Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST2


__ADS_3

Pagi menjelang. Keduanya masih terlelap setelah sempat bangun untuk menjalankan shalat subuh berjamaah. Tak habis-habisnya putra memandangi wajah Arumi, bagaikan sebuah mimpi untuk apa yang telah ia lalui malam ini. Allah terlalu baik kepadanya, lihatlah semua yang terjadi hari ini,diantara perbuatan Putra yang sudah banyak mengecewakan dan menyakiti di masa kalau ,kini kebahagiaan itu datang berlimpah ruah.


Tangan kekar itu membelai wajah pujaan hatinya,wanita yang sudah seutuhnya menjadi miliknya. Arumi merasa terganggu dan membuka matanya, pemandangan pagi yang begitu membahagiakan untuknya,berharap ini bukan mimpi lalu ciuman selamat pagi dari putra menyadarkan bahwa ini adalah kenyataan.


"Selamat pagi sayang?"


"Selamat pagi,mas."


"Jam berapa ini mas,?


"Hmmh,baru jam 9 sayang" ucap Putra santai


"Apa! jam 9? ini siang banget mas,ya ampun ini semua gara-gara mas," ucap Arumi mengomel


"Lah,ko salah mas si sayang? kamunya aja terlalu nyenyak tidur." sahut putra berkilah


"Tapi kan kalau mas nggak itu... aku pasti bangun lebih awal."


"Itu apa maksudnya?" Putra menggoda istrinya, meskipun ia tau apa yang dimaksudkan oleh Arumi


"Ahh pokonya itu,badanku sakit semua mas. Kamu harus tanggung jawab."

__ADS_1


"Iya iya mas akan tanggung jawab, memangnya kamu sudah hamil" ucap putra kembali menggoda Arumi


"Massssss,ih nyebelin."


"Hehe iya maaf maaf ya,sekarang mas harus apa?


"Aku lapar mas,perutku sudah berteriak minta makan. Aku ingin kamu memasak untuk ku sebagai hukumannya."


"Hhmhh baiklah,kalau hanya memasak mas rela melakukannya setiap hari asal kegiatan kita tetap berjalan."


"Ih kamu benar-benar mesum. Yasudah ayo aku sangat lapar."


"Ayo,mau jalan sendiri atau mas gendong sampai kelantai bawah?"


"Yasudah,yuk."


Saat Arumi akan turun dari tempat tidur, perasaannya sudah tidak enak. Rasanya sakit dan ngilu, Arumi ingin berteriak dan menangis namun itu tidak bisa ia lakukan, bagaimana pun semua wanita pasti pernah merasakan hal ini.


"Awwuhh.." rintih Arumi ketika mencoba melangkahkan kakinya


"Kenapa sayang,apa masih sakit?" tanya Putra khawatir

__ADS_1


"Iya mas,ini sakit sekali." sahut Arumi dengan mata berkaca-kaca.


"Mas gendong ya,nanti setelah sarapan mas akan pergi ke apotek untuk membeli obat pereda sakitnya."


"Apa ada mas?"


"Ada ,sayang. Nanti mas beli ya."


Arumi pun mengangguk,dan jalannya di papah oleh Putra,ia menolak untuk di gendong karena malu dengan para pekerja di rumah Putra. Setelah tiba di lantai bawah,bi Hannas sudah menyambut keduanya .


"Selamat pagi. pak,mbak." sapa bi Hannas


"Selamat pagi bi" sahut keduanya.


"Kenapa mbak Arumi di papah seperti itu,apa mbak sakit?" tanya bi Hannas penasaran


Arumi sedikit panik karena mendapat pertanyaan tiba-tiba dari BI Hannas, sedangkan putra mencoba tetap tenang dan Bersikap biasa saja.


"Tidak apa-apa bi,aku hanya sedikit keseleo di kamar mandi." ucap Arumi bohong


"Hah,kok bisa? tapi mbak Arumi tidak apa-apa kan? Apa mau saya panggilkan tukang urut?" pertanyaan demi pertanyaan bi hannas lontarkan membuat Arumi bingung, sedangkan suaminya masih berdiri dengan wajah kalemnya.

__ADS_1


"Tidak usah bi,saya sudah melakukan pijitan untuk istri saya. Mungkin nanti saya akan melakukannya lagi." ucap putra penuh maksud.


Arumi memahami apa yang di ucapkan Putra,ia sedikit kesal dengan jawaban suaminya, bagaimana tidak ia kini mengenal sisi baru Putra yang amat mesum. Sedangkan Putra yang mendapatkan tatapan itu tatap pada posisinya yang kalem. Menyebalkan!


__ADS_2