
Acara pesta berjalan lancar, semua tamu undangan menikmati hidangan dan acara pesta tersebut. Sedangkan dia mencari seseorang yang akan membantunya, melihat Novan berada tempat lain dengan mata melihat kearahnya membuat Louis mudah mengetahui apa yang dilakukan Novan.
Mendapatkan anggukan dari Novan membuatnya membalas anggukan itu, saat ia sibuk memandang kearah Novan seorang wanita datang membawa minuman.
"Sendiri aja tuan! Tuan tidak bergabung dengan yang lain?"
"Tidak! Saya tidak menyukai tempat ramai, dan saya tidak suka bertemu orang banyak." Louis masih menatap Novan tetapi tatapan itu berakhir saat Mayra mencari sesuatu yang ditatap Louis.
"Tuan! Tuan sedang melihat siapa? Dari tadi saya lihat tuan terus menatap kearah pintu luar." ucap Mayra dengan mencari seseorang yang di tatap Louis.
"Tidak apa-apa. Saya hanya merindukan seseorang makanya saya selalu menatap kearah sana." Louis mengalihkan pandangannya memilih menatap Mayra.
Mayra menggerakkan gelas yang berada di sebelah tangannya, minuman merah mampu membuat Mayra diam menikmati minuman itu kembali.
"Apa tuan merindukan kekasih, tuan?" tanya Mayra selesai meneguk minuman merah itu, tanpa menatap wanita ini Louis memberikan sebuah anggukan.
"Sayang sekali kekasih tuan tidak datang, mungkin kalau pacar tuan datang bersama tuan mungkin saya bisa mengajaknya bicara." mendengar itu Louis hanya merespon dengan senyuman, entah kenapa dia mengetahui tujuan dari ucapan wanita ini.
Di tempat lain Novan tidak sengaja bertemu dengan Bob, pria itu diminta di tugaskan untuk mencari informasi mengenai Cici. Tak hanya itu saja Edbert memintanya untuk mengetahui apa yang dilakukan kedua wanita itu.
"Tuan Edbert sangat cerdik dan kepintaran tuan Edbert tidak jauh berbeda dari tuan Louis. Mereka sama-sama memiliki kepintaran yang sama, tapi tidak dengan hati mereka." Novan berhenti bicara melihat Bob sibuk mengisap rokok.
"Apa kau tau tuan Edbert sedang dekat dengan siapa?" mendengar pertanyaan itu sontak membuat Bob tersedak, pria ini selalu mengatakan hal secara tiba-tiba.
Bob melirik sekilas kearah lelaki yang berdiri di sampingnya, "Apa urusanmu dengan kisah percintaan tuan saya?"
"Saya penasaran saja, semenjak tuan Edbert ditinggal istrinya dia belum pernah dekat dengan wanita manapun. Saya bingung saja lelaki hebat seperti tuan Edbert tidak tertarik dengan wanita manapun, yang saya tau wanita cantik dan seksi banyak yang mendekatinya tapi lelaki itu hanya bersikap acuh." lontar Novan dengan tangan lelaki itu melipat dengan pandangan lurus menatap langit.
__ADS_1
Ia membuang batang rokok yang sudah dia hisap, sebelum lelaki itu mengatakan sesuatu dia kembali menatap lelaki di sampingnya.
"Kau urus saja masalahmu itu jangan pernah urus masalah orang lain. Kamu bekerja menjadi asisten sekaligus orang kepercayaan Louis belum terlalu lama, jadi kamu ikuti perintah Louis saja jangan melibatkan masalah orang lain."
"Sebelum kamu datang bekerja di tempat tuan, saya lebih dulu mengetahui kebiasaan mereka jadi kamu jangan terlalu sibuk mengurus masalah orang lain. Lakukan pekerjaan kamu saja malam ini jangan sampai kamu di pecat hanya gara-gara ikut campur masalah orang lain." Bob pergi setelah mengungkapkan apa yang mau dia katakan, sedangkan Novan tidak bisa bicara apapun hanya bisa melihat kepergian Bob.
"Apa aku salah bicara?" gumam Novan.
Dari jauh Bob melihat seorang wanita mengikuti Louis, dia dengan cepat melangkah sebelum wanita itu mendapatkan Louis. Louis kaget saat tangannya di tarik seseorang, ia melihat Bob menarik tangannya masuk ke dalam toilet pria.
"Bob? Buat apa kau datang ke tempat ini? Apa ayah yang memerintah kamu datang?" melontarkan sebuah pertanyaan mampu membuat Bob menatap Louis.
Lelaki itu sedikit menjauh dari hadapan Louis, ia sedikit melangkahkan kaki menuju wastafel. Dia sengaja menyalakan keran air supaya suara mereka tidak terdengar dari luar.
Lelaki itu kembali menatap Louis yang masih berdiri di ambang pintu, "Iya, tuan yang memintaku datang. Dia mengkhawatirkan anda tuan, dia tidak ingin anda kenapa-napa apalagi posisi anda dalam bahaya."
Bob melangkah dengan jarak tidak begitu dekat, "Ya. Tuan mengetahui rencana yang dibuat Cici, rencana yang dilakukan Cici ternyata ada seseorang yang membantunya. Jadi saya ditugaskan datang untuk membantu tuan, tak hanya itu saja tuan memintaku untuk mencari tau siapa yang selalu membantu Cici."
