
Karena hujan membuat Felia tinggal di tempat ini, apa dia terjebak atau musibah sampai hujan saja berpihak kepada Edbert. Louis membawa Felia ke kamar bersebelahan dengan kamar Edbert.
"Sayang, apa tidak ada kamar lagi selain kamar ini?" tanya Felia karena ia tidur bersebelahan dengan kamar Edbert.
"Tidak ada sayang. Hanya kamar ini khusus untuk kamar tamu, sedangkan kamar yang lain tidak boleh ditempatin." ucap Louis menatap Felia, ia melangkah kearah Felia.
"Ya sudah kamu istirahat, besok aku akan minta bibi untuk menyiapkan keperluan kamu." Louis menyentuh puncak kepala Felia dengan mengecup kening Felia baru ia memutuskan untuk pergi dari kamar.
Terlelap dalam tidur membuat Felia tidak sadar saat seseorang masuk ke kamar, lelaki itu membawa selimut tebal menutup tubuh Felia. Pria itu menatap Felia yang begitu cantik saat tertidur, membuat dirinya ingin terlelap di samping Felia.
Felia yang merasakan sentuhan dari seseorang membuka mata, di sana ia melihat Edbert tersenyum sambil menatapnya. Ia terbangun saat Edbert memberikan sebuah selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Om. Om ngapain di kamar? Nanti kalau Louis lihat om ada di kamar gimana." ucap Felia membuat Edbert menarik kursi, kursi itu ia dekatkan supaya bisa melihat wajah cantik Felia.
"Louis tidak akan tau kalau kamu tidak menganggu dia tidur." kata Edbert, ia menatap bibir Felia saat bibir itu sudah menggodanya.
Tangannya menyentuh bibir Felia saat Felia hanya menatapnya, Edbert berdiri dari kursi dan kembali duduk di atas ranjang. Ia kembali menyantap bibir Felia saat Felia tidak menolaknya, semakin nikmat sentuhan Edbert membuat seluruh tubuhnya terasa hangat.
Felia menikmati kecupan yang diberikan Edbert, saking nikmatnya ia sampai menutup mata membuat Edbert tersenyum melihat respon Felia. Dia kembali menyerang bibir Felia begitu dalam, saat kecupan itu semakin nikmat dan tersusun lembut dengan penyatuan mereka.
Edbert melepaskan kecupannya melihat Felia tidak rela dengan Edbert menghentikan kecupannya, "Kamu suka dengan kecupan yang saya berikan ke kamu?" tidak ada jawaban dari Felia ia melihat wanita itu mengangguk.
"Saya akan memberikan kehangatan untuk kamu, aku tidak ingin tubuhmu membeku akibat hujan." Felia hanya bisa terdiam dengan memperhatikan Edbert membuka piyama, lelaki itu kembali menyerang Felia.
Mulai dari bibir dan sekarang berpindah ke leher jenjang Felia, terasa geli dengan sentuhan bibir Edbert tapi ini sungguh nikmat saat Edbert memberikan sentuhannya. Lelaki itu mulai menggunakan tangan untuk mencari kepuasan, di sanalah Edbert menikmati sentuhan itu saat Felia menyukai sentuhan yang diberikan Edbert.
"Ahhh... emmm...." hatinya tersenyum mendengar suara indah dari bibir Felia, semakin Felia merasakan kenikmatan semakin ia memperdalam kegiatan panas ini.
Cuaca di luar sangat mendukung kegiatan ini, karena mereka sama-sama membutuhkan kehangatan dengan situasi dingin. Edbert semakin menyentuh semua bagian tubuh Felia, mulai dari atas sampai bagian yang belum ia lihat.
__ADS_1
Ia semakin menikmati sentuhan hangat Edbert, entahlah rasanya begitu berbeda dari biasanya ia dengar dari teman-temannya. Mendengarkan cerita teman-temannya soal bercinta membuat dirinya ingin merasakan, dan kali ini ia merasakannya sendiri.
Pertempuran mereka berakhir saat Felia merasa matanya mulai terlelap, Edbert yang melihat Felia lelah menghentikan kegiatan bercinta. Ia menatap Felia dan mengecup kening wanita ini.
"Good night, baby." Edbert memilih tidur di samping Felia dengan memeluk tubuh wanita ini.
***
Felia terbangun, ia merasa tubuhnya seperti ada yang memeluk dan dia melihat ada sebuah tangan melingkar di pinggang. Felia berusaha melepaskan tangan kekar itu tetapi pemilik tangan mulai terusik.
