
Mendengar itu membuat Laura sengat senang, ini baginya sebuah tantangan karena dia melakukan itu di rumah kekasihnya. Dimana Felia masih berada di rumah, sedangkan suaminya menuntaskan hasratnya dengan dirinya.
"Sayang, kamu kenapa diam aja. Apa kita bisa melakukannya sekarang?" kali ini Laura mengizinkan Louis menyentuhnya kembali, dia yang mendapatkan izin itu segera menuntaskan hasratnya.
Malam ini adalah malam paling indah untuk mereka berdua, di saat Felia sibuk merasakan sakit dalam keadaan mengandung dan Louis malah sibuk menuntaskan hasratnya dengan kekasihnya.
Dasar kurang ajar 👊👊 Laki-laki tidak di untung, udah dapat istri seperti Felia malah di sia-siakan. Awas kau Louis nanti bakal kena karmanya 😡😡😡
Ketika pagi hari Laura tidak melihat keberadaan Louis, dia malah masih berada di ranjang dengan selimut menutupi setengah tubuhnya. Laura segera bangun dan di sana dia melihat sebuah kertas yang terletak di meja kecil.
Sayang maaf aku ninggalin kamu di saat kamu masih tertidur, aku tidak ingin Felia mengetahui kegiatan kita. Jadinya aku memilih pergi ninggalin kamu, kamu tenang aja aku sudah menyiapkan semua keperluan kamu. Aku tunggu di meja makan kalau kamu sudah bangun.
Laura tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari kekasihnya ini, dia begitu bahagia saat membaca setiap tulisan yang dibuat oleh Louis. Selesai membaca surat dari Louis ia segera pergi ke toilet untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
Saat Laura baru saja keluar dari kamar ia melihat sudah ada Louis dengan Felia, mereka berdua sedang menikmati sarapan pagi di saat ia baru saja bangun.
"Maaf pak Bu saya baru bangun." ucap Laura yang sudah berada di antara mereka, keduanya menatap kearah Laura yang sudah duduk di kursi.
"Tidak apa, saya tau kamu pasti kelelahan jadi saya tidak tega membangunkan kamu. Silakan kamu makan Laura, bibi sudah menyiapkan sarapan untuk kamu." ujar Felia membuat Laura melihat kearah meja makan, dia melihat banyak sekali makanan yang tersedia di sana.
"Wow! Makan ini banyak sekali Bu, saya pikir ibu sedang mengadakan acara sampai masak sebanyak ini."
"Nggak apa-apa, lagian juga bukan saya yang masak tapi bibi. Sudah di makan Laura nanti selesai makan kamu pulang di antar suami saya aja, kalau kamu pulang sendiri takutnya tidak ada kendaraan di jam segini." kata Felia membuat Laura tercengang, bagaimana bisa Felia mengatakan itu dengan mudah.
Di saat dia sedang berhadapan dengan selingkuhan suaminya malah wanita ini bersikap baik kepadanya, ia tidak tau kenapa wanita ini seperti kapas yang begitu lembut sampai menerima dirinya yang notabenenya selingkuh dari suaminya sendiri.
Tanpa bicara apapun lagi Laura segera melahap makanan tersebut, selesai mereka bertiga selesai sarapan Louis segera mengantarkan Laura ke kantor.
"Sayang, aku rasa istri kamu itu bodoh sekali. Kenapa dia baik banget padahal aku ini selingkuhnya, apa dia gak ngerasa kalau aku ini selingkuhannya." ucap Laura saat mereka sudah berada di dalam mobil, dan Louis terus mengendarai mobil di saat tangannya menggenggam tangan Laura.
__ADS_1
"Dia itu memang seperti itu, dari dulu dia gak pernah curiga sama aku makanya aku selalu berhasil selingkuh sama kamu."
"Sudahlah jangan mikirin dia lagi sekarang kita pikirin hubungan kita aja, masalah Felia biar aku saja yang urus kamu fokus mempercantik diri untuk aku." ucapnya kembali dan ia segera mencium punggung tangan Laura, dia sudah begitu candu dengan kekasihnya ini.
***
Sedangkan Edbert sibuk dengan berkas kantor yang selalu memusingkan kepalanya, berhari-hari ia selalu melakukan aktivitas seperti ini dan itu semua membuatnya jenuh. Akhirnya Edbert memutuskan untuk menghentikan pekerjaan dan kembali memikirkan Felia.
"Jam segini Felia lagi apa ya? Apa aku hubungi dia aja." gumamnya yang terus memikirkan menantunya itu, akhirnya Edbert memutuskan untuk menghubungi Felia.
Panggilan itu terhubung saat Felia sibuk berada di taman belakang, ia meletakan gembor yang berada di tangannya saat dia mendengar suara telepon.
Akhirnya Felia memutuskan untuk mengangkat telepon itu, dan dia melihat ada sebuah panggilan dari Edbert. Felia tersenyum mendengar suara ayah mertuanya itu, dia sangatlah bahagia saat ia sangat merindukan ayah mertuanya.
