
Seminggu kepulangan Felia Edbert merayakan pesta penyambutan Felia, dia juga tidak lupa menghadiri seluruh perusahaan yang akan datang ke pestanya begitupun dengan Louis. Sebenarnya dia tidak ingin Louis datang, tapi ia ingin tau respon Louis saat melihat Felia seperti ini.
Apakah dia akan menyesal atau memang akan meminta maaf atas perlakuannya, Felia yang berada di kamar melihat Edbert sibuk memasangkan dasi. Felia melangkah kearah Edbert saat lelaki itu masih memandang dasi, Felia berdiri di depan Edbert dengan menghentikan pergerakan tangan pria ini.
"Sudah ayah biar aku aja yang memasangkan dasi untuk ayah." ucap Felia membuat Edbert tersenyum dengan sibuk memandangi penampilan Felia.
Malam ini Felia sangat cantik apalagi memakai gaun biru dongker sangat cantik, entah kenapa semakin hari Felia terus terlihat cantik dimatanya. Apalagi wanita ini terus sibuk memasang dasi.
"Sudah selesai ayah." ujar Felia menatap Edbert yang sibuk memandanginya, Felia sempat heran kenapa pria ini tidak menjawab malah asik memang wajahnya.
"Ada apa ayah? Apa ada yang salah dengan penampilanku atau riasanku yang berantakan." kata Felia yang sibuk menunjukan wajahnya, ia tidak tau apakah penampilannya malam ini salah atau gimana.
Edbert menghentikan tangan Felia yang terus menyentuh wajah, "Tidak Felia. Malam ini kamu cantik sekali, saya sampai tidak bisa berkedip melihat penampilan kamu."
Felia tersenyum mendengar pujian dari mulut ayah mertuanya, ini kesempatannya untuk memberikan hadiah untuk Felia. Edbert semakin mendekati wajahnya dan akhirnya ia bisa mencium bibir Felia di saat keduanya masih sibuk beradu cinta. Saat mereka ingin memperdalam ciuman itu tiba-tiba saja datang seorang lelaki yang membawa Alfred membuat keduanya tidak jadi untuk melanjutkan kegiatan barusan.
"Maaf tuan saya menganggu aktivitas tuan dan nyonya." ucap lelaki itu yang menghampiri keduanya, lalu Felia terkekeh melihat wajah Edbert yang sangat kesal.
"Baiklah, terima kasih pak sudah membawa Alfred kemari."
"Sama-sama nyonya." lelaki itu pergi setelah memberikan Alfred.
"Sudahlah ayah jangan cemberut gitu, lebih baik kita turun ke bawa menyambut tamu." kata Felia dengan menggendong Alfred, Edbert meminta Felia untuk memberikan Alfred kepadanya.
Ketiganya memutuskan untuk turun, di sana para tamu sudah melihat mereka bertiga datang. Semua tamu pada menyambut kedatangannya, sampai mereka pada melihat kearah Alfred. Si bayi mungil yang sudah menjadi sorotan tamu undangan.
"Wah Edbert kamu ini pintar sekali mencari istri, udah cantik, pintar dan cerdas lagi. Apalagi kalian sudah dikaruniai seorang anak, beruntung banget kamu Edbert mendapatkan perempuan hebat seperti istri kamu ini." ucap salah satu rekan bisnisnya.
Edbert tersenyum mendapatkan pujian seperti itu begitupun dengan Felia, dia tidak menyangka aja ternyata mereka mengira kalau dirinya istrinya Edbert malah dia menantunya.
__ADS_1
Semua orang pada memberikan pujian untuk Felia dan Edbert apalagi mereka diberikan seorang putra yang akan menggantikan posisi mereka, tidak dengan Louis dia melihat malam ini Felia sangat berbeda. Penampilan Felia seperti terpancar sinar yang begitu bercahaya, semenjak wanita itu tinggal di rumah Edbert wanita itu seketika berubah drastis.
Dia pikir wanita itu akan mendapatkan hinaan tapi kenyataannya dia salah, malah mendapatkan pujian atas keberhasilan Felia selama memimpin perusahaan yang berada di luar negeri. Semua rekan bisnis pada mengetahui Felia, apalagi wanita itu sangatlah cerdas saat mengelola perusahaan sendiri.
***
Louis mengepal satu tangannya dengan tatapan terus mengarahkan Felia, wanita itu benar-benar sudah berubah dan semakin berhasil setelah ia meninggalnya. Sedangkan dia lagi sibuk menstabilkan perusahaan, tidak ada yang dia harapkan dari Laura yang ada wanita itu semakin keras kepala.
"Kurang ajar kenapa wanita itu semakin hari semakin mempesona, apalagi sekarang Felia semakin berhasil dan dipuji semua orang. Apa aku bisa meminta maaf dan membuat wanita itu kembali seperti dulu." ucapnya dalam hati, lalu dia kembali meneguk minuman yang ia genggam dari tadi.
"Sayang, kamu lagi lihatin siapa sih?" tanya Laura yang penasaran dengan tatapan Louis, pandangan mata Louis terus tertuju pada Felia.
"Sial! Apa sekarang Louis sudah berubah pikiran untuk berpisah dengan Felia, apa Louis akan meninggalkannya dan kembali ke wanita tidak tau diri itu." batin Laura yang kesal dengan tatapan Louis.
