
dress yang digunakan Cici mampu membuat Louis terpesona, dengan pakaian seperti itu mampu membuatnya menatap dua dada Cici yang begitu besar melebih bentuk Felia. Dia begitu menyukai bentuk tubuh Cici apalagi dengan suara indah bercinta mereka, sangat menyukai Cici menyebut nama saat bercinta.
Louis menggenggam tangan Cici, mereka sudah berada di dalam mobil dengan kepala Cici bersandar di pundak Louis.
"Sayang, sebenarnya kamu mau bawa aku kemana?" tanya Cici penasaran dengan posisi masih bersandar di pundak Louis.
"Sesuatu tempat yang membuat kamu tidak akan melupakan tempat itu." ucapan yang diberikan Louis sangat membuatnya penasaran, apalagi lelaki ini sedikit mencurigakan.
Ia dengan cepat menggeleng membuang pikiran negatif terhadap pria ini, tiba di sebuah mall Louis dengan cepat mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobil. Mata Cici berbinar saat Louis mengajaknya ke mall, dan ini baru pertama kalinya Louis memintanya ke sini.
"Maksud kamu tempat yang kamu bilang ini?" Cici menatap Louis dengan menanyakan perkataannya.
Louis sibuk melepaskan sabuk pengaman dan barulah ia menatap Cici, "Ya, kamu suka?"
"Tanpa kamu bilang aku menyukai tempat ini."
"Baiklah. Lebih baik kita masuk dari pada kamu penasaran mau pilih baju apa." keduanya keluar dari mobil dengan tangan menggenggam, mereka berdua masuk ke dalam mobil besar yang nampak di depan matanya.
Begitu besar mall yang dia injak sampai matanya berbinar melihat banyak toko pakaian, melihat ekspresi wajah Cici membuatnya tersenyum.
"Kamu boleh pilih-pilih baju yang kamu suka. Asalkan kamu senang aku akan memberikan apapun yang kamu mau." ucap Louis membuatnya tidak percaya dengan perkataan pria ini.
Louis mengikuti langkah kaki Cici, wanita itu terus melangkah dengan cepat dan masuk berbagai toko pakaian. Mulai dari pakaian tebal sampai yang seksi, semua toko yang berada di mall ini semuanya dia pilih. Louis tidak peduli berapa banyak uang yang harus dia keluarkan, asalkan wanita bisa masuk ke perangkapnya dia sudah memulai rencana selanjutnya.
Melihat kedua tangan Cici membawa belanjaan, Louis mengambil belanjaan itu dan ia menatap Cici. "Ada lagi yang kamu mau beli di sini? Sebelum kita pulang kamu bisa memilihnya lagi, jangan sampai kamu menyesal saat kita tiba di villa."
"Sudah cukup kita kembali ke villa. Aku sudah puas memilih baju di sini, aku mau mencoba semua pakaian yang aku beli."
"Baiklah, kita kembali ke villa." Louis membawa semua belanjaan Cici dengan tangan melingkar di tangan Louis.
Keduanya melangkah keluar dari mall, Louis membantu membuka pintu mobil dengan belanjaan diletakan di kursi belakang. Tiba di villa Louis menyingkirkan belanjaan Cici, ia menarik tangan wanita itu menuju lantai dua.
Melihat tangannya dibawa ke lantai dua Cici mengikuti kemauan Louis, lelaki itu membawanya ke kamar dengan pintu di tutup. Melihat sikap Louis yang tidak sabaran membuat Cici tersenyum menatap Louis.
"Apa kau tidak sabar melakukan itu sama saya. Sampai kamu menarik tangan saya ke kamar?" langkah kaki Cici menuju Louis, lelaki itu cuman bisa diam memperhatikan sikap Cici.
__ADS_1
Tangannya menyentuh dada bidang Louis, mencoba membuat pria ini tergoda tapi malah dialah yang ketakutan dengan sikap Louis.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Cici melihat Louis membawa dua minuman, minuman yang akan membuat mereka mabuk.
"Kenapa? Kau takut aku memberikan minuman ini! Bukannya kamu sudah terbiasa meminum minuman ini." kata Louis menuangkan minuman itu ke dalam gelas.
Louis mengambil dua gelas kaca, satu gelasnya diberikan untuk Cici. Melihat mata Louis memintanya untuk mengambil minuman itu, ia mengambil gelas yang diberikan Louis dan dia melahap minuman itu sampai habis.
Louis tersenyum melihat Cici mulai menikmati minuman itu, Louis memberikan botol untuk dituangkan ke gelas Cici. Saking nikmat minuman itu membuat Cici terus menerus meminta minumannya.
Louis dengan senang hati ia mengikuti kemauan Cici, satu botol wine habis dilahap oleh Cici. Wanita ini ternyata penikmat minuman sampai dia tidak sadar kalau minuman itu sudah ia campurkan obat perangsang.
