Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Kau Adalah Kekasihku


__ADS_3

Pelukan mereka masih menempel di saat pagi sudah tiba, Felia mencoba menggerakkan tubuhnya saat ia merasakan cahaya dari luar bersinar masuk ke dalam kamar. Ia berusaha menyingkirkan tangan Edbert yang masih melingkar di pinggang, saat tubuhnya menghadap kearah Edbert lelaki itu malah mendorong pinggangnya.


Edbert membuka mata melihat wanitanya menatapnya, "Pagi, sayang." sapa lelaki itu dengan mencium bibir ranum Felia.


"Pagi." pelukan Edbert membuat Felia tidak bisa bergerak, menggerakkan tangannya saja susah apalagi ia bangun dari tempat tidur.


"Kamu kenapa gak bisa diam banget Felia. Kamu mau kemana? Saya masih nyaman memeluk kamu." kata Edbert yang tatapan itu belum bisa lepas dari Felia, tidak hanya itu saja pelukannya saja membuat tubuhnya terikat kuat.


"Tubuh saya sakit om. Om terlalu erat memeluk saya." Felia yang berkata seperti itu membuat Edbert melonggarkan pelukannya.


"Maaf saya tidak sengaja." Felia tidak menjawab ucapan Edbert ia malah bangun dari ranjang, saat selimut yang menempel di tubuhnya terlepas Felia dengan cepat menarik selimutnya kembali.


"Kenapa tubuh kamu ditutupi? Tanpa kamu menutupi tubuhmu itu saya sudah melihat semuanya." lontar Edbert tanpa menyaring ucapannya, dia tak mengerti kenapa pria ini selalu bicara lebih dulu tanpa memiliki urat malu.


"Kamu mau kemana, Felia?" tanya Edbert melihat Felia turun dari ranjang dengan membawa selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Felia menatap Edbert tanpa melepaskan selimut ditubuhnya, "Aku mau mandi, om. Tubuhku lengket banget."


"Yasudah, mau mandi bareng?" tawar Edbert dengan santai, mendengar perkataan Edbert mampu membuat Felia kesal.


Tanpa menjawab ucapan Edbert ia dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Edbert memilih ke dapur. Tak butuh waktu lama Felia berada di kamar mandi, ia keluar dengan handuk yang masih menutupi tubuhnya.



Felia turun dari kamar memakai switer tali satu berwarna coklat, dengan dipadukan celana pendek yang warnanya senada dengan switer yang ia kenakan. Tanpa sengaja Edbert menatap penampilan Felia saat dia selesai meletakan masakan di meja makan. Melihat tatapan yang diberikan Edbert mampu membuat Felia bingung.


"Om. Om kenapa menatap aku seperti itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" kata Felia menatap pakaian yang ia kenakan, lelaki itu malah menghampirinya dengan tatapan masih menatapnya.


"Tidak ada yang salah dengan penampilan kamu ini. Tapi saya sangat menyukai semua pakaian yang kamu kenakan, mulai hari ini kamu harus berpakaian seperti ini supaya saya bisa memandang kecantikan kamu." pujian yang diberikan Edbert mampu membuatnya tersenyum, dia sangat menginginkan pujian dari pria ini tapi yang dia inginkan pujian dari Louis bukan dari ayah mertuanya.


"Kamu kenapa bengong? Dari pada kamu kebanyakan melamun lebih baik sarapan bareng om." Edbert menggenggam tangan Felia untuk ia bawa ke meja makan.

__ADS_1


Sikap romantis yang diberikan Edbert mampu membuat tersenyum senang, karena lelaki ini paling mengerti apa yang dia mau. Malah dia tidak merasakan kalau dia sudah bertunangan, Felia menganggap pertunangan itu seperti tidak terjadi pada kehidupannya.


"Kenapa aku merasa sikap Cici berbeda sekali, apa dia sedang merencanakan sesuatu sampai berbuat nekat seperti ini." ucapnya membatin, Felia yang berada diruang tamu dengan televisi menemaninya tak hanya itu saja ia sibuk melihat handphone mengenai Cici.


"Apa yang kamu lihat di handphone itu?" tanya seseorang yang baru saja datang dengan membawa piring berisi buah segar.


Pria itu meletakan piring di atas meja dengan duduk di samping Felia, saking asiknya Felia tidak menyadari kehadiran Edbert lelaki itu malah mengambil handphone dari tangan Felia.


"Om." ucapnya kesal, pasalnya pria ini selalu menggangu kesenangannya.


"Balikin handphone aku." pinta Felia, ia berusaha mengambil handphone dari Edbert tetapi pria itu malah menjauhkannya dari handphone miliknya.


"Sebentar Felia. Om mau melihat handphone kamu dulu." dia menyerah dan membiarkan Edbert melihat berita atau informasi mengenai Cici.


"Sudah ku duga wanita ini selalu mencari gara-gara. Apa dia pikir dengan menggunakan cara seperti ini putra saya akan menyukainya." ucapnya membatin dengan sibuk melihat berita mengenai Cici, semua informasi mengenai Cici sudah tersebar dan itu semua membuat lelaki di luar sana menatap dengan kesal.


"Kurang ajar! Bisa-bisanya dia melakukan hal seperti ini, apa dia tidak tau kalau perbuatannya selama ini mengganggu hubunganku dengan Felia." Louis menyingkirkan berita yang terus melintas di media sosial, ia menatap lelaki yang selalu menjadi orang kepercayaannya.


