Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Mencium Bau Pelakor


__ADS_3

Laura yang sudah menyelesaikan urusan kantor memutuskan untuk pulang, saat dia berpapasan dengan ruangan Louis ia melihat bosnya masih setia di sana.


Ingin sekali ia menghampiri bosnya itu dan membantu semua pekerjaannya, tapi ia sadar kalau dia hanyalah karyawan biasa. Seharusnya kaki ini melangkah ke luar kantor malah melangkah menuju ruangan Louis.


Tok! Tok!


Louis yang mendengar suara pintu ruangannya berbunyi menatap pintu tersebut, pintu itu terbuka saat dia melihat sosok wanita yang baru saja datang keruangan pribadinya.


"Ada apa, Laura? Kamu butuh bantuan saya lagi?" tanya Louis yang melihat sekilas kearah Laura lalu ia kembali melanjutkan pekerjaan.


"Tidak pak. Saya di sini kebetulan melihat bapak masih ada di kantor, jadi saya memutuskan keruangan bapak."


"Apa bapak butuh bantuan saya? Kalau bapak bantuan saya bisa membantu bapak." ucap Laura kembali dengan sibuk menatap wajah Louis.


Louis menghentikan jari tangannya saat dia sibuk mengetik, lalu dia beralih menatap Laura yang saat ia mendengar kalau wanita ini ingin membantunya.


"Kamu baru bekerja di kantor saya kenapa kamu bilang mau membantu saya."


"Saya gak tega melihat bapak kecapean jadi saya memutuskan untuk membantu pekerjaan bapak. Tapi kalau bapak tidak ingin dibantu oleh saya tidak apa-apa pak, saya bisa pergi dari ruangan bapak." kata Laura yang terus melihat Louis, lelaki itu memberikan sebuah senyuman saat karyawan baru ini dengan antusias ingin membantu pekerjaannya.


"Baik kalau itu mau kamu. Kamu bisa buat kopi untuk saya?" ucap Louis saat ia meminta Laura untuk membuat kopi untuknya.


"Bisa pak. Bapak mau kopi apa nanti saya buatkan."


"Kopi hitam dengan gula yang tidak terlalu manis ya! Soalnya saya tidak menyukai banyak gula." ucap Louis kepada Laura.


"Baik pak, saya akan segera buatkan kopi untuk bapak." Laura yang mendapatkan tugas itu segera menuju ke pantry.


Ia mengambil cangkir dan mencari tempat serbuk kopi hitam dengan gula ia tuangkan ke dalam gelas, tidak lupa Laura menyalakan mesin untuk memanaskan air di panty tersebut.


Selesai membuat kopi Laura bergegas membawa kopi itu keruangan Louis, ia mengetuk kembali pintu tersebut dan melangkah saat tangannya sibuk membawa satu gelas kopi.


"Ini pak kopinya."


"Letakan saja di meja saya." jawab Louis tanpa menatap kearah Laura, Laura masih berdiri di sana tanpa pergi ia masih nyaman melihat wajah bosnya.


Louis yang merasa Laura masih ada di ruangannya memilih menatap wanita itu, "Kamu kenapa masih di sini Laura. Sekarang sudah jam pulang kenapa kamu tidak pulang."

__ADS_1


"Saya nyaman di sini sambil menatap wajah bapak." tanpa sadar Laura bicara secara langsung tepat di depan Louis.


Laura yang sadar akan ucapannya langsung memilih mengganti topik, "Maksud saya bukan itu pak. Bapak butuh bantuan saya lagi sebelum saya pulang?"


"Tidak usah Laura kamu boleh pulang." ucap Louis.


"Baik pak, kalau gitu saya pulang dulu." Louis mengangguk barulah Laura bergegas pergi dari sana.


Edbert kembali saat ia melihat rumahnya terlihat sepi, ia melangkah ke lantai dua saat Edbert ingin membuka pintu kamar dia melihat kamar Felia.


Dia sedikit ragu untuk menghampiri Felia takutnya ia mengganggu tidur menantunya, akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri kamar Felia dan dia melihat Felia sudah terlelap ke alam mimpi.


Senyumannya tidak bisa berhenti saat melihat Felia tertidur, ia melangkah demi melangkah mendekati Felia dan dia berusaha tidak membangunkan Felia untuk duduk di pinggir ranjang.


Edbert menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Felia, merasa wajahnya ada yang menyentuh ia memutuskan untuk membuka mata. Dan di sana ia melihat Edbert tersenyum kearahnya dengan menyentuh wajahnya.


Edbert dibuat terkejut saat menantunya memeluk tubuhnya, ia tersenyum dan membalas pelukan Felia. Baru satu hari tidak bertemu dengan Felia seakan hidupnya tidak berarti lagi, dan begitupun dengan Felia ia merasa bahagia bisa bertemu dengan ayah mertuanya.


"Ayah. Ayah kemana aja satu hari ini, aku hubungi ayah tidak di jawab malah pesanku hanya dibaca tidak di balas." ucap Felia setelah melepaskan pelukannya.


"Maafkan ayah Felia, ayah banyak pekerjaan jadi tidak sempat hubungi kamu."


