
Semua bukti sudah ia cari sampai dirinya berhasil menemukan pelaku yang membunuh istrinya, dia mencoba menganggap semua yang ia cari tidak terjadi di kehidupannya. Sekarang ia akan mengikuti rencana yang diberikan Mayra, dia ingin tau rencana apa lagi yang akan direncanakan Mayra.
Di sebuah rumah yang begitu mewah dan megah, terdapat seseorang yang begitu asik bercinta di kamar yang terdapat di lantai dua. Kamar yang sudah menjadi saksi bisu permainan mereka saat kegiatan panas ini sama sekali belum dihentikan.
Salah satunya adalah Mayra, wanita itulah sibuk mengikuti kegiatan yang diberikan lelaki asing ini. Tepatnya pacar sahabatnya sendiri, entah kenapa dia sangat menyukai permainan sahabat pacarnya sendiri dari pada pacarnya.
"Ahh... Sayang... tubuhmu sangat nikmat sampai aku tidak bisa menghentikannya." ucapnya saat kegiatan yang mereka lakukan masih berlanjut.
Mayra tidak bisa berbicara apapun lagi, dia malah menikmati apa yang dilakukan lelaki ini. Lelaki itu terus menatap Mayra yang sangat menikmati permainannya, melihat itu membuatnya semakin tergiur akan kecantikan Mayra saat bercinta dengannya.
"Sayang, apa kamu tidak takut nanti pacarmu akan tau kegiatan kita ini?" di sela kegiatan panas ini Mayra mendengar bahwa lelaki ini bertanya kepadanya, dan dia mana bisa berbicara di saat dirinya masih menikmati kegiatan panas ini.
"Ahhh... Aku... Aku tidak peduli dengannya. Yang aku pedulikan hanyalah kegiatan kita ini, aku ingin di puaskan olehmu saja."
"Kamu yakin, baby? Apa kamu tidak akan menyesal dengan ucapanmu itu?" lagi-lagi lelaki ini terus memberikan pertanyaan di saat dirinya baru bisa menatap lelaki tampan ini.
"Saya tidak akan pernah menyesal dengan ucapan saya, yang saya sesalkan kalau kegiatan ini tidak mendapatkan uang. Ingat kamu harus memberikan apapun yang saya mau." ucap Mayra masih berusaha menahan tubuhnya di saat goncangan yang diberikan lelaki ini begitu kuat.
"Tentu. Semua yang kamu inginkan akan aku kabulkan tetapi kamu harus bisa membuatku puas dengan tubuhmu itu."
"Itu pasti, saya akan memberikan apapun yang kamu mau termasuk tubuhku ini tetapi kamu harus ingat bayaran yang kamu janjikan kepadaku. Ahhh..." lenguhan Mayra sangat membuatnya puas, tubuhnya ini begitu nikmat sampai dirinya tidak bisa menghentikannya.
Kegiatan panas masih mereka lakukan sampai akhirnya mereka berdua menghentikan kegiatannya, ia melihat Mayra masih lemas tidak berdaya di atas tempat tidur saat selesai menghentikan kegiatan barusan.
"Ahhh... Sudah hentikan. Aku mohon jangan teruskan lagi." ucap Mayra merasa kalau tubuhnya di jamah kembali.
Lelak itu berhenti mendengar permohonan dari mulut Mayra, di sana ia masih melihat Mayra tidak berdaya di saat ia mencoba menjamah tubuh wanita ini kembali.
Cup
__ADS_1
Kecupan singkat diberikan tepat dibibir Mayra saat lelaki itu memutuskan untuk ke kamar mandi, melihat kepergian lelaki itu membuat Mayra membuka mata dan berusaha bangun walaupun seluruh tubuhnya terasa sakit.
Mayra mengambil pakaian yang berada di lantai, ia melangkah ke lantai bawah untuk membersihkan tubuhnya. Selesai membersihkan selurus tubuhnya, ia sama sekali tidak melihat keberadaan Mayra. Tampak kosong melihat kamar tidak ada Mayra, ia memutuskan untuk keluar kamar mencari keberadaan Mayra.
"Sayang! Honey!" panggil Lion dengan nada keras, suara yang begitu bergema mampu membuat Mayra yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar.
Dia melihat lelaki itu turun saat dirinya sibuk merapikan handuk di tubuhnya, "Sayang kamu di sini. Aku cariin kamu ternyata ada di kamar mandi bawah, kenapa gak mandi di kamar mandi yang ada di kamar."
"Mana mungkin aku mandi sama kamu yang ada bukannya mandi malah berlanjut." timpal Mayra membuat Lion terkekeh, ia mencoba mendekat kearah Mayra saat wanita di depannya ini sibuk mengeringkan rambut dengan handuk.
"Kamu mau apa?" tanya Mayra melihat Lion mencoba menahan tangannya.
"Saya hanya membantu kamu mengeringkan rambut, apa saya tidak boleh membantu pacar saya sendiri."