Saking asiknya mereka berbicara Edbert lebih dulu memutuskan panggilan itu, sedangkan Laura sudah berada di ruangan Louis. Ia sibuk berada di pangkuan Louis dengan lelaki itu sibuk mengecek dokumen yang diberikan Novan.
Louis menghentikan pekerjaan itu dan ia lebih terfokus dengan Laura, "Kenapa? Kamu sudah bosan berada di sini."
"Pakai tanya lagi, aku ini sengaja datang keruangan kamu untuk bermesraan sama kamu bukannya malah dicuekin seperti ini." ucapnya dengan nada kesal, Louis yang melihat itu segera menghentikan pekerjaan dan ia lebih mencium bibir Laura.
"Sudah cukup cemberutnya? Apa masih kurang dengan ciumanku barusan?" kata Louis yang sudah melepaskan ciumannya, ia malah menatap Laura dengan jari tangannya terus menyentuh bibir kekasihnya.
Laura melingkarkan kedua tangannya dengan bersikap manja kepada Louis, "Ciuman itu masih belum cukup untukku, apa kamu tidak mau menyentuhku lagi? Sekarang kamu lebih fokus dengan pekerjaan kamu dari pada sama aku."
"Baby, kamu mau kemana?" tanya Louis yang melihat Laura sudah turun dari pangkuannya.
"Aku mau balik keruangan ku. Percuma aku berada di sini kalau kamu terus cuekin aku seperti itu."
Louis terus memperhatikan kepergian Laura sampai dirinya menghela nafas, memang seharian ini dia selalu disibukan dengan semua pekerjaan. Tapi ia tidak mungkin mengabaikan Laura, dia ingin menyelesaikan semua pekerjaan ini sampai dirinya bisa bersama dengan Laura.
__ADS_1
Louis sama sekali tidak mengejar Laura ia kembali mengecek semua laporan kantor, Laura terus menerus menghentakkan kakinya di lantai membuat suara hentakan itu terdengar.
"Kenapa dia selalu mementingkan pekerjaan dari pada aku, apa sepenting itu pekerjaan dari pada dirinya." gumamnya yang terus melangkah kearah ruangan kerja.
Laura terus kesal dengan perlakuan Louis, merasa diabaikan begitu saja membuat seseorang dari ujung sana melihat tingkah laku Laura. Lelaki itu sibuk melakukan pekerjaan tetapi matanya terus tertuju pada Laura, dia melihat kearah meja temannya dan kearah lain.
Semua orang masih pada sibuk mengerjakan pekerjaan kantor, sedangkan ia sudah selesai lebih dulu. Merasa bosan dengan aktivitas ini ia memutuskan untuk menghampiri Laura. Tepat di meja Laura, ia sedikit membungkukkan tubuhnya supaya bisa sejajar dengan Laura.
"Dari pada kamu bosan di sini lebih baik kamu ikut denganku." bisik lelaki itu membuat Laura melirik kearah lelaki yang berdiri di sampingnya.
"Kemana?"
"Sudah ikut aja nanti juga kamu tau." Laura memutuskan untuk mengikuti lelaki itu, lelaki yang sudah lama mengincar Laura tetapi wanita ini selalu bersama dengan Louis.
Langkah Laura terus mengikuti langkah kaki lelaki itu, sampai dimana ia berhenti saat lelaki itu menghentikannya di sebuah tempat yang berada di lantai paling akhir. Laura melihat lelaki itu sibuk melihat kearah sekitar sampai lelaki itu memutuskan untuk duduk di sebuah bangku.
"Kau suka tempat seperti ini?" tanya Laura yang melihat lelaki itu duduk dengan mengeluarkan sebatang rokok.
"Ya. Setiap hari setelah aku jenuh dengan pekerjaan saya selalu datang ke tempat ini, walaupun banyak orang yang tidak mengetahui tempat ini." kata lelaki itu yang sudah menikmati sebatang rokok yang sudah ia nyalakan, sedangkan Laura ikut duduk di samping lelaki itu.
"Sepertinya kamu juga baru tau tempat seperti ini." ucap lelaki itu yang kembali melihat ke arah Laura.
"Kau kenapa mengajak aku ke tempat ini? Bukannya kamu bisa ke tempat ini sendiri tanpa membawaku juga." ujar Laura membuat lelaki itu sibuk menatap depan, begitupun dengan Laura yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Saya bisa aja datang sendiri tanpa orang lain tapi saya melihat kamu seperti kesal dengan seseorang, makanya saya meminta kamu datang ke tempat ini bersamaku." Laura mengangguk saat mendengar semua perkataan yang diucapkan lelaki ini, ia memilih diam di saat lelaki di sampingnya sibuk dengan rokok yang lelaki itu hisap.
Lelaki itu menyimpan setengah rokok di sebuah asbak yang sengaja ia letakan, lalu ia kembali melihat Laura yang sibuk dengan angin yang kencang sampai rambut wanita itu berhamburan.
"Kau punya hubungan apa dengan pak Louis?"
__ADS_1