***


"Om, sudah tau mengenai karyawan Louis yang namanya Cici dia sahabat kamu 'kan?" tanya Edbert menatap Felia, ia mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Edbert.


Pria itu memberikan handphonenya kembali, melihat Edbert beranjak Felia dengan cepat mengikuti Edbert.


"Om, mau kemana?" tanyanya membuat Edbert menghentikan langkah kakinya, lelaki itu menatap Felia.


"Om, mau ke kamar." Felia melihat kepergian Edbert, ia memilih mengikuti pria itu ke kamar.


Sampai di pintu kamar Edbert Felia membuka gagang pintu dengan pelan, saat pintu terbuka ia tidak melihat Edbert melainkan kamar ini terlihat kosong. Felia menutup kembali pintu tersebut, ia mencoba mencari keberadaan Edbert saat dia menemukan satu ruangan yang dia yakini kalau ruangan ini adalah ruang kerja Edbert.


Tok! Tok!

__ADS_1


"Om, ini Felia. Felia boleh masuk, om?" panggil Felia dari luar, mendengar suara Felia Edbert menatap pintu itu dan meminta Felia masuk.


Felia membuka pintu ruangan Edbert, ia tersenyum melihat Felia berada diruang kerjanya. Felia melangkah kearah Edbert saat pintu itu sudah ditutup dengan rapat.


"Kamu kenapa mengikuti om Felia. Bukannya Om menyuruh kamu untuk diruang tamu saja." ucapnya melihat Felia duduk di kursi di dekat meja kerja.


"Aku bosan om. Aku tau pasti om memikirkan berita mengenai Cici, tapi bukan cara seperti ini menghancurkan Cici om." kata Felia menatap Edbert, ia membiarkan Felia bicara walau dirinya ingin sekali melahap wanita ini.


"Aku tau gimana sifat Cici, jadi sekuat apapun om melakukan pembalasan untuk Cici kita akan kalah om. Dia wanita yang pantang menyerang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, apapun yang dimiliki orang lain pasti dia ingin memilikinya."


"Aku sudah lama curiga terhadap Cici om. Aku juga sudah mencari tau mengenai Cici lewat Novan, dialah yang memberikan informasi mengenai Cici. Cici pernah merayu Louis untuk melakukan hubungan satu malam, supaya dia bisa mendapatkan Louis tapi semua rencananya gagal."


"Setelah berkali-kali rencananya gagal akhirnya dia berhasil. Aku tidak sengaja melihat dia keluar dari toilet dengan penampilan seksi, saya tau penampilan itu untuk menggoda Louis tapi saya tidak yakin apakah Louis akan tergoda atau tidak."


Edbert masih diam mendengar setiap kata yang diucapkan Felia, dia pikir wanita ini akan cemburu atau marah malah sebaliknya. Felia yang bersikap tenang seperti ini tau semuanya, sifat yang seperti inilah yang dia sukai dari Felia.


Felia yang merasa tangannya digenggam oleh Edbert memilih menatap pria ini, "Kamu tenang aja walaupun nanti Louis akan tergoda, saya masih ada di sisi kamu dan saya akan berusaha kamu menjadi milik saya."


"Saya tau kelakuan saya memang bodoh! Tapi saya lebih suka kamu bersama saya, saya tidak peduli hubungan kamu dengan Louis akan berjalan semakin jauh. Yang saya pedulikan cinta kamu ke saya, sekuat apapun kamu bersama Louis saya akan mendapatkan kamu dari tangan Louis." ucapan Edbert mampu membuatnya terdiam, dia tak tau harus mengatakan apa, hanya diam yang bisa dia lakukan.


Edbert meminta Felia menghampirinya, ia mengikuti kemauan lelaki ini. Dan pria ini memintanya untuk duduk di pangkuannya, Felia tidak bisa menolak karena ia membutuhkan seseorang yang selalu ada di sampingnya.


Edbert tersenyum melihat Felia patuh, ia memeluk tubuh Felia dengan mencium wangi tubuh Felia. Felia mengangkat kepalanya saat tangan Edbert memintanya untuk melihat Edbert.


"Jangan sedih gitu. Om tidak akan membiarkan kamu sedih, om akan memperjuangkan kamu sampai kamu bisa om miliki." ucap Edbert dengan menatap bibir Felia, ia dengan cepat melahap bibir itu, bibir yang sudah lama ia rasakan dan kali ini bibir itu akan menjadi tempat favoritnya.


Ia melepaskan penyatuan bibirnya memilih menatap Felia, "Mulai sekarang kamu akan menjadi kekasih saya Felia. Saya tidak peduli kamu sudah bertunangan dengan putra saya, yang saya pedulikan kamu hanya milik saya seorang."


"Tapi om... Aku sudah menjadi milik Louis gimana kalau Louis tau hubungan kita?" Edbert tersenyum melihat Felia khawatir, dan dia kembali mencumbui bibir itu kembali.


"Saya pastikan hubungan kita tidak akan diketahui Louis. Saya akan berjuang mendapatkan kamu sampai kamu bisa menjadi milik saya seutuhnya." Edbert kembali mencium bibir Felia, ciuman ini begitu lembut sampai dirinya saja membalas ciuman Edbert.

__ADS_1


__ADS_2