Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Pijatan Membara


__ADS_3

Bagaimana ia bisa menikmati sentuhan ini, sentuhan yang seharusnya dilakukan Felia malah diberikan oleh Laura. Dia sangat menikmatinya sampai dirinya lupa kalau Felia sedang menunggunya.


Laura sangatlah hebat, berbakat, yang paling ia sukai Laura adalah wanita cantik dan seksi. Sungguh luar biasa kalau ada seorang karyawan baru yang memiliki bakat seperti Laura.


"Ahh... Laura kau sungguh nikmat." tanpa Louis sadari ia sudah membuat Laura bahagia, sungguh luar biasa ia bisa menarik Louis sampai di sini.


"Iya, pak. Apa sungguh nikmat sentuhan tangan saya sampai bapak ketagihan seperti itu." ucap Laura membuat Louis tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa menikmati dan merasakan kelembutan Laura yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Hem... Saya sangat menyukainya Laura, apa saya bisa memakai kamu untuk memuaskan ku seperti ini?" Laura tersenyum mendengar ucapan Louis, ia sengaja menghentikan pijatan itu lalu dia mendekati tubuhnya.


"Boleh saja pak, asalkan bapak mau membayarnya." jawaban Laura sangatlah di luar dugaannya, dan dia akan mendapatkan sensasi kenikmatan yang luar biasa.


"Bapak boleh balikan badan bapak, saya ingin pijit di bagian tubuh depan bapak." ucap Laura saat ia sudah melepaskan sentuhan di bagian belakang.


Louis melakukan apa yang diminta Laura, dan dia kaget melihat tubuh Laura sudah tidak memakai pakaian kantor. Hanya terdapat celana pendek dan baju seksi yang dikenakan Laura, itupun sangat terbuka membuatnya tidak bisa menahan godaan di depan matanya.


"Laura apa yang kau kenakan, kenapa kau melepaskan semua pakaianmu. Dimana pakaianmu?" tanya Louis yang mencari keberadaan pakaian yang dikenakan Laura, Laura tersenyum saat bosnya ini mencari sesuatu di bawah sana.


"Bapak tenang aja pakaian sudah aku simpan dengan rapih begitupun dengan pakaian bapak. Sekarang bapak tinggal menikmatinya saja, dan bapak harus membalas sentuhan saya setelah ini." ucap Laura yang sedikit membuatnya kebingungan.


Mereka berdua saling duduk berhadapan dengan menatap satu sama lain. Laura mengambil satu tangan Louis, tangan itu di letakan di sebelah tubuhnya dan satu tangannya di letakan di bagian bawah.


Louis merasa kalau wanita ini sangatlah nakal, sampai dengan santai dan beraninya Laura mengarahkan tangannya kebagian sensitif wanita ini.

__ADS_1


"Pak! Bapak 'kan sudah merasakan sentuhan saya sekarang bapak yang melakukan hal yang sama untuk saya." ucap Laura membuat Louis menaiki satu alisnya, ia juga melihat bagaimana Laura dengan sangat rapih meletakan tangannya untuk menyentuh tubuh wanita ini.


"Apa yang akan aku lakukan untuk kamu supaya kamu merasakan hal yang sama." kata Louis membuat Laura menatap bosnya ini.


Tangan itu dibiarkan begitu saja saat kedua tangannya sudah berada ditubuh Laura, "Sekarang bapak nikmati tubuh saya seperti apa yang saya lakukan ke tubuh bapak. Saya tidak akan marah kalau bapak ingin melakukannya, atau bapak ingin saya ajarkan bagaimana caranya menyentuh tubuh saya dengan sempurna."


Louis tidak mungkin bodoh dengan arah pembicaraan Laura, ia mengerti perkataan Laura dan dia hanya mengikuti kemauan wanita ini saja.


"Tidak usah Laura saya tau apa yang akan saya lakukan ke kamu. Tapi apa kamu sanggup untuk menerima sentuhan saya?" kata Louis membuat Laura tersenyum dan dia malah semakin menggoda Louis.


"Saya sanggup pak. Saya senang kalau bapak menyentuh tubuh saya seperti apa yang saya lakukan ke bapak." mendengar perkataan Laura ia sangat senang hati mengikuti kemauan Laura, dan dia akan memberikan apapun untuk wanita ini.


***


Di tempat lain ada seorang wanita yang sibuk memikirkan ucapan ayah mertuanya, perkataan Edbert selalu terbayang saat ia sedang termenung di balkon dengan menikmati secangkir teh hangat.


