
"Saya tau gimana perasaan kamu sekarang, tapi Nia saya tidak memiliki perasaan apapun terhadap kamu. Saya tau kamu ini masih mudah jadi kamu lebih berhak mendapatkan lelaki yang memang pantas untuk kamu." tutur Edbert saat dia melihat wajah Nia yang kecewa.
"Siapa wanita itu?" tanya Nia saat suasana di ruangan itu awalnya hening menjadi tegang.
"Dia..."
"Dia menantu bapak kan?" Edbert terkejut mendengar pernyataan Nia, bagaimana bisa wanita ini tau.
Nia tersenyum saat mengetahui kebenarannya, "Saya tidak sengaja mendengar pembicaraan bapak dengan wanita lain, awalnya saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar tapi setelah saya tau bapak mencintai menantu bapak sendiri. Apa selama ini bapak tau kalau rasa cinta bapak ke menantu bapak tidak benar."
Nia menatap lelaki di hadapannya ini, lelaki itu dengan santainya membuka kotak yang berisi rokok dan tidak lupa ia mengeluarkan batang korek yang selalu dia bawa. Rokok itu ia nyalakan dan ia hisap sampai mengeluarkan asap rokok di ruangan tersebut, rokok itu dia letakan di asbak dan kembali menatap Nia.
"Kamu benar perasaan saya ke menantu saya itu salah, tapi saya sudah mencintai menantu saya sebelum menantu saya menikah dengan putra saya. Tidak ada salahnya kan kalau saya menyimpan perasaan terhadap menantu saya sendiri, apa kamu merasa keberatan dengan hal itu Nia?" lontar Edbert memandang Nia dengan nada serius.
Dia melihat Nia diam tanpa bicara apapun, lalu wanita itu kembali menatapnya. "Perasaan bapak tidak salah tapi gimana dengan perasaan saya, apa selama ini bapak tidak tau tentang perasaan saya."
Edbert menghela nafas panjang mendengar perkataan Nia, wanita ini tidak bisa bicara dengan baik-baik apa ia harus bicara dengan cara kasar supaya wanita ini sadar dengan perasaannya sendiri.
"Sudahlah Nia lupakan perasaan kamu ke saya, besok menantu saya akan kembali dan dia akan mengurus perusahaan ini. Saya mau kamu membuang perasaan kamu itu terhadap saya, saya tidak mau menyakiti kamu kalau sampai saya tidak membalas perasaan kamu." kata Edbert dengan tegas, tanpa bicara lagi Nia beranjak dan memutuskan untuk keluar dari sana.
Bagi Nia ini bukanlah terakhir, tapi awal pertama untuk memperjuangkan cintanya. Besok orang yang dicintai pak Edbert akan tiba, dia ingin tau siapa wanita itu apa dia lebih baik darinya sampai bosnya memilih menolaknya.
Keesokannya Edbert meminta Bob untuk mengurus kantor, dia pergi ke bandara membawa Alfred dan baby sister yang merawat Alfred. Ia terus memandangi setiap penumpang yang turun dari pesawat, saat itu juga ia berhasil menemukan Felia yang melangkah dengan melambaikan tangan ke atas.
Edbert yang melihat Felia kembali tersenyum dan memeluk Felia saat wanita itu sudah berada di dekatnya, "Aku kangen banget sama ayah, aku senang banget bisa pulang ke Indonesia bertemu ayah lagi."
__ADS_1
Edbert tersenyum saat mendengar ucapan Felia, lalu wanita itu melihat anak kecil yang digendong baby sister. Dia tau siapa anak lelaki itu, baby sister itu memberikan Alfred ke Felia membuat Felia memeluk putranya dan mencium kedua pipi Alfred.
"Bunda kangen banget sama kamu sayang, akhirnya bunda bisa melihat kamu lagi." ucap Felia yang lagi-lagi mencium Alfred dan memeluk bayi laki-laki itu.
"Baiklah, sekarang kita masuk ke mobil." Felia menatap Edbert dengan memberikan sebuah anggukan, ia menggendong Alfred sedangkan tangan Edbert terus memeluk pinggang Felia.
***
Selama di perjalanan Edbert tidak bisa berhenti menggenggam tangan Felia, begitupun dengan Felia yang sangat senang bisa bertemu dengan ayah mertuanya lagi. Tiba di rumah Edbert menghentikan mobil dan turun dari mobil, Edbert menutup pintu mobil lalu berjalan untuk membuka pintu mobil untuk Felia.
Ia meletakan satu tangan ke atas pintu mobil, Felia keluar dari mobil saat kepalanya dihalangi dengan satu tangan Edbert supaya kepalanya ini tidak terbentur ujung pinggang mobil. Dia begitu bahagia mendapatkan perlakukan romantis seperti ini, dia beruntung sekali memilih lelaki seperti Edbert.
