
"Sayang." ucap seseorang yang baru saja tiba di rumah, Edbert yang baru saja pulang dari kantor melihat Felia melamun di ruang tamu.
"Sayang, kamu kenapa?" kali ini Edbert memilih duduk di samping Felia dengan melepaskan jas kantor.
"Louis."
"Louis? Maksud kamu Louis datang kemari?" mendapat pertanyaan itu Felia dengan cepat mengangguk.
Edbert membalikan tubuh Felia supaya bisa menatap wanita ini, dan dia melihat Felia memeluknya tanpa bicara hanya suara getaran yang keluar dari mulu wanita ini.
"Ada apa? Apa yang Louis katakan sama kamu sampai kamu seperti ini." Felia sama sekali tidak bisa menjawab perkataan Edbert, ia malah memeluk tubuh Edbert dengan tangan lelaki ini terus mengelus pundaknya.
"Louis ayah... Louis datang lagi di saat aku hampir melupakannya. Dan kenapa dia harus kembali di saat seperti ini." ucap Felia masih dalam pelukan Edbert.
"Sudah sekarang kamu tenang dulu. Ayah mana tau kejadiannya seperti apa, sekarang kamu pelan-pelan cerita sama ayah siapa tau ayah bisa bantu kamu." Edbert melihat Felia masih belum bicara walaupun pelukan Felia terlepas.
Edbert memperhatikan Felia bicara sampai wanita ini benar-benar lega, dan dia mengambil kedua tangan Felia dengan ia genggam ke dalam tangan kekarnya.
"Ayah tau keputusan ini sulit untuk kamu, seharusnya kamu tidak mengusir suami kamu. Sesibuk apapun dia, dia tetap suami kamu Felia. Dia masih berhak atas diri kamu dan saya tidak bisa ikut campur masalah pernikahan kalian berdua."
Edbert terdiam sejenak barulah ia menepuk tangan Felia yang masih ia genggam, "Sekarang semua keputusan ada di tangan kamu. Kamu berhak memilih yang mana yang baik mana yang buruk, ayah cuman bisa mendoakan kalian berdua aja."
Felia memberanikan diri untuk menatap Edbert, lelaki ini selalu ada untuknya tapi perasaannya tidak bisa dipaksakan. Jujur dia sangat nyaman dengan ayah mertuanya sendiri, tapi di sisi lain dia masih mencintai Louis suaminya.
"Makasih ayah sudah mau mendengarkan ceritaku. Makasih ayah sudah berada di samping aku di saat aku butuh seseorang." ucap Felia menatap Edbert, lelaki itu menjawab dengan anggukan tidak lupa senyuman yang selalu lelaki itu berikan.
"Sudah sekarang kamu istirahat. Sudah malam ayah gak mau kamu sakit." kata Edbert dengan mengelus kepala Felia, wanita itu mengangguk lalu beranjak.
Edbert masih memperhatikan punggung Felia sampai benar-benar wanita itu menghilang dari penglihatannya, "Saya tau Felia kamu masih mencintai suami kamu, saya juga tau kamu masih menyayangi Louis dari pada saya. Tapi saya berharap kamu mengetahui perasaan saya ke kamu, suatu saat kamu akan mencintai saya seperti apa yang kamu rasakan kepada Louis."
Tepat pukul tujuh pagi Felia turun dari tangga, di sana ia melihat Louis sudah berada di meja makan bersama dengan ayah mertuanya.
__ADS_1
"Ayah." ucapannya terhenti saat matanya melihat sosok Louis ikut makan bersama, ia dengan cepat duduk di samping Edbert.
"Kamu sudah bangun. Sekarang kamu makan dan jangan lupa habiskan makanan kamu." ucap Edbert dengan memberikan piring yang sudah terisi nasi goreng.
"Makasih ayah." keduanya sama-sama menikmati sarapan bersama begitupun dengan Louis, dia malah tidak dianggap saat dirinya ada di sana.
"Sayang, hari ini kamu langsung ke kantor?" tanya Louis yang memulai pembicaraan dengan menatap Felia sarapan.
"Iya." jawaban singkat yang diberikan Felia mampu membuat Louis menghela nafas, seharusnya dia tidak melakukan hal ini dan sekarang dia yang merindukan Felia.
"Mau aku antar." tawar Louis membuat Felia menghentikan sarapan, dia memilih meninggalkan sarapan dan menatap Louis.
"Nggak perlu, biasanya aku di antar ayah ke kantor. Bukannya kamu sibuk mengurus pekerjaan jadi kamu tidak usah antar aku, takutnya aku malah ganggu pekerjaan kamu." kata Felia dan dia memilih melanjutkan sarapannya.
***
Baru saja ia ingin membuka pintu mobil ternyata handphone yang dia letakan di saku celana berbunyi, dia langsung mengambil handphone tersebut dan mengangkatnya.
Wanita itu memintanya untuk menemuinya, dan dia bergegas untuk menemui wanita itu dan menyimpan kembali handphone tersebut setelah panggilan selesai. Louis dengan santai membawa mobil sampai tiba di tempat tujuan, di sana ia melihat Mayra sudah menunggunya.
