
Felia yang merasa tubuhnya pegal-pegal mencoba bangun dari tempat tidur, ia memilih bersandar di kepala kasur dengan tatapan mengarahkan jendela kamar.
"Sudah bangun." ucap seseorang yang baru saja membuka pintu kamar, tanpa beranjak dari tempat semula Felia hanya melihat orang itu.
Dia melihat Edbert membawa satu piring makanan dan satu gelas air putih, lelaki itu menyimpan sarapan di meja kecil di samping tempat tidur. Melihat Edbert duduk di sampingnya dengan menatap wajahnya.
"Gimana apa ada yang sakit di tubuh kamu?" tanya Edbert masih menatap Felia.
"Seluruh tubuhku sakit semua."
"Nggak apa-apa nanti juga kamu terbiasa." Edbert beranjak untuk mengambil sarapan, ia meletakan piring itu di pangkuannya. "Sekarang kamu makan dulu nanti selesai makan saya berikan vitamin untuk kamu, kalau ada yang sakit di area sensitif kamu nanti saya oleskan salep untuk kamu."
Tanpa memberikan piring itu, Edbert menyuapi Felia dengan telaten seperti seorang anak perempuan yang lagi disuapin ayahnya. Itulah sikap Edbert kepada Felia tapi Edbert tidak pernah menganggap Felia anak perempuan melainkan seorang wanita.
"Siapa?" tanya Felia melihat Edbert mematikan telepon, Edbert menggeleng lalu menyimpan kembali handphone tersebut.
Edbert memberikan piring itu ke Felia, "Kamu lanjut sendiri makannya, saya mau ngurus pekerjaan dulu. Kalau kamu butuh sesuatu kamu bilang sama saya."
Felia mengangguk lalu Edbert pergi setelah memberikan piring, Edbert keluar untuk menghubungi seseorang yang sempat mengganggunya.
"Ada apa kamu menghubungiku? Apa ada informasi mengenai mereka berdua?" tanya Edbert saat ia sibuk menelpon.
"Ada bos. Mereka sempat tinggal di villa dan baru saja saya mendapatkan kabar kalau mereka habis ke mall melakukan perawatan, dan sekarang Louis tinggal bersama wanita itu." lontar Bob dengan jelas informasi dia dapatkan.
"Gimana bisa Louis bersama dengan wanita itu dan memilih membohongi Felia, apa dia lebih mementingkan wanita itu dari pada istrinya sendiri." batin Edbert mengingat bagaimana Louis selancar itu membohongi Felia.
"Baiklah, kamu lanjut cari informasi mengenai mereka berdua. Saya mau kamu memberi semua informasi mengenai mereka berdua." kata Edbert kepada Bob.
"Baik bos." akhirnya panggilan telepon itu berakhir, tanpa di sadari Edbert Felia mengetahui pembicaraan lelaki itu.
"Apa yang mereka bicarakan. Kenapa Edbert menjauh saat mendapatkan telepon dari seseorang." ucapnya dalam hati dengan menatap Edbert dari jauh.
"Om." panggil Felia, melihat Felia sudah berada di dekatnya ia segara bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu lagi sarapan di kamar."
"Aku sudah selesai sarapannya, om. Tadi aku panggil om tapi om tidak jawab makanya aku mencari om taunya di sini."
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Edbert mengambil tangan Felia, ia membawa Felia keruang tamu.
Felia terdiam sejenak barulah ia memulai bicara, "Ayah! Kenapa akhir-akhir ini Louis terus sibuk bekerja, apa dia sudah melupakan aku?"
Edbert melihat wajah Felia nampak sedih berusaha menghibur menantunya, ia mencoba menyentuh sebelah pipi Felia dengan pandangan terus menatap Felia.
"Mana mungkin Louis melupakan kamu Felia. Mungkin aja dia sibuk bekerja sampai tidak punya waktu untuk kamu."
"Tapi ayah. Akhir-akhir ini aku merasa Louis berubah, dia sudah kaya dulu lagi. Dia... Dia sekarang lebih mementingkan pekerjaan dari pada aku."
Kali ini ia tidak tinggal diam, sebenarnya ia sudah mengetahui perselingkuhan Louis dengan wanita itu. Tapi ia belum menemukan bukti apa mereka memiliki hubungan atau rekan bisnis.
"Sudah kamu jangan pikirkan lagi. Sekarang kamu fokus kesehatan kamu aja, aku gak mau melihat kamu jatuh sakit." Edbert membawa Felia ke dalam pelukannya, ia membiarkan wanita ini terus merasakan kehangatan walau hatinya tidak baik-baik aja.
