
Kepulangan Louis membuat mereka berdua kaget, pasalnya lelaki ini secara tiba-tiba mengatakan ingin dipercepat pernikahannya. Masalahnya jadwal pernikahan mereka baru ditentukan satu tahun dan sekarang Louis meminta pernikahannya di majukan.
Sekarang mereka bertiga berkumpul di ruang tamu dengan posisi duduk mereka sedikit menjauh, Edbert melirik Felia dengan memikirkan bagaimana caranya pernikahan ini dibatalkan. Tapi dia juga tidak mungkin menghalangi pernikahan Louis.
"Bagaimana menurut ayah?" Edbert menatap Louis saat lelaki ini meminta pendapatnya.
Ia memilih menghela nafas dengan tatapannya beralih ke Felia, "Baiklah. Ayah akan mengikuti kemauan kamu, asalkan persiapan pernikahan kamu sudah disiapkan."
"Ayah tenang aja semua persiapan pernikahan sudah aku urus tinggal minta Felia mencoba gaun pengantin." ucap Louis dengan melirik Felia, dia cuman bisa terdiam dengan keputusan mendadak ini.
Baru saja dia menikmati momen kebersamaan dengan Edbert dan sekarang Louis memintanya untuk memajukan pernikahan. Mereka bertiga sampai di sebuah butik yang sudah dipilih Louis, Louis sibuk melepaskan sabuk pengaman barulah dia menatap Felia.
"Kita sudah sampai. Sayang, kamu cobain gaun pengantinnya dulu nanti kalau menurut kamu tidak cocok aku akan membawa ke butik yang lain." kata Louis membuat Felia mengangguk, Louis lebih dulu keluar dari mobil sedangkan Felia masih berdiam di dalam mobil.
"Om." Felia menghela nafas melihat Edbert keluar dari mobil, ia tidak tau apa yang terjadi kepada pria itu yang pasti dia ingin membatalkan pernikahan ini.
"Selamat sore! Mba, mas. Ada yang bisa saya bantu?" kata karyawan butik dengan ramah, karyawan butik itu menatap mereka bertiga.
"Tolong kamu bawa wanita ini untuk melihat gaun pengantin. Saya mau calon istri saya yang memilih gaunnya." ucap Louis kepada karyawan wanita itu.
Karyawan itu mengangguk dengan menatap Felia, "Mari mba, ikut saya."
Sebelum Felia mengikuti langkah kaki wanita itu ia menatap Edbert, pria itu hanya diam dengan memainkan handphone. Felia melangkah mengikuti karyawan itu dengan memberikan berbagai macam gaun pengantin, mulai dari konsep sederhana sampai mewah.
Semua gaun pengantin yang ada di tempat ini semuanya bagus, tapi dia sama sekali belum memutuskan untuk memilih gaun yang cocok. Ia terus berkeliling mencari gaun sampai seseorang datang dengan memeluknya dari belakang.
"Om." ucapnya pelan, dia merasakan pelukan hangat ini terasa nyaman.
"Om lepasin pelukannya nanti Louis melihat kita." urai Felia membuat Edbert tidak ingin melepaskan pelukannya.
Akhirnya pelukan itu terlepas saat Felia memintanya untuk melepaskan pelukannya, Edbert membalikan tubuh Felia supaya wanita ini menatapnya.
"Kamu jangan khawatir Louis sudah pergi."
"Pergi? Pergi kemana?"
__ADS_1
"Katanya ada urusan kantor yang belum dia urus, makanya dia meminta om untuk menemani kamu." Felia mengangguk menjawab ucapan Edbert, "Gimana kamu sudah memilih gaun pernikahan kamu?"
Dia melihat Felia menggeleng kepala dengan wajah lesu, ia tau kalau wanita ini tidak suka ke tempat ini apalagi memilih gaun pengantin sebanyak ini.
"Yasudah, om bantu kamu memilih gaunnya." Edbert menggenggam tangan Felia melihat gaun pengantin, tapi satupun gaun tidak dipilih oleh Felia.
"Om, sepertinya aku tidak suka dengan gaun di tempat ini." kata Felia dengan menatap Edbert, Edbert menatap Felia saat posisi mereka berada di gaun yang terbilang bagus dan mewah.
"Mau cari di tempat lain?" tanyanya membuat kekasihnya mengangguk, ia membawa Felia pergi dari butik menuju ke butik yang lain.
Tak butuh waktu lama mereka tiba di butik, butik yang akan dia bawa nanti kalau dia akan menikahi Felia tapi kali ini dia membawa Felia bukan menjadi pasangan pengantinnya melainkan pasangan pengantin putranya.
Mendengar ada pelanggan masuk ke butik mereka, pemilik butik itu menyambut kedatangan mereka tapi ternyata pemilik butik itu dikejutkan oleh kedatangan Edbert.
