
Berakhir sudah acara pernikahan mereka, sekarang sepasang suami istri tiba di rumah Edbert. Louis memutuskan untuk tinggal di rumah ayahnya untuk sementara waktu, karena dia harus menunggu renovasi rumah selesai.
Dia sudah berjanji akan membelikan rumah untuk Felia, semua kebutuhan Felia sudah ia penuhi mulai dari mahar sampai harta yang dia miliki diberikan ke Felia. Mobil mereka tiba dengan pemilik mobil keluar dari mobil.
"Untuk sementara waktu kita tinggal di sini dulu sampai renovasi rumah selesai." Louis melihat Felia meletakan tas selempang di atas sofa, dengan sang istri duduk di sofa panjang. "Kamu tidak keberatan 'kan untuk tinggal di sini sementara waktu?" mendengar ucapan Louis membuatnya menatap dengan memberikan anggukan.
"Kalian langsung istirahat saja di kamar atas. Ayah sudah menyiapkan kamar untuk kalian." ucap Edbert menatap mereka berdua.
Baru saja Felia beranjak dari sofa dia mendengar suara handphone dari saku celana Louis, lelaki itu menatap layar handphone barulah menatap Felia.
"Kamu istirahat duluan saja aku mau angkat telepon dulu." ucapnya kepada Felia, ia pergi ketika Felia melihat kepergian Louis.
Melihat Louis pergi dia memilih duduk di sofa dengan menarik tangan Felia, "Sudah jangan khawatirkan dia. Maklumlah orang sibuk gitu kamu harus sabar sama sikap Louis yang super sibuk."
"Iya, om aku paham." mendengar panggilan Felia ia dengan cepat menatap Felia dengan tajam.
"Om? Saya ini sudah menjadi ayah mertua kamu Felia, kenapa kamu malah memanggil saya om." kata Edbert menatap menantunya dan juga kekasihnya.
"Aku lupa. Terus aku harus manggil apa?" tanya Felia dengan meminta pendapat panggilan apa yang cocok untuk Edbert.
"Sayang! Honey! Baby! Sweety!" semua panggilan yang dilontarkan Edbert mampu membuatnya malu, Louis saja tidak pernah memanggil sebutan seperti itu dan pria ini malah mengatakan panggilan romantis.
"Om aku serius. Kalau aku manggil seperti itu yang ada Louis akan curiga dengan om."
"Yasudah panggil seperti yang diucap Louis saja. Tapi kalau tidak ada Louis kamu tetap manggil saya dengan sebutan yang saya ucapkan." senyuman manis yang diberikan Felia mampu membuatnya terpesona, ia dengan cepat mengambil keuntungannya sendiri.
Walau Felia sudah menjadi menantunya tapi wanita ini tetap menjadi miliknya, dia berhasil mencium bibir Felia dengan lembut membuat pemilik bibir terbuai akan sentuhan Edbert. Sentuhan ini seharusnya diberikan untuk Louis tapi ternyata Edbert yang memberikan ciuman ini.
Keduanya saling menatap saat ciuman mereka terlepas, ia menyentuh bibir Felia untuk menghapus jejak ciumannya sampai dirinya ingin sekali melahap wanita ini.
__ADS_1
"Malam ini saya akan biarkan kamu istirahat. Tapi nanti saya akan meminta jatah dari kamu." ucap Edbert menatap Felia, ia memilih beranjak dari sofa saat Felia masih mematung di ruang tamu.
Pagi harinya Felia tidak melihat Louis di kamar, ranjang yang dia tiduri tidak ada Louis di sampingnya malah dia melihat dirinya tidur sendiri. Ia memutuskan untuk ke toilet tanpa memikirkan keberadaan Louis, langkah kakinya terhenti di meja makan saat dia melihat Edbert sarapan sendiri.
"Ayah. Kenapa ayah sarapan sendiri, dimana Louis?" tanya Felia dengan memilih bangku di hadapan Edbert.
Edbert memilih menghentikan sarapan dan memilih menatap Felia, "Saya tidak tau Felia. Tiba diruang makan saya tidak melihat Louis, saya hanya melihat bibi sibuk menyiapkan sarapan."
"Apa bibi tau kemana Louis pergi?" lagi-lagi Felia menanyakan keberadaan Louis.
"Sepertinya bibi tidak tau. Sudahlah jangan kamu pikirkan lagi sekarang kamu sarapan dan ayah akan antar kamu ke kantor." ucap Edbert, keduanya memilih sibuk sarapan bersama hanya terdengar suara dentuman sendok dan garpu saling menyatu dengan piring.
***
Tiba di kantor Edbert memilih menghentikan mobilnya di depan gedung perusahaan, ia menatap Felia yang sibuk membuka sabuk pengaman.
"Sepertinya tidak bisa yah. Aku takut nanti Louis curiga kalau aku makan siang sama ayah."
"Apa yang kamu takuti Felia, Louis tidak mungkin curiga dengan kita berdua. Dia malah bersikap biasa saja saat ayah bersama kamu." kata Edbert dengan jujur, ia juga bingung kenapa Louis tidak pernah curiga dengan hubungannya dengan Edbert.
