
Bangun dari tidur Laura melihat tubuhnya sudah tak memakai pakaian, hanya selimut yang menutupi tubuhnya dan dia tersenyum saat mengingat malam panjang kemarin. Dia sangat beruntung mendapatkan Louis, dan melakukan itu tanpa sepengetahuan Felia.
Laura segera beranjak dari ranjang menuju toilet, selesai mandi Laura keluar dari kamar dan dia melihat Felia sibuk menyiapkan sarapan saat Alfred digendong oleh baby sister.
"Selamat pagi Bu." sapa Laura yang menghampiri Felia di dapur.
"Pagi Laura. Tumben kamu bangun pagi sekali biasanya jam segini belum bangun." ucap Felia saat dia memberikan sebuah senyuman untuk Laura.
"Hehe! Ya Bu saya tidak enak bangun siang mulu, jadi gak sempat bantu ibu di dapur."
"Kamu ini kaya sama siapa aja." dua wanita itu sibuk di dapur menyiapkan makan pagi, saat Laura sibuk membantu Felia memotong sayuran.
Felia tidak sengaja melihat di leher Laura ada bekas berwarna merah, seperti bekas orang ciuman dan dia melihat tanda itu tidak hanya satu melainkan banyak.
"Laura, kenapa di leher kamu banyak sekali tanda merah. Seperti tanda bekas ciuman, apa semalam kamu berciuman sama lelaki?" kata Felia membuat Laura terdiam, dia tidak menyangka ternyata ia begitu teledor.
Bagaimana bisa ia melupakan lehernya sendiri, lagian juga kenapa Louis harus memberikan bekas saat mereka melakukan bercinta kemarin malam. Laura menyentuh leher dan tersenyum saat mengingat permainan mereka semalam.
Felia yang melihat tingkah laku Laura sangat membuatnya curiga, bagaimana bisa Laura tidak sadar akan bekas tanda di lehernya.
"Laura, kenapa kamu bengong aja. Tanda yang dileher kamu itu bukan tanda bekas ciuman kan?" kata Felia yang melihat kearah Laura, wanita itu segera tersenyum lalu melihat Felia.
"Bukan Bu. Mana mungkin saya melakukan itu di rumah ibu, lagian juga tanda ini berasal dari serangga atau alergi Bu. Soalnya saya punya alergi makanya tanda dileher saya membekas, karena saya terus menggaruk leher saya sampai seperti ini." ucap Laura membuat Felia mengangguk.
Untung saja wanita bodoh ini percaya, kalau tidak dia sudah habis kata-kata untuk menjawab pertanyaan yang tidak penting. Anggap saja dia lolos dari wanita bodoh ini, tapi kedepannya dia harus lebih hati-hati lagi supaya Felia tidak mencurigainya.
"Morning honey." sapa Louis yang mencium kening Felia, Laura yang melihat itu hanya menghiraukan keromantisan mereka berdua.
"Morning." jawab Felia dengan senyuman, ia segera melanjutkan menyiapkan sarapan untuk Louis.
"Laura kamu kenapa diam aja? Apa kamu sakit?" tanya Louis yang melihat Laura lebih banyak diam, biasanya wanita ini selalu memberikan sesuatu untuknya.
Tapi melihat Laura diam saja membuatnya sedikit aneh, tidak biasanya Laura bersikap seperti itu.
"Iya, kamu sakit Laura?" timpal Felia yang menanyakan keadaan Laura.
__ADS_1
"Hah! Tidak bu, saya tidak apa-apa."
"Kalau kamu sakit bilang aja nanti supir akan antar kamu ke rumah sakit." ucap Felia yang masih setiap menatap Laura.
"Tidak apa-apa Bu. Nanti kalau saya sakit saya bisa ke dokter sendiri."
"Baiklah." mereka bertiga melanjutkan sarapan, sampai keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area rumah.
Louis masih fokus menyetir tidak dengan Laura yang dari tadi bersikap manja, "Sayang, bisa gak hari ini kita gak masuk kantor?"
"Kenapa? Kamu sakit sayang." ucap Louis yang menggunakan satu tangannya untuk mengecek suhu tubuh Laura.
"Tidak! Aku hanya ingin berduaan aja sama kamu, semenjak aku tinggal di rumah kamu. Kamu tidak punya waktu untuk aku malah aku yang terus mancing kamu supaya kamu bisa datang ke kamarku." ujar Laura yang terus memeluk lengan Louis, Louis segera menghentikan mobil dan mencari tempat untuk memarkirkan mobil.
***
Louis melihat jam tangan saat dia sudah menghentikan mobil, dia melihat Laura saat wanita itu sudah tidak menempel lagi.
"Maaf kalau aku salah sama kamu, tapi kamu kan tau kalau di rumah tidak hanya kita berdua saja. Di rumah ada Felia dan asisten rumah tangga, sekarang nambah pengasuh untuk mengurus Alfred." kata Louis yang terus menatap Laura dengan menggenggam tangan kekasihnya ini.
