Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Kemarahan Louis


__ADS_3

Kita kembali di dunia kantor. Bukan seperti sepasang kekasih yang berada di gedung atas, mereka adalah karyawan dan seorang bos yang menikmati sensasi kenikmatan duniawi. Keduanya sama-sama saling menyatukan tubuh dan nafsu yang ada di tubuh mereka masing-masing, saling membalas saat keduanya saling menikmati penyatuan dahsyat itu.


Louis melihat tubuhnya sudah tidak berdaya dihadapan karyawan barunya ini, baru pertama kali ia merasakan sentuhan yang tidak pernah ia rasakan. Dan Laura sangatlah hebat sampai dirinya tidak bisa menghentikan kegiatan panas itu, sekarang ia masih terdampar di sofa panjang dengan tubuh telanjang.


"Bapak sudah bangun." ucap Laura yang sibuk merapikan pakaian.


Louis bangun dari tidur saat ia masih merasa lelah akibat gempuran dahsyat yang diberikan Laura, "Sekarang jam berapa?"


Laura membalikan tubuhnya saat ia selesai merapikan semua pakaiannya, lalu ia menatap Louis yang masih duduk di sofa panjang dengan menatap kearahnya.


"Sekarang sudah jam lima sore pak. Sepertinya kita sudah lama bermain di sini sampai handphone bapak terus berdering." mendengar perkataan Laura ia segara mengecek handphone, dan benar saja ia mendapatkan panggilan dari Novan dan juga Felia.


Semua panggilan dan pesan itu ia abaikan begitu saja, saat dirinya masih menikmati penyatuan dengan Laura. Ini diluar dugaan saat ia tidak mendengar suara handphone, hanya terdengar suara ******* yang keluar dari bibir Laura dan bibirnya.


Laura yang melihat bosnya diam sambil menatap handphone, ia segara menghampiri Louis dan memeluk tubuh kekar Louis.


"Apa bapak puas dengan kegiatan barusan?" pertanyaan bodoh apa yang dilontarkan Laura, ia sangat puas dengan kegiatan barusan sampai dirinya lupa segalanya.


Louis melepaskan pelukan Laura, ia memilih membalikan tubuhnya untuk menatap Laura. "Tidak usah saya katakan ke kamu Laura, kamu sudah tau jawaban saya apa. Jadi hari ini saya katakan saya sangat menyukai kegiatan kita barusan, dan kamu sungguh hebat sampai saya ketagihan dengan kamu."


Laura tersenyum mendapatkan jawaban itu, dia kembali melingkarkan kedua tangannya tepat di leher pria ini. Kakinya ia jinjit supaya bisa menyamakan tinggi badan Louis dengan menatap wajah bosnya ini, Louis yang melihat itu sangatlah bahagia mendapatkan wanita seperti Laura.


"Kalau bapak menyukai kegiatan barusan apa kita bisa melanjutkan kegiatannya lagi?" tanya Laura membuat Louis meletakan kedua tangannya di pinggang ramping Laura.


"Tentu saja. Saya pastikan hanya kamu yang melakukan itu sama saya tidak seorangpun yang bisa menggantikan kamu." dengan posisi yang sedekat ini tidak mungkin Louis membiarkan wanita ini begitu saja, ia dengan cepat mengambil ciumannya tepat dibibir Laura sampai bibir itu terlepas barulah Louis bisa menatap wanita ini.


"Baiklah, hari ini saya sangat puas sama kamu. Dan kegiatan kita cukup sampai di sini, saya tidak ingin orang lain mengetahuinya apalagi istri saya." Louis masih memandang wajah Laura sampai pelukan itu terlepas begitupun dengan tangan Laura, "Kamu harus menjadi milik saya dan cuman kamu yang bisa membuat saya puas, ingat perkataan saya jangan bermain di belakang saya sampai saya puas dengan kamu. Dan saya bisa memiliki kamu seutuhnya."

__ADS_1


"Tentu, saya tidak akan mengkhianati bapak. Tubuh saya ini hanya milik bapak bukan milik siapapun, saya tunggu ucapan bapak supaya kita bisa melanjutkannya lagi tanpa bermain seperti petak umpet seperti ini." kata Laura membuat Louis menyentuh puncak kepala Laura.


"Kamu tenang aja saya tidak akan meninggalkan kamu dan secepatnya saya akan meninggalkan istri saya demi kamu. Kamu harus janji sama saya apapun yang terjadi kamu akan selalu di samping saya." tutur Louis membuat Laura mengangguk, sebelum mereka berpisah Louis memberikan sebuah pelukan untuk wanita ini.


***


Tiba di rumah Louis melangkah ke dalam, ia melihat Edbert sibuk menikmati secangkir kopi dengan sebuah tablet yang berada di pangkuan lelaki itu.


"Dimana Felia, yah? Kenapa aku tidak melihat istriku." ucap Louis yang tidak melihat keberadaan Felia di ruang tamu.


Edbert mengakhiri kegiatannya lalu ia lebih memilih menatap Louis, "Istrimu ada di kamar. Kamu baru pulang jam segini, apa di kantor masih sibuk sampai kamu pulang telat terus."


"Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku, walau ada Novan tapi aku tidak ingin membebani sekretarisku." Louis bergegas menghampiri Felia dari pada berdebat dengan ayahnya, ia tau nanti setelah ini ayahnya akan bicara panjang lebar lagi seperti dulu.


