
Hujaman Edbert semakin Felia tidak tahan untuk mendesah kenikmatan yang tiada tara, rasanya tubuhnya terus menginginkan sentuhan Edbert terus menerus sampai dirinya lupa kalau mereka masih berada di kantor. Tapi keduanya tidak peduli yang mereka pedulikan hanyalah nafsu mereka, nafsu keduanya sama-sama menikmati saat gairah panas ini terus dilakukan.
Felia terus memandangi wajah Edbert yang sekarang lagi menatapnya, tatapan pria ini semakin hari membuatnya semakin tergila-gila. Wajah yang tampan, tatapan mata yang tajam, bentuk wajah yang sangat sempurna, apalagi bentuk tubuhnya yang sangat begitu merinding saat menghantam tubuhnya.
Tapi dia sangat beruntung memiliki pria seperti ini, Edbert tidak bisa memalingkan wajahnya apalagi sekarang wajahnya terus melihat Felia. Wanita ini semakin hari semakin cantik, apalagi sekarang Felia sudah mau berangkat ke Paris untuk mengurus perusahaan di sana. Jadi ia tidak bisa bertemu dengan Felia untuk sementara waktu.
"Aku pasti kangen sama ayah, sekarang aku udah gak bisa bertemu setiap hari. Pasti rasa rinduku ini semakin hari semakin bertambah." ucap Felia membuat Edbert terkekeh, wanita ini sangat menggemaskan.
Belum sehari aja udah membuatnya gemas, apalagi tidak ada wanita ini pasti rasa rindunya semakin membara. "Sudah jangan gombal lagi, mulai sekarang kamu fokus mengurus kantor masalah Alfred biar saya yang mengurusnya. Kamu jaga diri baik-baik di sana, jangan lupa kabarin aku setiap saat."
Felia mengangguk dan dia segera memeluk Edbert, tubuh pria ini membuatnya candu setiap harinya. Edbert melepaskan pelukan itu dan kembali menatap Felia, ia dengan cepat mencium kening Felia dengan lembut sampai dirinya merasakan kenyamanan bersama dengan menantunya ini.
"Ya sudah aku berangkat dulu ayah. Sebentar lagi pesawatku segera berangkat, aku titip Alfred dan ayah jaga diri baik-baik jangan sampai kelelahan."
"Iya sayang." Edbert tersenyum menatap kepergian Felia, akhirnya wanita itu masuk ke dalam untuk memberikan sebuah perlengkapan naik ke pesawat.
Ia terus memberikan senyuman saat Felia memberikan sebuah lambaian tangan kepadanya, Edbert membalas lambaian tangan itu tidak lupa dengan senyum manis yang selalu ia berikan untuk menantunya.
Melihat bayangan Felia sudah tidak terlihat lagi, ia memutuskan untuk pulang bersama dengan Alfred dan baby sister yang selalu merawat Alfred. Sebagai laki-laki atau seorang ayah ia harus mengurus semua pekerjaan, mulai dari merawat dan menjaga Alfred.
Karena semua yang dia lakukan sendiri tidak ada lagi Felia di sampingnya, ia yang melihat putranya sangat aktif membuatnya senang. Dia tidak menyangka Alfred sudah aktif seperti ini, dulu ia melihat Alfred sangat kecil sekarang sudah bisa tersenyum dan mengerti keberadaannya.
"Sus tolong jaga Alfred ya. Saya mau ke kantor dulu kalau butuh apa-apa bilang sama saya."
"Iya tuan." jawab baby sister itu, lalu Edbert memutuskan menatap wajah Alfred.
"Sayang, anak dady. Dady kerja dulu ya kamu jangan nakal, harus dengerin kata suster. Oke anak dady yang paling ganteng." ujar Edbert yang sibuk mengajak Alfred bicara, sebelum pergi Edbert mencium kedua pipi Alfred lalu dia mencium kening Alfred.
Melihat Edbert sudah masuk ke dalam mobil, ia sengaja membuka kaca mobil untuk melihat Alfred. Dia melihat tangan bayi itu digerakan oleh suster untuk melambaikan tangan kearahnya.
Setelah cukup lama memandang Alfred, dia segera menjalankan mobil ke kantor. Tiba di kantor Edbert sudah disibukan dengan laporan yang dikirim oleh Bob.
__ADS_1
***
Setiap hari Edbert selalu menanyakan Felia di sana, mulai dari perkembangan perusahaan sampai menanyakan wanita itu. Dia sangat senang mendapat pesan dari Felia, walau dia tau jarak diantara mereka sangat jauh tapi baginya Felia sangat berarti untuknya.
Begitupun dengan Felia, dia sangat merindukan Edbert apalagi Alfred. Entah bagaimana mengatakan kalau dirinya sangat merindukan dua lelaki itu, tapi ia akan secepatnya mengurus masalah kantor di sini baru kembali ke Indonesia.
Selesai memberikan kabar, Edbert memutuskan untuk istirahat setelah dia bermain dengan Alfred. Mulai besok ia selalu sibuk dengan kantor, apalagi Bob selalu mengirimkan jadwal untuknya.
Tiba di kantor Edbert selalu di sambut kedatangannya, mulai dari satpam sampai karyawan yang lain. Tapi di sana dia melihat bagian HRD sedang mulai interview untuk karyawan baru, karena dia meminta HRD untuk mencari karyawan untuk perusahaan.
