
Keduanya masih berada di dalam mobil walau mobil itu tiba di kantor Louis, keduanya sama-sama terdiam tepatnya Edbert yang belum merelakan Felia pergi.
"Om. Buka pintunya jangan di tutup aja, nanti aku telat om." ucap Felia, entah sudah berapa kali Felia meminta Edbert membuka pintu mobil.
Lelaki itu tidak memperdulikan ucapan Felia, ia malah membiarkan Felia merengek dan memohon kepadanya.
"Om." kali ini panggilan Felia sangat lembut sampai Edbert tidak percaya mendengar suara Felia.
"Ya, sayang. Kenapa?" Lelaki itu sekarang menatap Felia yang hanya membuang muka, dia tidak mau menatap Edbert.
"Buka pintu mobilnya aku mau masuk ke dalam." melihat rengekan Felia mampu membuatnya tersenyum, dia sangat menyukai sikap Felia yang seperti ini.
"Baik om akan buka pintu mobilnya, asalkan kamu mau mengikuti syarat dari om." mendengar itu membuat Felia menghela nafas, lelaki ini mampu membuat hidupnya banyak-banyak bersabar.
"Syarat? Apa syaratnya." jawab Felia dengan tatapannya mengarahkan Edbert, ia melihat lelaki itu sedang memikirkan sesuatu yang dia saja tidak tau apa yang dipikirkan Edbert.
Felia melihat jari telunjuk Edbert menunjukkan tepat di pipi laki-laki itu, "Om. Ini di kantor nanti ada yang lihat gimana."
"Tidak ada Felia. Kaca mobil saya tidak terlihat dari luar, jadi aman kamu mencium saya." Felia nampak tidak percaya kalau laki-laki ini berkata langsung tanpa mempunyai urat malu.
"Aku gak mau menuruti kemauan om."
"Ya silakan, kalau kamu mau di dalam mobil terus. Jadi saya tidak usah repot bawa kamu ke kantor saya." ucap lelaki itu dengan santai, akhirnya Felia memutuskan mengikuti kemauan Edbert.
Sebelum ia mengikuti kemauan Edbert, ia menarik nafasnya lalu kembali membuang nafas itu. Bibirnya ia majukan dengan kepala mendekati Edbert, saat Felia ingin menggapai pipi kanan Edbert lelaki itu malah mengganti pipinya ke bibir membuat Felia melotot.
Bibirnya berada di bibir Edbert saat lelaki ini sibuk mendalami ciumannya, Felia tidak bisa menolak karena ciuman ini sangat membuatnya suka. Semakin dalam ciuman itu semakin nikmat akhirnya Edbert memutuskan untuk menghentikannya.
Edbert menatap Felia dengan menghapus jejak ciumannya, "Saya sudah minta jatah saya ke kamu jadi kamu boleh keluar dari mobil saya."
__ADS_1
Felia melongo mendengar ucapan Edbert, apa-apaan pria ini sudah mendapatkan apa yang dia mau malah membuangnya begitu saja. Dengan perasaan kesal Felia mendorong tekuk Edbert, supaya Edbert mencium bibirnya kembali. Ia tidak peduli siapa yang lebih dulu menciumnya, yang pasti dia sangat menyukai sikap Felia yang nakalnya.
Ciuman itu terhenti saat dia baru menyadari kalau dirinya sudah merayu Edbert, tanpa pikir panjang Felia mengambil tas dan keluar dari mobil. Melihat sikap Felia mampu membuatnya tersenyum, dia menyentuh bibirnya kembali saat mengingat Felia membalas ciumannya.
"Bodoh! Bodoh sekali kamu Felia, kenapa kamu mencium calon mertua kamu. Sadar! Dia ayah Louis yang sebentar lagi akan menjadi mertua kamu." Felia terus memaki-maki dirinya, saat ia sibuk ngedumel dalam hati dia tidak sengaja menyenggol pundak seseorang.
"Maaf saya tidak sengaja." ucapnya menatap orang yang dia senggol, orang itu adalah Bill karyawan yang baru beberapa hari bekerja.
"Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Felia menatap lelaki di depannya, lelaki itu menggeleng dan memilih meninggalkan Felia.
Felia menatap kepergian lelaki itu, "Ada apa dengan pria itu? Kenapa sikapnya aneh sekali."
***
Kita kembali ke hotel, di dalam kamar tersebut seorang wanita baru bangun dari tidurnya. Wanita itu membuka mata, pandangan pertama yang dia dapatkan adalah ia berada di atas ranjang dengan tubuh telanjang. Lebih parahnya Louis tidak berada di sampingnya, lelaki itu memilih pergi entah kemana.
Kakinya turun dari ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, ia beranjak menuju toilet. Penampakan pertama yang dia lihat di kaca, banyak sekali tanda merah hampir seluruh tubuhnya memiliki tanda itu. Entah berapa banyak tanda ini berada di tubuhnya yang pasti tanda itu terdapat di mana-mana.
