Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Ekstra Part 6


__ADS_3

Satu minggu mereka berada di Swiss Felia memutuskan untuk kembali, sekarang ia sudah berada di rumah sibuk menonton televisi. Saat Felia sibuk memakan buah ternyata di dalam tubuhnya terasa tidak enak, ia segera pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan rasa tidak enak yang berada di dalam tubuhnya.


Felia tidak merasa sesuatu yang harus dikeluarkan, tetapi kenapa ia merasa mual di dalam perut. Felia yang sadar akan tindakannya, segera mengecek tanggal halangan dan benar saja kalau sudah beberapa hari ia belum halangan.


Felia memutuskan untuk mengambil tes kehamilan di kamar, ia mengecek tes kehamilan itu di dalam kamar mandi. Saat tes kehamilan itu muncul ia terkejut melihat hasilnya, dari hasil itu ia dinyatakan hamil.


Melihat dirinya hamil, ia segera memberikan kejutan untuk suaminya. Pulang dari kantor Edbert mencari keberadaan Felia yang entah kemana istrinya berada.


"Sayang aku pulang." panggil Edbert terus melangkah, langkah kakinya terhenti saat melihat sebuah bunga berada di bawah lantai.


Bunga itu bersebaran di lantai saat bunga itu mengarahkan ke tangga, tiba di akhir tangga ia melihat Felia berdiri di depan matanya. Wanita itu tersenyum kearahnya dengan membawa satu kotak berada di kedua tangannya.


Felia memberikan kotak kado itu, Edbert yang menerima pemberian hadiah dari Felia menanyakan hal itu melalui tatapan mata. Tanpa pikir panjang Edbert membuka kotak itu, saat ia melihat isi di dalam kotak tersebut ternyata ia menemukan sebuah testpack.


Testpack itu menunjukan ada sebuah garis tetapi garis itu muncul dua garis yang artinya Felia hamil, "Sayang, kamu hamil?" tanya Edbert membuat Felia mengangguk dan tersenyum.


Tanpa berkata apapun lagi Edbert langsung memeluk Felia, Felia membalas pelukan itu dan Edbert yang merasa bahagia melepaskan pelukan tersebut.


"Sayang, makasih kamu sudah memberikan hadiah seindah ini. Aku senang banget tuhan masih berikan aku kepercayaan untuk memiliki anak dan tuhan juga masih mempercayai aku untuk bertemu kamu."


"Sama-sama sayang. Selamat untuk kamu sebentar lagi kamu akan memiliki anak kedua, semoga dengan adanya anak ini kamu tidak pernah berubah."


"Kamu tenang aja aku akan selalu ada di samping kamu, kita jalani sama-sama sampai kita bisa melihat anak-anak kita menikah." urai Edbert lalu dia kembali memeluk Felia.


Selesai mereka berpelukan Felia membawa Edbert ke lantai bawah, di meja makan ia sudah menyiapkan makanan spesial untuk suaminya. Edbert yang melihat Felia menyiapkan semuanya, ia segera menikmati sarapan yang dibuat Felia.


"Kamu yang buat ini semua?" tanya Edbert yang melihat semua menu berada di meja makan.


"Ya! Aku sengaja masak semua makanan kesukaan kamu, karena sudah lama aku tidak masak untuk kamu."


Edbert tersenyum mendengar ucapan Felia, "Dimana Alfred?"

__ADS_1


"Alfred sudah tidur. Dia dari tadi nungguin kamu pulang malah kamu belum pulang jadi dia udah tidur duluan." jawab Felia yang sibuk menyiapkan sarapan untuk Edbert.


"Makasih sayang." ucap Edbert yang menerima piring yang disiapkan Felia.


Mereka berdua menikmati makan malam di meja makan dengan suasana hening, sesekali mereka bercerita saat melakukan aktivitas masing-masing.


Edbert mengantar Felia ke dokter kandungan, dokter yang sudah menangani Felia saat hamil Alfred. Jadi pagi ini mereka berdua lagi menuju ke rumah sakit tepat dokter kandungan yang biasa menangani Felia.


Tiba di rumah sakit dokter itu menjelaskan keberadaan anaknya, semua penjelasan dokter membuat mereka berdua tersenyum bahagia. Selesai periksa Edbert membawa Felia pulang, dengan hati-hati Edbert membawa mobil sampai mereka tiba di rumah.


"Hati-hati sayang." ucap Edbert yang membawa Felia dengan hati-hati saat Felia sudah keluar dari mobil dan melangkah ke dalam rumah.


"Sayang kamu jangan berlebihan aku bisa jalan sendiri." protes Felia, dari awal di rumah sakit sampai mereka tiba di rumah Edbert selalu menuntunnya ke dalam.


Seakan-akan dirinya nenek-nenek yang baru keluar dari panti jompo, sedangkan dia bisa untuk jalan sendiri tanpa bantuan Edbert.


"Sudah kamu diam aja, aku gak mau anak kita kenapa-napa."


Edbert yang sudah meletakan Felia di sofa menatap sang istri, "Sayang, kamu gak apa-apakan di rumah sendiri?"