Saat Edbert melangkah keruang meeting, salah satu peserta interview itu menatap kearah Edbert. Wanita itu tersenyum melihat ketampanan Edbert, lelaki itu sangat membuatnya jatuh hati saat ia memandangnya.
"Siapa lelaki itu kenapa aku baru melihatnya." ucapnya membatin dengan terus menatap kearah Edbert, sedangkan Edbert yang ditatap seperti itu tidak peduli yang ia pedulikan hanyalah Felia bukan wanita lain.
"Kamu yang sedang melihat kearah lain. Silakan masuk ke dalam untuk interview." ujar HRD lelaki, ia dengan cepat melangkah masuk keruangan interview.
Selesai melakukan interview ia keluar dari ruangan tersebut, jujur dia sangat penasaran dengan pria yang baru saja dia lihat. Pria dewasa itu sangat membuatnya tergoda, sampai pandangannya saja terus mengarahkan kearah lelaki itu.
"Ah sudahlah yang penting aku selesai interview." gumamnya lalu dia pergi dari perusahaan tersebut.
Dibandingkan dengan wanita tadi, ada satu wanita yang sibuk melakukan pelayanan untuk lelaki jelek berbadan besar. Walaupun memiliki tubuh besar, tampang wajahnya tidak tampan tapi uang lelaki ini lebih kaya dibandingkan Louis.
Dia sangat senang melayani lelaki ini, lelaki yang kekayaannya tidak bisa dibandingkan oleh Louis. Tatapan lelaki itu seakan kehausan dengan tubuh indah Laura, semakin Laura memberikan pelayanan yang nikmat membuat tubuhnya semakin bergairah.
"Sayang, kau sungguh nikmat... A-aku sampai tidak bisa mengimbangi gerakanmu." kata lelaki itu yang terus menikmati permainan Laura.
"Tentu saja aku ini wanita hebat bisa membuat kamu seperti ini. Apa sekarang kamu puas denganku, sayang?" tanya Laura yang menghentikan aksinya lalu dia memilih menatap lelaki di depannya ini.
"Sangat puas! Kamu sangat hebat sampai membuatku puas seperti ini Laura. Aku pastikan aku akan menikmatinya terus menerus sayang." timpal lelaki itu saat menjawab pertanyaan Laura.
"Gimana kamu mau lanjut atau berhenti?" kali ini Laura melihat lelaki ini sedang memikirkan ucapannya, tanpa ia duga lelaki ini menyetujuinya dan dia segera melanjutkan aktivitas panasnya.
__ADS_1
Louis yang dari tadi mengurus kantor baru saja kembali ke rumah, tapi saat dia kembali ia tidak melihat keberadaan Laura. Rumah ini terlihat kosong tanpa penghuni, sedangkan pemilik rumah tidak ada.
"Kemana Laura kenapa jam segini dia tidak kembali." gumam Louis yang mencari keberadaan Laura, Louis melangkah ke sofa lalu dia meletakan tas kantor di sampingnya.
Louis segera mengeluarkan handphone di saku celana, dia mencari nomor telepon Laura untuk menghubungi wanita itu. Saat ia memulai panggilan ternyata yang dia dengar hanya suara operator. Sedangkan pemilik handphone tersebut tidak mengangkat telepon darinya.
"Kenapa dia tidak mengangkat telepon dariku. Apa yang dia lakukan malam-malam begini." ucap Louis yang terus menghubungi Laura, tetapi Laura tidak peduli dengan suara handphone.
Yang dia pedulikan hanyalah kenikmatan bersama dengan lelaki berduit ini, dari pagi sampai malam ia belum menyelesaikan aktivitas panasnya. Sampai kenikmatan ini tidak bisa dibandingkan oleh siapapun, Laura menghentikan kegiatan panas itu dan mendengar suara telepon masuk ke telinganya.
"Sayang sepertinya handphone kamu bunyi terus kamu tidak mengangkat telepon dulu." ujar lelaki itu membuat Laura menatap handphonenya.
Benar yang dikatakan lelaki ini, handphonenya terus berdering sampai dirinya tidak fokus dengan kegiatan panas ini.
"Boleh aku minta tolong ambil handphoneku." pinta Laura membuat lelaki itu menyanggupi permintaan Laura, dengan tangan yang panjang itu sangat mudah mengambil handphone Laura.
Handphone itu diberikan oleh Laura saat ia berhasil mengambil benda pipih tersebut, Laura melihat tertera nama Louis yang terus menelponnya dan dia menatap lelaki yang sedang melakukan kegiatan panas dengannya.
"Kamu jangan sampai bersuara ya. Aku ingin mengangkat telepon dulu." kata Laura membuat lelaki itu mengangguk.
Laura mengangkat telepon itu, baru saja dia mengatakan satu kalimat Louis sudah memberikan banyak sekali pertanyaan. Membuat telinganya berdenyut saking sakitnya mendengar suara lelaki ini.
"Sayang kamu kemana aja, kenapa kamu tidak ada di rumah. Kamu sekarang dimana?"
"Maaf sayang malam ini aku gak bisa pulang, orang tua temanku sakit jadi aku harus menjaga dia."
"Apa temanmu itu tidak punya keluarga lain sampai kamu harus menjaganya." ujar Louis kesal, pasalnya Laura lebih mementingkan temannya dari pada dirinya.
"Gak ada sayang, ya sudah aku matikan dulu teleponnya ini temanku manggil."
"Halo! Laura!" ucap Louis saat Laura sudah menutup panggilan.
__ADS_1