"Apa ucapan ayah itu benar. Kenapa aku merasa ayah berbohong kepadaku, apa Louis melakukan itu kepadaku. Dan kenapa Louis tidak pernah cerita kalau dia melakukan itu sama wanita lain." gumamnya dalam hati, akhirnya Felia memilih beranjak dari kursi dan melangkah ke tengah-tengah balkon.


Ia terdiam menikmati hembusan angin di sore hari, saat ia menikmati angin tiba-tiba saja ia merasa ada seseorang yang memeluknya sambil meletakan dagu di pundaknya.


"Sayang, buat apa kamu di sini?" tanya seseorang yang sangat ia kenali kalau suara ini dilontarkan oleh ayah mertuanya.


"Ayah, sudah pulang? Kenapa aku tidak mendengar mobil ayah." ucapnya saat tubuhnya sudah menatap lelaki di depannya ini.

__ADS_1


"Gimana kamu mau mendengar suara mobil ayah kamu saja melamun di balkon, ayah dari tadi melihatmu dari bawah jadi ayah langsung saja kemari." ucap Edbert, saat ia sibuk menatap wajah Felia malah yang dia lihat menantunya ini seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu Felia?" tanya Edbert saat ia mencoba memancing menantunya, Felia mencoba untuk melihat kearah Edbert walau dirinya tidak tau harus bicara apa.


"Ayah, apa aku boleh menanyakan sesuatu tentang Louis?" Edbert yang mengetahui arah pembicaraan Felia mulai meminta Felia untuk duduk di kursi yang berada di balkon.


Dia masih terdiam belum mulai bicara, tetapi Felia sudah tidak sabar untuk Edbert mengatakannya secara langsung.


"Felia! Ayah tau kamu sedang memikirkan ucapan ayah, sungguh ayah tidak bermaksud membuat kamu kepikiran tentang masalah itu. Tapi Felia ayah tidak ingin kamu kecewa kalau melihatnya secara langsung...


"... karena ayah tau posisi kamu sedang hamil, ayah tidak ingin anak yang kamu kandung kenapa-napa makanya ayah mengatakan hal ini sama kamu."


Felia masih setia mendengarkan semua ucapan Edbert, sebelum Edbert memulai bicara ia melihat kalau lelaki ini mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Felia memutuskan menatap amplop coklat itu yang dikeluarkan oleh ayah mertuanya, dan dia kembali menatap ayah mertuanya.


"Buka aja, kamu akan tau isi yang ada di dalamnya." pinta Edbert membuatnya penasaran, akhirnya Felia memutuskan untuk membuka amplop coklat itu.


Alangkah terkejutnya saat ia melihat isi yang ada di dalamnya, dan ternyata ucapan Edbert tidak berbohong dia pikir perkataan ayah mertuanya tidak benar. Tapi apa yang dia lihat adalah nyata, di sana ia melihat semua bukti selama dirinya tidak mengetahui kelakuan Louis.


Mulai dari ia dengan Louis pacaran sampai dirinya menikah, dan bukti ini sudah begitu banyak sampai rencana pembunuhan ada di sana. Awalnya dia mengira kalau Edbert membohonginya tetapi pikirannya salah, dia malah yang dibohongi dan dikhianati oleh suaminya sendiri.


Felia menyimpan kembali bukti perselingkuhan Louis dan dia lebih melihat kearah Edbert, "Aku tau ayah sayang sama aku dan peduli terhadapku. Tapi aku tidak akan percaya kalau Louis yang tidak mengatakannya secara langsung, mungkin aja semua wanita yang ada di foto ini lebih dulu menggoda Louis makanya Louis tergoda terhadap semua taktik wanita ini."


"Yah, aku masih percaya dengan suamiku. Apapun kesalahannya aku akan maafkan tapi kalau masalah ini aku belum bisa percaya sama ayah, aku ingin Louis yang mengatakannya langsung bukan bukti ini." setelah bicara panjang lebar terhadap Edbert, ia mengembalikan amplop coklat itu dan memilih pergi dari balkon.

__ADS_1


Edbert terus menerus menghela nafas saat Felia tidak mempercayainya, ia tidak tau harus melakukan apa lagi sampai menantunya itu percaya. Sungguh ia tidak ingin Felia merasa sedih saat mengetahui kebenarannya secara langsung, apalagi melihat perselingkuhan suaminya di belakang Felia.


"Felia mungkin hari ini kamu tidak percaya dengan kata-kata ayah, tapi suatu saat ayah akan membuktikannya sama kamu. Apa yang ayah ucapkan ini benar bukan kebohongan, ayah ingin kamu mengetahuinya Felia." gumamnya dalam hati dengan mencengkram amplop coklat itu.


__ADS_2