
Semenjak kejadian kemarin Louis memutuskan untuk tidak kembali, ia lebih memilih tinggal di sebuah rumah yang seharusnya ditempatkan dengan Felia dengan dirinya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan satu tangan menutupi kedua mata, saat dia mau memejamkan mata ia mendengar deringan handphone masuk ke dalam telinganya.
Louis memutuskan membuka mata dan melihat kearah handphone, di sana ada banyak pesan yang dikirim Novan dan pesan yang diberikan oleh Laura. Wanita itu memintanya untuk menjemputnya, Louis segara mengambil jaket dan kunci mobil untuk menjemput Laura.
Tidak butuh waktu lama Louis tiba di tempat dimana Laura kirimkan alamat, Laura yang mendengar suara mobil segera menatap mobil itu berhenti di depannya. Ia segera menghampiri mobil itu dan membuka pintu untuk masuk ke dalam.
"Kau sudah menunggu lama?" tanya Louis saat ia melihat Laura sibuk memakai sabuk pengaman.
"Tidak masalah aku menunggu asalkan sama kamu aku siap menunggu." Louis terkekeh mendengar ucapan Laura, ia sangat senang saat Laura berada di dekatnya.
"Baiklah, sekarang kamu mau kemana?" tanya Louis kembali saat ia sibuk mengendarai mobil.
"Ke tempat spesial supaya saya sama kamu bisa berduaan."
Setelah percakapan itu Louis lebih fokus mengendarai mobil, sedangkan Laura terus menggenggam tangan Louis dengan kepala bersandar di pundak lelaki ini. Tiba di tempat tujuan Louis menghentikan mobil, dia dengan cepat menatap Laura yang masih nyaman memeluk lengannya.
"Laura, kita sudah sampai." ucap Louis membuat Laura melepaskan genggamannya, lalu dia melihat bahwa dirinya sudah tiba di tempat tujuan.
Sebelum keluar dari mobil Laura memilih menatap Louis, "Bapak tidak mau ikut dengan saya?"
Tidak butuh waktu lama Laura mengajak Louis ikut dengannya, dia terus menggenggam tangan bosnya sampai di dalam. Semua orang yang berada di sini pada menikmati minuman, ada juga yang menikmati bermain dengan wanita seksi yang sudah disediakan di tempat ini.
Sedangkan Louis yang melihat itu langsung tergiur dengan pemandangan ini, lalu dia melihat Laura yang sibuk menarik tangannya untuk mengikuti wanita itu.
"Laura, sebenarnya kita mau kemana? Kenapa kau terus menarik tanganku." kata Louis masih mengikuti langkah Laura.
__ADS_1
"Kita mau bersenang-senang pak." mendengar itu Louis cukup mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir Laura, sampailah mereka di sebuah tempat yang sudah dipesan lebih awal untuk mereka berdua.
"Gimana pak! Apa bapak suka tempat ini?" ujar Laura saat ia melihat Louis melihat sekeliling tempat yang ia datangi, sungguh ini pemandangan yang langka.
Saat dia melihat pemandangan di bawah sana terdapat banyak orang menikmati minuman, ada juga yang menikmati wanita cantik dan dia berada di sebuah ruangan yang cukup enak di pandang. Tak hanya itu saja tempat ini cukup untuk ia bisa mencerna penglihatannya, lalu ia kembali menatap Laura yang sibuk meletakan tas.
"Laura, apa kau yang memesan ini semua?" pertanyaan itu sontak membuat Laura membalikan tubuhnya, ia mengangguk saat Louis tersenyum dengan jawabannya.
Langkah kakinya terus saja melangkah menghampiri Louis yang duduk di atas ranjang, lalu sudah berada di depan Louis dengan pakaian yang cukup seksi bagi pandangan Louis.
"Saya tau bapak banyak sekali beban hari ini. Jadi saya mengajak bapak ke tempat ini untuk menghilangkan beban bapak, gimana bapak menyukai tempat ini?" Louis melihat bagaimana bisa ia bertemu dengan wanita secantik dan seseksi Laura, ia juga tidak menyangka kalau Laura bisa membuatnya bahagia.
"Saya sangat menyukainya. Apalagi kalau bersama denganmu, terima kasih kamu sudah membuatku bahagia hari ini. Kamu memang paling tau apa yang saya butuhkan Laura." lontar Louis membuat Laura tersenyum, lagi-lagi Louis terpana akan kecantikan Laura.
