Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Kembali Ke Tempat Yang Sebenarnya


__ADS_3

Edbert menggenggam tangan Felia membuat Felia menatap ayah mertuanya, "Jangan takut ayah akan selalu berada di samping kamu." bisik Edbert membuat Felia tersenyum.


"Biar Felia tinggal dengan ayah, kamu yang sudah mengusirnya dari sini jangan sampai tindakan ini menyesal untuk kamu Louis." lalu dia kembali menatap Felia saat dia sudah selesai menatap Louis, "Mari Felia ayah bantu kamu membereskan semua barang kamu, mulai sekarang kamu tinggal dengan ayah dan bawa putra kamu bersama kamu."


Felia mengangguk, dia beranjak dari sana begitupun dengan Edbert. Keduanya menuju kamar, Edbert membantu Felia merapikan semua pakaian Felia begitupun dengan perlengkapan Alfred. Semua barang yang ada di kamar ini sudah kosong, sekarang keduanya sudah keluar dari kamar membawa barang yang sudah dirapikan.


Tanpa mengucapkan kata-kata apapun lagi, keduanya pergi membawa Alfred dan dibantu oleh pekerja rumah untuk membawa barang untuk masuk ke dalam mobil. Melihat kepergian Felia membuat Louis marah, kesal. Ia tidak tau apakah dia akan kuat tinggal sendiri tanpa ada Felia di sampingnya.


Tapi mau gimana lagi, lagian juga buat apa dirinya menyesal toh di satu sisi ia masih memiliki Laura yang masih berada di sampingnya. Walau dia kehilangan Felia dia masih memiliki Laura, wanita cantik dan seksi.


Felia memilih diam dengan kedua tangannya menggendong baby Alfred, begitupun dengan Edbert yang sibuk menyetir tapi sebuah tangan menyentuh punggung tangan Felia.


"Kamu jangan khawatir Felia saya akan selalu bersama kamu dan saya akan berada di samping kamu. Seharusnya kamu bahagia bisa tinggal dengan saya lagi, karena kita bisa menjadi keluarga yang utuh bersama dengan anak kita." ucap Edbert melirik Felia sekilas barulah dia kembali menyetir, Felia yang mendengar ucapan Edbert tersenyum senang.


Yang dikatakan Edbert benar kalau dia tidak perlu sedih, lagian dari awal dia sudah menjalin hubungan dengan ayah mertuanya sendiri. Mungkin aja ini adalah balasan untuknya, karena dia yang sudah mengkhianati pernikahannya.


Akhirnya mobil itu tiba, Edbert menyimpan mobil di depan rumah. Ia turun dari mobil dan berlari menuju pintu mobil tepat Felia berada, lelaki itu tersenyum saat Felia keluar dari mobil.


"Kamu masuk dulu aja aku mau bawa semua barang kamu ke dalam, nanti sekalian aku minta seseorang untuk membantu membereskan kamar kamu." ucap Edbert membuat Felia mengangguk.


Felia menunggu Edbert diruang tamu, saat Edbert datang membawa semua barang bawaan Felia ia melihat Felia duduk di sofa.


"Kamu kenapa di sana Felia, aku sudah bilang sama kamu istirahat di kamar jangan di sini."

__ADS_1


"Maksud ayah kamar yang mana? Rumah ini kamarnya banyak apa tidak ada kamar yang cocok untuk aku dengan Alfred." kata Felia membuat Edbert menghela nafas, ia segera menghampiri Felia yang masih belum bergerak sama sekali.


"Kamar kita Felia. Kamu mau tidur di kamar mana kalau bukan dikamar saya, di kamar saya sudah menyiapkan ranjang bayi untuk sementara waktu. Nanti kalau putra kita sudah besar nanti aku buatkan kamar terpisah untuknya." tutur Edbert kepada Felia, lalu Edbert membawa Felia ke kamar dan meminta pekerja rumah untuk membantunya membawa semua barang Felia.


Edbert membuka kamar tersebut, dan benar yang dikatakan Edbert kamar ini sudah dirombak oleh Edbert. Sudah lama sekali dia tidak datang ke kamar ini lagi, ternyata kamar ini sudah berubah dan dia segera menatap Edbert.


***


"Kamu yang merubah kamar ini?" tanya Felia membuat Edbert mengangguk, dan ia melangkah pelan untuk menjangkau Felia supaya dia bisa memeluk tubuh Felia.


"Ya. Semenjak kamu melahirkan aku sudah menyiapkan kamar kita, tapi kamu lebih memilih tinggal dengan Louis. Mau gimana lagi kamar ini kosong saat aku memutuskan untuk menetap di luar negeri." kata Edbert masih memeluk tubuh Felia dengan sesekali mencium pipi kanan Felia.


"Maaf. Coba kalau aku lebih mempercayai ayah dari pada Louis, mungkin aku akan tinggal dengan ayah bukan dengan Louis." lirih Felia, Edbert yang mendengar suara Felia segera melepaskan pelukannya dan kembali membalikan tubuh Felia untuk melihat kecantikan menantunya.


