Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Kau Harus Aku Dapatkan


__ADS_3

Di sisi lain Edbert sudah lama berada di kamar mandi, semenjak kejadian tadi siang Felia tidak bisa dihubungi malah wanita itu sengaja menghindarinya. Berlama-lama di dalam kamar mandi membuat Edbert tersadar atas lamunannya, akhirnya ia mengakhiri aktivitas di kamar mandi.


Edbert selalu meletakan handphone di dekatnya, dia selalu melihat kearah handphone itu sampai dirinya mendapatkan panggilan dari seseorang. Senyuman yang awalnya ia tampakan sirna saat melihat bukan Felia yang menghubunginya melainkan Laura.


"Mau apa lagi wanita ini sampai menelpon ku malam-malam begini." gumam Edbert saat tatapan matanya masih tertuju pada layar telepon.


Edbert memilih mengabaikan panggilan tersebut, lalu dia kembali melangkah keruangan kerja tanpa membawa handphone. Sedangkan di tempat lain Laura merasa marah, kesal saat panggilan teleponnya tidak diangkat sama sekali.


Dengan perasaan kesal mampu membuat Laura murka akhirnya handphone itu ia lembar, benda pipih yang sudah tidak berbentuk itu sudah lagi tidak berfungsi, Laura yang sudah tidak ingin melihat handphone rusak itu memutuskan untuk pergi.


Louis dengan Felia sibuk bermesraan di dalam kamar dengan televisi terus menyala, Louis yang sibuk menatap layar televisi dengan tangan Felia terus mengusap kepala Louis. Mampu membuat keduanya merasa nyaman, tidak dengan Felia yang sama sekali tidak tertarik dengan film tersebut.


"Sayang, bagaimana perkembangan anak kita. Apa seharian ini kamu merasakan sesuatu di tubuh kamu?" tanya Louis membuat Felia terdiam, Louis yang tidak mendengar jawaban dari Felia memutuskan untuk bangun.


Louis menatap Felia yang terus menatapnya, "Sayang, kamu ini kenapa dari tadi aku bicara sama kamu malah tidak direspon."


"Emangnya kamu bilang apa?" Louis menghela nafas panjang saat mendengar ucapan Felia.


"Sayang, barusan aku bilang sama kamu gimana perkembangan anak kita dan gimana sama kamu apa merasakan sakit saat anak kita berkembang di rahim kamu."


"Aku gak apa-apa, sayang. Anak kita baik-baik aja kamu jangan khawatir." Louis mengambil kedua tangan Felia saat tatapan matanya masih tertuju pada Felia.


Melihat itu Felia terus menatap Louis tapi tidak dengan pikirannya, entahlah sejak kejadian di kantor ia selalu memikirkan kejadian itu dan membuat dirinya tidak fokus dengan suaminya sendiri.


"Sayang, kalau kamu ada masalah katakan aja. Aku perhatikan dari tadi kamu terus melamun, apa kamu sedang memikirkan sesuatu sampai tidak fokus begitu?" Felia tidak tau harus mengatakan apa, tapi sejujurnya ia tidak berhak ikut campur masalah ayah mertuanya.

__ADS_1


Yang ada nantinya Louis curiga kalau dia terus mengurusi urusan ayah mertuanya, "Nggak apa-apa, sayang. Aku lagi mikirin nanti anak kita lahir ke dunia dan kita akan menjadi orang tua."


"Itu pasti, aku akan selalu menunggu buah hati kita. Aku tidak sabar menunggu dia lahir dan mengurus anak ini sama kamu." keduanya sama-sama melemparkan senyuman saat tangan Louis terus mengelus perut Felia.


Tinggal menunggu bulan anak yang dikandungan Felia lahir, dan membuat Felia semakin cemas untuk memutuskan hubungannya dengan Edbert. Ia tidak tau nantinya akan bagaimana, kalau Louis akan tau hubungan terlarangnya dengan Edbert.


Felia terus memperhatikan Louis yang sibuk mengajak anaknya bicara, sampai dirinya tidak tega memberitahu sebenarnya.


"Andai kamu tau Louis sebenarnya anak ini bukan anak kamu melainkan anak aku dengan ayah kamu. Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya sama kamu, tapi aku tidak ingin kehilangan kamu kalau sampai kamu mengetahui semuanya." ucapnya dalam hati yang terus menatap Louis.


***


Laura semakin nekat untuk mendapatkan pria itu, pria yang sudah lama dia incar untuk kepuasannya sendiri. Laura yang dibuat kesal dengan perbuatan Edbert semalam, mampu membuatnya bertekad untuk memiliki bosnya sendiri.