Rasa rindu yang amat dirasakan Felia terbayarkan saat Edbert mencium bibirnya, baru satu hari saja tidak bertemu dengan ayah mertuanya ia merasa kalau ayah mertuanya begitu lembut saat menciumnya.


Saking lembutnya Felia sangat menikmati sentuhan dari ayah mertuanya, saking asiknya menciumi menantunya ia tersadar dan melepaskan ciuman tersebut.


"Maaf ayah sudah membuat kamu khawatir, ayah tidak ingin kamu mengkhawatirkan ayah." ucap Edbert saat ia menatap menantunya dengan tatapan sendu.


Felia merasakan sentuhan lembut yang diberikan Edbert, sangat lembut sampai dirinya nyaman saat sentuhan itu mengenai kulitnya.


"Ya udah kamu tidur lagi aja ayah mau ke kamar dulu."


Saat Edbert ingin beranjak dari ranjang tiba-tiba aja tangannya dicegah oleh tangan Felia, ia menatap kembali wajah menantunya itu dan Felia segara melepaskan tangannya.


"Ayah, apa aku boleh tidur di kamar ayah?" tanya Felia.


"Memangnya Louis belum kembali, sayang." ucap Edbert membuat Felia menggeleng.

__ADS_1


"Yasudah kamu boleh tidur di kamar ayah." mendengar itu Felia tersenyum senang lalu ia dibuat tersenyum saat Felia memintanya untuk di gendong.


Begitulah Felia, bagaimana ia bisa menjauhi menantunya dia melihat Felia manja seperti ini. Dia tidak bisa kalau Felia berubah apalagi di saat seperti ini.


Ketika pagi hari Edbert sudah membuat susu hamil dan juga sarapan untuk Felia, di saat ia melihat Felia masih nyaman tertidur.


"Sayang! Felia! Bangun yuk sudah pagi sarapan dulu." ucap Edbert dengan lembut, Felia yang mendengar suara lembut ayah mertuanya memilih bangun.


Edbert memberikan susu hamil untuk Felia saat menantunya itu sudah bangun, ia melihat Felia menghabiskan susu itu dan ia mengambil gelas kosong dari tangan Felia.


"Sekarang sudah minum susunya, kamu tinggal mandi. Ayah akan tunggu kamu di ruang makan." ujar Edbert dengan memberikan sentuhan di kepala Felia, Felia mengangguk saat ia masih ingin berduaan dengan Edbert.


"Baru pulang kamu Louis." kata Edbert yang melihat Louis baru tiba di rumah.


Louis melangkah kearah Edbert, ia mengambil segelas air putih dan meminum air tersebut. "Iya, aku semalaman lembur jadi gak sempat pulang. Dimana Felia?"


"Istri kamu masih ada di kamar tunggu aja siapa tau dia lagi mandi." dan benar saja Felia sudah keluar dari kamar menghampiri kedua laki-laki tersebut.


"Kamu sudah pulang?" tanya Felia saat dia memberikan pertanyaan itu untuk suaminya.


"Iya, maaf ya aku semalam tidak bisa temani kamu tidur. Di kantor banyak banget pekerjaan jadi aku harus lembur."


"Iya, gak apa-apa." Ketiganya kembali memutuskan untuk sarapan bersama sampai mereka menghabiskan sarapannya.


Louis kembali ke kantor tepat jam sepuluh pagi setelah ia baru saja menyelesaikan kerja sama dengan perusahaan lain, ia dengan Novan tiba di kantor dan melanjutkan melakukan pekerjaan kembali.


"Laura, buat apa kamu ada di ruangan saya. Apa ada pekerjaan yang tidak kamu mengerti lagi?" kata Louis yang melihat Laura sudah berada di ruangannya dengan duduk menunggu kedatangannya.


Laura seketika berdiri dan menghampiri Louis, "Tidak pak, saya datang kemari mau memberikan makan siang untuk bapak."


"Makan siang?" Louis menatap bungkusan yang berada di tangan Laura, lalu ia tidak menghampiri Laura malah dia duduk di kursi kerja.


"Maaf Laura saya tidak bisa mengambil pemberian kamu, lebih baik makanan itu buat kamu aja saya akan makan siang dengan istri saya." ucap Louis saat dia mengingat kalau dirinya ingin mengajak Felia keluar.


Seketika tubuhnya terasa ada hawa panas menyelimuti tubuhnya, dia yang mendengar itu tidak suka kalau bosnya ini sangat dekat dengan istrinya dan dia ingin mengetahui siapa istri dari bosnya ini.


"Baik pak kalau gitu saya permisi, maaf sudah mengganggu waktu bapak." urai Laura membuat Louis mengangguk, ia kembali melakukan pekerjaan saat dia memberikan pesan kepada Felia.

__ADS_1


Felia tersenyum mengetahui bahwa Louis akan mengajaknya jalan-jalan, dan dia sedang menyiapkan pakaian yang cocok untuk berduaan dengan suaminya. Ia tidak tau Louis mau mengajaknya kemana, yang pasti dia sangat senang mengetahui Louis akan mengajaknya keluar.


__ADS_2