
Felia mencoba membuka mata secara perlahan, dia mencoba mengekspos tempat yang ia tinggalkan. di sana ia melihat dirinya berada di sebuah kamar dengan seseorang memeluk tubuhnya. Tangan kekar itu masih menempel di pinggangnya dengan wajah ditutupi dengan punggung Felia.
Felia berusaha meraba tangannya mencari handphone, melihat jam sudah pukul tujuh Felia mencoba melepaskan tangan Edbert tetapi pria ini malah mempererat pelukannya.
"Om lepasin ini sudah jam tujuh." kata Felia berusaha melepaskan tangan Edbert, lelaki itu tidak memperdulikan perkataan Felia ia malah membalikan tubuh Felia.
"Morning honey!" sapa Edbert dengan senyum khas miliknya, lelaki itu mendekat untuk mencium bibir Felia.
"Sudah waktunya bangun om. Saya tidak mau terlambat." perkataan Felia mampu membuatnya mengerutkan kening.
"Terlambat? Memangnya kamu mau kemana?" Edbert bangun bersandar di pembatas ranjang, ia menatap Felia dengan menunggu jawaban wanita ini.
Felia bangun dari tidurnya dengan tubuh ditutupi dengan selimut, "Om lupa, aku dengan Louis akan bertunangan. Sekarang aku akan mencoba gaun yang diberikan Louis dan Louis memintaku datang kesana untuk memilih tempat yang cocok buat acara pertunangan aku dengan Louis."
Seketika Edbert terdiam, dia hampir lupa bahwa Felia akan bertunangan dengan Louis. Dan sebentar lagi wanita ini akan menjadi milik putranya, melihat Edbert diam Felia mencoba mendekati lelaki ini dengan menyentuh tangan Edbert.
"Kenapa om diam aja? Apa perkataan aku ada yang salah?" ucap Felia dengan lembut, Edbert menghela nafas saat ia merasakan kelembutan dari Felia.
Ia tersenyum dengan membalas sentuhan Felia, "Om tidak apa-apa. Sekarang kamu bersihkan badan kamu dan om akan antar kamu ke tempat Louis."
Ia menatap Edbert turun dari ranjang, lelaki itu keluar dari kamar. Edbert memilih membuatkan sarapan walau hotel ini menyediakan makanan tetapi ia lebih suka memasak sendiri.
Felia keluar dari kamar dengan penampilan berbeda, mengenakan baju putih dengan rok levis di atas paha dengan tas coklat selalu ia bawa. Wanita itu menghampiri Edbert dengan memanggil nama lelaki itu, melihat Felia tiba di meja makan membuat Edbert tidak fokus dengan kecantikan Felia.
Felia mengerutkan kening melihat perubahan sikap Edbert, saat dia mengatakan ingin mengurus acara pertunangannya lelaki ini lebih banyak diam dari pada bersikap seperti biasanya.
"Selesai makan kamu langsung temui saya di bawah, saya mau turun ke bawah saya tunggu kamu di sana." Felia menatap kepergian Edbert saat lelaki itu memilih pergi.
Tanpa menghabiskan sarapan Felia memilih menyusul Edbert, ia melangkah kearah lift di dalam lift ia hanya diam memikirkan perubahan Edbert. Saat lift terbuka dia melihat Edbert sibuk dengan handphone tanpa melihatnya.
__ADS_1
Tidak ada ucapan apapun lelaki itu memilih pergi saat mendengar langkah Felia, ia terus mengikuti langkah kaki Edbert saat dirinya kesusahan mengikuti langkah lelaki ini. Tiba di dalam mobil Felia menghentikan tangan Edbert saat lelaki itu ingin menyentuh stir mobil.
"Om ini kenapa? Dari tadi diam aja. Apa aku ada salah sampai om semarah ini!" ucapnya lembut, ia menyingkirkan tangan Felia tanpa menatap wajah Felia.
"Saya tidak apa-apa Felia. Kamu jangan mengkhawatirkan saya kamu fokus mengurus masalah pertunangan kamu saja." lagi-lagi Edbert terus mengatakan bahwa dia baik-baik aja.
Tanpa meminta izin dari pemilik tubuh Felia mencium pipi Edbert, ciuman tiba-tiba yang diberikan Felia mampu membuatnya terdiam. Mendapatkan ciuman singkat dari Felia lelaki itu menatapnya, Edbert menarik tangan Felia saat tarikan itu mampu membuat Felia melotot.
Edbert menggantikan ciuman pipi dengan ciuman bibir, sekarang bibirnya sudah dikuasai oleh Edbert. Saking nikmatnya ciuman itu tidak ingin berhenti, tetapi Edbert malah menghentikan ciumannya.
Pandangan mereka masih sama-sama menatap dengan jari jemari Edbert menyentuh bekas ciumannya, "Maaf membuat kamu bingung dengan sikap saya, jujur saya tidak rela kamu melakukan pertunangan ini Felia. Saya tidak suka milik saya dibagi oleh orang lain, tapi apa daya saya tidak bisa menghentikan pertunangan ini."
