Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Meminta Felia kembali


__ADS_3

Louis segera masuk ke dalam mobil di susul oleh Laura, di dalam mobil Laura melihat Louis marah saat lelaki itu sibuk memukul setir mobil.


"Sudahlah jangan nyakitin diri kamu sendiri, yang ada kamu malah kalah di depan mereka. Gimana kamu cari cara lain supaya kamu bisa mendapatkan Felia kembali." ucap Laura membuat Louis menghentikan aksinya lalu dia memilih melihat Laura.


"Maksud kamu?" Laura meminta Louis mendekatinya lalu dia memulai rencananya, mendengar itu Louis tersenyum senang saat rencana yang diberikan Laura sangat bagus.


"Bagus juga rencana kamu itu, tidak sia-sia kamu bisa membantuku." Louis bergegas pergi dari sana, tetapi Louis tidak kalau rencana yang sebenarnya untuk menghancurkannya.


Laura melakukan rencana itu supaya Louis bisa fokus dengan rencana yang dia berikan, sedangkan dia melakukan rencananya sendiri. Kesempatan yang langkah ini seharusnya digunakan sebaik mungkin, bukan malah membantu pria bodoh seperti Louis.


"Kalian berdua sangatlah bodoh sampai kalian tidak tau maksud tujuanku untuk menghancurkan kalian." batin Laura dengan tersenyum senang saat rencananya akan berjalan mulus.


Sedangkan Felia dengan Edbert sudah melakukan perjalan ke kantor, selama perjalanan Edbert melihat Felia melamun tanpa ada suara dari wanita itu.


"Kamu kenapa Felia?" tanya Edbert yang memulai pembicaraan lebih dulu, Felia bukannya menjawab malah dia memilih menghela nafas.


"Aku tidak menyangka ternyata di mata Louis aku adalah mainannya, dia sengaja melakukan itu untuk membuat aku menderita. Apa selama ini aku bodoh sudah mempercayai lelaki brengsek seperti Louis? Aku tidak sadar akan hal itu karena aku sangat percaya dan sangat mencintainya sampai aku tidak tau rencana busuknya." kata Felia membuat Edbert menyentuh tangan Felia, lalu dia memilih menghentikan mobil di pinggir jalan.


"Sekarang kamu sudah tau rencana licik Louis, mulai sekarang kamu harus berhati-hati dengan Louis dan Laura. Kalau kamu butuh bantuan saya akan membantu kamu, kapanpun kamu butuhkan saya akan tetap ada di samping kamu." ungkap Edbert dengan tulus, Felia melihat dari mata Edbert kalau pria ini sangatlah tulus sampai berkorban untuknya.


"Makasih ayah. Aku tidak tau harus melakukan apa selain mengucapkan terima kasih ke ayah, maaf selama ini aku lebih percaya Louis dari pada ayah."


"Nggak apa-apa. Tapi Felia ayah tidak mau ucapan terima kasih aja dari kamu, ayah ingin hadiah dari kamu." kata Edbert saat Felia menatap pria itu dengan tatapan bingung.


"Hadiah? Memangnya ayah mau hadiah apa dari aku." tanya Felia membuat lelaki itu terdiam, Edbert terdiam sejenak saat ia memikirkan apa yang seharusnya dia minta.


Setelah berpikir Edbert kembali menatap Felia, "Setelah kamu dan Louis berpisah aku akan meminta hadiahnya dari kamu. Dan kamu harus memberikan hadiah yang aku inginkan."


"Baiklah, aku akan menunggu hadiah yang ayah inginkan." Edbert tersenyum melihat wajah Felia, bukannya Edbert melanjutkan perjalanan malah dia mendekatinya.


Tanpa ia duga Edbert mencium bibirnya dengan lembut, sampai Felia mengikuti arahan permainan Edbert. Edbert semakin memperdalam ciuman itu sampai mereka mengakhiri kegiatan mereka.

__ADS_1


Edbert kembali melanjutkan menyetir mobil setelah mengisi baterai, Edbert terus menggenggam tangan Felia sampai ke kantor membuat karyawan di sana iri dengan Felia.


Begitupun dengan Nia, wanita itu sangat tidak suka kalau Felia dekat dengan Edbert. Seharusnya lelaki itu menjadi miliknya bukan milik Felia, malah sekarang Edbert lebih memilih Felia dari pada dirinya.


"Sudahlah Nia kamu jangan memisahkan mereka berdua, lebih baik kamu cari pria lain aja dari pada mengganggu hubungan mereka. Kamu kaya tidak ada cowok lain aja sampai merusak hubungan mereka." kata salah satu karyawan wanita yang melihat tatapan Nia.


***


Keesokannya Louis mulai melakukan rencana yang diberikan Laura, dia akan membuat wanita itu kembali kepadanya saat itu juga ia akan membuat wanita itu sengsara. Sedangkan Laura bersikap baik untuk melakukan apa yang dia inginkan, setelah Laura tiba di kantor ia segera melakukan pekerjaan.


Louis mengirim sebuah pesan untuk Felia, melihat handphonenya ada notifikasi pesan ia segera mengambil handphone tersebut dan melihat siapa yang mengirimkan pesan. Ternyata dia melihat ada satu pesan dari Louis, lelaki itu mengirim pesan dengan kata-kata yang membuatnya muak.