"Tuan putri mau aku siapkan apa, nanti aku akan menyiapkan sesuatu khusus untuk tuan putri." ucap Edbert melihat Felia sudah duduk di sofa, Felia terkekeh melihat tingkah laku Edbert.
Gimana bisa lelaki ini bersikap menggemaskan seperti ini, "Apapun itu aku akan menerimanya."
Tiba butuh waktu lama Edbert selesai membuat minuman dan cemilan untuk Felia, ia melangkah dengan memberikan sebuah senyuman saat ia meletakan nampan yang dia bawa.
"Sudah jangan sibuk bermain dengan Alfred, kamu ini baru pulang kenapa tidak istirahat aja di kamar. Sekarang kamu minum dulu biar aku yang menggendong Alfred." ujar Edbert lalu Felia memberikan Alfred ke ayah mertuanya.
Felia meminum minuman buatan Edbert lalu dia kembali meletakan gelas tersebut, "Mau aku pijitin supaya tubuh kamu terasa lebih nyaman." tawar Edbert saat dia masih sibuk mengasuh Alfred.
"Tidak perlu ayah, aku tidak mau membuat ayah kesusahan gara-gara aku."
"Siapa juga yang merasa kesusahan malah aku senang bisa membuat kamu bahagia." Edbert meminta baby sister untuk mengurus Alfred sedangkan ia kembali menatap Felia.
__ADS_1
Tanpa diminta Edbert segera memeluk Felia dengan erat, dia sangat merindukan wanita ini sampai dirinya berusaha menahan rindunya akhirnya rindu itu terbalaskan juga. Felia mengelus kepala Edbert saat kepala lelaki ini berada di pundaknya.
"Felia, akhirnya saya bisa memelukmu lagi. Selama kamu pergi aku merasa kesepian, hari-hari ku cuman mengurus kantor dan itu semua membuatku bosan dengan pekerjaan itu." kata Edbert masih dengan posisi yang sama.
"Ya aku tau, tapi sekarang ayah sudah bertemu denganku dan ayah tidak sendirian lagi." Edbert melepaskan pelukannya lalu dia kembali menatap Felia.
Tanpa menunggu lagi Edbert segera mencium bibir Felia, bibir yang sangat dia rindukan itu terbalaskan juga. Felia yang awalnya tidak membalas ciuman Edbert, langsung membalas permainan Edbert. Pria ini sangat lihai dengan adegan seperti ini, apalagi sentuhannya sangat membuatnya jatuh hati.
Edbert masih nyaman dengan bibir ranum Felia sampai ciuman itu berpindah ke leher jenjang Felia, Felia memejamkan mata saat ia menikmati sentuhan Edbert dengan lembut saking lembutnya ia merasakan aliran darah masuk ke tubuhnya.
Ciuman itu terlepas saat ia menyadari kalau mereka sedang melakukan itu diruang tamu, sewaktu-waktu ada pembantu yang melihatnya bagaimana. Akhirnya Edbert menghentikan kegiatannya lalu dia melihat wajah Felia yang begitu cantik.
"Saya tau kamu kecewa dengan tindakan saya, saya tidak mau menuntaskannya di sini Felia. Saya takut nanti art atau baby sister Alfred datang dan melihat kita sedang bercinta di sini."
Benar juga yang dikatakan Edbert, ia juga tidak ingin dipergok oleh orang yang bekerja di rumah. Akhirnya keduanya memutuskan untuk melanjutkan kegiatan barusan nanti malam saat semua orang yang berada di rumah sudah terlelap.
Pagi harinya Edbert membawa Felia ke kantor untuk penyambutan Felia, seluruh karyawan sudah mengetahui kedatangan Felia akhirnya semuanya diminta untuk menyambut kedatangan mereka berdua. Mobil milik Edbert sampai di perusahaan, semua orang sangat antusias menyambut keduanya sampai Felia sangat terpukau dengan penyambutan ini.
"Ayah. Apa ayah yang melakukan ini semua?" tanya Felia yang baru saja keluar dari mobil, Edbert yang mendengar pertanyaan itu tersenyum saat ia melirik Felia.
"Sudah yuk sekarang kita masuk ke dalam." ucap Edbert membuat Felia mengangguk.
Felia terus memberikan sebuah senyuman saat seluruh karyawan antusias menyambut kedatangannya, tidak dengan satu wanita yang tidak menyukai penyambutan ini. Selesai penyambutan ia melihat Edbert terus menggandeng tangan wanita itu, saat keduanya masuk ke dalam ruangan pribadi Edbert.
"Jadi dia wanita yang dicintai pak Edbert. Sebenarnya apa keistimewaan wanita itu sampai pak Edbert menolaknya." batin Nia terus menatap mereka berdua.
__ADS_1
Ia tidak kenapa Edbert lebih memilih wanita itu dari pada dirinya, tapi yang pasti ia akan berusaha lagi untuk mendapatkan Edbert.