Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Lebih Memilih Pekerjaan Dari Pada Istri


__ADS_3

Pernikahan mereka sudah berjalan tiga bulan, semua kehidupan pernikahan yang dia alami tidak seperti pertama kali dia pacaran. Kehidupan ini begitu berbeda, dia sangat merindukan Louis yang dulu dari pada yang sekarang.


Semenjak Louis sibuk mengurus pekerjaan dia belum pernah merasakan kasih sayang dari Louis, lelaki itu hanya tau tentang pekerjaan bukan tentang dirinya. Tiga bulan menjalani pernikahan membuatnya hamba tanpa ada bumbu cinta saat masih pacaran.


Tiga bulan pernikahannya Louis belum pernah menyentuhnya, memberikan kata-kata romantis dan perhatian saja sudah terlihat hambar bagaimana dia bisa merasakan cinta dalam rumah tangganya.


"Apa malam ini Louis tidak pulang?" pertanyaan itu sontak membuat Felia menatap, dia melihat Edbert membawa buah yang sudah di kupas dan pria itu duduk di sampingnya.


"Kayanya iya." Felia menghela nafas dengan kasar sampai Edbert melirik Felia, "Ada apa? Kenapa kamu menghela nafas terus."


"Apa semua laki-laki kalau sudah menikah akan bersikap cuek kepada pasangannya? Kenapa akhir-akhir ini hubunganku dengan Louis semakin renggang tidak seperti dulu." ucapan yang dilontarkan Felia membuatnya meletakan potongan buah itu ke piring.


"Mungkin itu perasaan kamu aja Felia. Namanya juga laki-laki pasti sibuk, dia lakuin ini demi kebahagiaan kamu bukan kepentingannya sendiri." kata Edbert menatap Felia, dia tau gimana perasaan menantunya tapi ia juga bingung kenapa putranya bersikap acuh sama Felia.


Edbert memilih menatap kearah lain barulah ia bisa berbicara kembali, "Bukannya bagus kalau Louis sibuk, jadi saya tidak akan takut ketahuan bermesraan sama kamu."


"Felia." panggilan Edbert mampu membuatnya menatap, ia melihat Edbert terus menatapnya tanpa mengatakan apapun.


Tiba-tiba saja Edbert menarik tangannya dan masuk ke dalam pelukan lelaki ini, melihat jarak di antara mereka terlalu dekat Felia dengan cepat melonggarkan jaraknya tapi Edbert malah menahan Felia. Edbert masih setia menatap wajah Felia dengan tangan menyentuh wajah kekasihnya.


"Kamu jangan sedih dan jangan pedulikan Louis lagi. Masih ada saya yang akan menemani kamu, kamu sibuk mempercantik diri kamu saja karena kecantikan kamu ini hanya milik saya."


Lagi-lagi Felia terbuai dengan kata-kata manis yang dilontarkan Edbert, gimana dia bisa menghindari lelaki ini dia saja membutuhkan lelaki ini. Dia akui kalau dirinya rakus memilih keduanya tapi ia juga tidak bisa memilih antara Edbert dan Louis.


"Felia." Felia masih menunggu ucapan Edbert tetapi ia melihat Edbert malah menciumnya, tepatnya mencium bibirnya dengan lembut.

__ADS_1


Kelembutan yang diberikan Edbert mampu membuatnya terbuai, sentuhan ini bukanlah yang pertama kalinya ia rasakan, tapi lama kelamaan sentuhan ini semakin membuatnya terbiasa malah dia tidak rela kalau sentuhan Edbert diberikan kepada orang lain. Edbert mulai menikmati kegiatannya dengan keadaan rumah sepi, karena posisinya berada di bawah sedangkan Felia di atas tubuhnya ia memilih memeluk pinggang ramping Felia.


Ciuman ini masih belum bisa terlepas sampai dirinya melepaskan ciumannya, melihat Edbert melepaskan kegiatannya merasa dirinya tidak rela kalau kegiatan barusan berhenti gitu aja. Tanpa bicara apapun Edbert memilih menggendong tubuh Felia, ia melangkah sambil menggendong tubuh Felia dengan ciuman itu masih dilanjut.


Dengan langkah hati-hati Edbert membawa Felia ke lantai atas di mana letak kamarnya berada, tanpa melepaskan kegiatannya Edbert menutup pintu dan menggunakan satu tangan untuk mengunci pintu kamar. Setelah dia memastikan pintu kamar terkunci ia membawa Felia ke ranjang, ranjang yang berukuran besar.


Tubuh Felia di letakan di atas ranjang dengan ciumannya masih belum terlepas, kegiatan itu dilanjut saat tangan Edbert mulai masuk ke dalam pakaian Felia. Hanya memakai piyama tipis mampu membuatnya mudah untuk mencari benda favoritnya.


Tidak dengan Felia ia malah menikmati sentuhan Edbert, sekarang dia malah memberikan apa yang dia punya dan tubuhnya sudah menerima kegiatan yang diberikan Edbert. Sentuhan itu semakin membuatnya nikmat saat pria ini mulai memberikan sentuhan yang sedikit berbeda.