Di sana ia meletakan Alfred di ranjang bayi dengan pelan, membuat bayi mungil itu tidak menangis sedikitpun. Felia tersenyum saat melihat bayinya yang sangat pulas, begitupun dengan Edbert dia paling bahagia melihat putranya sehat seperti ini.


"Makasih ya kamu sudah memberikan anak laki-laki seperti Alfred, aku senang melihat dia tumbuh besar. Aku bahagia sekali bisa bertemu kamu dan aku ingin kita sama-sama merawat Alfred sampai putra kita tumbuh dewasa."


"Iya ayah. Aku juga senang banget bisa bertemu dengan ayah, walau pernikahanku entah mau dibawa kemana yang pasti aku ingin mengakhiri pernikahan ini." ujar Felia membuat Edbert melirik Felia.


"Kamu yakin dengan ucapan kamu Felia?" tanya Edbert membuat Felia tersenyum dan mengangguk, entah kenapa dia mengatakan itu sudah menjadi keputusannya.


Semoga saja keputusan yang dia ambil tepat, dia janji akan fokus mengurus putranya dan menata hidupnya menjadi wanita sukses. "Ibu janji nak, ibu akan menjadi wanita sukses untuk kamu dan kita akan bahagia selamanya." batin Felia dengan terus menatap Alfred.

__ADS_1


Keesokannya Felia sudah disibukan mengurus Alfred, bayi kecil dan mungil ini membuatnya selalu disibukan oleh tangisan lucu. Edbert yang melihat Felia kewalahan menjaga dan merawat Alfred, selalu membantu Felia.


Dia terus mengucapkan terima kasih untuk dirinya dan untuk dunia, karena ini pertama kalinya dia mengurus seorang bayi kecil darah dagingnya sendiri. Bayi mungil ini selalu membuatnya bahagia, walau dia sangat kesusahan mengurus bayi kecil ini.


"Ayah tidak ke kantor?" tanya Felia yang melihat Edbert masih menggendong Alfred.


"Masalah kantor sudah ditangani oleh orang kepercayaan ayah, jadi ayah ingin menjaga putra kita. Dan kamu fokus mengurus yang lain aja, masalah Alfred biar ayah aja yang menjaganya." ucap Edbert yang menatap Felia, Felia yang ditatap seperti itu tersenyum tapi Edbert sangat gemas tidak mendapat perhatian dari Felia.


"Sayang, apa sebaiknya kamu tidak memanggilku seperti itu. Aku rasa panggilan kamu kurang cocok di telingaku, apa kamu mau mengubah panggilan untukku?" ucap Edbert meminta Felia mengubah nama panggilan, ia tidak menyukai Felia memanggilnya dengan sebutan ayah.


Karena dia tidak mau hubungannya dengan Felia cuman sebatas menantu dan mertua, tapi dia ingin Felia menganggapnya seorang pria. Seorang pria yang mencintai kekasihnya, seperti dia yang masih mencintai Felia sampai sekarang.


"Baiklah. Aku akan mengubah panggilan aku untuk kamu." Edbert meminta Felia mendekat, saat Felia sudah dekat ia segera mencium bibir Felia.


Bibir yang sangat manis, sudah lama ia tidak merasakan bibir Felia lagi. Dan kali ini dia merasakannya, tetap sama seperti dulu tidak berubah dengan rasanya. Edbert melepaskan ciuman itu dan menatap Felia.


"Saya kangen sama kamu Felia. Semenjak kamu memutuskan tinggal bersama Louis, hati saya terasa kosong makanya saya memutuskan keluar negeri. Saya gak mau melihat kamu lagi, tapi niat saya untuk melupakan kamu salah. Karena Louis melukai kamu seharusnya saya membawa kamu bukan malah ninggalin kamu di sini." lontar Edbert dengan rasa bersalahnya, Felia tau perasaan pria ini tapi semuanya sudah terjadi.


"Aku tidak pernah menyalahkan siapapun di sini, mungkin semuanya sudah takdir makanya aku bisa bertemu kamu lagi. Mulai sekarang kita mulai dari awal lagi, dan ayah bisa menjaga putra ayah." urai Felia membuat Edbert mengangguk tiba lupa memberikan senyuman untuk dua orang yang dia cintai.


Kepergian Felia membuat Louis memutuskan untuk tinggal dengan Laura, sekarang yang dia miliki hanyalah Laura karena wanita inilah yang bisa membuatnya jatuh hati. Laura tidak peduli dengan cerita yang diceritakan Louis, yang ia pedulikan sekarang hanya harta kekayaan Louis.


Karena sebentar lagi semua milik Louis akan menjadi miliknya, pria ini akan bangkrut dan jatuh miskin. Sementara dia menikmati harta yang sudah ia dapatkan, membayangkannya saja membuat hatinya senang. Bagaimana kalau semua itu terwujud pasti hidupnya akan bahagia dan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2