Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Dia Sangat Tampan Dan Gagah


__ADS_3

Laura melempar benda pipih itu lalu dia melanjutkan kegiatan panas yang sempat tertunda, Louis sangat murka saat Laura lebih menutup panggilan dari pada mendengar ucapannya. Dia menutup matanya dengan satu tangan, saat dirinya dibuat kesal dengan wanita sialan itu.


Louis tidak sadar kalau seorang wanita menghampirinya, wanita itu terus melihat Louis saat Louis sibuk menutupi kedua matanya dengan satu tangan. Saat Louis membuka mata dia melihat ada wanita yang memandanginya.


"Tania." ucap Louis melihat Tania asisten rumah tangga sedang menatapnya.


"Eh maaf pak kalau saya lancang menatap bapak. Apa bapak lagi ada masalah sampai tidur di sofa?" tanya Tania yang masih berdiri di depan Louis.


Louis tersenyum saat Tania bertanya seperti itu, "Tidak ada masalah apapun Tania. Kenapa kamu tidak tidur ini sudah malam tidak baik wanita sepertimu tidur tengah malam."


"Saya tidak bisa tidur tuan. Mata saya susah untuk tidur, barusan saya mendengar suara tuan marah-marah dengan mba Laura. Makanya saya memutuskan untuk menghampiri tuan, saya kira tuan dengan mba Laura ada masalah jadi saya datang menghampiri tuan." ucap Tania saat wanita itu sudah duduk di samping Louis.


"Maaf Tania kalau saya mengganggu tidur kamu, saya tidak tau kalau suara saya mengganggu kamu." timpal Louis saat dia melihat Tania berada di sampingnya.


"Nggak apa-apa tuan. Mau saya buatkan sesuatu untuk tuan?" tawar Tania saat dia sudah mau beranjak, tetapi Louis menahan Tania.


"Tidak usah Tania kamu temani saya di sini aja."


"Baik tuan." jawab Tania membuat Louis nyaman dengan Tania, berada di samping Tania berasa dia mengingat Felia.


Tania sama persis dengan Felia, suara yang begitu lembut dan tutur kata yang selalu membuatnya merindukan wanita itu. Tapi sekarang dia tidak bisa melihatnya lagi, apa sekarang dia sangat merindukan Felia sampai bayangan Felia masih melintas dipikirannya.


"Felia saya sangat merindukan kamu dan merindukan putra kita. Aku tidak tau apakah aku menyesal sudah menyakiti kamu atau aku hanya merindukan kamu saja." batin Louis yang terus mengingat kebersamaannya dengan Felia.


Keesokan paginya, seorang wanita sibuk merapikan rambut dan penampilannya. Saat dia baru saja bangun ia mendengar suara handphone berbunyi, ternyata sumber suara itu memberitahu kalau dia diterima bekerja di perusahaan yang kemarin dia interview.


Saking senangnya ia segera bangun dan segera masuk ke kamar mandi, dia tidak mau sampai telat untuk datang bekerja pertama kalinya di perusahaan baru. Perempuan itu mengeluarkan motor matic yang selalu dia pakai setiap harinya.


Motor matic itu berjalan saat ia sudah menyalakan motor tersebut, ia dengan hati-hati mengendarai motor sampai dirinya tiba di perusahaan yang baru saja memanggilnya untuk bekerja.

__ADS_1


Ia masuk ke dalam parkiran untuk menyimpan motor matic tersebut, selesai menyimpan motor ia segera melangkah untuk masuk ke dalam perusahaan. Perusahaan sebesar ini adalah perusahaan yang dia impikan sampai dirinya bertemu dengan lelaki tampan dan gagah.


Dia tidak tau apakah ia bisa bertemu lelaki itu lagi atau tidak, yang pasti dia ingin mencari tau siapa lelaki itu. Nia tidak menyangka kalau ia bisa masuk ke perusahaan besar ini, ini namanya keberuntungan. Karena gak semua orang bisa masuk ke perusahaan idaman ini.


***


"Kapan aku bisa bertemu dengan pria itu! Apakah dia akan datang dan bisa bertemu dengan pria itu." gumamnya dalam hati, Nia sangat mengagumi pria tampan itu.


Hari pertama Nia bekerja di perusahaan, ia mendapatkan pekerjaan yang sangat luar biasa. Akhirnya ia bisa bertemu dengan lelaki itu lagi, lelaki tampan dan gagah itu sering membuatnya sangat tergila-gila.


"Aku tidak menyangka ternyata lelaki itu adalah pemilik perusahaan ini, aku kira dia karyawan di sini ternyata aku salah. Apa aku bisa mendapatkan pria itu, siapa tau aku bisa membuatnya jatuh cinta seperti di film yang pernah aku lihat." batinnya terus memandangi ruangan Edbert.


Sejak ia masuk ke ruang meeting, ia sudah memandang lelaki itu. Tatapan matanya, bentuk wajahnya sangat ia sukai. Apalagi cara lelaki itu bicara sangat membuatnya kagum.


Tapi entah kenapa lelaki itu tidak memandang kearahnya, malah dia seperti tidak peduli kalau banyak wanita yang melihatnya. Apa lelaki itu memiliki kelainan atau memang pria itu sudah mempunyai keluarga.