"Nggak apa-apa sayang, aku udah biasa di rumah mengurus Alfred."


"Tapi aku takut kalau kamu terjadi sesuatu saat aku tidak ada di rumah."


Felia menghela nafas saat mendengar perkataan Edbert, ia menyentuh tangan Edbert saat suaminya fokus menatapnya.


"Sudah jangan khawatir gitu, lagian juga di rumah bukan cuman aku aja. Ada bibi dan baby sister yang ngerawat Alfred jadi kamu tidak perlu khawatir gitu."


"Baiklah, kalau gitu aku ke kantor dulu. Nanti kalau kamu butuh sesuatu bilang ke aku atau bilang ke bibi jangan ngelakuin sendiri."


"Ya sayang." sebelum pergi Edbert memberikan sebuah kecupan di kening Felia, setelah mencium kening Felia barulah ia pergi ke kantor.

__ADS_1


Saat Theia berada di Swiss ia dibantai habis-habisan dengan tiga laki-laki yang dibawa Edbert, ketiga lelaki itu sibuk menikmati tubuhnya di saat Edbert sibuk pergi tanpa membantunya. Sekarang nasibnya sudah tidak seperti dulu lagi, setelah di hajar habis-habisan oleh ketiga lelaki itu ia ditinggalkan begitu saja dalam keadaan telanjang.


Tubuh penuh dengan kecupan merah, tidak hanya satu kecupan melainkan banyak. Hampir seluruh tubuh kecupan itu ada, apalagi saat ia meminta berhenti ketiga lelaki itu masih menikmati tubuhnya tanpa memiliki belas kasihan.


Merasakan tubuhnya merasa sakit, Theia memutuskan untuk kembali ke hotel dalam keadaan berantakan. Sebelum pergi Theia mengambil pakaian orang lain, pakaian yang akan menutupi seluruh tubuhnya saat pakaian awalnya sudah tidak terbentuk.


Mulai kejadian itu Theia memutuskan kembali ke Indonesia, dia ingin meminta pertanggung jawaban Edbert karena lelaki itu sudah melakukannya penghinaan terhadapnya.


Theia yang sudah berada di kantor milik Edbert menunggu kedatangan pemilik perusahaan, sudah beberapa jam ia menunggu akhirnya orang yang dia cari datang. Lelaki itu yang baru saja melakukan meeting dengan klien melihat keberadaannya.


"Edbert." ucap Theia saat ia menghampiri lelaki itu yang ingin masuk keruangan.


Edbert menatap Theia dan ia kembali menatap Bob, "Kamu lakukan pekerjaan kamu saya mau bicara dengan perempuan ini."


Bob mengangguk setelah melihat kepergian Bob barulah Edbert masuk bersamaan dengan Theia, "Kamu masih punya malu datang ke kantor saya."


"Saya datang kemari untuk meminta pertanggung jawaban kamu."


Edbert yang mendengar itu tertawa renyah, apa dia tidak salah dengar kalau wanita ini meminta pertanggung jawabannya. Bukannya setimpal dengan apa yang wanita ini lakukan terhadap Felia.


"Buat apa saya bertanggung jawab sama kamu. Saya tidak melakukan apapun sama kamu jadi saya tidak perlu tanggung jawab." kata Edbert yang menatap Theia.


"What? Kamu lupa dengan kejadian di Swiss kamu membawa tiga laki-laki untuk menikmati tubuhku, seharusnya kamu menolongku saat itu bukan malah pergi tanpa memiliki perasaan saat melihat ada seorang wanita sedang dibantai habis-habisan oleh tiga lelaki."


"Apa kamu tidak tau sehancur apa saat itu, aku hampir gila saat tiga lelaki yang kamu bawa terus menikmati tubuhku tanpa henti. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaanku saat itu juga, apa kamu tau hidupku sekarang hancur dan tubuhku tidak seperti dulu lagi." lontar Theia saat ia melihat Edbert dengan tatapan marah, kesal dan kecewa.


Edbert melipat kedua tangannya dengan tubuhnya bersandar di bangku kerja, "Bagus dong kalau kamu menikmatinya. Bukannya kamu sudah melakukan yang sama sama Felia, coba kamu pikirkan baik-baik saat kamu perlakuan Felia seperti apa."


"... walaupun Felia tidak sampai terluka tapi di bagian punggungnya terdapat bekas merah, saya tau bekas itu berasal dari balok yang diberikan oleh orang lain. Jadi saya sudah menebak kalau itu kelakuan kau, makanya saya melakukan hal yang sama, sama kamu."


"Masalah kamu menerimanya atau tidak itu urusan kamu bukan urusanku lagi, lebih baik sekarang kamu keluar dari kantor dari pada aku meminta bantuan satpam untuk mengusir kamu dari sini." titah Edbert yang secara langsung mengusir Theia pergi.

__ADS_1


Theia segera pergi, dari pada ia diusir tanpa hormat yang ada masalah menjadi bahan tontonan karyawan di sini.


__ADS_2