"Jangan pernah coba-coba kamu bicara itu lagi, kamu itu bukan pacar saya... pacar saya Edrick bukan kamu." kata Mayra dengan membenarkan perkataan Lion.
"Ya, saya tau pacar kamu Edrick. Tapi kamu berada di wilayahku jadi kamu itu milikku bukan milik Edrick." ucap Lion terus membantu mengeringkan rambut Mayra dengan handuk.
"Sudah sekarang kamu pakai baju aku akan menyiapkan sarapan untuk kamu." perintah Lion, Mayra langsung pergi dari sana tanpa menjawab ucapan Lion.
***
Edbert masih menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan Mayra, dia tau pasti wanita itu sedang sibuk bercinta dengan lelaki asing lagi. Dugaannya benar kalau Mayra sibuk menjual diri dengan sahabat pacarnya sendiri, dan Edrick begitu bodoh berpacaran dengan wanita murahan seperti Mayra.
"Sudah cukup bagi kamu untuk bermain Mayra. Tinggal waktunya saya yang akan melakukan sesuatu untuk kamu dan pacar kamu itu." ucapnya dalam hati dengan memperhatikan kegiatan Mayra dengan selingkuhannya.
Mayra menatap Lion saat lelaki ini masih sibuk sarapan, "Sekarang saya sudah melakukan keinginan kamu dan tinggal kamu memberikan bayaran yang kamu janjikan untukku."
Lion berhenti, ia mengeluarkan sebuah buku kecil yang ia ketahui itu sebuah cek. Mayra yang melihat itu langsung menatap Lion.
__ADS_1
"Silakan kamu tentukan jumlah uang yang kamu mau, nanti cek itu sudah bisa kamu cairkan sendiri." kata Lion menatap wanita yang ada di depannya.
Tanpa menunggu lama Mayra dengan cepat menulis jumlah angka yang begitu besar, barulah cek itu diberikan Lion saat mata Lion melihat jumlah uang yang ditulis Mayra.
"Ternyata wanita ini sangat menyukai uang. Dia sengaja menulis jumlah uang yang begitu besar supaya tubuhnya itu di samakan dengan uang." ucapnya dalam hati dengan menatap cek yang ditulis Mayra, ia dengan cepat merobek cek tersebut dan memberikan cek itu ke Mayra.
"Sudah cukup uang yang kamu terima?" tanya Lion menatap Mayra sibuk menatap cek yang berada di tangannya.
"Sudah. Uang ini sangat cocok dengan kegiatan kita barusan, nanti kalau kamu menginginkan tubuhku lagi aku akan kembali untuk memuaskan mu." ucap Mayra menyimpan cek itu ke dalam tas.
Tanpa menghabiskan sarapan Mayra pergi gitu aja meninggalkan Lion, tujuannya memanglah uang dan dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Lion terus menggeleng kepala melihat bagaimana sifat Mayra yang hanya tau tentang uang, dan sahabatnya tidak tau kelakuan Mayra di luar.
"Saya akan membuat hubungan kamu dengan Edrick hancur. Saya tidak mau sahabat saya memiliki pacar seperti kamu, Mayra."
"Ayah." panggil seseorang dari luar kamar, mendengar namanya di panggil Edbert melangkah kearah pintu kamar.
Ia melihat Felia berdiri di depan kamarnya, "Ada apa, sayang? Kenapa jam segini kamu belum tidur."
"Aku boleh tidur di kamar ayah." pinta Felia membuat Edbert mengerutkan kening, ia senang kalau Felia tidur dengannya tapi ia merasa sikap Felia begitu berbeda dari biasanya.
"Kamu tidak apa-apakan, Felia?" tanya Edbert melihat Felia sudah berada di tempat tidur.
"Aku baik-baik aja. Memangnya menurut ayah aku kenapa." ucap Felia menatap Edbert duduk di pinggir kasur.
"Nggak apa-apa. Tapi ayah rasa kamu berbeda dari biasanya, apa kamu benar baik-baik aja." ucapnya untuk memastikan kalau wanita ini baik-baik aja.
Felia menyingkirkan tangan Edbert yang terus memeriksa suhu tubuhnya dan lelaki itu malah menatapnya, "Kamu gak apa-apa tapi kenapa sikap kamu berbeda."
"Beda apanya ayah aku sama sekali tidak berubah aku tetap sama. Ayah saja yang terlalu khawatir jadi bersikap berlebihan begitu." ujar Felia dengan menarik selimut.
__ADS_1
"Tapi menurut ayah sikap kamu berbeda dari biasanya, Felia. Apa kamu benar baik-baik aja." kali ini Felia begitu jengah saat Edbert terus saja menanyakan hal yang sama.
"Sudah ayah jangan tanya lagi, aku capek mau istirahat dulu." Felia memutuskan tidur dengan posisi membelakangi Edbert dengan tubuh diselimuti setengah badan.