"Yasudah, kalau urusan pekerjaanku selesai aku akan hubungi ayah untuk makan siang bersama." mendengar ucapan Felia membuatnya tersenyum, ia memberikan sedikit ciuman di kening Felia.
Sedangkan Louis sama sekali tidak pulang ke rumah karena dia sibuk dengan rekan wanitanya, tepatnya bukan rekan bisnis melainkan wanita asing yang ia temui saat dirinya berhasil keluar dari rencana jahat Cici.
Pada pandangan pertama ia sudah menyukai wanita yang mengajaknya dansa, daya tarik yang diberikan Mayra mampu membuat Louis terpesona. Malah Mayra ingin menghancurkan pria ini karena Louis sudah menikah, dia akan menghancurkan semua keluarga Edbert.
Kehancuran yang dia lakukan akan dimulai dari Louis barulah ia bisa menghancurkan Edbert dan rumah tangga Louis. Malam itu rekan bisnisnya memintanya untuk menemani Mayra, karena wanita ini yang akan menjadi rekan bisnis selama kerja sama berlangsung.
"Saya tidak menyangka bisa bekerja sama dengan kamu tuan Louis. Saya pikir kita hanya ketemu di pesta waktu itu tapi kenyataannya saya bisa menjadi rekan bisnis kamu." ucap Mayra dengan menuangkan minuman ke gelas.
__ADS_1
Sebelum Louis bicara ia memilih meminum minuman yang sudah tersedia, barulah ia bisa bicara santai dengan rekan bisnisnya.
"Kamu bisa saja. Saya senang bisa bekerja sama dengan kamu, saat di pesta kenapa saya tidak melihatmu. Apa kamu sudah pergi dari pesta itu?" kali ini Louis memilih membicarakan pesta itu dari pada membahas pekerjaan.
Mayra terdiam dengan memikirkan bagaimana dia bisa memilih kata-kata yang pas untuk ia utarakan, barulah dia kembali menatap Louis. "Sorry! Saya tidak bilang sama kamu kalau saya ada urusan pekerjaan, jadi saya main meninggalkan pesta dari pada menemui mu lebih dulu."
"No problem. Saya mengerti kamu wanita sibuk jadi saya memaklumi itu." urai Louis. Ia kembali menyibukkan diri menikmati minuman dan santapan yang tersedia di depan mata.
Akhirnya kerja sama mereka selesai, Louis memilih kembali ke kantor untuk menemui Felia. Semalam ia sempat menemui Felia tapi ia mendapatkan kabar untuk mengurus pekerjaan, jadi semalam dia tidak bisa tidur dengan Felia dan tidak bisa melakukan malam pertama bersama Felia.
Felia memilih menyibukkan diri dengan beberapa laporan kantor, melihat istrinya sibuk dengan pekerjaan membuatnya tidak tega. Baru saja Felia istirahat ia sudah memberikan pekerjaan untuk sang istri, dia memilih pergi dari tempat kerja Felia menuju ruangan pribadinya.
Yang awalnya Louis ingin mengajak Felia makan siang bersama ternyata Mayra sudah memintanya pergi, dia memilih menemui Mayra karena wanita itulah yang akan menjadi perusahaan menjadi sukses. Felia tiba di restoran dimana Louis datang bersama dengan Mayra.
Satu tempat makan berbeda tempat duduk, Felia dengan Edbert lebih memilih duduk di lantai dua sedangkan Louis berada di lantai bawah. Ruangan yang mereka pesan tidak begitu banyak pengunjung, karena mereka memintanya untuk tidak disatukan oleh pengunjung lain.
"Kamu coba cicipi makanan ini pasti kamu suka." ucap Edbert dengan memberikan makanan ke piring Felia, Felia menerima pemberian Edbert dengan senang hati.
"Gimana rasanya kamu suka?" makanan itu masuk ke dalam mulutnya bersamaan dengan Edbert menanyakan makanan yang berada di dalam mulutnya.
Felia mengangguk dengan mulut sibuk mengunyah, "Kalau kamu suka kamu bisa tambah menu di sini. Kamu harus makan yang banyak supaya kamu sehat."
Felia dibuat kaget saat wajahnya terlalu dekat dengan wajah Edbert, "Kalau kamu sehat kamu punya tenaga. Jadi kamu tidak lemas saat saya meminta jatah ke kamu."
Felia tersedak mendengar ucapan Edbert yang begitu Frontal, Edbert dengan cepat memberikan minuman untuk diberikan Felia. Setelah sedakan itu berhenti Felia menatap tajam lelaki di depannya ini.
"Om, jangan bicara yang tidak-tidak. Di sini tempat umum bukan rumah, jangan samakan tempat ramai dengan tempat sepi." ucap Felia kesal, tetapi Edbert malah tertawa melihat ekspresi wajah kesal Felia.
"Iya, om mengerti Felia. Om janji tidak mengatakan hal itu lagi, sekarang kamu habiskan makanannya nanti om akan antar kamu kembali ke kantor."
__ADS_1