Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Liburan Dengan Ayah Mertua


__ADS_3

Visual pemain SDAM


Edbert Ellard Cedric




Laki-laki yang memiliki banyak pesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Felia.


Louis Loftus Road



Kekasih sekaligus suami Felia


Felia Abigail Nestha



Mayra



Cici



Bob Marley



Novan



Sekian visualnya hari ini, silahkan dipilih siapa tau berminat jadi pendamping mereka 😂😂


…


Tiba di villa Edbert terus tidak mau mengajak Felia bicara, dia malah sibuk membuka kulkas dan mencari minuman kaleng. Melihat Edbert mengambil minuman soda Felia dengan cepat merebut minuman soda itu.


Minuman itu di letakan kembali dan menggantikan minuman lain, Felia menggeleng kepala melihat tingkah laku Edbert. Umur sudah tua tapi tingkahnya seperti anak kecil.


Felia membawa satu jus kotak dan dua gelas, ia melangkah di tempat Edbert berada. Pria itu tetap dengan pendiriannya, Felia menuangkan jus kotak ke dalam gelas dengan memberikan jus itu ke Edbert.


"Sudah jangan cemberut lagi. Ini minum jusnya!" ucap Felia yang masih menyentuh gelas berisi jus.


Dia tersenyum saat Edbert mengambil jus itu, lalu gelas itu terlihat kosong saat Edbert meletakan gelas itu kembali. Felia dengan cepat menyentuh dagu runcing Edbert membuat Edbert menatap wajah Felia.


"Masih marah?"


"Nggak."

__ADS_1


"Yakin?" tanya Felia kembali dengan tatapan masih menatap Edbert.


"Iya." Felia melepaskan tangan itu lalu dia mendiamkan Edbert, melihat sikap Felia yang berubah membuatnya ketar ketir.


Pasalnya dia tidak pernah melihat Felia bersikap cuek dan baru pertama kali Felia bersikap dingin, melihat Edbert tiduran di pangkuannya membuatnya tersenyum tapi ia membiarkan itu.


"Sayang."


"Honey!"


"Felia!" panggilan ketiga barulah Felia menatap, menatap lelaki ini yang terus merengek dan gengsian kalau sedang cemburu.


"Kenapa? Bukannya kamu lagi marah, kenapa memanggilku." ucap Felia yang masih terfokus menatap wajah Edbert.


"Aku gak marah."


"Terus?"


"Felia!" melihat itu membuatnya tertawa lepas, Felia dibuat tertawa saat Edbert terus merengek.


"Aku ini gak marah sama kamu tapi..."


"Tapi apa? Cemburu?" mendengar ucapan Felia yang tepat sasaran membuatnya terdiam, ia malah mengambil tangan Felia untuk dia letakan di pipi kanannya.


"Iya. Aku cemburu lihat kamu ngobrol dengan pria lain, malah kamu bersikap cuek saat pacar kamu lagi cemburu sama kamu." kata Edbert membuat Felia tersenyum.


Felia membiarkan pria ini bersikap manja barulah ia bisa berbicara dengannya, "Aku sudah bilang sama kamu. Aku dengan dia tidak ada hubungan apa-apa, lagian aku tidak mengenal lelaki itu. Kenapa kamu malah bersikap seperti kekanak-kanakan."


Felia menghela nafas panjang dan dia memilih jaraknya lebih dekat dengan Edbert, melihat sikap Felia membuat tubuhnya kaku. Kaku saat Felia tiba-tiba menciumnya, saat Edbert ingin membalas ciuman itu Felia dengan cepat menutupi wajahnya dengan bantal sofa.


"Sayang!" ucap Edbert sedikit kesal, barulah mereka kembali berciuman di saat film televisi malah menonton kegiatan mereka.


Selama di Bali Felia tidak pernah menanyakan keberadaan Louis ataupun bertukar pesan, dia malah bersikap seperti tidak memiliki suami karena sikap Louis yang membuatnya menjadi acuh.


Malam ini Edbert mengeluarkan empat botol minuman, minuman yang sempat ia beli saat di supermarket. Minuman itu yang akan membuat mereka terasa hangat, Felia keluar dari kamar saat matanya menemukan sosok laki-laki yang sibuk merapikan meja.


"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Felia dengan langkahnya terus menghampiri Edbert, melihat Felia berjalan kearahnya dengan pakaian seksi membuatnya terganggu.


Edbert dengan cepat bangun dan terfokus menatap pakaian Felia, "Kenapa kamu berpakaian seperti itu? Kamu taukan cuaca di luar sangat dingin kalau kamu sakit gimana."


"Aku gak terbiasa memakai pakaian tertutup apalagi di dalam ruangan. Kamu taukan kalau aku suka memakai pakaian terbuka apalagi saat di dalam kamar." kata Felia yang baru saja duduk di sofa tunggal dengan kaki diangkat ke kaki satunya.


Edbert dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya supaya pikirannya tidak terganggu dengan pakaian Felia, dia berusaha menjauhkan pikiran aneh saat ia masih sibuk dengan laptop.


Bagaimana ia bisa fokus sedangkan Felia berada di dekatnya, dia sudah berusaha menahan nafsunya tapi tidak sekuat itu. Semakin dirinya menahan gejolak di dalam tubuh, semakin hidupnya menderita. Apalagi dia melihat Felia sibuk memakan satu apel merah dengan tangan sibuk memainkan handphone.


