
Bukan pertama atau kedua, tapi sudah yang ketiga kali ia bertemu dengan Edbert hanya meminta restu dari pria itu. Dan pertemuan kali ini membuatnya enggan bertemu dengan pria itu, karena dia takut pria itu akan mengatakan kepada Louis apa yang mereka lakukan.
"Semoga saja pria itu tidak mengingatnya, dan tidak mengatakan malam itu kepada Louis."
Felia menatap kearah kiri dengan melihat jalanan dan lampu jalan, "Kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Louis membuat Felia memutuskan menatap Louis, lelaki ini masih terfokus dengan menyetir.
"Aku sudah bilang sama kamu, apapun keputusannya aku akan berjuang demi hubungan kita. Apa kamu tidak yakin sama pacar kamu sendiri?" ucap Felia menatap curiga Louis.
"Aku tidak bermaksud bilang gitu sama kamu, kamu sudah taukan ayah aku seperti apa. Aku takut dia tidak akan merestui hubungan kita." perkataan Louis sama sekali tidak direspon, ia hanya memikirkan bagaimana caranya bisa bertemu pria itu, dengan posisi biasa saja tanpa mengingat kejadian yang menimpa dirinya.
Keduanya turun dari mobil, Felia meletakan tangannya ke tangan Louis. Mereka berdua masuk saat Edbert sibuk bermain catur.
"Ayah." panggil Louis membuat Edbert menghentikan permainan catur, matanya melihat Felia menggandeng tangan Louis.
Keduanya duduk berhadapan dengan Edbert, lelaki itu melanjutkan permainan catur saat mata mereka masih melihat Edbert.
"Cepat sekali kamu datang ke rumah saya Felia. Apa kamu tidak takut kalau saya akan menolak kamu lagi?" tatapan Edbert tertuju pada Felia, dia melihat penampilan Felia sangat cantik malah lebih cantik dari sebelumnya.
"Saya sudah bilang sama om, saya akan mempertahankan hubungan saya dengan Louis walau om tidak merestui hubungan saya." urai Felia membuat Edbert tersenyum singkat, ia kembali melanjutkan catur untuk menyelesaikan permainannya.
"Saya sudah memutuskan, saya akan merestui hubungan kalian." ucap Edbert menatap keduanya.
"Apa om serius?" tanya Felia yang tidak percaya dengan ucapan Edbert, baru kali ini Edbert menyetujui hubungannya.
"Ayah tidak akan memaksa aku untuk meninggalkan Felia 'kan?" kali ini Louis yang menanyakan hal itu, karena dia sedikit curiga dengan Edbert.
"Tidak. Sekeras apapun ayah memisahkan kalian pasti kalian akan memperjuangkan hubungan kalian, sebagai ayah harus mengikuti keinginan anaknya demi kebahagiaan anaknya sendiri." tutur Edbert membuat Louis tersenyum.
Felia meminta izin kepada dua lelaki itu untuk ke toilet, Edbert yang melihat Felia pergi menyusul wanita itu dengan alasan mau menghubungi sekretaris kantor.
__ADS_1
Edbert melihat Felia keluar dari toilet, ia dengan cepat menarik tangan Felia masuk keruang kantor. Felia kaget akan perilaku Edbert dengan tangan pria ini mengunci pintu.
"Om." gumaman Felia masih terdengar oleh Edbert, pria itu menatap Felia dengan tatapan marah.
"Kenapa kamu keras kepala sekali, saya sudah bilang sama kamu bahwa saya tidak setuju kamu dengan putra saya. Dan kamu memilih bersama putra saya." ucap Edbert masih di posisi Felia berada di tembok sedangkan dia menahan Felia dengan kedua tangan.
"Karena saya cinta sama Louis. Dan saya sudah mengenal Louis lebih dari lima tahun, wajar saya menyetujui ucapan Louis untuk bertunangan." Edbert tidak lagi menahan tubuh Felia, ia memilih menatap kearah lain.
Felia terkejut saat Edbert menyerang bibirnya, ia masih belum bisa menerima perlakuan Edbert yang secara tiba-tiba mengecupnya. Tidak ada balasan dari Felia ia menekan bibir Felia untuk membalas kecupannya, mendapatkan tekanan yang diberikan Edbert ia mulai mengikuti irama permainan Edbert.
Ia merasa kecupan Edbert sudah membuat dirinya terbuai, sampai dia saja tidak menyadari kalau dirinya menikmati kecupan Edbert.
Edbert melepaskan kecupannya menatap Felia, wanita itu masih belum bisa menerima perlakuan Edbert kepadanya. Dan tangan lelaki itu tertuju pada bibir untuk menghapus jejak kecupan yang dia berikan.