Yang awalnya ia menunduk sekarang dia berani melihat Louis, wajah tampan lelaki ini benar-benar membuatnya jatuh hati. Apalagi dengan sikap lembutnya, wanita mana yang tidak jatuh hati sama lelaki seperti Louis.
Tampan, kaya raya, lemah lembut dan penyang. Dia tidak tau kenapa dirinya bisa jatuh cinta dengan lelaki yang ada di hadapannya ini, apalagi dia tidak pernah berpikir kalau dia sudah mencintai seorang lelaki yang memiliki istri. Seharusnya dia tau itu, tapi entah kenapa dia malah tidak mau melepaskan pria ini.
"Sayang." panggil Louis saat dia melihat Laura melamun, Laura yang sadar dari lamunannya kembali menatap Louis.
"Are you oke?" tanya Louis yang masih melihat Laura tidak menjawab perkataannya.
"Ya! Aku mau kamu belikan aku rumah, supaya aku bisa nyaman tinggal di rumah sendiri dari pada tinggal di rumah kamu yang ada hubungan kita akan terbongkar."
Louis memutuskan menatap kearah lain saat dia mendengar ucapan Laura, Laura yang melihat Louis tidak menjawab ucapannya segera menyentuh tangan Louis.
"Sayang, tadi pagi istri kamu curiga dengan kegiatan kita semalam saat dia melihat bekas kecupan yang ada dileher aku."
Mendengar itu Louis segera kembali menatap Laura, "Terus kamu bilang apa ke dia?"
__ADS_1
"Aku bilang kalau aku alergi jadi dia percaya sama ucapan aku. Makanya sayang kamu mau kan belikan aku rumah, supaya istri kamu tidak curiga lagi dengan hubungan kita."
"Baiklah. Setelah urusan kantor selesai kita cari rumah untuk kamu dan kamu tenang aja rumah itu atas nama kamu." mendengar itu Laura langsung memeluk tubuh Louis dengan Louis membalas pelukan Laura sambil tersenyum.
Janji harus diucapkan, hari ini Louis dengan Laura langsung mencari rumah untuk Laura. Selesai mengurus kantor Louis memutuskan untuk mengajak Laura membeli rumah, rumah yang akan di tempatkan oleh kekasihnya ini.
Laura dengan Louis terus mencari rumah yang cocok untuk kekasihnya ini, sampai akhirnya keduanya menemukan rumah yang cocok untuk Laura.
"Gimana sayang kamu suka sama rumah ini?" tanya Louis yang sedang melihat dalam rumah.
Laura menatap Louis saat dia sibuk menatap rumah barunya, "Aku suka banget sama rumah ini sayang."
"Baiklah kalau kamu suka." Louis tersenyum saat dia melihat ekspresi wajah Laura, lalu dia segera melihat seorang wanita yang sempat menjelaskan secara detail rumah ini.
"Baiklah mba, saya ambil rumah ini."
"Baik pak, kalau gitu bapak dengan mba bisa ikut saya untuk ACC rumah ini." tutur wanita itu, keduanya mengikuti langkah kaki wanita itu.
Laura tidak ada hentinya tersenyum saat Louis memberikan rumah untuknya, malah lelaki ini mengatakan kalau rumah yang barusan dia beli atas namanya. Jadi sebentar lagi dia akan berhasil mengambil semua yang dimiliki Louis.
"Kamu senang banget kayanya udah mendapatkan rumah yang kamu mau."
"Ya sayang, makasih ya kamu sudah mau menuruti kemauan aku."
"Ya sama-sama." Louis mengelus kepala Laura saat kepala wanita ini bersandar di tubuhnya, belum ada semenit ia merasakan wangi rambut Laura wanita itu sudah melepaskan sandarannya.
"Oh ya sayang, kapan kamu mau belikan aku perlengkapan rumah. Masa rumah sebagus itu tidak ada barang-barangnya."
Louis tersenyum dan ia menggunakan satu tangan untuk menyentuh kepala Laura, "Kamu jangan khawatir sayang nanti aku akan berikan kamu ATM khusus untuk kamu. Kamu tinggal gunakan kartu itu untuk membeli semua keperluan kamu."
"Kamu serius sayang?"
"Iya masa aku bohong sama kamu. Sekarang kita langsung pulang nanti malam aku akan berkunjung ke kamar kamu."
"Oke, sayang." Laura segera mencium pipi Louis saat lelaki itu masih sibuk menyetir, Louis yang mendapatkan perlakuan seperti itu tersenyum senang.
__ADS_1
Seperti biasa Louis selalu memperlakukan Felia sebagai istri walau dia sebenarnya tidak ingin melakukan itu, tapi mau gimana lagi Felia masih istri sahnya dan dia tidak akan kehilangan Felia saat ia masih bersama dengan Laura.