
Beberapa bulan berada di rumah sakit akhirnya Felia diperbolehkan pulang, Louis membantu Felia membawa semua barang yang sudah dikemas. Sedangkan Felia sibuk menggendong bayi mungilnya, Louis dengan hati-hati menjaga dan melindungi Felia dari samping.
Sampai keduanya tiba di basement tepat mobil Louis berada, Louis membuka pintu mobil untuk Felia lalu dia menutup kembali. Setelah menurutnya aman dia berlari kecil untuk membuka pintu mobil untuknya.
Sebelum ia mengendarai mobil itu, Louis meletakan tas di jok penumpang. Barulah Louis mengendarai mobil, selama di perjalanan Louis sibuk mengendarai mobil sedangkan Felia sibuk dengan bayi kecilnya.
Tak butuh waktu lama mobil itu tiba di sebuah rumah yang akan ditempatkan keluarga kecilnya, Louis segera keluar lebih dulu untuk membuka pintu mobil. Dia melemparkan sebuah senyuman saat melihat Felia melihatnya.
"Kamu masuk dulu aja ke dalam, aku mau ambil barang-barang kamu di mobil." mendengar itu Felia mengangguk dan dia segera masuk ke dalam, sedangkan Louis sibuk mengambil barang bawaan yang sempat ia bawa di rumah sakit.
"Sayang, kamu yang menyiapkan ini semua?" tanya Felia yang melihat kamarnya dengan Louis di make over.
"Iya, gimana kamu suka?"
"Suka banget." Louis tersenyum melihat Felia bahagia, dia melangkah untuk meletakan barang bawaan.
Felia terus berdiri di ranjang bayi dengan menatap bayi kecilnya, Louis yang selesai merapikan tas bawaan melihat kearah Felia. Dia segera menghampiri Felia dengan memeluk tubuh Felia.
"Anak kita nyenyak sekali tidurnya, aku beruntung punya kamu sayang. Aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan menjadi seorang ayah, dan kamu sudah menjadi seorang ibu." Felia tersenyum mendengar ungkapan tulus dari bibir Louis, ia juga tidak pernah membayangkan kalau dia akan menjadi seorang ibu.
Dua hari kepulangan Felia dari rumah sakit, Louis mengadakan acara untuk perayaan putranya. Dia akan mengundang semua karyawan untuk datang ke acara di rumahnya, tak hanya itu saja Louis juga akan mengundang Laura untuk datang.
Malam pun tiba, semua tamu undangan yang hadir malam ini sudah datang. Louis tak mengundang banyak orang, hanya keluarga dan sahabat ataupun karyawan di kantornya. Perayaan ini tak semewah yang kalian banyangkan, hanya sebatas perayaan sederhana yang aku adakan.
Semua tamu undangan pada bersorak riang saat mengetahui bahwa Louis memiliki seorang anak laki-laki yang akan menjadi penerusnya, tidak dengan Laura dia merasa kalau Louis sangatlah berlebihan sampai dirinya muak dengan acara seperti ini.
__ADS_1
Laura memutuskan untuk keluar dari acara tersebut, Louis terus memberikan sapaan untuk orang-orang terdekatnya begitupun dengan Felia. Dia sangat senang bisa bertemu teman kantor suaminya, semenjak hamil dia tidak pernah melihat perkembangan perusahaan Louis.
Dan kali ini ia melihatnya, semua orang yang berada di perayaan ini sangatlah kagum melihatnya apalagi memiliki seorang anak laki-laki yang sangat tampan. Louis yang selesai memberikan sapaan untuk tamu beralih melirik Felia.
"Sayang, aku pergi sebentar dulu ya. Kamu tunggu di sini dulu ada hal yang harus aku urus." bisik Louis tepat di telinga Felia, dan Felia segera mengangguk.
Louis segera melangkah menjauh dari kerumunan, entah kenapa kakinya ini terus saja berjalan seperti orang mencari sesuatu yang hilang. Dan benar saja kalau dia melihat Laura berada di taman, taman yang sangat luas dan wanita itu duduk di pinggir air mancur.
"Kamu kenapa ada di sini Laura? Kenapa kamu tidak ikut gabung di dalam." ucap Louis yang melihat Laura sibuk menatap air mancur, Louis yang melihat itu segera mendekati Laura.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Louis dengan lembut, kelembutan Louis mampu membuat Laura terhipnotis.
Karena Louis mampu membuatnya tergila-gila, "Kamu taukan kalau aku tidak menyukai acara seperti itu, aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan istrimu. Kamu bersikap seperti itu seakan kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi."
Yang awalnya tubuh Laura menghadap air mancur sekarang berubah menjadi menghadap Louis, "Sayang dengerin aku, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Kamu dengan Felia berbeda, Felia istriku kalau kamu wanita yang aku cintai. Jadi jangan membedakan diri kamu sama Felia, oke!"