"Loh, bro lu kemari." ucap lelaki itu membuat Felia kebingungan, Felia cuman bisa melihat interaksi mereka berdua saat kedua laki-laki itu saling mengenal.
"Udah lama gua gak ngeliat lu ternyata gua bisa ketemu lu lagi." ucapnya terhenti saat pandangannya melihat wanita yang berdiri di samping Edbert, melihat sahabat baiknya menatap Felia ia dengan cepat mengenalkan Felia dengan pemilik butik.
"Dia Felia kekasih putraku yang akan menjadi menantuku." tuturnya menatap sahabatnya, dia tersenyum melihat Felia membalas senyumannya.
"Saya Mario sahabat mertuamu." Felia menerima salaman yang diberikan Mario dengan tersenyum ramah, keduanya melepaskan tangan saat Edbert dengan cepat menyingkirkan Mario dari Felia.
"Ya. Untuk menantuku ini. Kamu bawakan beberapa gaun di butikmu supaya menantuku bisa memilih gaun yang paling bagus." ujar Edbert dengan memerintahkan Mario pemilik butik.
"Gua pikir lu sama dia yang mau nikah ternyata anak lu." gumamnya pelan, ternyata gumaman itu terdengar oleh mereka berdua.
"Sudah jangan banyak bicara bawakan semua gaun pengantinnya."
"Iya! Ya!" Mario meminta karyawannya untuk membawa semua koleksi gaun pengantin yang ada di butiknya, semua gaun yang ditunjukkan Mario akhirnya Felia bisa memilih satu gaun yang dia suka.
***
Semua dekorasi pernikahan sudah selesai sempurna, tinggal menunggu hari acara pernikahan mereka diadakan.
__ADS_1
Hari ini adalah hari di mana kebahagiaan Felia dengan Louis di adakan, hari ini hari di mana Louis akan mengucapkan janji suci pernikahan mereka. Semua tamu undangan sudah tidak sabar menunggu mempelai wanita datang, tetapi mempelai wanita masih berada diruang rias.
Felia menatap dirinya di pantulan cermin, di sana ia melihat dirinya memakai gaun pengantin berwarna putih dengan membawa bunga. Harusnya hari ini adalah hari bahagianya tapi ternyata dia sama sekali tidak merasakan momen bahagianya.
"Mba, semua orang sudah menunggu di luar. Mau saya temani mba." ucap seorang wanita yang mengurus acara pernikahan, Felia sama sekali tidak menjawab malah dia masih menatap dirinya di depan cermin.
Felia memutuskan untuk beranjak dibantu beberapa wanita, wanita yang bertugas membantunya untuk menemui Louis dan membantunya untuk mengangkat gaun pengantin yang dia kenakan.
Felia melangkah bersama satu wanita yang melangkah di sampingnya, melihat kedatangan Felia membuat Louis tersenyum apalagi Edbert. Dia begitu takjub dengan penampilan Felia yang sangat berbeda dari biasanya. Wanita itu dibantu oleh seorang wanita untuk dipertemukan oleh Louis.
Keduanya saling menatap saat Louis memberikan senyuman kepadanya, mereka berdua menatap satu laki-laki yang bertugas mengikrarkan janji suci mereka. Akhirnya janji suci itu selesai membuat para tamu bertepuk tangan melihat kebahagiaan mereka berdua, Louis kembali menatap Felia dengan mendekatkan dirinya dengan Felia.
Ia memberanikan diri mencium bibir Felia, bibir yang seharusnya dia rasakan sejak dulu dan baru hari ini dia merasakan bibir istrinya. Momen inilah yang sudah dia tunggu-tunggu, melihat Felia menjadi istrinya dan rumah tangga mereka akan dikaruniai seorang anak.
"Terima kasih kamu sudah mau bertahan sampai tahap ini. Aku senang bisa menjadi suami kamu dan aku sangat bahagia bisa jadikan kamu istri aku." ucap Louis dengan memandang wajah Felia, dia hanya memberikan sebuah senyuman tanpa menjawab.
Edbert memilih menikmati santapan yang tersedia di meja, sebuah makanan yang sudah terisi berbagai banyak menu mewah. Semua persiapan sangat mewah dan megah membuatnya takjub akan persiapan yang dilakukan Louis, putranya ini sangat pandai memilih acara tetapi dia tidak rela kalau Felia menikah dengan Louis.
Dia hanya bisa menatap Felia dari jauh, saat mereka berdua menikmati makanan saling suap-suapan. Seharusnya posisi itu adalah posisinya dengan Felia, tapi itu hanyalah mimpi yang tidak mungkin terwujud.
Aku akan kasih foto pernikahan Louis dengan Felia.
Foto momen Felia & Louis bertukar cincin
Yang terakhir foto Edbert.
__ADS_1
Sekian dan terima gaji 😁😁😂 jangan lupa pantau terus cerita selanjutnya bye... bye