Nia yang melangkah menuju ruangan Edbert langsung berhenti, saat dia mendengar suara dari dalam ruangan. Ia tidak tau bosnya sedang bicara dengan siapa, yang dia dengar seperti bicara dengan wanita.


"Buat apa kamu berdiri di ruangan pak Edbert?" tanya seorang lelaki yang memergoki Nia sedang menguping.


Nia yang mendengar itu secepatnya menghentikan aksi konyolnya, ia menggaruk tangannya kearah kepala. Dia sudah gila melakukan hal ini, apalagi sekretaris bosnya malah memergokinya.


"Nia saya sedang bertanya sama kamu. Kenapa kamu berdiri di ruangan pak Edbert, bukannya kamu diminta untuk mengantar dokumen keruangan pak Edbert. Kenapa kamu masih berdiri di sini?" kata Bob yang menatap Nia dengan ekspresi datar.


"Saya sedang menunggu bos bicara di telepon makanya saya tidak berani masuk." ucap Nia membuat Bob berdehem.


Saat langkah kaki Bob melangkah meninggalkan ruangan Edbert, lagi-lagi wanita ini menghentikannya.


"Pak! Apa saya boleh menanyakan sesuatu sama bapak?"

__ADS_1


"Saya sudah katakan sama kamu jangan bertanya apapun tentang kehidupan pak Edbert. Itu namanya mengganggu privasi orang lain Nia, sekarang kamu fokus bekerja saja jangan banyak tanya."


"Tapi pak..." belum sempat Nia mengatakan hal yang dia inginkan lelaki itu sudah pergi.


"Apa susahnya sih tinggal jawab, aku kan ingin tau siapa wanita yang sedang bicara dengan pak Edbert." ucapnya dengan nada gerutu, mendengar tak ada suara dari dalam Nia segera mengetuk pintu itu.


Dan dia membuka pintu saat Edbert kembali fokus ke layar komputer, "Permisi pak! Saya ingin mengantarkan dokumen ini."


"Letakan saja di sana kamu boleh kembali bekerja." ucap Edbert tanpa menatap Nia, wanita itu menghela nafas saja mendengar jawaban dari lelaki ini.


"Baik pak." Nia memutuskan untuk keluar dari ruangan, Edbert menghentikan pekerjaan dengan menatap kearah pintu ruangannya.


Wanita itu benar-benar membuatnya pusing, baru menjadi karyawan baru saja sudah ingin tau masalah pribadinya. Gimana kalau wanita itu tau yang sebenarnya, apa bagian HRD salah merekrut orang malah mendapat kandidat karyawan seperti itu.


Selama perjalanan pulang Laura sangat senang mendapat pujian dari lelaki itu, lelaki yang sempat menyewanya dengan harga mahal dan ini menjadi peluang untuknya.


"Nggak sia-sia aku menerima lelaki itu ternyata bayarannya tidak main-main. Lihatlah baru sehari bermain dengannya lelaki itu sudah mentransfer uang dengan jumlah besar, ini adalah peluang bagus untukku semoga aku bisa menemukan lelaki ini lagi." ucap Laura yang berbicara dengan dirinya sendiri, lalu dia menyimpan kembali handphone itu saat ia sudah mengecek uang yang sudah masuk ke rekeningnya.


Laura kembali ke rumah, saat dia tiba di rumah ia melihat Louis duduk di ruang tamu dengan memandanginya. Lelaki itu seperti ingin mencengkram mangsa, tetapi ia tidak merasa takut dengan ekspresi wajahnya itu.


"Dari mana aja kamu Laura. Kemarin kamu kemana aja, kenapa kamu mematikan telepon gitu aja." lontar Louis dengan melipat kedua tangan.


"Aku sudah bilang sama kamu orang tua temanku masuk ke rumah sakit, apa semalam kamu tidak mendengar perkataanku."


"Memangnya temanmu itu tidak punya keluarga sampai kamu ikut campur masalah keluarga temanmu itu." timpal Louis dengan aura yang sangat menyeramkan.


"Sudahlah Louis, aku capek baru pulang kenapa kamu malah marah-marah."


Louis yang mendengar itu segera bangkit dari tempat duduk, "Gimana aku tidak marah denganmu, lihatlah kamu ini perempuan masa jam segini baru pulang. Apa kamu tidak menghargai aku sebagai kekasih kamu, apa selama ini aku memanjakan kamu sampai kamu bertindak seenak maumu."

__ADS_1


Laura menatap Louis dengan tatapan marah, apalagi lelaki ini selalu ikut campur urusan pribadinya. "Kau hanya pacarku bukan suamiku. Bukan urusan kamu aku mau kemana, apa selama ini aku selalu ikut campur masalah pribadi kamu sampai kamu ikut campur masalah hidupku?"


"Tapi Laura sebentar lagi kita mau menikah, kamu sudah sepakat mau menikah denganku. Apa kamu tidak ingat aku sudah banyak berkorban untuk kamu dan ini balasannya, apa kamu selama ini tidak pernah menghargai aku sebagai kekasih kamu, Laura."


__ADS_2