Sentuhan itu selalu membuatnya tergila-gila, malah dia saja belum memberikan tubuhnya ke Louis dan dia memilih memberikan tubuhnya ke Edbert dengan sesuka hati tanpa memikirkan perasaan suaminya. Dia tidak tau kenapa tubuhnya ini tidak merasakan apapun, malah tubuhnya akan terasa bergairah saat Edbert menyentuhnya.


Sungguh gila bukan? Iya, dia memang sudah gila dan tubuhnya malah merespon apa yang diberikan Edbert.


"Ahhh... Sayang..." lenguhan panjang yang diberikan Felia mampu membuatnya bersemangat, karena wanita ini selalu membuatnya terangsang saat bersentuhan dengannya.


Pagi harinya Edbert sibuk menikmati segelas kopi hangat di meja makan, saking sibuknya menikmati kopi yang dibuat Felia ia menatap Louis tiba di rumah dengan pakaian kantor.


"Baru pulang kamu? Semalam kemana aja sampai lupa pulang." lontar Edbert menatap laki-laki yang baru tiba di rumah, dengan laki-laki itu membawa jas kantor.


"Aku sibuk ngurus kantor jadi tidak sempat pulang. Di mana Felia?" bukannya Louis merasa bersalah malah dia langsung menanyakan keberadaan Felia.


"Dia lagi mandi. Kamu yakin hanya mengurus pekerjaan bukan mengurus yang lain?" ucapan yang dikatakan Edbert mampu membuat Louis mati kutu, Edbert yang menyadari perubahan sikap Louis mulai curiga.


Pasalnya Louis tidak pernah seperti ini, dan Louis sudah mulai menyembunyikan sesuatu darinya. "Kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari ayah?"

__ADS_1


Saat Louis ingin mengatakan sesuatu Felia sudah lebih dulu berbicara, "Sembunyikan apa?" tanya Felia dengan menatap dua lelaki itu dengan kaki terus melangkah.


Felia masih menatap keduanya saat laki-laki ini hanya diam tanpa berbicara, "Sayang, apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku? Kenapa ayah mengatakan kalau kamu menyembunyikan sesuatu."


Louis melangkah maju mendekat kearah Felia dengan kedua tangan menyentuh pundak Felia, "Kamu salah dengar sayang. Aku tidak menyembunyikan apapun dari kamu, kalau aku menyembunyikan sesuatu dari kamu sudah dari awal aku sembunyikan. Tapi aku tidak pernah menyembunyikan apapun dari kamu, aku selalu mengatakan jujur sama kamu."


"Tapi ayah bilang..."


"Sudah jangan dengarkan ayah. Mungkin ayah khawatir sama aku makanya ayah bersikap curiga sama aku." ucap Louis masih menatap Felia dengan tangan berada di pundak Felia.


"Yasudah, aku ke kamar dulu mau bersihkan badan. Nanti aku akan antar kamu ke kantor, kamu sarapan dulu aja tungguin aku sampai selesai mandi." Felia mengangguk barulah Louis pergi ke kamar, tidak dengan Edbert ia merasa kalau Louis sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Sepasang suami istri itu keluar dari mobil dengan tangan saling menggenggam, Louis sesekali melirik Felia dengan memberikan senyuman. Ia mengantar Felia keruangan tiba di ruangan keduanya berhenti, ruangan itu masih terlihat sepi hanya Felia saja yang baru tiba.


"Sayang, apa kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari aku?" belum apa-apa Felia sudah mencurigainya, baru saja mereka tiba di kantor Felia sudah memberikan pertanyaan yang aneh.


Louis dengan cepat melepaskan genggaman tangannya, "Kamu curiga sama suami kamu sendiri? Kamu lebih percaya ucapan ayah dari pada ucapan suami kamu sendiri."


"Bukan itu maksud aku. Aku hanya tanya sama kamu... Kenapa kamu malah marah sama aku." Felia masih menatap Louis saat pria ini memilih memandang kearah lain.


Louis kembali menatap Felia, "Terserah kamu. Kamu lebih percaya dengan ayah atau percaya sama aku."


"Kamu ini kenapa Felia. Kenapa sekarang kamu malah mempunyai sifat curiga, aku ini suami kamu bukan orang lain." tutur Louis kembali dengan perasaan kesal karena Felia lebih berpihak kepada Edbert dari pada dirinya.


"Aku gak pernah curiga sama kamu. Tapi sikap kamu yang membuat aku curiga Louis! Kamu aja gak pernah menganggap pernikahan kita bagaimana bisa kamu sibuk mengurus pekerjaan dari pada aku."

__ADS_1


"Aku tau kamu bekerja demi aku, demi keluarga kita. Tapi setidaknya kamu memiliki waktu untuk aku bukan fokus bekerja. Apa di pikiran kamu itu hanya terisi pekerjaan dari pada aku?" tutur Felia dengan amarah masih ia tahan, ingin rasanya amarah ini lepas tapi ia masih menahan karena dia tau posisinya ada di kantor.


Tanpa menjawab ucapan Felia Louis memilih pergi, lelaki itu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Felia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia juga tidak punya bukti, entahlah apa dia benar mencurigai suaminya atau perkataan Edbert yang terus menganggu pikirannya.


__ADS_2