"Mau lagi. Apa kamu mendengarnya, aku ingin minuman ini lagi." racau Cici dengan tubuh sudah tidak sadar, wanita itu sudah mabuk berat sampai bicara saja tidak terlalu jelas.
Louis melihat tangan Cici menyentuhnya, dia melihat itu menyingkirkan tangan Cici lalu menatap wanita ini. "Apa kau yakin mau minuman itu lagi?"
"Ya." Cici terus melangkah dengan keadaan mabuk tidak lupa dengan ocehannya, melihat sikap Cici sudah tidak dikendalikan lagi ia keluar dari kamar memanggil seseorang.
***
Louis menatap Novan membawa dua lelaki asing yang sudah dia bayar, lelaki itu yang akan menjadi pemuas nafsu Cici.
"Saya yakin bos."
Tubuhnya ia arahkan menatap kedua laki-laki ini, dia terus memperhatikan penampilan keduanya sampai ia merasa puas dengan tugas Novan.
"Kalian berdua sudah tau tugas kalian apa?" tanyanya terhadap kedua lelaki itu.
"Sudah tuan! Kami akan melakukan tugas yang tuan berikan kepada kami, setelah tugas kami selesai saya akan mengirim bukti ke tuan." kata lelaki yang memakai kaos hitam dengan celana robek.
"Bagus. Saya serahkan wanita di dalam kepada kalian, terserah kalian mau diapakan wanita itu asalkan kalian tau tugas kalian apa." kata Louis kepada kedua lelaki itu, ia pergi diikuti orang kepercayaannya.
"Bos. Anda benar-benar hebat, saya pikir bos akan melakukan bercinta dengan wanita itu sampai punya a..." ucapan Novan tertahan melihat tatapan tajam yang diberikan Louis.
"Jangan katakan lagi, kamu mau saya pecat." mendapatkan ancaman dari Louis Novan dengan cepat menggeleng, ia tidak mungkin kehilangan pekerjaan ini.
Ia memutuskan menginap di hotel, Louis meminta Novan untuk merahasiakan semuanya, dia tidak mau nanti Felia berpikir macam-macam tentangnya dan membatalkan pernikahannya.
__ADS_1
"Om." gumam Felia, dia melihat lelaki itu berdiri di depan pintu rumahnya dengan pakaian kantor.
Pria itu belum menyadari bahwa Felia terus memperhatikannya memainkan handphone, "Om."
Sebuah suara memanggil namanya membuat Edbert beralih ke asal suara, ia melihat Felia sudah berdiri di depannya dengan penampilan yang begitu cantik.
Rok hitam di atas lutut dengan baju merah, matanya masih menatap penampilan Felia yang semakin hari semakin cantik dan seksi. Dia baru sadar kalau wanita ini sangat hot dengan pakaian seksi.
"Om." akhirnya panggilan itu mampu membuat Edbert sadar, entah sudah berapa lama dia menatap Felia yang pasti ia sangat menyukai penampilan wanita ini.
"Kenapa, om? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" kata Felia menatap Edbert, lelaki itu hanya memberikan senyuman dan menggandeng tangan Felia.
"Sudah siang nanti kamu telat ke kantor." Edbert membawa Felia masuk ke dalam mobil, di saat mobil mereka sudah pergi datanglah sebuah mobil yang baru tiba di rumah kekasihnya.
Pemilik mobil menghentikan mobil, ia menatap rumah yang sekarang ada di depan matanya. Lelaki itu keluar dari mobil dan menutup kembali pintu mobil, langkah kakinya terus mengarahkan rumah yang tidak begitu mewah.
Tiba di depan rumah ia terus menekan bel tetapi pemilik rumah tidak mendengar, semakin bel itu ditekan membuatnya beralih menghubungi kekasihnya.
"Louis." gumam Felia melihat nama kekasihnya terdapat di layar panggilan.
"Ada apa? Siapa yang menelpon?" tanya Edbert membuat Felia menatap laki-laki yang sibuk menyetir.
"Louis, om."
"Angkat aja." Felia mencoba mengangkat telepon, suara Louis dari layar telepon seperti mengkhawatirkannya.
"Sayang, kamu ada di mana? Kenapa di rumah kamu tidak ada orang." ucap Louis memandang kearah jalan raya dengan tangan di masukan ke kantung celana.
"Maaf sayang, aku sudah berangkat. Aku lupa ngabarin kamu." di seberang sana dia mendengar suara helaan nafas kecewa.
"Yasudah, kalau sudah sampai di kantor kamu hubungi aku."
"Ya." akhirnya panggilan itu berakhir dan Felia memasukan kembali handphonenya ke dalam tas.
"Apa kata Louis." ucap Edbert melihat Felia mengakhiri panggilan.
__ADS_1
"Dia nanya aku di mana, soalnya dia jemput aku di rumah tapi aku tidak ada." Edbert hanya memberikan sebuah anggukan dari ucapan Felia.