
"Tania!" teriak Louis dari kejauhan membuat tubuh Tania berhenti, lalu dia membalikan tubuh saat dia mendengar suara Louis lagi.
Dia melihat Louis ada di hadapannya seperti orang habis balapan lari, di sana Louis sedang mengatur nafas saat dia berlari untuk menyusul Tania ke basement.
"Louis! Buat apa kamu di sini? Bukannya kamu akan pergi ke bandara." tanya Tania yang melihatnya Louis sudah mengatur nafasnya dengan normal.
"Aku datang kemari mau mengatakan sesuatu sama kamu."
"Apa kamu mau menungguku! Secepatnya aku akan kembali untuk mengatakan perasaanku dan melamar kamu saat aku benar-benar yakin dengan perasaanku sendiri." tutur Louis membuat Tania tidak percaya kalau Louis akan mengatakan hal ini.
Dengan cepat Tania mengangguk lalu Louis yang mendapatkan jawaban itu langsung memeluk Tania, pelukan hangat yang diberikan Louis seakan hidupnya sangat bahagia. Sebisa mungkin dia akan menunggu kedatangan Louis saat pria ini yakin dengan perasaannya.
Louis melepaskan pelukannya lalu kembali menatap Tania, "Tania aku janji setelah urusanku selesai aku akan datang menemui kamu, dan aku akan datang ke rumah orang tua kamu untuk meminta kamu menjadi pendamping hidup aku."
"Ya Louis aku akan menunggu kamu." urai Tania membuat Louis tersenyum senang.
Setelah mereka selesai bicara keduanya masuk ke dalam mobil Tania, lalu Tania keluar dari basement menuju mobil Louis yang terparkir di luar area basement. Ia menghentikan mobil saat Louis masih nyaman menatapnya.
"Kenapa? Kenapa kamu menatapku seperti itu." ujar Tania yang melihat sikap Louis sangatlah aneh.
"Tidak apa-apa Tania. Kalau gitu aku pergi dulu ya, kamu hati-hati bawa mobilnya. Kamu tunggu aku... aku akan berusaha memberikan jawaban untuk kamu." lagi-lagi Tania hanya menjawab dengan anggukan, lalu dia melihat Louis mencium bibirnya saat ia belum siap menerima ciuman dari Louis.
Tania masih menyadarkan dirinya sendiri kalau Louis benar-benar menciumnya, saat ia sudah sadar barulah Tania membalas ciuman dari Louis membuat adegan ciuman mereka semakin dalam. Setelah ciuman itu selesai Louis menatap Tania.
"Aku pergi dulu. Kamu hati-hati di jalan jangan ngebut bawa mobilnya."
"Ya!" Louis kembali mencium Tania kali ini ciuman itu mendarat di kening Tania, membuat Tania memejamkan mata merasakan ciuman Louis begitu lembut di keningnya.
Lalu Louis melepaskan ciuman itu barulah ia keluar dari mobil, Tania melambaikan tangan kearah Tania saat Tania membuka kaca mobil. Barulah mobil itu pergi setelah Tania kembali tersenyum, senyumannya tidak pernah luntur saat mengingat adegan yang Louis berikan.
Tania melanjutkan mengendarai mobil saat ia sudah selesai membayangkan adegan barusan, begitupun dengan Louis yang tidak menyangka ternyata ia bisa senekat itu mencium Tania. Dia tidak tau apakah ia sudah jatuh cinta dengan Tania, yang pasti dia akan memberikan jawaban yang seharusnya di dengar oleh Tania.
Selesai acara resepsi Felia dengan Edbert sudah berada di kamar, tentunya kamar khusus untuk pengantin. Dekor kamar sangat indah dan tertata rapih, membuat Felia yang melihatnya sangatlah takjub.
__ADS_1
Felia tersenyum melihat ranjang sudah dihiasi dengan bunga mawar merah ditambah lagi sepasang angsa, dia saja sampai tidak percaya kalau Edbert melakukan seromantis ini.
"Ayah. Apa ayah yang melakukan ini semua?" tanya Felia melihat Edbert menutup pintu kamar.
"Ya! Gimana kamu suka?"
"Suka." mendengar jawaban Felia membuat Edbert tersenyum lalu dia melangkah mendekati Felia yang sibuk melihat dekorasi yang berada di ranjang.
"Kalau kamu suka aku akan melakukan hal ini terus sama kamu. Makasih ya kamu mau menerimaku menjadi suami kamu, walau aku tidak yakin kalau kamu akan menjadi istri aku." kata Edbert yang memeluk Felia dari belakang lalu dagu yang dihiasi bulu-bulu halus menempel di pundak Felia.
Membuat Felia merasa geli dengan bulu halus yang berada di dagu Edbert, "Ayah jangan meletakan dagu ayah ke pundakku, aku merasa geli kalau bulu itu menusuk di kulitku."
"Baiklah." Edbert melepaskan pelukannya lalu dia menggunakan tangannya untuk membalikan tubuh Felia untuk menatapnya.
