
Tiba di rumah Felia melihat Louis sudah pergi ke kamar, lelaki itu bersiap untuk ke kantor kemabli setelah melakukan aktivitas panas dengan Laura. Saat Felia sibuk mengambil buah di dalam kulkas, ia melihat Louis sudah berada di sana dengan pakaian kantor.
"Kamu mau ke kantor?" tanya Felia membuat Louis mengangguk.
"Semalam kamu sudah lembur bekerja kenapa kamu tidak cuti sehari saja, aku gak tega lihat kamu langsung ke kantor setelah semalam lembur." mendengar perkataan Felia membuat Louis tersenyum, ia melangkah menghampiri Felia saat wanita itu sibuk memakan buah.
Louis menyentuh puncak kepala Felia dengan lembut dan ia tidak lupa mencium kepala Felia, "Nggak apa-apa sayang, ini semua demi kamu dan demi anak kita. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kita, jadi aku minta maaf tidak sempat punya waktu untuk kamu."
Felia tersenyum dengan memberikan sebuah helaan nafas saat ia mendengar ucapan Louis, "Nggak apa-apa, lagian juga kamu bekerja untuk aku dan anak kita. Tapi ingat pesan aku jangan terlalu kelelahan aku takut nanti kamu sakit."
"Kamu tenang aja aku akan jaga kesehatan dengan baik." sebelum pergi Louis mengambil secangkir susu yang sudah disiapkan Felia, lalu ia meletakan kembali gelas itu dan kembali menatap Felia.
"Yasudah aku ke kantor dulu ya. Kamu hati-hati di rumah kalau butuh apa-apa kamu kabarin aku." ucap Louis membuat Felia mengangguk, ia menikmati sentuhan Louis yang mencium keningnya dengan lembut barulah lelaki itu pergi.
Melihat mobil yang selalu di kendarai Louis tiba di kantor ia langsung bersiap, sebelum menyambut kedatangan Louis ia melihat penampilannya di cermin besar. Cermin yang sekarang ia lihat dengan terus memperlihatkan lekuk tubuhnya, ia tersenyum melihat tubuhnya sangat indah.
Baginya tubuh ini sangat sempurna sampai dia yang paling istimewa di dunia ini. Memiliki tubuh ramping, dengan buah dada yang besar, bokong bulat berisi dan pinggul yang sangatlah sempurna. Dia begitu bahagia mendapatkan body seperti ini, dia juga begitu menyukai tubuhnya karena tubuhnya ini selalu bisa memuaskan dirinya.
"Laura, buat apa kamu di ruangan saya?" ucapnya dengan tegas, mendengar suara Louis yang begitu tegas membuatnya ketakutan.
"Pa-pak." ucapnya dengan terbata-bata, lalu ia kembali berbicara di saat ia tidak berani melihat kearah Louis. "Maaf pak saya lancang masuk keruangan bapak, saya datang kemari hanya mengantarkan kopi untuk bapak dan saya mau minta laporan yang waktu itu bapak kasih tapi saya tidak sempat mengambilnya."
Louis yang sudah hafal dengan sikap Laura membuatnya bersikap seperti atasan, ia melangkah menuju meja kerja lalu dia kembali melihat kearah Novan.
"Novan kamu bisa pergi dari ruangan saya. Ada hal yang ingin saya bicara dengan Laura."
"Baik, pak." setelah melihat kepergian Novan barulah ia kembali bersikap biasa kepada Laura.
"Sayang!"
"Laura!" suara lembut itu mampu membuat Laura menatap Louis, dia melihat lelaki itu tersenyum dan memintanya untuk menghampiri Louis.
"Maaf ya sayang udah buat kamu ketakutan. Aku tidak bermaksud menakuti kamu seperti itu, aku di sini cuman melakukan tugasku sebagai atasan. Aku tidak mau karyawanku semena-mena dengan pekerjaannya." kata Louis dengan mengelus kedua tangan Laura.
__ADS_1
Laura masih menunduk ia tidak berani melihat Louis, melihat nada tinggi barusan membuatnya takut. Louis yang geram melihat sikap Laura, ia mengambil dagu Laura untuk ia bisa melihat kecantikan wanita ini.
Louis segera memeluk tubuh Laura saat ia melihat Laura ketakutan, serasa pelukan itu sudah membuatnya nyaman barulah Louis melonggarkan pelukan itu.
"Maaf ya sudah buat kamu ketakutan aku tidak bermaksud melakukan itu sama kamu. Kamu mau 'kan maafin aku?" ujar Louis dengan lembut, melihat Laura sudah memaafkannya barulah ia melahap bibir Laura.
***
"Sayang, kamu yakin mau ketemu istriku?" tanya Louis yang melihat Laura sudah duduk di pangkuannya dengan kepalanya terus bersandar di tubuhnya.
Laura menatap Louis, "Ya aku yakin. Aku ingin melihat istri kamu seperti apa, siapa tau aku bisa akrab dengannya. Kamu bolehkan izinin aku bertemu dengan istri kamu?"
Laura terus saja menatap Louis saat lelaki sibuk terdiam, cukup lama diam membuat Louis mengangguk. Laura segera menghamburkan sebuah pelukan saat Louis mengizinkannya menemui istri dari bosnya ini.
Selesai mengurus semua pekerjaan kantor Louis bergegas pulang dengan membawa Laura, kekasihnya ini selalu memaksanya untuk menemui Felia dan akhirnya ia menyetujui permintaan Laura.