Louis melihat Felia sibuk memandangi jendela saat ia sudah menutup pintu kamar, "Sudah pulang? Apa kamu punya waktu sebentar untuk bicara denganku?" langkah kakinya terhenti saat Felia bicara dan dia menyetujui perkataan Felia.


Tanpa mengatakan apapun Felia hanya memberikan sebuah amplop coklat yang sempat diberikan Edbert, mendapatkan sesuatu dari Felia ia mengambil dan membuka isi yang berada di dalam. Ternyata ia dibuat terkejut saat Felia mengetahui semuanya, lalu dia kembali menatap Felia.


"Maksud kamu apa Felia? Kenapa kamu memberikan aku ini." Felia tersenyum kecut saat mendengar perkataan Louis, seharusnya dia tau apa maksudnya bukan menanyakan hal ini kepadanya.


"Seharusnya kamu tanyakan diri kamu sendiri maksud dari bukti itu apa? Kenapa kamu melakukan ini sama aku, apa selama ini aku kurang baik sampai kamu melakukan hal menjijikan itu sama wanita lain." seru Felia tanpa mengalihkan pandangannya, ia masih menatap Louis tetapi suaminya ini sama sekali tidak memandangnya.


"Jawab aku, Louis! Jawab aku! Kenapa kamu lakuin ini sama aku." ucapnya saat ia beranjak dari kursi tersebut dan dia terus melihat kearah Louis yang masih diam membisu.


Louis melempar amplop coklat itu di atas meja rias, melihat kemarahan dari suaminya membuat sekujur tubuhnya kaget akan kemarahan suaminya.


"Oh, jadi sekarang kamu mulai menuduhku selingkuh? Apa selama ini aku tidak bisa menafkahi kamu dengan baik sampai kamu berpikir aku selingkuh?" Louis memilih mengalihkan pandangannya lalu dirinya kembali menatap Felia.

__ADS_1


"Sekarang katakan siapa yang memberikan ini sama kamu? Jawab Felia." bentakan Louis mampu membuat tubuhnya terpental hebat, baru pertama kali ia melihat Louis semarah ini biasanya dia tidak pernah melihat Louis marah.


"A-ayah. Ayah yang memberikan itu sama aku." ucap Felia dengan terbata-bata, jujur ia takut menatap wajah Louis. Ia takut kalau nanti suaminya akan melakukan sesuatu kepadanya.


Mendengar itu Louis mengepal tangannya dan meninju tangan tersebut kearah meja, membuat barang yang ada di meja rias loncat. Tanpa bicara lagi Louis memilih pergi dan membanting pintu kamar dengan kuat.


Tubuhnya begitu lemas melihat perubahan Louis, dia tidak menyangka Louis akan berbuat kasar seperti ini. Dan dia tidak tau harus melakukan apa setelah pertengkaran ini.


Louis yang melihat ayahnya masih berada diruang tamu menghampiri Edbert, ia melempar amplop coklat itu di depan Edbert. Edbert dengan santai melipat koran yang dia baca dan dia langsung melihat kearah Louis.


"Maksud ayah apa memberikan amplop itu ke Felia. Apa ayah curiga sama aku kalau aku selingkuh dengan Felia?" Edbert melihat bagaimana putranya sangatlah marah mengetahui bukti itu, seharusnya yang marah Felia bukan Louis.


Edbert masih menatap Louis dengan melipat kedua tangannya dengan kaki di letakan ke sebelah kaki satunya, "Bagus kalau kamu sudah mengetahuinya. Ayah rasa sebentar lagi hubungan kalian akan hancur, dan apapun yang kamu sembunyikan akan ketahuan sama Felia. Mungkin sekarang kamu sedang menikmatinya tapi suatu saat kamu akan ketahuan Louis."


"Aku tidak mungkin melakukan itu sama wanita lain, aku sudah janji sama diriku sendiri untuk menjaga Felia dan anakku. Seharusnya ayah sebagai orang tua mendukung rumah tangga anaknya bukan malah menghancurkan rumah tangga anaknya."


"Apa ini sikap ayah sebagai orang tua, cih! Aku sudah menduga kalau ayah menyukai istriku, dan ayah melakukan ini supaya pernikahanku dengan Felia hancur dan ayah bisa merebut Felia dariku." lontar Louis yang secara langsung menuduh ayahnya sendiri.


"Jaga ucapan kamu Louis! Ayah ini ayah kamu, ayah melakukan ini supaya kamu sadar kalau perbuatan kamu ini salah. Kalau emang kamu tidak mau melanjutkan pernikahan ini lebih baik kalian berpisah, bukan bersikap seperti ini seakan-akan kamu menyakiti Felia secara tidak langsung, Louis." tutur Edbert saat posisinya sudah beranjak dengan menatap Louis dengan marah.


CkCkCk


"Ayah... Ayah! Apa aku ini bodoh tidak mengetahui perasaan ayah dengan Felia, apa aku tidak bisa membaca pikiran ayah kalau sebenarnya ayah ingin merebut Felia dan menikahi istriku setelah aku berpisah dengan Felia 'kan?"


Plak...


Mendapatkan tamparan yang sangat keras membuat Louis marah dan ia langsung menyentuh tamparan itu, wajah Louis sudah membekas tamparan tangan Edbert saat melihat bahwa Louis sangatlah tidak terima kalau ayahnya menamparnya.

__ADS_1


"Louis! Louis!" teriak Edbert saat dia melihat Louis pergi, tamparan itu di luar dugaannya dan dia dengan refleks menampar putranya sendiri.


__ADS_2