
Selesai meeting Laura kembali keruangan kerja, di sana ia sudah disediakan banyak pekerjaan yang menumpuk sampai dirinya benar-benar kelelahan akibat pekerjaan tersebut. Jam makan siang waktunya Laura bersiap, Laura segera menyelesaikan pekerjaan barulah ia melangkah keruangan Louis.
"Lima menit lagi jadwal bapak untuk bertemu pak William akan dimulai pak. Bapak mau berangkat sekarang atau nanti aja?"
Louis melihat Laura yang sangat teliti dengan pekerjaan, "Sekarang aja Laura, saya tidak mau saya sampai terlambat bertemu klien saya."
"Baik pak." keduanya keluar dari ruangan tersebut, Louis terus menyibukan diri untuk fokus menyetir sedangkan Laura terus mengecek laporan yang saat ini dia bawa.
Tiba di sebuah cafe Louis dengan Laura turun dari mobil dengan masuk ke dalam cafe tersebut, di sana dia melihat dua lelaki sudah berada di sana.
"Sorry I'm late Mr. William!" ucap Louis saat lelaki tampan itu tersenyum dan berdiri menyambut kedatangannya.
"No problem, Mr. Louis!" Louis memutuskan untuk memulai lebih dulu saat William sedang mengamati bagaimana Laura menjelaskan tentang inti dari kerja sama tersebut.
Louis tersenyum saat William menyetujui kerja sama ini, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk kembali ke tempat asal dan tinggal dia dan Laura yang masih ada di cafe tersebut.
"Saya bangga sama kamu Laura, kamu memang wanita yang paling bisa diandalkan. Saya beruntung mendapatkan sekretaris seperti dirimu."
Laura tersenyum saat Louis memuji dirinya, "Sama-sama, pak."
"Sayang, menurut kamu Felia izinin aku tinggal di rumah kamu gak?" tanya Laura saat Louis sibuk menikmati secangkir kopi, Louis segera meletakan kembali cangkir kopi itu.
"Maksud kamu gimana?"
Laura menghela nafas sebelum ia memulai pembicaraan lagi, "Kamu kan tau kalau aku tinggal di kosan, apalagi kos-kosan itu terbilang mahal. Dan masa habis aku ngekos di sana tinggal dua hari lagi, apa menurut kamu aku tinggal sama kamu aja supaya kita bisa berangkat ke kantor bersama."
Louis yang mendengar itu terdiam seketika, dia tidak tau apakah Felia mengizinkan Laura tinggal di rumah atau tidak. Tapi dia juga takut kalau nanti hubungannya dengan Laura ketahuan.
Laura yang merasa Louis diam saja memutuskan untuk menyentuh tangan Louis, "Sayang bagaimana apa kamu setuju dengan keputusan aku?"
__ADS_1
"Hem, gimana ya. Aku gak bisa mutusinnya sekarang, apa aku bilang dulu ke Felia baru aku kabarin kamu lagi." kata Louis membuat Laura mengangguk, sebenarnya ia juga kecewa kenapa Louis harus minta izin segala ke Felia.
Kenapa lelaki ini tidak bisa mengatakan "ya" tanpa harus meminta izin ke istrinya, dan kalau begini ia yang harus menunggu keputusan Louis. Dia berharap kalau Felia mengizinkan dia tinggal, tanpa harus membayar tempat tinggal dengan harga mahal.
Pulang dari kantor Louis melihat Felia sibuk di dapur, wanita itu dengan telaten menyiapkan makan malam untuk hari ini sampai dirinya melangkah menghampiri istrinya.
"Sayang." ucap Louis yang tiba-tiba saja memeluk Felia, Felia yang merasakan sentuhan itu kaget dengan adanya Louis.
Felia mematikan kompor dan membalikan tubuhnya untuk menatap Louis, "Kamu ini kenapa selalu mengagetkan aku, kalau kamu pulang seharusnya ngomong jangan mengangetkan aku seperti tadi."
"Maaf sayang. Habisnya kamu serius sekali masaknya sampai tidak mendengar suamimu ini pulang."
"Ya sudah. Sekarang kamu bersihkan tubuh kamu baru kemari untuk makan malam." ujar Felia membuat Louis mengangguk, Felia menatap suaminya sudah beranjak dari sana menuju ke lantai atas sedangkan ia melanjutkan aktivitas masak.
***
Sepasang suami istri itu sibuk sarapan bersama saat Louis terfokus dengan kecantikan Felia, dia baru sadar semenjak Felia melahirkan tubuh Felia tidak seperti dulu, malah wanita ini tidak ada daya tarik lagi.
"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku." tutur Felia saat dia memandang Louis menatapnya dengan datar.
Felia terkejut saat suara hentakan sendok digebrak oleh Louis, dia merasa kalau hari ini Louis berubah ia tidak tau kenapa Louis menjadi seperti ini. Dan dia melihat kalau Louis tidak bicara malah lebih banyak diam.