***
Seperti biasa Edbert selalu melakukan hal-hal romantis seperti biasanya, dia selalu memperlakukan Felia istimewa mulai dari Felia sampai Alfred. Sekarang putranya sudah mulai sekolah, ia tidak sadar kalau Alfred sudah sebesar ini dulu Alfred masih kecil sekarang sudah tumbuh besar.
Edbert yang melihat Alfred sibuk dengan mainan ia menghampiri putranya itu, "Kamu lagi apa? Kenapa Dady memanggil kamu, kamu tidak menjawabnya."
Alfred menengok dan melihat Edbert sudah duduk di sampingnya, "Maaf Dady aku tidak mendengarnya."
"Tidak apa nak." urai Edbert dengan memberikan sentuhan di kepala Alfred.
"Sayang kamu gak kerja?" tanya Felia yang lagi turun ke lantai dua menghampiri kedua lelaki yang sibuk bicara.
"Aku sudah izin sama Bob kalau hari ini aku tidak ke kantor biar dia aja yang ngurus perusahaan."
"Terus kalau Bob mengurus perusahaan kamu ngapain di rumah?" kali ini Felia melihat Edbert bangun dari tempat duduk lalu dia melangkah menghampiri Felia.
"Bantu kamu di rumah sampai kita buat adik untuk Alfred." mendengar ucapan Edbert Felia segera memukul perut Edbert membuat pria itu kesakitan.
__ADS_1
Bukannya Felia merasa bersalah atau memberikan sesuatu malah istrinya itu pergi ke dapur, "Alfred sarapan dulu nak. Hari ini pertama kamu masuk sekolah siap-siap dulu nak."
Mendengar suara Felia Alfred segera bergegas menyiapkan perlengkapan sekolah, Alfred sudah menginjak usia enam tahun dan Alfred sudah masuk sekolah kelas enam SD. Hari ini adalah hari dimana dia menjadi seorang istri sekaligus ibu untuk Alfred, apalagi melihat keluarga kecilnya membuatnya semakin bahagia melihatnya.
Felia siap-siap menyiapkan sarapan begitupun dengan Edbert dan Alfred yang sudah mengambil sarapan, Felia yang melihat dua lelaki itu yang sibuk sarapan tersenyum senang. Karena baginya semuanya seperti mimpi, dia tidak pernah membayangkan memiliki keluarga seindah ini.
"Bunda, apa pulang sekolah aku boleh jalan-jalan sama Dady?" tanya Alfred yang menyadarkan Felia yang sibuk melamun.
"Boleh sayang. Alfred harus janji sama bunda selesai jalan-jalan kamu harus belajar."
"Ya bunda."
Selesai sarapan Felia mengantar Alfred dan Edbert sampai pintu, dia melihat putranya itu masuk ke dalam lebih dulu sedangkan Edbert sibuk memandanginya.
"Kamu kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Felia yang melihat Edbert sibuk menatapnya.
"Wajah kamu masih tetap sama Felia, kamu sangat cantik sampai saya susah membedakan kamu yang dulu atau yang sekarang."
"Jadi dulu aku tidak cantik gitu maksud kamu?"
"Bukan gitu sayang, dulu kamu tetap cantik tapi sekarang malah lebih parah cantiknya." mendapatkan gombalan dari Edbert membuat Felia tidak berani menatap suaminya.
Sungguh dia sangat malu mendengar gombalan dari mulut Edbert, untung Alfred tidak mendengar Edbert ngegombal coba kalau dengar mungkin aja putranya akan mengikuti jejak ayahnya.
"Sudahlah jangan gombal mulu, sekarang temani putramu ke sekolah jangan sibuk menatapku lagi." kata Felia yang sudah berani menatap Edbert.
"Baiklah, kalau gitu aku berangkat dulu. Kamu hati-hati di rumah kalau butuh apa-apa telepon aja." ujar Edbert membuat Felia mengangguk.
Edbert dengan cepat mencium kening Felia dengan lembut sebelum ia berangkat, setelah puas memandangi Felia ia segera menghampiri Alfred yang sedang menunggunya di mobil. Dua lelaki itu tersenyum dengan melambaikan tangan kearahnya, membuatnya mengikuti apa yang mereka lakukan.
Tiba di sekolah Edbert menghentikan mobil tepat di gedung sekolah Alfred, sekolah internasional yang didaftarkan olehnya. Alfred turun dari mobil setelah mencium kedua pipi Edbert, lalu pria kecil itu masuk ke dalam sekolah saat salah satu satpam menyapa Alfred.
Saat Edbert ingin melanjutkan perjalanan ia mendengar suara pesan dari handphone, Edbert segera mengambil handphone itu dan melihat siapa yang memberikan dia pesan. Ternyata Bob yang memintanya untuk datang ke kantor, yang awalnya dia ingin minta cuti ternyata sudah dibebani dengan pekerjaan lagi.
__ADS_1
Akhirnya Edbert memutuskan untuk ke kantor selesai mengirim pesan untuk Felia, barulah ia bergegas ke kantor dengan pakaian yang dia kenakan sekarang.