"Kamu tau kenapa saya menolak kamu bertunangan dengan putra saya?" Felia menggeleng pelan saat Edbert bertanya kepadanya.
"Karena saya tidak suka kamu berhubungan dengan Louis, dan kamu sudah melupakan kejadian semalam. Makanya saya menolak kamu untuk bertunangan dengan Louis, saya tidak mau kamu memilik hubungan dengan orang lain kecuali dengan saya."
"Om, om sadar gak. Saya sudah lama kenal dengan Louis sedangkan om hanya ayah dari Louis, dan kita melakukan hubungan satu malam tanpa sadar. Saya melakukan itu hanya membantu om bukan berarti saya menyukai om." kata Felia membuat Edbert marah, ia kembali menyerang Felia secara bertubi-tubi membuat Felia mendorong tubuh Edbert dengan kasar.
Felia melihat Edbert terjatuh saat dorongannya berhasil membuat Edbert menjauh, ia menatap Edbert sebelum ia memutuskan untuk pergi.
"Saya ini calon menantu om. Sebentar lagi saya dan anak om akan bertunangan, lupakan kejadian semalam. Anggap saja kita tidak pernah melakukannya." Felia pergi meninggalkan Edbert.
"Jangan berharap kejadian itu akan saya lupakan Felia. Kamu tetap menjadi calon menantu saya tetapi kamu cuman milik saya seorang." batin Edbert menatap pintu kerja tertutup.
***
Perjalanan menuju lantai bawah Felia terus menghapus jejak kecupan di bibir, ia tidak ingin Louis mengetahui perbuatannya dengan Edbert. Louis yang baru saja pergi ke dapur membawa buah, melihat Felia turun.
__ADS_1
"Kamu dari mana aja, hampir setengah jam aku nunggu kamu keluar dari kamar mandi." ucap Louis menatap Felia duduk di sebelahnya.
"Maaf sayang, aku sekalian benerin makeup."
"Hem, pantes lama." Louis memberikan buah yang sudah di kupas, Felia menerima buah yang diberikan Louis dan memakan buah itu.
Edbert turun saat Felia sibuk memakan buah, mata mereka bertemu saat Louis sibuk mengupas buah untuk Felia. Ia kembali sibuk memakan buah tanpa menatap Edbert kembali.
Felia meletakan piring berisi buah dan meminta Louis menghentikan mengupas buah untuknya, "Sayang, aku mau pulang sekarang."
"Baiklah, aku akan anterin kamu pulang tapi kamu tunggu di sini dulu aku mau ambil kunci mobil." Felia mengangguk menatap kepergian Louis.
Edbert mengambil buah apel dengan menatap Felia saat gigitan apel masuk ke dalam mulut, ia kembali bicara dengan Felia.
"Buru-buru sekali kamu pulang, kenapa tidak nginap aja siapa tau kamu masih betah di sini." Felia menatap Edbert saat lelaki itu menikmati buah apel, tidak lupa dengan senyuman pria itu.
"Lebih baik saya pulang dari pada tinggal di sini."
"Kamu yakin?" pertanyaan itu membuat Felia menaikan sebelah alis saat mendengar suara hujan, dan bodohnya ia terjebak di rumah ini.
"Om, sengaja meminta hujan untuk saya tetap di sini supaya om melakukan hal yang tidak-tidak sama saya?" perkataan Felia membuat Edbert tertawa, bagaimana bisa wanita ini menyimpulkan bahwa dia adalah pawang hujan atau dewa.
"Felia, Felia. Saya bukan pawang hujan apalagi dewa, ini hanyalah kebetulan makanya hujan tidak rela kamu pulang. Seperti saya tidak rela kamu pergi dari rumah saya." ujar Edbert yang masih menikmati buah yang berada di tangan, Louis turun dari kamar saat mendengar suara hujan.
"Sayang, kamu yakin mau pulang sekarang? Di luar hujan aku takut kenapa-kenapa apalagi posisi jalan licin."
"Besok aja kalian pulang, gak baik kalian berdua pulang dengan keadaan hujan." timpal Edbert membuat mata Felia menatap.
"Benar kata ayah kamu nginap di sini aja dulu besok aku akan anterin kamu pulang. Gimana kamu mau 'kan tinggal di sini dulu?"
__ADS_1
Yang benar saja Louis lebih mengikuti ucapan Edbert dari pada pacarnya, apa dia tidak tau kalau dia berlama-lama di sini akan terjadi masalah.
"Baiklah, untuk malam ini saja besok kamu antar aku pulang." kata Felia membuat Louis mengangguk, Edbert tersenyum melihat Felia terjebak walau dia tidak meminta wanita ini tinggal.