"Ternyata ayah sudah mengetahuinya? Tapi kenapa dia tidak memberitahuku, malah memintaku datang ke tempat ini." batin Louis dengan memandang kearah lain.
***
Edbert tersenyum melihat Felia sudah terlelap, dia memilih duduk di samping ranjang dengan memandang wajah Felia. Tangannya selalu mengarahkan ke wajah Felia untuk menyentuh anak rambut yang menutupi wajah cantik wanita ini.
"Saya sudah berjanji akan melindungi kamu dari apapun, saya tidak akan membiarkan kamu terluka seperti apa yang saya lakukan dulu. Saya tak ingin kejadian waktu itu menimpa kamu, dan kamu akan selalu di samping saya sampai kapanpun itu." gumamnya dalam hati dengan tatapan masih menatap Felia.
Dia berdiri dari tempat duduk dengan membenarkan selimut di tubuh Felia, lelaki itu masih memandang wajah Felia dengan memberikan sebuah ciuman di kening kekasihnya.
__ADS_1
"Sejak kapan pria ini sudah berada di ranjang?" tanyanya dalam hati dengan menatap Edbert, ia masih memandang wajah Edbert walau pria ini belum bangun.
Saking lamanya Felia menatap Edbert membuat lelaki itu membuka mata, lagi dan lagi ia dibuat terpesona dengan ketampanan pria ini apalagi lelaki ini selalu tersenyum membuat ketampanannya semakin meningkat.
"Saya tau saya tampan jangan di tatap seperti itu. Kamu akan terbiasa melihat ketampanan saya." Felia memutar bola matanya, mendengar ucapan rasa percaya dirinya membuatnya malas.
Felia terkejut saat Edbert menarik pinggangnya, jarak yang awalnya jauh dan sekarang jarak mereka sedekat ini. Apalagi Felia dibuat kaget saat merasakan sentuhan dari tangan Edbert.
"Om, ini masih pagi. Jangan macam-macam om." kata Felia masih memandang Edbert dengan menahan sentuhan yang diberikan Edbert.
"Memangnya kenapa kalau sekarang masih pagi? Kamu keberatan kalau saya melakukan sesuatu sama kamu, atau kamu yang berpikiran saya akan melakukan itu sama kamu." Edbert tersenyum melihat Felia gugup apalagi wanita ini selalu membuatnya jatuh cinta.
"Ti–dak. Saya tak mungkin berpikir seperti itu, saya... saya merasa om akan telat ke kantor makanya saya meminta om menghentikannya." mendengar ucapan Edbert mampu membuatnya mati kutu, apalagi lelaki ini sengaja menggodanya di saat ia sudah tidak bisa menahan sentuhan ini.
Edbert sengaja tangannya terus meraba seluruh tubuh Felia, dia dibuat tersenyum melihat ekspresi Felia yang ingin mengeluarkan sesuatu tapi masih mencoba di tahan. Ia mendekati wajahnya supaya ia bisa menikmati wajah Felia, kepalanya sontak menjauh saat Edbert hampir membuatnya sesak nafas.
"Om jangan terlalu dekat. Nanti... Nanti ada yang melihatnya, om." kata Felia mencoba memandang kearah lain dengan kepala belum berani mendekati Edbert.
Tangannya berakhir ke tengkuk Felia, ia mendorong kepala Felia untuk bisa mencium bibir wanita ini. Bibir itu sudah dia gapai dengan mengulum dan menghisap seperti seseorang habis memakan yang manis.
Sentuhan bibirnya semakin dalam membuat Felia mengikuti irama ciuman itu, Felia mengikuti pergerakan sentuhan Edbert dengan tangan laki-laki itu mulai jahil mencari sesuatu yang sangat ia rasakan. Felia belum sadar kalau Edbert sudah membuka piyama yang dia pakai, di sana sangat jelas gimana mulusnya kulit Felia dengan mahakarya yang sangat ia suka.
Ciuman itu berakhir dan sekarang bibir Edbert tiba di sebuah buah dada Felia, ia menurunkan posisi kepalanya supaya bisa menggapai dua benda yang berada di tengah-tengah tubuh kekasihnya. Felia semakin melenguh kenikmatan sentuhan Edbert, pria ini sangat pandai membuatnya bergairah yang begitu nikmat.
Ingin rasanya dia berteriak saat mulut Edbert sudah menghisap buah dadanya, ini begitu nikmat sampai dirinya saja tidak bisa menahan kenikmatan ini. Edbert mencoba mengubah posisi Felia dengan lelaki itu berada di bawahnya, sedangkan dirinya berada di atas dengan memandang wajah cantik kekasihnya.
"Pagi ini saya akan meminta sesuatu sama kamu, karena semalam saya belum mendapatkan jatah dari kamu. Jadi saya harap kamu menikmati sentuhan saya, Felia." ucapnya sebelum melanjutkan kegiatan panasnya.
__ADS_1
Akhirnya kegiatan panas itu dilanjutkan sampai bayi besar ini puas dan Felia hanya membiarkan lelaki ini menyentuh seluruh tubuhnya.