Sampai dirinya melihat Edbert melangkah kearah ruangan pribadi, Laura yang melihat itu segera menghampiri Edbert dengan membawa laporan kantor.


"Urusan kamu apa sampai menanyakan kehidupan saya? Apa kamu belum puas dengan kemarin, sebenarnya apa mau kamu sampai berani melakukan itu sama saya."


Laura tersenyum mendengar perkataan Edbert, lelaki ini sungguh pintar dan hebat berbicara sampai dirinya saja takjub dengan Edbert.


"Bapak ingin tau kenapa saya melakukan itu kemarin sampai saya menghubungi bapak semalam?" Edbert melihat Laura melangkah ke arah lain dengan kedua tangan melipat, Laura yang sedang memikirkan sesuatu kembali menatap Edbert.


"Saya mau bapak! Saya mau bapak menjadi milik saya dan kita menjalin hubungan yang semestinya." mendengar itu Edbert menggebrak meja kerja lalu menatap Laura dengan marah.


"Jangan harap saya mau berkencan sama kamu dan jangan berharap kamu bisa mendapatkan saya. Karena saya bukan Louis yang tergoda dengan rayuan kamu, Laura." ucapnya dengan tegas, Laura tidak merasa takut akan amarah Edbert malah dia semakin tertarik dengan pria ini.

__ADS_1


"Jadi bapak menolak saya?" tanya Laura dengan pandangannya itu terus tertuju pada Edbert.


"Ya. Saya tidak akan sudi melakukan hubungan sama kamu, kamu tau kalau saya mencintai wanita lain bukan kamu."


Laura tertawa mendengar ucapan Edbert, "Saya tau siapa wanita yang bapak cintai itu! Felia? Namanya Felia 'kan? Wanita yang kamu cintai sekaligus menantu kamu sendiri."


"Apa bapak tidak sadar kalau rasa cinta itu terhadap menantu sendiri salah. Apa bapak ingin melihat Louis mengetahui hubungan terlarang kalian, bagaimana reaksi Louis kalau tau ayahnya menjalin hubungan dengan menantunya sendiri. Yang lebih parahnya kalian sudah memiliki anak tanpa sepengetahuan Louis."


"Kalau anak yang dikandung Felia ternyata bukan anak Louis dan Louis mengetahui itu semua, apa kalian berdua bisa dimaafkan oleh Louis atau nantinya Felia yang akan sengsara kalau semuanya terbongkar."


Edbert terus mengepal satu tangan saat Laura mengetahui semuanya, ia juga tidak tau kenapa wanita ini biasa mengetahuinya. Dan membuatnya semakin geram terhadap wanita ini.


"Apa mau kamu sebenarnya kenapa kamu bisa mengetahui semuanya." kata Edbert menatap Laura semakin gila, dia melihat wanita itu tersenyum sinis dengan langkah kaki terus maju kearahnya.


"Saya mau bapak." ucap Laura saat dia melihat tangannya berada di dada bidangnya, lalu Laura menggerakkan jari itu kearah tubuhnya.


"Jauhi tanganmu itu dari saya. Apa kamu ingin saya pecat dengan memberikan ancaman itu ke saya?"


Laura menghentikan tangannya dengan melihat wajah Edbert, "Haha! Pecat aja kalau bapak belum bisa menggantikan posisi sekretaris bapak sebelumnya. Bapak bisa aja memecat saya, tapi bapak yakin setelah saya keluar dari perusahaan ini saya tidak akan memberitahu semuanya."


"Kurang ajar dia sekarang sudah berani mengancam ku." ucap Edbert dalam hati dengan mata menatap kearah lain.


"Gimana pak, apa bapak mau mengikuti kemauan saya?" tanya Laura yang memastikan kalau Edbert mudah ia dapatkan.


Setelah lama berpikir Edbert menyingkirkan tangan Laura dengan kasar lalu dia kembali menatap Laura, "Saya tidak akan sudi mengikuti kemauan kamu dan kamu sebentar lagi akan saya pecat dari perusahaan saya."

__ADS_1


"Silakan kamu keluar dari ruangan saya dan bereskan semua barang-barang kamu dari kantor saya, saya tidak mau melihat kamu berada di kantor saya lagi." hardik Edbert saat tatapannya terus mengarahkan ke Laura dengan tajam.


Laura segera pergi tapi ia tidak mungkin pergi dari sini sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan Laura akan melakukan apapun untuk mendapatkan semua yang dia inginkan.


__ADS_2