
Waktu yang di tunggu-tunggu, pagi ini Felia dengan Edbert sedang berada di dalam mobil. Mereka sedang menuju ke pengadilan agama untuk mengurus perceraian, Edbert tersenyum saat mereka tiba di gedung pengadilan agama.
"Kamu sudah siap Felia?" tanya Edbert menatap Felia.
Felia mencoba menenangkan diri saat ia merasakan ada sentuhan dari tangannya, "Kamu tenang aja semuanya akan baik-baik aja. Ayah akan selalu menemani kamu jadi kamu tidak perlu khawatir."
Felia mengangguk, keduanya masuk ke dalam gedung tersebut. Sampai mereka tiba untuk menunggu sidang, datanglah sebuah mobil yang terparkir di gedung itu. Pemilik mobil itu keluar dari mobil dan melihat gedung perceraian yang ada di depan matanya.
"Aku sudah tidak bisa mempertahankan pernikahanku dengan Felia, sudah waktunya wanita itu bahagia dan aku akan menerima nasibku." batin Louis, selesai melamun dengan tatapan terus menatap gedung di depan barulah Louis masuk.
Tatapan mereka tertuju pada laki-laki yang baru saja tiba, lelaki itu tersenyum walau Edbert tidak bisa memberikan senyumannya. Louis menghampiri keduanya dan mereka bertiga masuk ke dalam ruang sidang.
Banyak orang yang menyaksikan perceraian mereka sambil pak hakim memberikan sebuah ucapan yang membuat hatinya sangat menyiksa, akhirnya yang mereka tunggu hakim itu melayangkan palu ke udara dan mengetuk dengan ketukan ketiga.
Akhirnya mereka dinyatakan bercerai secara agama, membuat Louis sedih saat hubungannya dengan Felia sudah berakhir. Sedangkan Felia sangat bahagia karena dia sudah resmi menjadi seorang janda.
Selesai melakukan persidangan Louis keluar bersamaan dengan Edbert dan Felia, mereka berdua pergi dari sana menuju parkiran saat Edbert sibuk ke parkiran untuk mengambil mobil. Louis datang menghampiri Felia.
"Gimana kabar kamu sekarang? Maaf aku sudah menyakiti kamu Felia, maaf karena aku tidak bisa mempertahankan pernikahan kita dan membuat kamu kecewa." ucap Louis yang tidak berani menatap Felia, ia seakan malu berhadapan dengan Felia.
Felia tersenyum saat mendengar penyesalan dari raut wajah Louis, "Semuanya sudah terjadi Louis, kamu tidak perlu menyesal seperti itu. Aku turut berduka atas musibah yang kamu hadapi sekarang, dan sekarang kamu harus fokus berubah jangan terjadi hal yang sama kalau kamu menemukan wanita lain." kata Felia yang memberikan sebuah senyuman untuk mantan suaminya ini.
Louis dengan Felia saling menatap kearah suara klakson mobil yang berhenti di depan mereka, ternyata pemilik mobil itu membuka kaca mobil dan membuat lelaki itu meminta Felia untuk masuk ke mobil.
"Ya sudah Louis aku duluan ya! Kamu hati-hati di jalan jangan melakukan hal buruk seperti dulu lagi."
"Ya! Terima kasih kamu sudah mau mengingatkan aku." Felia mengangguk dengan memberikan sebuah senyuman, lalu dia melangkah untuk masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Felia melambaikan tangan kearah Louis, membuat Louis membalasnya. Mobil itu pergi meninggalkan gedung pengadilan dan meninggalkan Louis yang menatap kepergian mereka.
__ADS_1
"Buat apa kamu masih baik dengannya. Bukannya kalian sudah berpisah, terus apa yang dikatakan Louis sama kamu." kata Edbert menatap Felia saat wanita itu hanya diam.
"Tidak ada yang dikatakan Louis dia hanya menyapa seperti biasa." urai Felia membuat Edbert mengangguk.
Felia sampai di rumah dengan membawa surat pengadilan yang sudah resmi bercerai, sekarang dia sudah mendapatkan status baru yaitu janda. Ya walaupun dia tidak suka dengan kalimat janda yang penting dia sudah terlepas dari pernikahan ini.
Edbert melepaskan jaket yang menempel di tubuhnya, lalu dia melangkah ke dapur untuk mengambil dua minuman kaleng dan beberapa cemilan. Edbert meletakan minuman dan cemilan di atas meja lalu dia duduk di samping Felia.
