
"Pijatannya sudah selesai pak. Bapak bisa memakai pakaian bapak kembali." ucap Laura, tapi bukannya Laura turun dari tubuh Louis malah dia memajukan tubuhnya.
Louis belum bisa menjawab ucapan Laura, ia masih memandang wajah cantik Laura dan tubuh Laura yang begitu wangi. Dia melihat kalau Laura mendekati wajahnya, dan dia merasakan kalau tangan Laura menyentuh dada bidangnya.
"Pak, sekarang bapak sudah merasakan kenikmatan sentuhan pijatan saya. Sekarang gantian bapak yang memberikan kenikmatan untuk saya." ucap Laura sedikit memberikan suara nakalnya, tidak lupa dengan sentuhan tangannya yang terus meraba tubuh Louis.
Entah dari mana tujuannya sampai dia berani menyentuh tangan Laura, tangan nakal karyawan ini sangatlah berbahaya kalau dia sampai tergoda. Louis mencoba bangun dan meminta Laura menjauh darinya, tetapi apa yang dia lihat salah malah Laura mencoba mendekatinya lagi.
"Pak, sekarang tidak ada orang yang melihat kita. Apa bapak tidak mau membantu saya?" ucap Laura saat dia melihat Laura sengaja membuka sedikit pakaian.
"Membantu kamu? Maksud kamu saya membantu kamu untuk apa, Laura?" Louis dibuat bingung saat mendengar perkataan Laura, dia malah melihat kalau karyawannya ini sangatlah berbahaya.
Seharusnya dia tidak meminta Laura untuk memijatnya kalau kejadiannya akan seperti ini, "Stop, Laura! Saya tidak mau kamu melakukan itu dengan saya, kamu di sini sebagai karyawan bukan seorang penggoda jadi jaga sikap kamu di kantor saya."
Louis mengambil semua pakaiannya dan dia memilih pergi ke toilet yang berada di ruangannya, begitupun dengan Laura ia merasa kalau Louis susah untuk digoda dari pada laki-laki yang pernah ia temui.
Dia pikir Laura sudah keluar dari ruangan kerjanya, tapi malah wanita itu masih di sana dan lebih parahnya Laura sengaja menggodanya secara terang-terangan supaya ia bisa tergiur.
"Apa yang kau lakukan Laura. Cepat kau pergi dari ruangan saya, saya gak ingin melakukan sesuatu sama kamu." ucapnya dengan tegas saat dia melihat Laura mulai mendekat.
"Pak! Saya tidak akan pergi kalau bapak belum menjadi milik saya, suatu saat bapak akan tergoda dengan saya. Dan bapak akan menjadi milik saya seutuhnya." kata Laura saat jarak di antara mereka begitu dekat.
Sebelum pergi Laura memajukan wajahnya, yang awalnya ia melihat wajah Louis menunduk ia memberanikan diri untuk mengangkat dagu bosnya. Wajah mereka sama-sama saling menatap sampai Laura berhasil mencium bibir Louis, bibir yang sangat manis membuat siapapun ingin menikmatinya.
"Itu bonus untuk bapak. Nanti kalau bapak butuh pijatan saya lagi, saya akan memberikan lebih dari sekedar ciuman." ucapnya tepat di teling Louis.
Selepas kejadian di kantor Louis bergegas ke kamar mandi, tiba di rumah ia melihat Felia yang sudah terlelap. Jadi ia memutuskan untuk membersihkan seluruh tubuhnya, saat air shower mengalir di seluruh tubuhnya saat itu juga ia mengingat bagaimana Laura memberikan sentuhan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Semua wanita yang pernah ia temui dan pernah ia rasakan sebelumnya, ia belum pernah mendapatkan rasa nikmat dari seseorang. Itu semua ia rasakan saat mendapatkan sentuhan dari Laura, walaupun Laura hanya memberikan sebuah pijatan tapi rasanya sangat berbeda.
"Argh! Kenapa aku membayangkan pijatan dari wanita itu, kenapa sentuhan Laura sangatlah berbeda dari sentuhan yang pernah ia rasakan pada wanita lain." gumam Louis dengan ingatannya terus tertuju pada Laura.
__ADS_1
Gimana tangan wanita itu menyentuh tubuhnya dan ia mengingat saat Laura dengan sangat berani menciumnya, sebelumnya dia yang lebih dulu mencium wanita lain dan sekarang ada wanita lain yang berani menggodanya sampai menciumnya.
Louis terus menggeleng saat tangannya menyentuh bibirnya, bibir yang sudah diambil ahli oleh Laura karyawan barunya. Itu semua bukan hendaknya tapi entah kenapa ia sangat menyukai sikap Laura yang begitu seksi.
"Ahh! Laura. Kau sangat pandai menari di pikiranku." ucap Louis yang masih membayangkan bayangkan Laura, dan dia malah menikmati itu sendiri di dalam kamar mandi.
***
"Sayang, kamu kenapa sudah ada di dapur? Siapa yang membuatkan susu hamil buat kamu?" tanya Louis yang sudah berada di samping Felia yang menikmati segelas susu hamil.
"Ayah. Ayah yang membuatkan susu untuk menantu kesayangan ayah." entah dari mana sosok Edbert yang pasti ia melihat lelaki itu sudah berada di dapur.
"Semalam kamu lembur lagi, Louis?" tanya Edbert yang sudah bergabung di meja makan, tangannya mengambil selembar roti dan selai strawberry.