Ucapan yang dilontarkan Edbert mampu membuat Felia tidak berdaya, di satu sisi pertunangan ini sudah ia inginkan dan di sisi lain lelaki ini mengatakan tidak merelakan pertunangan ini.
Felia tersenyum dengan dua tangannya menyentuh kedua pipi Edbert, "Om, saya minta maaf tidak bisa membatalkan pertunangan ini. Saya tidak mau mengecewakan Louis apalagi saya dengan Louis sudah lama bersama."
Edbert menyingkirkan tangan Felia yang berada di kedua pipinya, "Saya tau kamu masih mencintai putra saya, apa di hati kamu saya tidak pantas mendapatkan kamu?"
***
Tiba di sebuah gedung mobil itu terhenti, mereka belum keluar dari mobil hanya terfokus dengan pikiran masing-masing.
"Turunlah. Kamu sudah ditunggu oleh Louis, saya tidak mau putra saya menunggu kedatangan kamu terlalu lama." ucap Edbert tanpa menatap Felia, wanita itu malah menginginkan Edbert menatapnya.
"Om, tidak ikut masuk?" tanya Felia membuat lelaki itu menggeleng.
Melihat Felia keluar dari mobil ia dengan cepat mengendarai mobil, Felia masih menatap kepergian Edbert saat sentuhan seseorang menyadarkannya.
"Kenapa masih di sini, sayang?" ucapan lembut dari seorang lelaki mampu membuat Felia tersenyum, dia melihat Louis sudah berada di sampingnya entah sejak kapan lelaki ini ada di sini.
"Yuk masuk ke dalam." Louis menyentuh tangan Felia untuk dibawa ke dalam gedung, keduanya masuk melihat bagaimana konsep dekorasi acara pertunangan.
__ADS_1
Tatapannya dibuat terkejut melihat dekorasi tunangan sebagus ini, bagaimana nanti kalau menikah apa akan lebih mewah dari ini. Pikiran Felia terus mengarahkan ke sana.
"Bagaimana kamu suka dengan dekorasinya?" pertanyaan itu mampu membuat Felia menatap, ia tidak bisa bicara apa-apa lagi kecuali dengan cara mengangguk.
"Mau kamu tambahkan sesuatu untuk dekorasinya?" lagi-lagi Louis bertanya kepadanya saat pikirannya tertuju pada Edbert.
Melihat perubahan Felia membuat Louis bingung, baru pertama kali melihat Felia tidak fokus dengan tujuannya.
"Sayang, kamu kenapa? Apa ada masalah sama kamu?"
"Aku gak apa-apa, cuman kecapean aja." mendengar ucapan Felia Louis dengan cepat mengecek suhu badan menggunakan telak tangan.
Ia terus mengecek kondisi Felia sampai Felia yang melihatnya berusaha menyingkirkan tangan Louis, "Sayang, aku gak apa-apa hanya kecapean aja."
"Kamu yakin gak apa-apa?" tanya Louis membuat Felia mengangguk.
Selesai mengurus semua keperluan pertunangannya, Louis memilih mengantarkan Felia pulang. Melihat kondisi Felia membuat dirinya tidak tega, apalagi pertunangan tinggal menunggu hari.
"Sayang, apa pertunangan kita diundur aja?" mendengar perkataan Louis membuat Felia membuka mata, tatapannya langsung mengarahkan ke Louis.
"Diundur? Bukannya acaranya tinggal satu minggu lagi, kenapa kamu malah memundurkan acara pertunangan kita." kata Felia masih memandang Louis, lelaki itu sekilas menatap Felia barulah kembali menyetir.
"Aku gak tega lihat kondisi kamu Felia. Aku khawatir nanti kamu sakit saat acara itu tiba."
"Kamu tenang aja aku akan baik-baik aja, kamu gak perlu khawatir gitu tinggal istirahat besok sembuh." tutur Felia dengan kepala terasa pusing, sakit kepala yang dialami Felia mampu membuatnya tidak bisa menahannya.
"Kamu sungguh tidak apa-apa? Apa mau aku bawa kamu ke dokter?" tawaran Louis ditolak oleh Felia, ia tidak ingin merepotkan siapapun apalagi masalah pusing aja menjadi dipermasalahkan.
Louis menghentikan mobil tepat di rumah, ia membuka sabuk pengaman. Louis melihat Felia sudah menutup mata, melihat Felia tertidur membuatnya tersenyum. Ia mendekati tubuhnya untuk melihat wajah Felia, terlihat sama tidak ada yang berubah.
"Kamu tetaplah diri kamu Felia, tidak ada yang bisa menggantikan kamu. Walaupun Cici mencoba mendapatkan aku dengan cara kotor, tapi aku tetap memilih kamu." batin Louis masih menatap wajah Felia, ia menyingkirkan sehelai rambut saat rambut itu menghalangi wajah Felia.
__ADS_1
Louis turun dari mobil, ia berjalan kearah kursi Felia. Ia membuka pintu dengan tubuh ia bungkukkan menyamakan posisi tidur Felia. Louis membawa Felia dengan cara menggendong tubuh Felia, dengan kaki ia gunakan untuk menutup pintu mobil.