Semalam Dengan Ayah Mertua

Semalam Dengan Ayah Mertua
Klub Malam (Salah Sasaran)


__ADS_3

Novan memutuskan pandangannya kearah anak buahnya, mereka bertiga menatap serius saat Novan memberikan rencana atau instruksi untuk menghancurkan musuh di tempat ini.


"Apa kalian sudah mengerti dengan tugas kalian?" tanya Novan menatap ketiga anak buahnya.


"Paham bos."


"Bagus kalau kalian paham, sekarang kalian bisa berpencar dan meminta yang lain untuk menjaga tempat ini. Saya tidak mau tugas kalian gagal." kata Novan masih menatap ketiga anak buahnya.


"Baik bos." ketiga anak buahnya berpencar melakukan tugas yang diperintahkan Novan, saat semua pengunjung menikmati pesta Novan terus menatap kearah Louis.


Lelaki itu juga memberikan sesuatu lewat gerakan tubuh, Novan yang mengerti bahasa tubuh yang dilakukan Louis membuat dia mengangguk atas gerakan itu. Louis melakukan rencananya saat Zaky melihat Louis mabuk, acara malam ini membuat Zaky beruntung saat Louis tidak sanggup meminum minuman alkohol.


Zaky meminta kedua temannya membawa tubuh Louis, mereka berdua mengikuti langkah kaki Zaky saat tiba di area kamar yang sudah dipesan Zaky. Dia bertemu salah satu wanita yang sudah menunggu kehadiran Louis, wanita itu tersenyum melihat Louis tidak sadarkan diri.


"Bagus. Tugas kalian cukup membuatku puas," kata Cici melihat dua laki-laki membawa Louis ke ranjang.


"Sayang, aku sudah melakukan tugas yang kamu perintahkan apa aku tidak mendapatkan imbalan dari kamu?" kata Zaky dengan menyentuh dagu Cici, Cici menyingkirkan tangan Zaky saat tangan lelaki sialan ini menyentuh tubuhnya.


"Singkirkan tanganmu itu, saya tidak akan pernah sudi tangan kotor mu menyentuh wajahku." Zaky tersenyum dengan menyingkirkan tangannya, ia melihat Cici memberikan uang kepada mereka bertiga.


"Ini imbalan untuk kalian bertiga." Zaky menerima uang yang diberikan Cici, ia juga mengecek jumlah yang ada di dalam amplop.


Zaky tersenyum mengetahui jumlah melebihi kesepakatan, "Pintar juga kamu melebihi uangnya, kalau gini saya suka dengan hasilnya. Kalau ada tugas lagi beritahu kami saja."


Zaky dan kedua temannya pergi, Cici melangkah menghampiri Louis yang tidak berdaya di atas ranjang. Tubuhnya begitu wangi sampai ia saja sulit mengontrol diri, Cici menyentuh wajah Louis dengan menghirup wangi tubuh Louis.


"Pantas saja Felia tergila-gila sama kamu, lihatlah dirimu begitu sempurna. Kenapa kamu memilih Felia dibandingkan aku, apa kelebihan Felia sampai kamu memilih dia dari pada aku." Cici terus berbicara sendiri dengan menyentuh seluruh tubuh Louis.


Wanita itu bangkit, ia menyelimuti tubuh Louis dengan selimut. Louis yang mendengar suara pintu tertutup membuka mata, ia melangkah kearah pintu untuk memastikan tidak ada orang lain. Datanglah Novan dengan anak buahnya, membawa satu pria dengan penampilan persis seperti dirinya.


Lelaki asing itu diletakan di tempat tidur dengan posisi miring, barulah Louis pergi dari tempat ini.


"Saya mau kepulangan saya dipercepat." kata Louis memandang Novan yang sibuk menyetir.

__ADS_1


Novan melihat Louis dari spion mobil, "Loh kenapa, pak? Bukannya masih ada waktu dua hari untuk menyelesaikan pekerjaan di sini."


"Pekerjaan di tempat ini saya serahkan ke kamu. Saya gak mungkin tinggal di tempat ini dengan gangguan seperti ini lagi."


"Baik pak. Secepatnya saya akan kabarin bapak setelah mendapatkan tiket pulang."


Cici membuka pintu kamar, di sana ia masih melihat Louis tertidur dengan membelakangi tubuh. Tidak begitu jelas apa yang dia lihat yang pasti ia hanya melihat Louis tertidur, Cici melangkah dimana Louis tertidur. Di sanalah ia memulai aksinya untuk melakukan sesuatu kepada pria ini, dia mulai membuka seluruh pakaian.


Cici memasang kamera di dekat lemari, ia menyalakan vidio untuk melakukan malam pertama bersama Louis. Tidak hanya itu saja Cici mengambil foto kebersamaannya dengan Louis, foto yang dia dapatkan berhasil saat foto dan vidio ini akan menjadi sesuatu yang bermanfaat.


"Kita lihat saja, mau sampai kapan kamu akan bertahan mengabaikan aku Louis. Malam ini kau tidak bisa kabur dari genggamanku." batin Cici menatap Louis di samping, padahal lelaki yang ada di samping Cici bukannya Louis melainkan orang lain.


***


Felia yang baru saja keluar dari kamar mandi, berjalan kearah dimana handphonenya berada. Di sana dia melihat pesan masuk dari nomor tidak dikenal, nomor asing ini mengirimkan sebuah foto dan vidio. Merasa penasaran dengan pesan yang dikirim orang asing ini, ia mulai melihat video dimana sepasang kekasih sedang bercumbu.


