


***


Laura kembali dengan aksinya, dia selalu melayani pria yang membayarnya dengan harga fantastis. Ini adalah peluang yang langka untuknya, semenjak melakukan kegiatan ini ia selalu mendapatkan keuntungan yang sangat besar apalagi dia mendapat job yang luar biasa.


Setiap Louis pergi bekerja ia selalu keluar menemui laki-laki berduit, lelaki miskin itu tidak tau kalau dia melakukan pekerjaan ini untuk mendapatkan uang. Gak sia-sia dia melakukan pekerjaan ini, sangat mudah menipu lelaki miskin seperti Louis.


"Memangnya aku mau menikah dengan lelaki miskin seperti dia, sudah perusahaannya lagi ada masalah. Aku yakin pasti dia sebentar lagi bangkrut dan jatuh miskin, kalau dia miskin aku dengan mudah ninggalin dia." lontar Laura saat dia sudah merapikan barang ke dalam tas, lalu dia mengambil tas itu untuk pergi dari sana.


Louis sangat tidak percaya dengan apa yang dia alami sekarang, perusahaan yang biasanya di tangani Novan sudah hampir bangkrut dan tinggal dia yang mengurus sisa yang masih ia pertahankan. Masalahnya dia bekerja dari pagi sampai sekarang belum menanyakan kabar Laura, apa dia keluyuran lagi seperti kemarin.


"Kenapa aku sekarang curiga dengan Laura, apa ini yang dirasakan Felia saat aku berselingkuh dengan Laura. Tapi dia tidak marah, buktinya aja dia masih mencintaiku. Seharusnya dia udah memberikan surat dari pengadilan tapi sampai sekarang ia belum mendapatkan surat apapun." batin Louis yang menghentikan pekerjaan dan sibuk melamun memikirkan pernikahannya.


"Lagian juga dia berpisah denganku akan menjadi janda, dan tidak diterima oleh orang lain. Memangnya dia hidup di rumah ayah tidak diomongin orang, istri orang yang tinggal dengan ayah mertuanya dan sibuk jalan-jalan keluar negeri."


"Aku yakin sebentar lagi dia akan dipermalukan dan direndahkan seperti janda pada umumnya." ucap Louis kembali dengan tersenyum senang, dia sangat percaya diri dengan khayalannya.


"Selamat pagi, pak." sapa seorang wanita yang sudah berada di ruangan Edbert, wanita itu tersenyum melihat kedatangan Edbert dan Bob.

__ADS_1


Edbert sama sekali tidak merespon sapaan dari Nia, ia malah segera menuju kursi kerja saat Bob langsung memberikan jadwal.


"Nia, kamu kenapa masih ada di sini. Bukannya keluar kenapa masih berdiri di sana." ucap Bob yang melihat Nia masih berdiri di sana dengan memandang kearah Edbert.


"Tidak pak! Apa jam istirahat pak Edbert ada jadwal? Soalnya saya ingin bicara dengan pak Edbert berdua aja." kata Nia membuat kedua lelaki itu saling menatap.


Bob melihat respon dari Edbert langsung mengecek jadwal Edbert lalu dia kembali menatap Nia, "Jam makan siang pak Edbert tidak ada jadwal apapun, tapi kamu kenapa meminta pak Edbert bicara berdua sama kamu. Apa ini menyangkut perusahaan?"


Nia tersenyum lalu menggeleng, "Tidak pak, ini bukan masalah kantor melainkan masalah pribadi saya sendiri. Baik pak kalau gitu saya permisi dulu."


Melihat kepergian Nia Bob segera menatap Edbert, "Pak! Bukannya jam makan siang bapak ingin ke perusahaan Louis, kenapa bapak malah menyetujui permintaan Nia."


"Masalah Nia lebih penting dari Louis Bob, saya mau menyelesaikan masalah saya dengan Nia karena saya tidak mau wanita itu salah paham dengan perasaannya sendiri."


Bob yang mendengar itu dibuat bingung dengan bosnya ini, ia tidak tau apa yang terjadi nanti yang pasti ia harus mengetahuinya.


"Baik pak, kalau gitu saya pergi dulu." Edbert mengangguk lalu dia melihat bayangan Bob sudah keluar dari ruangannya.


Jam makan siang waktunya Edbert menunggu kedatangan Nia, ia meminta Bob untuk tidak menggangunya apalagi karyawan di sini. Ia ingin memastikan kalau Nia tidak akan bertindak seperti ini lagi.


Tidak butuh waktu lama Nia segera pergi menemui Edbert di ruangan, dia sangat senang saat lelaki itu menyetujui permintaannya. Semoga aja lelaki itu tidak menolaknya, dan ia bisa tau isi perasaan lelaki itu.


Sampai di ruangan Edbert Nia masuk ke dalam, di sana ia melihat Edbert duduk di sofa yang sudah disediakan di ruangan itu. Edbert yang melihat Nia langsung meminta wanita itu duduk.


"Silakan Nia apa yang ingin kamu katakan sama saya, kenapa kamu meminta saya untuk bicara berdua saja sama kamu." ucap Edbert terus memandangi Nia.


Nia yang dipandang seperti itu berasa gugup di dekat lelaki ini, ia tidak tau harus melakukan apa yang pasti dia harus menyakinkan dirinya kalau lelaki ini bisa jatuh cinta kepadanya.


Sebelum bicara Nia mengambil nafas panjang lalu dibuang, saat dirinya merasa tenang baru dia bisa menatap Edbert.


"Begini pak... saya mencintai bapak." mendengar itu Edbert tersedak saat ia baru saja menelan air.


Edbert kembali bersikap normal lalu dia kembali menatap Nia, "Maksud kamu... kamu sedang mengungkapkan perasaan kamu ke saya?" tanya Edbert membuat Nia mengangguk.

__ADS_1


"Saya tidak bisa menerima kamu menjadi kekasih saya Nia." mendengar itu Nia segera bertanya kembali.


"Karena saya sudah mencintai orang lain." kata Edbert kembali membuat Nia patah hati, baru kali ini dia ditolak dengan seorang pria.


__ADS_2