"Sayang, kapan kita kembali?" pertanyaan itu sontak membuat Edbert tersadar, dari tadi ia terus memandang penampilan Felia dari atas sampai dirinya melupakan pekerjaannya.


"Kenapa kamu menanyakan itu. Bukannya kamu suka tempat ini?" ucap Edbert yang sedikit bingung dengan perkataan Felia.


"Aku memang menyukai tempat ini tapi aku gak bisa terlalu lama di tempat ini."


"Why?"

__ADS_1


"Aku gak mungkin ninggalin pekerjaan aku di sana, kantor sedang membutuhkan aku."


"Kamu yakin memikirkan kantor bukan memikirkan yang lain?" pertanyaan yang dilontarkan Edbert membuat Felia terdiam, dia berusaha untuk tidak dicurigai oleh pria ini tapi ia malah ketangkap basah.


Tatapan tajam yang diberikan Edbert mampu membuatnya mati kutu, akhirnya dia mengakui kalau dirinya memikirkan Louis. Selama di Bali Louis tidak pernah menanyakan kabarnya, memberikan pesan saja tidak dan semua itu membuat dirinya curiga.


"Baiklah, besok kita pulang." urai Edbert membuat Felia senang.


***


Tiba di bandara Felia memilih ke kantor, Edbert dengan senang hati mengantarkan Felia. Tetapi sampai di sana Edbert dengan cepat menarik tubuh Felia, membuat tubuh itu mengenai tubuh lelaki ini.


Saat Felia ingin menjauhkan dirinya dari dekapan Edbert ia merasa Edbert mempererat tubuhnya, "Lepasin om."


"Nanti dulu saya masih kangen sama kamu." ucapnya dengan pandangan menatap sebuah mobil, mobil itu berhenti di depan pintu utama perusahaan.


Yang membuat dia kaget, ia melihat Louis keluar dari mobil itu. Dia baru sadar ternyata mobil yang dinaiki Louis bukan mobil pribadi Louis melainkan mobil orang lain. Melihat kepergian mobil itu membuat Louis masuk ke dalam barulah ia bisa melepaskan pelukannya.


"Om, lagi lihat siapa?" tanya Felia tiba-tiba, Edbert memilih menatap Felia saat dia penasaran siapa pemilik mobil itu.


"Bukan apa-apa." Felia memperhatikan tingkah laku Edbert, dia juga penasaran kenapa dari tadi lelaki ini terus menatap kearah luar.


"Om yakin tidak mencari sesuatu?"


Edbert tersenyum saat Felia masih penasaran dengan dirinya, "Iya, sayang. Sudah sana masuk nanti Louis cari kamu." Edbert tidak lupa memberikan sentuhan di kepala Felia.


Melihat Felia sudah keluar dari mobil dan wanita itu sudah masuk ke dalam, ia dengan cepat pergi dari sana. Kedatangan Louis membuat Novan tersenyum, pasalnya pria ini sudah meminta izin tidak ke kantor dan baru hari ini Louis kembali.


"Selamat pagi, bos." sapa Novan hanya dibalas dengan anggukan, Novan melihat Louis sudah duduk di bangku kantor.


"Apa hari ini Felia ke kantor?" tanyanya dengan menatap Novan.


"Saya kurang tau bos. Sudah tiga hari Bu Felia tidak ke kantor."


"Tiga hari? Dia sakit sampai tidak masuk kantor." melihat gelengan kepala dari Novan membuatnya berpikir sejenak, tiga hari? berarti waktunya seperti dia tidak datang ke kantor.


Belum sempat Louis berbicara kedua lelaki itu mendengar suara, suara yang sangat dia rindukan. Melihat kedatangan Felia membuat Louis beranjak dari tempat duduk, ia memilih menghampiri sang istri dengan memeluk tubuh Felia.


"Aku kangen banget sama kamu." ucap Louis tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Felia.


keduanya saling melepaskan pelukan dengan Felia menatap wajah Louis, "Aku juga."


"Novan beritahu aku katanya kamu tidak masuk kantor selama tiga hari. Kamu sakit? Kalau sakit aku akan bawa kamu ke dokter." tutur Louis dengan memberikan ekspresi khawatir.


Felia tersenyum lalu, "Nggak. Aku tidak sakit."


"Kalau gak sakit terus kamu kemana selama tiga hari itu?" pertanyaan itu sontak membuat Felia terdiam, diam untuk mencari alasan supaya Louis mempercayainya.


"Aku diminta ayah untuk membantu mengurus kantor jadi aku tidak bisa datang. Maaf tidak memberitahu kamu dari awal."


"Nggak apa-apa, aku ngerti posisi kamu gimana. Mau kamu kerja di kantor ayah atau di kantorku sama aja, bukan. Tidak masalah untuk aku yang terpenting kamu sehat." ucap Louis dengan menyentuh pipi Felia, Felia memejamkan mata menikmati sentuhan Louis di pipinya sampai mereka tidak sadar kalau Novan melihat kemesraan mereka.


"Ekhem. Sudah waktunya kerja sepertinya aku harus kembali, bos. Kalau gitu saya pergi dulu." Louis tidak memperdulikan ucapan Novan ia malah terfokus dengan kehadiran Felia.

__ADS_1


__ADS_2