
Felia keluar dari kamar ia melangkah turun menuju lantai bawah, pemandangan pertama yang dia lihat adalah melihat Edbert sibuk memasak. Felia memilih duduk di kursi meja makan, ia terus memandang lelaki itu dari belakang dengan tangan menampung pipi kiri.
Posisi yang dia lakukan mampu membuatnya terpesona, terpesona dengan calon mertuanya sendiri. Sejak kapan ia terpesona dengan pria ini yang pasti ia sangat menyukai sikap Edbert, apalagi sentuhan lelaki itu mengenai kulitnya. Begitu nikmat kalau adegan panas itu dilakukan di dapur.
"Felia." panggil seorang lelaki dengan tangan mengarahkan tepat di wajah Felia.
"Astaga Felia! Kamu kenapa membayangkan kegiatan panas itu lagi, kenapa sekarang pikiranmu mesum sekali." batin Felia melihat Edbert menyusun makanan.
Lelaki itu duduk di depannya dengan menatap penampilannya, melihat Edbert memandang pakaiannya Felia dengan cepat menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. Edbert tertawa melihat sikap Felia, ia membantu Felia mengambil sarapan.
"Kamu gak perlu khawatir saya tidak akan melakukan itu Felia. Dari pada kamu memikirkan pikiran kotor lebih baik kamu makan." Felia melihat Edbert memberikan piring yang sudah terisi lauk, ia dengan cepat menerima piring itu.
Keduanya menikmati sarapan bersama, tanpa sadar Felia merasakan sentuhan dari bawah meja. Ia lebih menatap kearah bawah meja, Felia melihat sebuah kaki menyentuh kakinya dengan kaki itu terus memainkan sentuhan yang membuatnya sedikit tergoda.
Tanpa melihat siapa yang melakukan ini ia sudah mengira kalau perbuatan ini adalah ulah dari Edbert, dan dugaannya benar kalau lelaki itu tersenyum kearahnya sambil memainkan aksinya di bawah meja. Kaki jenjang lelaki itu terus digunakan untuk menggoda Felia, sampai Felia tidak bisa menahan sentuhan yang diberikan Edbert.
Felia memilih menyelesaikan sarapan, ia bangun dari tempat duduk membawa piring kotor bekas ia makan. Melihat Felia melangkah ke wastafel ia mengikuti langkah Felia, Edbert memberikan piring kotor untuk dicuci oleh Felia.
Felia tetap membersihkan piring kotor dengan Edbert memeluk tubuhnya, tidak hanya pelukan saja yang diberikan Edbert melainkan belaian dan ciuman yang dilakukan lelaki ini.
"Om, hentikan! Aku gak bisa fokus cuci piring kalau om melakukan itu di sini." ucap Felia dengan tangan masih mencuci piring kotor, Edbert tidak peduli dengan perkataan Felia ia malah menikmati kegiatan yang dia lakukan.
Sentuhan ini begitu nikmat saat tangan Edbert masuk ke dalam pakaian, sentuhan Edbert terhenti saat dia merasakan tubuh Felia tidak memakai pakaian dalam hanya pakaian luar.
__ADS_1
"Kamu sangat pintar baby. Kamu sengaja tidak memakai pakaian dalam supaya saya bisa menyentuh kamu?" ucap Edbert tepat di samping wajah Felia.
"Saya tidak terbiasa memakai pakaian dalam, apalagi saat libur kantor. Saya lebih nyaman memakai pakaian seperti ini dari pada memakai pakaian dalam." urai Felia mampu membuat Edbert tersenyum dengan ucapan Felia.
Edbert menyingkirkan kardigan hitam yang menempel di tubuh Felia, hanya tersisa tank top dan celana pendek hitam. Ia tidak bisa fokus dengan mencuci piring, Felia meninggalkan piring kotor dan dia hanya fokus dengan sentuhan yang dilakukan Edbert.
Lelaki itu membalikan tubuh Felia, tanpa diduga Edbert sudah mencium bibirnya dengan rakus sampai ciuman itu semakin dalam. Ciuman itu masih dilakukan oleh Edbert tetapi pria itu menggendong tubuh Felia, ia membawa tubuh Felia ke meja marmer.
Felia duduk di meja marmer putih bergaris coklat dengan Edbert masih menciuminya, ia berusaha menahan tubuhnya saat Edbert mulai memperdalam kegiatan panas ini. Edbert menyudahi ciumannya berpindah kearah tubuh Felia paling bawah, dia menyamakan posisi Felia dengan sedikit bungkuk.
Lelaki itu melihat Felia dari bawah, wanita ini cuman bisa pasrah saat Edbert kembali mencumbuinya. Edbert menciumi dan menjilati paha Felia secara bergantian, setelah puas dengan kedua paha Felia. Ia kembali mencium bibir Felia, tangan lelaki itu digunakan untuk melepaskan celana pendek dan tank top yang digunakan Felia.