"Iya aku tau. Tapi sikap kamu yang seperti itu, buktinya aja kamu lebih mementingkan acara itu dari pada melihatku." Louis yang melihat sikap Laura langsung menyentuh kedua pundak Laura membuat Laura terfokus kepadanya.
"Maafin aku ya. Kamu kan tau kalau di rumah lagi ada acara jadi kamu harus ngertiin kondisi aku, aku janji setelah acara ini selesai aku tidak akan mendiamkan kamu lagi."
"Janji." Louis terkekeh melihat tingkah laku Laura, baginya Laura sangat menggemaskan apalagi kalau wanita ini bersikap manja semakin cinta terhadap Laura semakin besar.
Tidak dengan Felia, setiap ia melihat Felia seakan cintanya tidak terasa apapun lagi. Entah kenapa Laura lebih menarik dari pada Felia, makanya dia sangat mengutamakan Laura dari pada Felia.
Kelamaan di luar mampu membuat Laura kedinginan, Louis yang melihat tubuh Laura menggigil segera melepaskan jaket dan memberikan kepada Laura. Laura menatap Louis saat pria ini selalu mengutamakannya.
__ADS_1
"Sekarang kita masuk ke dalam, aku gak mau melihat kamu sakit apalagi cuaca hari ini sangat dingin aku takut kamu kenapa-napa."
Louis membawa Laura masuk ke dalam, dimana acara tersebut masih di selenggarakan. Sekitar sepuluh menit akhirnya acara itu selesai, dan semua tamu undangan pada berpamitan pulang. Sedangkan Laura masih berada di sana, apalagi dia melihat Felia sibuk menggendong bayi kecil itu.
"Loh Laura kamu belum pulang? Saya kira kamu sudah pulang." ucap Felia yang melihat Laura masih ada di sana.
Laura tersenyum mendengar ucapan Felia, "Belum Bu. Saya lagi nunggu supir datang menjemput saya."
"Gimana kamu nginap di sini dulu besok pagi baru kamu pulang. Saya tidak tega melihat kamu malam-malam begini pulang, kamu mau kan nginap di sini." kata Felia membuat Laura dengan Louis saling menatap.
"Saya gak enak Bu nginap di rumah orang yang sudah menikah, saya takut nanti orang lain berpikir macam-macam tentang saya." ucap Laura yang menolak keinginan Felia, sebenarnya dia tidak mungkin menolak karena dia pasti terus bersama dengan Louis.
"Kamu ini tidak usah memikirkan hal itu, saya sudah menganggap kamu seperti adik saya sendiri Laura. Jadi kamu mau kan nginap di rumah saya?"
Laura terdiam sejenak sambil memikirkan ucapan Felia, sejujurnya dia ingin tinggal di sini, siapa sih yang gak mau tinggal satu rumah dengan kekasihnya apalagi istrinya yang berinisiatif menawarkan diri untuk menginap. Laura segera menyetujui perkataan Felia untuk tinggal membuat Louis tersenyum.
"Yasudah sayang kita langsung ke kamar aja yuk. Kamu pasti capek seharian ini menyambut tamu." ujar Louis saat dia sibuk berada di sisi Felia, saat dia membantu Felia barulah tatapan itu menatap Laura.
"Laura, saya dengan istri saya langsung ke kamar ya. Kamu taukan dimana kamar kamu, jadi saya tidak perlu mengantar kamu lagi."
"Iya pak, nggak apa-apa. Bapak sama ibu istirahat aja nanti saya akan ke kamar untuk istirahat." Laura melihat sepasang suami istri itu melangkah ke kamar atas, sedangkan dia segera pergi menuju kamar yang berada di lantai bawah.
Di tengah malam Louis melihat Felia tertidur pulas, dia memastikan untuk mengecek Felia apakah istrinya ini sudah tidur atau belum. Setelah memastikan Louis segera turun dari ranjang, dia melangkah dengan pelan dan melewati ranjang bayi.
Di sana juga dia melihat putranya masih nyaman tertidur seperti Felia, Louis segera melanjutkan langkah kakinya untuk membuka pintu kamar. Dengan hati-hati Louis membuka pintu itu sampai dia berhasil menutup pintu itu kembali.
__ADS_1
Louis merasa kalau hubungan terlarang dengan Laura semakin berjalan sempurna, selama mereka menjalin hubungan ini Felia sama sekali tidak merasa curiga akan kehadiran Laura. Dia sebagai seorang pria sangatlah beruntung mendapatkan dua wanita sekaligus, walaupun dia sangat mencinta Laura dari pada Felia, yang pasti keduanya sama-sama dia miliki.