Wanita itu masuk dengan memeluk lengannya, "Sayang kamu kemana aja. Dari tadi aku cariin kamu ke rumah tapi kamu-nya gak ada."
"Saya lagi sibuk jadi gak sempat hubungi kamu." urai Louis tanpa menatap apalagi membalas pelukan yang diberikan Mayra.
Wanita ini selalu aja mengganggunya, setiap ingin bertemu dengan Felia selalu saja di ganggu oleh Mayra. Ia sebenarnya penasaran dengan semalam, kenapa Mayra sangat akrab dengan lelaki itu dan malah membahas ingin membalas dendam. Apa yang sebenarnya dilakukan Mayra sampai ingin menghancurkan seseorang.
"Sayang, kenapa akhir-akhir ini kamu lebih banyak diam. Biasanya kamu selalu memelukku dan memberikan sesuatu yang membuat aku senang." kata Mayra dengan menatap Louis dari atas, sekarang Mayra masih memeluk lengan Louis dengan kepalanya bersandar di pundak lelaki ini.
Louis mencoba melepaskan tangan Mayra dari lengannya dan mencoba menjauhkan wanita ini dari hidupnya, "Saya masih ada kesibukan May. Sekarang kamu mau aku antar kemana nanti saya antar kamu."
"Antar aku ke tempat biasa." jawab Mayra dengan nada cetus, Louis dengan cepat membawa wanita ini ke tempat tujuan.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain Felia sudah tiba di kantor, tepatnya di ruang kerjanya sendiri. Ia duduk di bangku dengan memandang komputer begitupun dengan Edbert, lelaki itu sudah ada di ruangan pribadinya dengan matanya terus memandang kearah Felia.
Setelah sekian detik ia memandang Felia tibalah seorang lelaki masuk keruangan dengan membawa laporan kantor, "Permisi pak!"
Tak ada jawaban dari Edbert lalu ia memberanikan diri melihat apa yang di tatap bosnya, Bob yang mengetahui itu dengan cepat berdehem dan membuat suara itu mengganggu lamunan Edbert.
"Ka-kamu. Kenapa kamu ada di ruangan saya?" tanya Edbert melihat Bob sudah berdiri di ruangannya dengan melihat kearahnya.
"Saya mau mengantarkan dokumen ini pak." ucap Bob dengan memberikan laporan yang dia bawa tanpa pergi dari sana Bob memberanikan diri untuk berbicara kembali.
"Bagaimana perkembangan bapak dengan Bu Felia. Apa bapak sudah mengutarakan perasaan bapak ke Bu Felia." kata Bob sedikit penasaran dengan percintaan bosnya.
Tak ada jawaban malah yang dia dapatkan hanyalah helaan nafas, "Saya tidak bisa mendapatkannya Bob. Dia menantu saya istri dari putra saya, saya tidak mungkin menghancurkan rumah tangga putra saya sendiri cuman untuk kesenangan saya pribadi."
"Pak menurut saya Bu Felia berhak untuk di perjuangkan. Bukannya bapak lagi menyelidiki informasi mengenai Louis dengan selingkuhannya, jadi saya pikir itu kesempatan bapak untuk mendapatkan Bu Felia, pak."
Tanpa menatap Bob ia milih menatap Felia, "Kamu memang benar tapi saya tidak yakin kalau Felia akan mencintai saya seperti dia mencintai Louis. Saya sudah berusaha mendapatkan hatinya tapi sampai sekarang saya belum bisa mendapatkannya." kali ini Edbert memilih menatap Bob setelah sekian lama melihat Felia.
"Gimana perkembangan kamu mencari informasi mereka berdua?" tanya Edbert langsung ke inti permasalahan, dia juga penasaran kenapa Louis tiba-tiba datang ke rumah.
Bob mengeluarkan foto dari dalam jas, sebuah foto yang dia berikan kepada Edbert. Edbert menerima apa yang diberikan Bob, saat melihat orang yang ada di foto itu ternyata ia mengingat kejadian di masa lalunya.
Edbert dengan cepat menatap Bob setelah menatap foto tersebut, "Apa kamu masih menyimpan CCTV saat kecelakaan istri saya dulu?"
"Ada pak. CCTV itu masih saya simpan di laptop saya, ada apa dengan CCTV itu pak? Apa ada kaitannya dengan kecelakaan nyonya?" lontar Bob saat Edbert mengingat kejadian kecelakaan itu.
"Ya. Semuanya ada kaitannya dengan pria yang ada di foto ini, dan saya mau kamu berikan rekaman CCTV itu sama saya. Dan kamu harus selidiki lebih dalam lagi siapa lelaki ini sebenarnya."
"Baik pak. Saya akan mengirim rekaman CCTV itu dan secepatnya saya akan memberikan informasi itu ke bapak."
Bob bergegas pergi dari ruangan Edbert dan melangkah menuju ruangannya, dia dengan cepat mencari CCTV kecelakaan dulu. Kecelakaan yang hampir punah dan sekarang Edbert memintanya untuk melihat rekaman itu kembali.
__ADS_1
"Saya pastikan akan menemukan pelaku kecelakaan kamu dan saya akan membalas perbuatannya." batin Edbert dengan memandang foto istrinya.