Tiba di rumah Louis melihat kearah Laura saat dia sibuk mengambil plastik putih yang sempat ia beli di luar, "Sudah siap?" kata Louis membuat Laura mengangguk.
Keduanya turun dari mobil dengan Laura membawa dua plastik makanan dan satu plastik hitam berisi buah. Louis dengan Laura berjalan searah dengan Louis terus memanggil nama Felia.
Saat pelukan itu terlepas mata Felia tertuju pada wanita yang dibawa suaminya, Louis yang mengerti tatapan dari Felia langsung meminta Laura memperkenalkan diri.
"Kenalkan saya Laura karyawan baru di kantor pak Louis. Saya datang kemari mau menjenguk ibu sebagai perwakilan kantor, katanya ibu lagi hamil jadi saya datang untuk mampir melihat keadaan ibu."
"Ibu tidak keberatan 'kan kalau saya datang menjenguk ibu?" Felia tersenyum saat ia baru saja melamun memikirkan pikiran aneh yang melintasi pikirannya.
"Saya sama sekali tidak keberatan kamu ada di sini. Terima kasih kamu sudah mau menjenguk saya, kamu ini terlalu berlebihan sekali segala membawa oleh-oleh ke rumah." kata Felia yang melihat Laura memberikan oleh-oleh untuknya.
"Nggak apa-apa Bu. Lagian juga saya baru pertama kali bertemu ibu, saya dengar dari pak Louis katanya ibu sebentar lagi mau melahirkan?"
"Ya. Tinggal menunggu bulan aja. Di minum Laura maaf saya cuman bisa menyediakan air putih untuk kamu."
"Nggak apa-apa, Bu." Laura segera meminum air putih itu, dia meletakan kembali gelas itu saat ia melihat Louis sibuk memeluk tubuh Felia.
__ADS_1
"Kalau gitu saya pamit pulang dulu Bu." ucap Laura yang sudah ingin pulang, melihat Laura ingin pergi ia segera menghentikan wanita itu.
"Laura, kamu pulang naik apa?" tanya Felia yang sudah beranjak dari tempat duduk, Laura yang mendengar itu langsung menatap Felia.
"Sepertinya saya akan naik taksi Bu."
"Gimana kalau kamu tidur di sini aja, besok pagi kamu boleh pulang. Saya tidak tega melihat kamu pulang sendirian apalagi ini udah malam, saya gak mau kamu kenapa-napa dan melihat seorang perempuan pulang sendiri di jam segini." kata Felia yang mengkhawatirkan keadaan Laura, Laura yang mendengar itu segera melihat kearah Louis.
"Benar kata istri saya, kamu tinggal di sini dulu aja. Besok pagi kamu boleh pulang, bahaya diluar kalau kamu pulang sendiri." tukas Louis saat mereka sama-sama saling menatap.
"Sayang, kamu tidak keberatan Laura tinggal di rumah kita?" tanya Louis yang melihat kearah Felia, Felia yang ditatap oleh suaminya langsung membalas tatapan itu.
Felia tersenyum lalu, "Nggak apa-apa, aku malah senang kalau dia tinggal di rumah kita. Aku gak tega melihat perempuan pulang sendirian di jam segini, apalagi sekarang sudah malam takutnya terjadi apa-apa di jalan."
"Baiklah kalau gitu saya antar kamu ke kamar tamu." perkataan Louis terhenti saat ia kembali menatap Felia, "Sayang aku antar Laura ke kamar tamu dulu kalau kamu mau istirahat, istirahat aja jangan nunggu aku."
"Iya, sayang." Felia melangkah dari mereka berdua menuju ke lantai dua, sekarang tinggal mereka berdua yang berada diruang tamu.
"Istri kamu kenapa percaya banget sama aku, apa dia tidak tau kalau aku ini selingkuhannya." ucap Laura yang sudah berada di dekat Louis.
"Dia emang gitu. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah curiga, makanya aku bisa punya waktu berduaan sama kamu." Laura tersenyum mendengar perkataan Louis, baru kali ini melihat seorang wanita yang percaya dengan suaminya.
Dan dia tidak pernah curiga sedikitpun kalau wanita yang berada di rumahnya adalah selingkuhan suaminya, ini adalah waktu yang paling menyenangkan untuknya karena ia melihat istri kekasihnya itu tidak curiga kepadanya.
"Ayo sayang aku antar kamu ke kamar tamu." Louis terus saja menggenggam tangan Laura sampai dimana mereka berada di kamar tamu.
Laura lebih dulu masuk ke dalam sedangkan Louis yang masih berjalan di belakang Laura menutup pintu itu, setelah pintu itu tertutup rapat dan ia juga menguncinya lalu dia dengan cepat menghampiri Laura dengan memeluk tubuh kekasihnya.
"Sayang, apa aku boleh minta sesuatu sama kamu?" tanya Louis yang masih setiap memeluk tubuh Laura, Laura yang mendengar itu segera mengangguk.
"Malam ini kamu tidur di rumahku, apa kita bisa melakukan itu lagi." kata Louis membuat Laura melepaskan pelukan Louis, ia malah terfokus dengan wajah tampan lelaki ini.
"Jangan macam-macam sayang ini rumah kamu, kalau istri kamu mendengar kegiatan kita bagaimana."
__ADS_1
Louis yang melihat jarak di antara mereka terbilang dekat ia segera memeluk Laura, "Kamu tenang aja Felia tidak akan mendengarnya, dia itu kalau sudah tidur tidak pernah mendengar apapun lagi."