Edbert membawa Felia dengan Alfred kearah Louis, mereka berdua melemparkan senyuman untuk Louis dan kekasihnya.
"Ayah jangan terlalu formal begitu. Aku ini masih putramu dan Felia masih istriku jadi jangan bicara seperti itu apalagi di depan Laura." ucap Louis terus menatap penampilan Felia.
Felia tertawa mendengar perkataan Louis, "Apa aku tidak salah dengar dengan ucapanmu itu Louis. Kita sudah tidak mempunyai hubungan apapun dan sebentar lagi hubungan kita akan berakhir."
"Maksud kamu apa Felia?"
Felia memandang Louis dengan melipat kedua tangannya, sedangkan Edbert sibuk menggendong Alfred untuk menidurkan putranya.
"Apa aku harus perjelas ucapanku ini Louis. Apa kamu ini bodoh tidak tau dengan maksud perkataanku."
"Gawat wanita ini sudah berani terhadapnya, ini tidak bisa dibiarkan ia akan berusaha mempertahankan Felia di sisinya jangan sampai dia kehilangan Felia." batin Louis sibuk memandangi Felia sedangkan Felia tidak peduli dengan lelaki brengsek di hadapannya.
"Baik Louis saya dengan Felia tinggal dulu, kalian berdua nikmati saja pestanya." tutur Edbert lalu dia membawa Felia pergi.
__ADS_1
"Sayang, kamu ini kenapa dari tadi diam aja malah sibuk menatap Felia. Kamu tau aku ini pacar kamu malah sibuk memandangi istri kamu itu." ucap Laura kesal, dia sangat tidak suka kalau Louis akan kembali ke wanita itu.
Louis mengabaikan ocehan Laura yang merusak gendang telinganya, ia memilih meninggalkan Laura saat dia melihat Felia pergi ke toilet. Louis segera menyusul wanita itu dan mengikuti langkah kaki Felia.
Felia sangat takut berhadapan dengan Louis, dia sangat marah saat bertemu dengan Louis. Apalagi dia mengingat bagaimana pria itu memperlakukan dirinya seperti binatang, yang lebih marahnya dia bertemu dengan Laura wanita tidak tau diri itu.
"Baik Felia tenangkan diri kamu, sekarang kamu harus bisa melawan perlakuan mereka terhadap kamu. Jangan sampai kamu lemah di hadapan mereka berdua." ucap Felia yang menatap penampilannya di depan cermin.
Akhirnya Felia memutuskan keluar dari toilet setelah membenarkan riasan di wajah, saat dia keluar dari toilet ia melihat Louis sedang menatapnya apalagi pria itu lagi bersandar di dinding dengan kedua tangan melipat.
"Buat apa kamu ada di sini?" tanya Felia dengan tegas.
Louis mengubah posisinya lalu dia melangkah menghampiri Felia, "Mau apa kamu mendekatiku lagi, aku sudah katakan sama kamu jangan dekat-dekat denganku lagi. Kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi."
"Apa aku tidak salah dengar Felia, kamu ini masih sah istriku tapi kamu berlagak seperti seorang wanita yang sudah berpisah dengan suaminya."
"Aku tidak menyangka ternyata kamu sudah banyak berubah ya! Aku kira kamu seperti dulu, yang lemah tanpa berani melawanku. Tapi sekarang kamu sudah menunjukan wajah tidak suka saat melihatku."
Felia sangat muak dengan pria ini, ingin sekali dia menendang pria ini jauh-jauh dan mengusir lelaki ini dari hadapannya. Felia semakin berhati-hati saat Louis mulai dekat, ia segera menjauhkan dirinya dari hadapan lelaki tidak tau diri ini.
Louis tersenyum dengan menyentuh wajah Felia, "Coba aku lihat wajah kamu sekarang, kenapa semakin hari kamu semakin cantik. Sudah berapa banyak ayahku memberikan uang untuk kamu sampai bisa seperti ini."
"Jangan coba-coba kamu menyentuhku, Louis. Atau aku akan berteriak dan meminta satpam untuk mengusir kamu dari sini." mendapatkan ancaman dari bibir Felia membuat Louis tertawa.
Apa dia tidak salah dengar, sekarang wanita ini sudah berani mengancamnya. Ia semakin dibuat gila dengan istrinya ini, dia terus menyentuh wajah Felia sampai wajah itu dia cengkram dengan tangannya sendiri.
"Sekarang kamu sudah berani ya melawan suamimu ini, apa kamu tidak takut kalau aku nanti akan melukai wajah cantik kamu ini." ucap Louis terus menatap Felia dengan wajah wanita ini terus ia cengkram.
"Aku tidak takut dengan lelaki brengsek seperti kamu, aku tidak akan sudi mengaku lelaki sepertimu suamiku. Karena aku sangat jijik mengakui kamu adalah suamiku." umpat Felia saat mulut kesusahan berkata, karena pria ini semakin kuat mencengkram wajahnya menggunakan tangan menjijikan itu.
Louis begitu marah dengan perkataan Felia, ia segera melepaskan tangannya yang berada di wajah Felia lalu dia kembali menatap Felia.
__ADS_1