***
Louis dengan cepat menyerang tubuh Laura, membuat pemilik tubuh itu terhentak merasakan kenikmatan sentuhan yang diberikan Louis. Sungguh luar biasa pengalaman ini, pengalaman yang sudah mereka tunggu-tunggu tanpa diketahui orang lain.
Louis terus menerus menyerang tubuh Laura sampai dirinya tidak bisa menghentikan kegiatan panas ini, begitupun dengan Laura ia sangat menikmati permainan liar bosnya ini. Baginya sentuhan Louis adalah sentuhan yang paling ia sukai, di saat ia merasa kenikmatan sentuhan yang belum pernah ia rasakan dari pria manapun.
Pertengkaran hebat kemarin membuat Felia tidak bisa menghubungi Louis, handphone suaminya itu tidak bisa dihubungi di saat ia mengkhawatirkan keadaan suaminya yang sudah tidak pulang ke rumah.
Edbert yang baru saja selesai mengurus dokumen tidak sengaja ia melihat Felia melamun, lamunan itu begitu menyakitkan saat mengetahui bahwa Felia terus menunggu kedatangan Louis.
"Felia." panggil Edbert membuat Felia sibuk menyalakan televisi.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa, sayang?" pertanyaan itu membuat Felia menggeleng, ia tidak mau ayah mertuanya ini mengetahui kalau dirinya sedang memikirkan pertengkaran kemarin.
Edbert yang melihat itu merasa hatinya hancur, ini pertama kalinya dia melihat Felia seperti ini. Dia dengan meraih kedua tangan Felia saat tangan itu sibuk menggenggam remote tv.
"Jangan terlalu memikirkan masalah kemarin Felia. Saya tau kamu sedang memikirkan Louis, tapi ayah tidak mau melihat kamu stres dan memiliki beban pikiran. Ingat kamu lagi hamil kasihan nanti anak kamu." kata Edbert membuat Felia menunduk, ia tidak tau harus berbicara apa yang pasti ucapan ayahnya benar.
Tatapan mereka saling bertemu saat tangan Edbert mengambil dagu Felia, dagu yang mampu membuat Felia melihat wajah ayah mertuanya. Felia terkejut saat Edbert tiba-tiba saja menciumnya, ciuman yang sangat lembut membuat ia merasakan kalau ayahnya ini bisa membuatnya tenang.
Ciuman itu berakhir lalu Edbert mengelus pipi kanan Felia dengan lembut, kelembutan tangan ini yang selalu membuatnya nyaman. Edbert merasa kalau dirinya sudah mencintai menantunya, dia juga tidak yakin kalau Felia akan merasakan cinta ini. Cinta yang ia berikan dengan tulus untuk menantunya, tetapi ia sadar kalau ia tidak mau merusak pernikahan putranya.
"Sudah sekarang tidak usah kamu pikirkan lagi, sekarang kamu pikirkan anak kamu saja jangan pikirkan yang lain. Masalah Louis biar ayah saja yang mengurusnya kamu istirahat saja di kamar." ucap Edbert membuat Felia mengangguk, Edbert melihat Felia sudah melangkah kearah kamar barulah ia mengeluarkan handphone di saku celana.
Ia sangat sibuk berbicara sama seseorang, seseorang yang akan membantunya untuk menyelidiki keberadaan Louis. Selesai bicara dengan orang kepercayaannya, Edbert memutuskan untuk mengakhiri panggilan tersebut.
Louis merasakan tubuhnya sangatlah lelah saat ia baru saja membuka mata, dia melihat seseorang memeluknya dengan posisi tubuh yang sama-sama telanjang. Di sanalah dia melihat Laura yang begitu cantik dan seksi, wanita ini begitu membuatnya terpukau akan kecantikan dan bentuk tubuhnya.
Laura yang merasa wajah disentuh seseorang langsung membuka mata, dia tersenyum saat mengetahui kalau Louis yang berada di sampingnya dengan tubuhnya terus menghadap kearahnya.
"Bapak jangan melihatku seperti itu aku 'kan jadi malu dilihat seperti itu." ucap Laura yang segera menutup wajahnya di dada bidang Louis.
Louis yang mendengar itu terkekeh dengan tingkah laku Laura yang begitu menggemaskan, lalu dia mengangkat wajah Laura untuk ia bisa melihat wajah cantik wanita ini.
"Jangan malu gitu, buat apa malu kalau saya sangat menyukai wajah kamu." Laura tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, kalau sebenarnya ia sangat menyukai bosnya ini.
"Gombal. Biasa-biasanya bapak gombal seperti itu sama saya." ucap Laura dengan memukul dada bidang Louis, melihat itu Louis semakin tertawa melihat tingkah laku Laura.
__ADS_1