"Louis! Louis! Kenapa kamu malah pergi ninggalin aku sendiri di kamar hotel, tanpa kamu pergi aku senang bercinta sama kamu." gumamnya melihat seluruh tubuhnya di depan kaca besar, dia sengaja melepaskan selimutnya supaya ia bisa melihat tanda di seluruh tubuhnya.
Setelah puas melihat tubuhnya ia beralih menyentuh perut, seketika bibirnya tersenyum saat membayangkan kalau dirinya memiliki anak dari Louis. Mungkin kalau dia mengandung anak Louis, lelaki itu akan meninggalkan Felia demi anak ini.
"Cepat-cepat hadir ya nak. Ibu tidak sabar mendengar kabar dari kamu, nanti kalau kamu hadir ibu bisa mendapatkan ayah kamu seutuhnya." Cici terus berbicara dengan pergerakan tangan mengelus perut ratanya.
Saat di dalam ruang rapat Louis tidak bisa memalingkan wajahnya kearah Felia, wanita itu sangat cantik sampai dirinya tidak fokus dengan rapat. Pakaian itu mampu membuatnya terpesona, apalagi melihat rambut Felia diubah menjadi lebih cantik.
Tidak butuh waktu lama rapat hari ini selesai, semua karyawan yang mengikuti rapat keluar dari ruangan. Tidak dengan Louis ia masih memperhatikan Felia sibuk membereskan laporan dan laptop, melihat Felia melangkah menuju pintu ia dengan cepat menahan wanita ini.
Melihat tangannya di tahan seseorang Felia menatap orang tersebut, "Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" tanya Felia menatap kekasihnya, dia melihat Louis sama sekali tidak menjawab ucapannya malah tubuh lelaki itu mulai mendekat.
__ADS_1
Melihat sikap Louis Felia dengan cepat menahan dengan laptop dan laporan, "Kau mau apa, Louis?"
"Aku hanya menciummu saja, apa aku salah mencium pacarku sendiri." kata Louis memperhatikan wajah Felia.
"Ini masih di kantor Louis. Kalau nanti ada yang lihat gimana."
Louis menyentuh wajah Felia lalu menyingkirkan rambut Felia yang menutupi wajahnya, "Jangan khawatir mereka tidak akan tau. Kamu lupa ruangan ini kedap suara dan CCTV di sini aku yang pegang, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu."
Louis mengambil laptop dan laporan di tangan Felia, kedua barang itu diletakan di meja rapat. Louis melangkah perlahan dengan mata masih menatap Felia, ia sudah berada di depan Felia dengan posisi berdiri di belakang pintu. Dia tidak lupa mengunci pintu rapat, barulah Louis kembali menatap Felia tepatnya menatap bibir Felia.
"Apa boleh aku mencium bibirmu ini?" Louis memberikan pertanyaan untuknya dengan tangan laki-laki itu menyentuh bibirnya.
Louis melihat Felia terdiam, wanita ini masih belum memberikan jawaban dari pertanyaannya. Sekian lama Felia berpikir akhirnya dia menyetujui permintaan Louis.
"Kamu tenang aja aku akan bermain dengan lembut." ucapnya sebelum ia melahap bibir kekasihnya, Felia belum memberikan balasan dari kegiatan ini ia masih terdiam kaku dengan bibir Louis menyentuh bibirnya.
Kegiatan ini pertama kalinya dia melakukan ini dengan Louis, ada yang aneh saat Louis menyentuhnya apalagi bibirnya belum terbiasa dengan sentuhan Louis. Walau pria ini memberikan sentuhan dengan lembut tapi tetap saja tubuhnya tidak terasa apapun.
Felia tidak bisa membalas kegiatan Louis, dia malah membiarkan lelaki ini menyentuh. Ia merasa sentuhan ini sangat berbeda dari sentuhan yang diberikan Edbert, ia malah membayangkan Edbert yang menyentuhnya bukan Louis.
Dia dengan cepat mengakhiri kegiatan ini dengan mendorong tubuh Louis, ia melihat Louis memberikan ekspresi kecewa saat Felia mendorongnya saat kegiatan panas ini belum tuntas.
"Kamu kenapa mendorongku, apa aku salah mencium pacarku sendiri. Bukannya hal yang wajar kalau aku menginginkan ciuman dari kamu." Louis menatap Felia dengan meminta jawaban dari wanita ini, wanita itu malah melangkah menjauh dari Louis dan mengambil barangnya di atas meja.
Felia kembali menatap Louis dengan lelaki itu memberikan ekspresi bingung, "Kamu mau kemana?"
"Aku mau kembali bekerja. Maaf aku tidak bisa memberikan apa yang kamu mau, aku tidak mau melakukan itu sebelum menikah." ucap Felia dengan sedikit menunduk, barulah wanita itu menatap Louis saat lelaki di depannya memberikan senyuman.
Lelaki itu meletakan tangannya di atas kepala Felia dengan menatap wanita ini, "Nggak apa-apa. Aku paham keputusan kamu, maaf sudah membuat kamu tidak nyaman."
__ADS_1
"Makasih kamu mau menerima keputusanku. Kalau gitu aku kembali bekerja." Felia keluar dari ruang rapat meninggalkan Louis sendiri di ruangan dengan menatap kepergian Felia.