"Felia! Cepat atau lambat kamu akan menjadi milik saya, dan kamu akan tau kelakuan suami kamu. Saya janji tidak akan meninggalkan kamu sampai kamu menjadi milik saya." ucapnya dalam hati dengan terus memeluk Felia.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya, lelaki itu menatap sebelum kakinya menginjak ke lantai.
"Saya harus pulang. Sudah lebih satu bulan saya tidak pulang, saya merindukan istri saya."
"Apa sebaiknya hubungan kalian berakhir." mendengar ucapan yang keluar dari mulut Mayra mampu membuat Louis menatap tajam.
"Maksud kamu apa?" tanya Louis yang tidak menyukai arah pembicaraan Mayra.
Mayra dengan cepat bersandar di kepala kasur, lalu tatapan itu terus menatap Louis.
"Iya, maksud aku kalian berpisah. 'Kan kalau kalian berpisah hubungan kita tidak bersembunyi seperti ini." ucap Mayra dengan lancar tanpa memikirkan perasaan lelaki di depannya ini.
"Saya tidak akan pernah menceraikan Felia. Saya akan mempertahankan rumah tangga saya dan sewaktu saat hubungan kita ini akan berakhir." urai Louis dengan tegas, lelaki itu dengan cepat pergi setelah meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
Melihat kepergian Louis seakan suhu tubuhnya meningkat pesat, dia tidak ingin Louis sampai mempertahankan pernikahannya. Yang dia inginkan hanyalah kehancuran di antara mereka bukan melihat mereka bahagia.
"Kamu berani mengakhiri hubungan ini akan saya pastikan Felia akan hancur seperti apa yang saya lakukan pada ibumu." kata Mayra dalam hati dengan pandangan itu terus menatap marah.
Louis mengirimkan sebuah pesan dari handphonenya, ia dengan hati-hati mengendarai mobil sampai mobil itu tiba di sebuah rumah. Rumah yang sudah lama tidak ia datangi, begitupun dengan Felia.
Saat Felia dengan Edbert ingin keluar untuk jalan-jalan, satu tangan Felia membuka pintu. Seketika mereka dibuat kaget saat melihat Louis berdiri di depan pintu, lalu lelaki itu dengan cepat memeluk tubuh Felia.
"Sayang aku kangen sama kamu." ucap Louis saat ia melepaskan pelukannya.
Tak ada sahutan dari Felia, malah Louis menatap penampilan mereka berdua.
"Kalian mau kemana malam-malam begini?" tanya Louis menatap mereka berdua secara bergantian.
"Ayah mau ngajak Felia jalan-jalan. Dari mana aja kamu hari ini baru pulang." kata Edbert memberikan ekspresi tidak suka, karena dia melihat Louis datang di saat ia ingin berduaan dengan Felia.
"Aku 'kan udah bilang sama ayah, aku sibuk ngurus pekerjaan kantor. Jadi aku tidak bisa pulang cepat."
"Bukannya kantor tidak memiliki banyak kesibukan, kenapa kamu menyimpulkan urusan kantor menumpuk dari pada memikirkan perasaan istri kamu."
Melihat suasana keduanya yang sudah terbalut emosi Felia dengan cepat menghentikannya dan membawa keduanya keruang tamu. Dia pergi meninggalkan mereka berdua untuk membuatkan minuman.
"Kamu jangan menyembunyikan apapun dari ayah Louis. Ayah tau kamu tidak mengurus kantor dan Novan bilang kamu tidak pernah ke kantor. Kemana aja kamu selama ini sampai kamu berbohong seperti itu." ucap Edbert secara langsung tanpa membahas rasa rindu mereka.
Melihat Louis tidak merespon apapun ia sudah menganggap kalau putranya ini sedang menyembunyikan sesuatu, dan benar saja Louis seketika mati kutu saat perkataan yang di lontarkan Edbert sangat tepat sasaran.
"Ingat ucapan ayah Louis. Kamu bisa menyembunyikan apapun dari Felia tidak dengan ayah." Edbert memilih beranjak dengan tatapan terus menatap Louis, "Saya akan mempertahankan apapun yang saya mau apapun itu, kalau saya melihat kamu menyakiti Felia saya akan merebut dia dari kamu."
Felia yang sudah selesai membuat minuman melihat kepergian Edbert, lelaki itu melangkah menuju lantai atas sedangkan diruang tamu masih terdapat Louis yang duduk terdiam.
Dia tidak tau apa yang terjadi di antara mereka, tapi yang pasti keduanya memiliki permasalahan sampai ia melihat Louis pergi keluar.
"Kamu mau kemana?" tanya Felia setelah meletakan nampan berisi dua minum.
__ADS_1
"Saya masih ada urusan."
"Tapi kamu baru saja pulang, Louis." kata Felia dengan kencang, tetapi ia melihat Louis pergi tanpa merespon ucapannya.