"Biarkan begini saja dulu, baby. Saya tidak mau melepaskan pelukan ini." gumam Edbert dengan posisi masih memeluk tubuh Felia, ia memutuskan membalikan badan menatap lelaki ini.
"Om, bangun. Ini sudah pagi," ucap Felia lembut. Edbert membuka mata melihat Felia menatapnya, ia dengan cepat memberikan kecupan tepat di bibir Felia.
"Pagi, honey."
"Om, ini udah pagi. Sebentar lagi Louis bangun, aku gak mau dia marah apalagi sampai tau kegiatan kita semalam." kata Felia, akhirnya Edbert menyerah dan bangun dari tidur.
Felia menatap Edbert turun dari ranjang memungut pakaian yang entah kemana perginya, Edbert kembali menatap Felia yang awalnya dia sibuk memakai pakaian.
"Saya kembali ke kamar dulu, kamu jangan lupa mandi dan saya akan meminta bibi menyiapkan pakaian baru untuk kamu." Edbert mengecup kening Felia saat Felia menikmati kecupan yang diberikan Edbert.
Melihat kepergian Edbert Felia bergegas masuk ke kamar mandi tidak lupa dengan pakaian yang berada di lantai, sepuluh menit berada di kamar mandi ia melihat ada satu bungkusan yang berisi pakaian wanita dan juga pakaian dalam wanita.
"Pagi, sayang." sapa Louis melihat kekasihnya baru turun dari tangga, ia meminta Felia bergabung untuk sarapan.
Edbert hanya diam tanpa merespon apapun, ia melihat Louis mengecup kening Felia dan bersikap romantis terhadap Felia. Tatapan mereka tidak sengaja bertemu saat Louis sibuk mengambil sarapan.
"Gimana tidur kamu nyenyak?" tanya Louis menatap Felia.
__ADS_1
Felia tersenyum dengan pertanyaan yang diberikan Louis, tidak dengan Edbert ia mulai sibuk menggoda Felia saat Louis masih berada di meja makan. Felia menatap Edbert saat pria ini sibuk mencari sesuatu di bawah sana, tidak mungkinkan ia menikmati sentuhan Edbert di saat Louis ada antara mereka.
Felia memindahkan kaki untuk menendang kaki Edbert, pria itu melirik Felia saat tendangan Felia terasa, tatapan tajam yang diberikan Edbert sama sekali ia hiraukan malah dia menikmati sarapan yang dibuat bibi.
"Sudah selesai makannya?" tanya Louis membuat Felia mengangguk, "Mau pulang sekarang atau nanti?"
"Sekarang aja."
"Baiklah, aku ambil kunci mobil dulu baru nganterin kamu pulang." Felia mengangguk dan melihat Louis pergi, ia menatap tajam Edbert saat pria itu hanya merespon dengan senyuman.
"Om, bisa kan jaga sikap. Kalau nanti Louis tau sikap om ke saya gimana, apa om mau pertunangan aku sama Louis batal." ucap Felia marah, karena sikap Edbert sudah mulai berlebihan.
"Bagus kalau pertunangan kalian batal, jadi saya tidak perlu bersikap seperti maling untuk bertemu sama kamu." urai Edbert dengan santai, dan lebih parahnya Edbert mengedipkan sebelah mata untuk menggoda Felia.
Dia tidak percaya dengan perkataan Edbert, mana ada seorang ayah yang menginginkan pertunangan anaknya batal, hanya laki-laki bodoh yang meminta seorang anak membatalkan pertunangan.
"Mau ngapain, om?" tanya Felia melihat Edbert menarik kursi Felia, tatapan mereka saling bertemu dan posisi mereka tidak ada jarak sedikitpun.
"Kamu tanya saya mau ngapain?" sebelum Edbert menyerang Felia ia melihat situasi, Edbert dengan cepat mengecup bibir Felia dengan lembut saking lembutnya Felia menikmati sentuhan Edbert.
Edbert menghentikan kecupannya saat telinganya mendengar langkah kaki, ia dengan cepat menghapus jejak kecupan di bibir Felia.
"Nanti saya akan meminta lebih dari kecupan yang saya berikan ke kamu." ucap Edbert dengan suara pelan, Edbert kembali ke posisi semula saat Louis sudah berada di ruang makan.
"Ayuk sayang aku antar kamu pulang." Felia mengangguk, ia mengambil tas yang dia letakan di bangku samping.
"Om, saya pamit dulu." ucap Felia membuat Edbert mengangguk, tidak lupa dengan kedipan mata saat Louis memilih pergi.
Felia dengan cepat menyusul Louis, melihat tingkah laku Edbert membuatnya panas dingin.
__ADS_1