"Di minum dulu aku tau pasti kamu haus." ucap Edbert membuat Felia mengambil minuman kaleng itu.
***
"Gimana perasaan kamu sudah menyandang status janda?" lontar Edbert dengan memberikan sebuah pertanyaan untuknya, lalu Felia meletakan minuman kaleng itu dan memilih menatap Edbert.
"Tidak semua perempuan ingin memiliki status janda ayah, tapi aku yakin semua wanita di luar sana hebat karena dia sudah kuat dan bertekad dengan keputusannya."
Entahlah apakah dia disebut wanita kuat atau bukan, yang pasti ia sangat hebat bisa bertahan sampai detik ini. Dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini, tapi ia sangat bahagia dengan keputusan yang dia ambil sampai kepahitan yang dia rasakan sudah tuntas ia jalani.
Semenjak berpisah keduanya menjalani kehidupan masing-masing, mulai dari Felia yang sudah bangkit dalam kesedihan dan mulai mencoba melakukan hal yang baru. Sedangkan Louis mulai bangkit dari awal, dia pikir ia akan jatuh miskin tapi ternyata dia salah.
Harta yang sempat dicuri Laura sudah balik kepadanya, kedepannya dia akan menjadi pria yang lebih baik lagi dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Edbert membawa Felia makan malam di luar tanpa membawa Alfred, ia mengajak Felia ke salah satu restoran yang sangat mewah. Karena baginya ini adalah hadiah untuk Felia, menantunya ini sangat hebat sampai mendapatkan banyak investor.
Ia terus menggenggam tangan Felia sampai mereka tiba di restoran, mereka berdua masuk untuk mencari ruangan VIP. Ruangan yang hanya ada mereka berdua aja tanpa ada orang lain yang mengganggu.
__ADS_1
Felia sangat bahagia sekali, malam ini adalah malam yang dimana tidak pernah Felia bayangkan. Ia melihat bagaimana Edbert menyiapkan semuanya, mulai dari tempat sampai perlakuan romantis.
"Gimana kamu suka tempat ini?" tanya Edbert yang sudah duduk di kursi dekat jendela dengan menatap pemandangan luar.
"Suka. Aku suka banget sama semuanya ayah, aku tidak habis pikir kenapa ayah bisa memikirkan semuanya. Malah ayah lebih sibuk dari aku tapi ayah menyiapkan semuanya untukku." kata Felia membuat Edbert tersenyum.
Melihat Felia bahagia rasanya dia sangat bahagia, apalagi wanita ini sangat cantik malah tidak terlihat seperti seorang janda. Felia dengan Edbert menikmati makanan yang sudah disiapkan, Felia terus menikmati santapan lezat dengan ditemani pemandangan dari luar.
Sangatlah indah sampai dia pikir ini semua hanyalah mimpi, tapi nyatanya ini adalah nyata. Saking asiknya Felia menikmati makanan Edbert mengeluarkan handphone, ia mengambil momen yang langka seperti ini.
Mulai dari memfoto tangan Felia dan semua yang ada di Felia, ini adalah momen langka sampai Felia tidak menyadari kalau dirinya diam-diam mengambil foto.
Selesai dinner Edbert membawa Felia pulang, awalnya dia ingin mengajak Felia belanja tapi wanita itu menolak dengan alasan lelah. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang, selama di perjalanan Edbert hanya sibuk menyetir sedang Felia yang awalnya bermain handphone sudah terlelap.
Tiba di rumah Edbert menyimpan mobil di bagasi lalu dia membuka sabuk pengaman, "Felia kita sudah sampai." ucap Edbert saat dia tidak mendengar suara Felia.
Edbert tersenyum saat melihat Felia sudah tertidur, dia mengelus pipi Felia saat wanita ini sama sekali tidak terbangun.
"Kamu cantik sekali malam ini Felia, saya tidak habis pikir kenapa makin hari kamu semakin cantik." ucap Edbert terus memandangi Felia sesekali dia menyentuh wajah dan rambut Felia.
Setelah lama memandangi Felia akhirnya Edbert membawa Felia, ia menggendong tubuh Felia sampai rumah. Dengan langkah hati-hati Edbert membawa Felia di kamar dan meletakan Felia di ranjang. Tiba lupa dia menarik selimut untuk menyelimuti setengah tubuh Felia.
"Good Night cantik." ujar Edbert tidak lupa ia mencium kening Felia.
__ADS_1