Mulai dari gerakan yang sangat lihat ditambah dengan lelaki yang menjadi partner ranjang, sungguh menggiurkan dengan adegan panas ditonton disaat dia selesai mandi. Felia meletakan kembali handphone tersebut, dan memilih sibuk mengurus laporan kantor dari pada melayani pesan asing ini.


"Masih pagi sudah mengirim pesan aneh, apa dia kurang kerjaan mengirim hal seperti ini. Dan bodohnya kenapa tubuhku terasa panas melihat adegan itu."


Dia berusaha menahan rasa panas yang hampir memuncak, dan akhirnya rasa panas itu berhasil dia kendalikan. Felia dengan cepat pergi ke kantor, sungguh nikmat bermain di atas ranjang bersama pacar sahabatnya sendiri.


"Kali ini kamu sudah jadi milik saya Louis, dan kamu tidak akan bisa menghindar dariku lagi. Nikmati saja hubungan kalian sampai kamu akan menjadi milikku." batin Cici selesai mengirimkan pesan untuk Felia, ia juga menatap Louis yang masih terlelap.


Langkah Cici mengarahkan Louis, dia mengecup kening Louis dan mengelus wajah tampan pria ini.


"Sampai bertemu di kantor sayang. Aku akan menunggu kamu dan menantikan calon anak kita." batin Cici tersenyum saat mengetahui rencana yang dia jalani berhasil.


• Ruang tamu


"Tuan! Louis..." ucapan lelaki yang memakai serba hitam terhenti saat tangan Edbert menghentikan perkataan lelaki ini.


"Saya sudah tau rencana dia dari awal, kamu tidak perlu beritahu saya lagi Bob."

__ADS_1


"Bagaimana tuan bisa tau kalau Louis dijebak oleh wanita itu?" Edbert menatap Bob yang masih setia berdiri di depannya, ia memberikan sesuatu kepada Bob.


"Saya sudah menebaknya, wanita itu pasti akan melakukan rencana kotor dan dugaan saya benar kalau dia berhasil melakukan rencananya."


"Menurut tuan, apakah tuan Louis akan terjebak oleh wanita rendahan itu?" bukan menjawab ucapan Bob Edbert malah tertawa, Bob yang melihatnya cuman bisa menatap bingung.


"Putra saya bukan bukan pria sembarangan Bob. Saya tau sifat dia seperti apa, jadi kamu tidak usah khawatir mengenai Louis. Kita tunggu permainan wanita itu sampai mana, barulah kamu yang turun tangan untuk memusnahkan wanita itu."


"Baik, bos." Edbert menikmati kopi dengan memandang foto Felia, baru sehari ia tidak bertemu dengan wanita itu membuat dirinya merindukan Felia.


"Gimana keadaannya? Apa dia tau kelakuan sahabatnya?" tanpa menebak-nebak lagi Edbert memutuskan untuk bertemu dengan Felia.


Jam makan siang Felia pergi ke kantin, dipinggir jalan ada sebuah mobil hitam menatap perusahaan dari kejauhan. Saat tatapannya terus mencari seseorang akhirnya ia melihat wanita yang dia cari, wanita itu keluar dari kantor mencari tempat makan.


Edbert bergegas mengendarai mobil mengikuti Felia, wanita itu masih belum menyadari kalau Edbert terus mengikutinya. Edbert memilih menghentikan mobil untuk menemui Felia, langkahnya begitu lebar membuat ia bisa menyamakan langkah kaki Felia.


Edbert dengan cepat menarik tangan Felia untuk masuk ke dalam mobil, "Sttt! Kamu jangan teriak."


"Om. Om, ngapain di sini?" tanya Felia saat mulutnya sudah tidak dibekap, lelaki itu mengunci pintu mobil dan membalikan badan untuk menatap Felia.


"Apa saya tidak boleh melihat pacar saya?"


"Pacar? Siapa pacar om? Kenapa aku baru tau om memiliki pacar."


"Kamu mau tau siapa pacar saya?" Felia semakin dibuat bingung, karena sikap Edbert mulai sedikit aneh.


Dan dugaannya benar kalau lelaki ini sengaja mendekati tubuhnya, mereka sama-sama menatap sampai Edbert memilih membisikkan sesuatu di telinga Felia.


"Kamu! Kamu adalah pacar saya sekaligus simpanan saya." ucapan Edbert membuat sekujur tubuh Felia merinding, bagaimana bisa lelaki ini mengatakan kalau dirinya kekasihnya.


Felia mendorong tubuh Edbert memilih memalingkan pandangannya, "Jangan bicara sembarang om. Saya ini pacar anak om bukan pacar om apalagi simpanan om, saya masih waras untuk menjadi simpanan om-om."


Edbert kesal mendengar Felia mengatakan kalau dirinya om-om, "Apa saya setua itu sampai kamu bilang kalau saya om-om? Dan kamu tidak sudi kalau saya menganggap kamu kekasih saya?"

__ADS_1


"Kenyataannya begitu om, saya tidak mungkin menganggap om kekasih saya ataupun simpanan saya. Saya gak mau mereka menganggap saya simpanan om-om, yang lebih parahnya simpanan ayah dari pacar saya." tutur Felia yang tidak sanggup menatap wajah Edbert.


__ADS_2