"Sayang, kamu kenapa diam aja. Apa aku punya salah sama kamu sampai kamu ngebrak meja gitu." Felia benar-benar tidak tau kenapa sifat Louis mulai berubah tapi yang pasti sikap Louis hari ini sangat berbeda.
"Gimana aku bisa betah di rumah lihatlah penampilan kamu sekarang, semenjak kamu hamil kamu tidak bisa menjaga penampilan kamu malah seperti pembantu."
"Pantas saja kamu seperti ini, lihatlah kamu yang dulu sama sekarang sangatlah jauh berbeda. Aku sudah muak sama kamu Felia, aku tidak ingin makan lagi kamu habiskan saja semua makanan ini." lontar Louis dengan langkah kaki ke lantai dua, Felia yang mendengar perkataan itu membuat hatinya sakit.
Sangatlah sakit sampai dirinya tak percaya kalau Louis bisa bicara seperti itu, apa penampilannya sekarang seperti itu samping Louis tidak mau melihatnya lagi. Tapi yang dikatakan Louis benar semenjak hamil dia tidak peduli dengan penampilannya, sekarang yang ia pedulikan hanyalah putranya dari pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Louis terus berdiam diri di dalam kamar sampai dirinya terus menatap Alfred yang tertidur pulang, "Apa ucapanku barusan menyakiti perasaan Felia, apa dia akan marah atau tersinggung dengan perkataanku barusan." gumamnya dalam hati dengan terus memandang Alfred yang tertidur pulas.
Selesai makan Felia memutuskan untuk ke kamar, di sana dia melihat Louis sedang memandang Alfred tanpa mau melihat kearahnya.
"Sayang." tak ada sahutan dari Louis dan dia merasa kalau Louis tidak tertarik kepadanya lagi.
Seketika Louis merasa kalau Felia duduk di sampingnya, "Sayang, maaf selama ini aku tidak pernah pedulikan diriku sendiri sampai kamu tidak menyukai penampilanku yang sekarang. Aku janji aku akan berusaha mengubah penampilanku untuk kamu, tapi aku mohon jangan bersikap kasar seperti tadi aku takut melihatnya."
Awalnya dia tidak ingin melihat Felia, dia lebih tertarik dengan putranya dari pada istrinya sendiri. Tapi saat dia mendengar suara isakan mampu membuatnya menatap, benar saja kalau Felia sedang menahan tangis.
Louis menghela nafas panjang lalu dia segera membawa tubuh Felia ke dalam pelukan, di sana Felia terus saja menangis sampai dirinya berusaha menenangkan Felia.
"Sudah jangan menangis lagi, kamu tidak perlu minta maaf Felia seharusnya saya yang minta maaf sama kamu. Maaf! Maaf saya sudah membentak kamu, saya tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu sampai saya bicara tentang penampilan kamu." kata Louis terus mengelus punggung Felia.
Louis melihat wajah Felia sudah dipenuhi air mata saat Felia melepaskan pelukannya, dia yang melihat itu segera menghapus air matanya.
"Sudah jangan nangis lagi, maafin saya ya sudah membentak kamu." ucapnya dengan lembut membuat Felia mengangguk.
Saat mereka terfokus menatap Alfred Louis kembali menatap Felia lalu dia segera membuka suara, "Sayang, apa aku boleh bicara sesuatu sama kamu?"
Felia yang penasaran langsung terfokus dengan pembicaraan suaminya, "Felia, Laura kan sudah menjadi sekretarisku menggantikan Novan. Dia itu sekretaris yang paling aku andalkan di kantor, dia bilang kalau dia ingin mencari tempat tinggal katanya masa dia tinggal di kosan tinggal dua hari lagi."
"Makanya dia minta aku untuk numpang di rumah ini untuk sementara waktu sampai dia bisa menemukan tempat tinggal baru." kata Louis dengan melihat kearah Felia.
Dia berharap kalau Felia mengizinkannya, karena dia tidak mungkin kehilangan Laura apalagi dia jarang sekali berduaan dengan kekasihnya itu.
Setelah berpikir panjang akhirnya Felia memutuskan untuk mengizinkan Laura tinggal, Louis yang mendapatkan izin itu wajahnya langsung senang dan dia segera menghamburkan pelukan dekapan Felia.
"Makasih ya sayang kamu mau mengizinkan Laura tinggal di sini." kata Louis saat dia sudah melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Sama-sama."
Sejujurnya dia tidak mengizinkan Laura tinggal di rumah ini, tapi dia juga tidak tega melihat Laura apalagi wanita itu tidak punya keluarga. Bagaimanapun dia sudah menganggap Laura sebagai adiknya, dan dia juga yang membantu dirinya saat dia mengadakan acara di rumah.