Edbert semakin cepat mendalami ciumannya, dengan tangan masuk kebagian area sensitif Felia. Felia semakin nikmat dengan sentuhan Edbert, sampai suara indah bercinta keluar begitu saja. Mendengar Felia menikmati sentuhannya Edbert semakin memperdalam sentuhannya, supaya Felia semakin merasakan gimana nikmatnya bercinta di dapur.
Saat Edbert mau melepaskan celana pendeknya Felia menahan lelaki itu, "Jangan lakuin itu sekarang om. Aku takut nanti hamil anak om, aku gak mau Louis curiga dengan kegiatan kita."
"Baiklah. Om tidak akan melakukan itu sama kamu, sampai waktunya tiba baru om akan memberikan kenikmatan untuk kamu. Kenikmatan yang membuat saya bisa memberikan benih cinta di rahim kamu." ucap Edbert. Akhirnya Edbert menyudahi kegiatan bercintanya dan membantu Felia untuk merapikan pakaian.
***
Hari ini adalah hari dimana Felia memulai perjalanannya setelah mengadakan acara pertunangannya dengan Louis, lelaki itu seperti biasa datang untuk menjemputnya dengan membawa mobil yang biasa digunakan Louis.
"Morning, sayang." ucap Louis dengan memberikan ciuman yang mendarat di kening Felia.
__ADS_1
"Pagi." Louis membuka pintu mobil untuk Felia, melihat sikap Louis Felia merasa senang karena kekasihnya tidak berubah sedikitpun.
"Gimana keadaan kamu? Ayah bilang kamu kelelahan sampai ayah meminta izin ke aku untuk kamu istirahat." ucap Louis melirik Felia sekilas.
Felia terdiam sejenak, jadi Edbert meminta Louis izin untuknya dengan alasan sakit? Dan kenapa Louis bodoh sekali seharusnya dia curiga kenapa ayahnya bisa memberikan cuti untuk pacarnya.
"Sayang, kamu kenapa diam aja? Kamu baik-baik aja 'kan? Apa perlu ke dokter untuk memeriksa kesehatan kamu?"
Felia melirik Louis sebentar lalu kembali menatap kearah depan, "Nggak usah sayang, aku udah gak apa-apa. Mungkin akibat acara pertunangan kita makanya aku jadi drop."
Tangan Louis diletakan di puncak kepala Felia dengan mengelus rambut Felia, "Maaf aku udah membuat kamu kelelahan."
"Kamu gak usah minta maaf, mungkin aku aja yang terlalu lemah jadi mudah kelelahan." ucap Felia, tangan itu dikembalikan seperti semula ke tempat retrim stir mobil.
Mobil itu sampai di perusahaan, keduanya turun dari mobil saat seorang lelaki datang Louis memberikan kunci mobilnya untuk diparkirkan. Louis tidak lupa menggandeng tangan Felia, mereka berdua masuk ke dalam dengan para karyawan memberikan sapaan kepada mereka berdua.
Tidak dengan Cici, wanita itu sama sekali tidak menghormati Felia walau Felia resmi bertunangan dengan Louis. Karena Cici tidak suka kalau Felia mendapatkan apa yang dia mau, dia memilih pergi dari hadapan mereka berdua.
Felia dengan Louis menghentikan langkahnya, mereka satu sama lain saling menatap dengan Louis tidak melepaskan tangannya.
"Yasudah aku ke tempatku. Kamu jangan lupa hubungi aku kalau butuh apa-apa, supaya aku tau apa yang kamu mau." ucap Louis masih menggandeng tangan Felia dengan memandang Felia.
Felia memberi tau Louis kalau tangannya masih di genggam oleh pria itu, Louis tidak ingin tangan ini ia lepas walaupun cuman sebentar. Melihat adegan itu membuat Novan menghampiri mereka berdua.
"Hem, mohon maaf pasangan bucin. Saya tau kalian sudah resmi tunangan kenapa kalian tidak mau melepaskan tangan kalian, ini sudah jam kerja seharusnya bekerja bukan melihat keromantisan kalian. Apa kalian berdua sudah mengerti?" tutur Novan menatap mereka berdua, akhirnya Novan yang melepaskan tangan mereka berdua.
__ADS_1
Felia tertawa melihat keakraban Louis dengan Novan, mereka berdua tidak seperti atasan atau bawahan melainkan seperti seorang sahabat. Felia pergi keruangan, walaupun dia tunangan dengan pemilik perusahaan tapi ia tidak mau diperlakukan istimewa yang dia mau diperlakukan seperti karyawan biasa.