"Iya, ayah. Sekarang kantor lagi banyak yang mau bekerja sama, jadi aku harus lembur dan mengurus semua berkas kantor." urai Louis.
Selesai sarapan Louis menetap Felia yang menyelesaikan sarapan, "Sayang, aku ke kantor dulu ya! Nanti kalau butuh apa-apa kamu hubungi aku."
"Ya." setelah Louis memberikan sebuah ciuman tepat di kening Felia, lelaki itu pergi dan tinggal Edbert yang masih ada di sana.
Mendengar itu Felia dengan cepat menatap ayah mertuanya, jujur ia saja tidak tau kapan itu terjadi yang pasti dia tidak ingin pernikahannya hancur hanya gara-gara hubungan terlarang ini.
"Maaf ayah aku tidak bisa menjawabnya sekarang, aku butuh waktu untuk memikirkan pernikahanku dengan Louis."
Mendengar ucapan dari mulut Felia ia melepaskan pelukannya dan beralih menatap menantunya, "Baiklah, ayah tunggu keputusan kamu. Apapun keputusan kamu akan ayah terima tapi ayah tidak mau melihat kamu bersedih, ayah ingin membahagiakan kamu bukan membuat kamu bersedih Felia."
Ia tidak tau harus menjawab apa, dia hanya memberikan sebuah senyuman sampai Edbert memberikan sebuah ciuman di bibirnya. Setelah ciuman itu terlepas barulah Edbert berpamitan kepada menantu kesayangannya.
Di ruangan Louis Laura sudah menyiapkan segelas kopi, semua kebutuhan Louis sudah lebih dulu ia siapkan sebelum Louis memintanya untuk menyiapkan semuanya.
Sekarang ia tinggal menunggu kedatangan Louis dan barulah memulai rencananya kembali, tebakannya benar kalau lelaki itu sudah tiba di kantor. Dengan pakaian kantor membuat kesan tampannya semakin bertambah, ia sangat menyukai lelaki itu.
__ADS_1
"Laura!" ucap Louis yang melihat Laura sudah berada di ruangan pribadinya.
"Selamat pagi, pak! Maaf saya lancang masuk keruangan bapak, tapi saya hanya menyiapkan kopi untuk bapak karena OB yang biasanya menyiapkan kopi tidak masuk hari ini." tutur Laura membuat Louis mengangguk.
"Baiklah Laura kamu bisa kembali bekerja." Laura mengangguk tapi saat melewati Louis, Laura berhenti dan membisikan sesuatu di telinga Louis.
Mendengar suara merdu itu seakan Laura berhasil menggodanya, perkataannya itu sangatlah lancar sampai tidak memiliki rasa gugup walau ada Novan di sampingnya.
"Ada apa, pak?" tanya Novan yang melihat Louis terdiam.
"Hah? Tidak apa-apa. Kamu siapkan jadwal saya hari ini, nanti kamu kabarin saya setelah jadwal saya sudah kamu siapkan."
"Baik, pak." Novan memutuskan untuk pergi dari ruangan Louis, tinggal Louis yang memulai sibuk untuk melupakan kejadian semalam dan bisikan yang ia terima barusan.
Akhirnya jadwal hari selesai, dia memutuskan untuk kembali tapi saat dia ingin kembali. Dia mengingat perkataan Laura, dan di sana ia melihat Laura melihatnya dan memberikan kode untuk mengikuti wanita itu.
Ia tidak tau apa yang akan dilakukan Laura, yang pasti wanita itu memintanya untuk mengikuti wanita itu. Tiba di gedung paling atas Laura mengajaknya ke sana, tepatnya gedung itu yang akan ia jadikan tempat penginapan di sebuah kantornya.
Karena tempat ini belum di renovasi jadi ia belum terpikir untuk membuat penginapan, Laura terus saja melangkah sampai dimana mereka berada di sebuah ruangan yang begitu luas. Di sana ia melihat ada sebuah ranjang yang berukuran besar, lemari dan meja kecil untuk meletakan perlengkapan pijatannya.
"Laura, kamu yang menyiapkan tempat ini?" tanya Louis membuat Laura menatap bosnya.
"Iya, pak. Tempat ini sengaja saya siapkan untuk bapak, supaya bapak bisa nyaman kalau membutuhkan pijatan saya."
Louis tetap tidak bisa bicara apapun lagi, ia hanya mengikuti kemauan Laura sampai dirinya lupa kalau ia harus menjauhkan wanita ini. Tetapi apa daya ia sangat menginginkan sentuhan pijatan Laura.
Laura semakin mendekatinya, sebelum ia menyentuhnya ia beralih melangkah mengunci pintu supaya tak ada satupun yang datang. Karena gedung ini tidak ada yang kemari, jadi ia memutuskan untuk menjadi gedung ini tempat pribadinya bersama bosnya.
"Pak, apa bapak tidak merindukan pijatan saya?" kata Laura saat tangannya sangat berani menyentuh tubuhnya.
"Sa-saya sangat menyukai pijatan kamu Laura. Tapi ini masih jam pekerjaan jadi saya tidak bisa di pijat oleh kamu."
__ADS_1
"Bapak tenang aja jadwal saya dan jadwal bapak sudah tidak ada pekerjaan lagi. Jadi bapak bisa dengan tenang merasakan sentuhan saya lagi."
Louis merasakan bagaimana tangan mulus Laura menyentuh kulitnya, dia juga merasakan jari lentik itu masuk ke dalam bajunya. Membuat dirinya menginginkan sentuhan tangan Laura melebihi semalam.