"Buat apa Louis mengirim pesan seperti ini! Apa pria itu tidak ada kerjaan sampai seperti ini." batin Felia yang meletakan kembali handphone itu.


Louis terus menatap kearah handphone untuk menunggu jawaban dari Felia, tapi dia sama sekali tidak mendapatkan pesan apapun dari istrinya. Dia mencoba mengirim sekali lagi, tetapi jawabannya tetap sama.


"Sial! Kenapa wanita ini sombong sekali, kenapa dia berlagak seperti tidak membutuhkan aku lagi." ucap Louis yang memandang pesan yang baru saja dia kirim.


Louis menyimpan kembali handphone itu dan melakukan pekerjaannya, jam makan siang Louis pergi ke kantor Edbert. Tiba di sana ia melihat Felia keluar dari gedung itu, lalu dia segera turun dari mobil untuk menghampiri Felia.


"Felia!" ucap Louis yang melangkah menghampiri Felia.


"Louis! Buat apa kamu di sini? Bukannya aku gak minta kamu datang kemari."


"Ya memang kamu tidak memintaku datang, tapi aku yang berinisiatif sendiri untuk menghampiri kamu. Kamu mau makan siang 'kan gimana makan siang bareng sama aku aja." ajak Louis membuat Felia berpikir sejenak, sebenarnya dia ingin menolak ajakan Louis tapi mau gimana lagi lelaki ini sudah datang dan akhirnya ia menyetujui permintaan Louis.


Felia masuk ke dalam mobil saat dari kejauhan Edbert melihat Felia masuk ke mobil Louis, dia segera mengambil handphone untuk menghubungi Felia.


"Siapa?" tanya Louis yang mendengar suara deringan handphone.


"Ayah."

__ADS_1


"Angkat aja siapa tau penting."


Felia mengangkat telepon itu lalu terhubung oleh panggilan Edbert, dia tau ayah mertuanya sangat mengkhawatirkannya tapi ia tidak mungkin merepotkan ayah mertuanya lagi. Melihat Felia sudah mematikan panggilan itu Louis langsung menatap Felia.


"Apa yang dikatakan ayah sama kamu Felia."


Felia menyimpan handphonenya di dalam tas, "Ayah mengkhawatirkan ku. Mungkin dia takut kalau aku akan terjadi sesuatu, apalagi aku berada di mobil sama kamu."


"Wajar ayah khawatir sama kamu, mungkin aja ayah takut aku akan menyakiti perasaan kamu lagi." ucap Louis dan dia melihat tidak ada jawaban dari Felia, yang dia lihat hanyalah keheningan dari dalam mobil.


Tiba di sebuah cafe Louis menghentikan mobil dan dia membuka pintu begitupun dengan Felia, mereka berdua jalan secara bersamaan ke dalam cafe itu. Louis sangat senang bisa seperti ini lagi, tapi ia tidak tau bagaimana perasaan Felia.


Apa dia merasakan hal yang sama atau tidak, "Felia." Felia menatap Louis saat lelaki itu ingin mengatakan sesuatu kepadanya.


"Sebenarnya saya mengajak kamu makan siang untuk mengatakan sesuatu sama kamu."


Felia tetap diam hanya terfokus dengan pembicaraan Louis, "Saya tau saya melakukan kesalahan besar sama kamu sampai kamu mengirim surat perpisahan untukku. Tapi Felia saya tidak mau berpisah dengan kamu, aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu."


Sebelum Felia menjawab pelayan cafe membawa pesan mereka, lalu Felia sibuk mengaduk minuman. "Aku tau kamu merasa bersalah dengan kesalahan kamu, tapi Louis aku tidak ada kepikiran untuk kembali sama kamu."


"... kamu tau kalau aku sudah merasakan sakit hati terlalu dalam karena ulah kamu, jadi aku minta maaf tidak bisa kembali sama kamu."


Louis menghela nafas kasar, Louis berinisiatif untuk menyentuh kedua tangan Felia membuat Felia menatap lelaki yang ada di hadapannya.


"Aku mohon sama kamu beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya, aku tau kamu tidak akan percaya lagi dengan ucapanku tapi Felia aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi. Dan kita mulai dari awal lagi ya!" lontar Louis membuatnya diam membisu.


Felia terus memperhatikan Louis, dia ingin melihat apakah ucapan pria ini jujur atau bohong. Tapi yang dia lihat tidak ada kebohongan satupun dari matanya, yang ada kejujuran yang terlihat jelas dari mata itu.


Felia yang awalnya terperangkap dalam pesona Louis segera menyingkirkan bayangan itu, lalu dia segera melepaskan tangan yang disentuh Louis.


"Maaf Louis aku tidak bisa menjawabnya sekarang, aku butuh waktu untuk menyakinkan diriku sendiri. Aku tau perbuatan kamu sekarang itu tulus, tapi aku belum bisa sepenuhnya yakin sama ucapan kamu."

__ADS_1


"Nggak apa-apa Felia, yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya sama kamu. Masalah kamu mau menerimaku itu urusanmu, aku akan berusaha menyakinkan kamu." ucap Louis.


__ADS_2