
Aku pun masuk kedalam ruang rawat ibu,tapi saat aku masuk ternyata ibu sedang tidur,mungkin efek obat yang Dia minum. Aku duduk di bangku yang disediakan di dalam ruangan itu,sesekali aku melihat pintu masuk,namun tidak ada tanda-tanda ayah akan masuk ke dalam. Aku semakin penasaran sebenarnya ayah sedang apa di luar,atau Ayah masih berbincang dengan Pak Putra? .
Aku memutuskan untuk melihat Ayah keluar,namun saat membuka pintu Ayah tidak ada disana.
"Kemana Ayah, bukankah tadi sedang mengobrol dengan Pak Putra?"
Aku kembali menemani ibu yang masih tertidur lelap,menatap wajahnya yang cantik meskipun usianya tidak muda lagi. Wajah ini pernah membuatku bersedih,namun akhirnya aku bisa merasakan cinta yang sama dari seorang Ibu sama seperti kedua adikku.
***
Di ruangan berbeda,Pak Erwin dan Pak putra sedang menuju ke arah tempat tidur yang di sana berbaring seorang wanita paruh baya. Wanita yang usianya sekitar 50 tahun , wajahnya pucat seperti kehilangan banyak darah ,tubuh yang kurus seperti menanggung beban dan memikirkan banyak hal.
"Bu," ucap Putra pada ibunya yang sedang melamun
Ibu pun melihat ke arah Putra dan Laki-laki asing yang tidak ia kenali.
"Selamat sore Bu, bagaimana kabarnya?" Tanya Erwin pada Bu Puri
Bu Puri tersenyum dan menyahut dengan pelan namun masih bisa di dengar oleh keduanya.
"Baik"
Putra melihat wajah heran sang ibu,seolah bertanya mengenai siapa ya g berdiri di sampingnya.
"Ibu pasti penasaran siapa bapak ini. Perkenalkan Bu,ini pak Erwin beliau adalah orang tua dari murid yang pernah aku ajar" ucap putra menjelaskan dan ibu Puri pun baru mengerti .
Erwin bertanya banyak hal pada Putra ,entah kenapa Erwin seperti tertarik dengan sosok Putra.
"Apa pak Putra menjaga ibunya sendiri?"
"Panggil saya Putra saja pak,biar lebih nyaman. Iya saya menjaga ibu sendiri soalnya adik saya masih di luar kota sedang menyelesaikan pendidikan akhirnya"
"Wah kamu punya adik,apa Dia sedang menyelesaikan pendidikan sarjana?"
"Iya pak,katanya setelah lulus nanti dia akan langsung kembali"
"Syukurlah. Apa kamu belum menikah, sepertinya usia mu sudah cocok berumah tangga?" tanya pak putra dengan pertanyaan acak. Putra yang di tanya hal itu pun nampak terdiam dan tiba-tiba sang ibu menyahuti.
"Anak saya baru saja gagal menikah pak,orang tua calonnya tidak merestui. Mungkin karena status kami yang tidak sebanding dengan mereka" ucap Bu Puri penuh kesedihan
Pak Erwin yang mendengar jawaban dari ibunya putra pun merasa bersalah.
"Maafkan saya Bu,saya tidak tahu"
"Tidak apa apa pak,mungkin sudah nasib anak saya "
__ADS_1
"Sabar Bu,nanti juga ada jodohnya"
***
Pertemuan intens Putra dan Erwin saat di Rumah Sakit membuat keduanya akrab,banyak hal yang di bicarakan termasuk urusan pribadi dan pekerjaan.
Inka yang melihat hal itu pun nampak sedikit aneh,karena setahunya mereka hanya bertemu sekali saja.
"Ayahmu kemana Ka?" tanya ibu
"Ayah ada di luar Bu, sepertinya sedang mengobrol dengan Pak putra"
"Kamu kenal?"
"Dia guru aku saat di Asrama,kemarin juga dia datang menjenguk ibu,tapi ibu sedang tertidur jadi ibu tidak sempat melihatnya" ucap Inka dengan pipi merona saat menceritakan sosok Putra.
"Apa kamu menyukainya?" tanya ibu tiba-tiba
Inka terlihat gugup dan bingung harus menjawab apa.
"A__apa maksud ibu?" sahutnya gugup
"Kenapa gugup,apa dugaan ibu benar kalau kamu menyukai guru mu?
"Apa salah ya Bu kalau aku menyukai guruku sendiri?"
Ibu Maya pun tersenyum.
"Tentu tidak,itu fitrah manusia merasakan mencintai atau di cintai,tapi apa dia sudah menikah?"
Inka pun menggelengkan kepalanya.
"Wah, sepertinya tidak akan sulit" ucap ibu penuh maksud
"Apa maksud ibu?"
"Apa kamu berniat menikah muda seperti ibu dan ayahmu dulu?" seketika pertanyaan itu membuat Inka membisu.
"Dulu perjalanan cinta ayah dan ibu mu memang tidak mudah,namun keduanya bisa hidup bahagia meskipun tidak sampai akhir. Maafkan ibu yang sudah menjadi duri dalam kehidupan kalian dan merusaknya. Ibu menyesal telah bersikap serakah dan hanya ingin menguasai ayah mu sendirian,tapi percayalah saat ibu bersikap tidak menyenangkan padamu,semata ibu takut kalau ayah akan meninggalkan ibu"
"Kenapa ibu sampai berpikiran seperti itu?"
"Karena wajahmu mengingatkan ayah mu pada sosok wanita yang Dia cintai,sampai detik dimana ibu melahirkan kedua adikmu,ayahmu belum juga mencintai ayah. Dan ibu bersyukur saat ibu ikhlas menerima kamu dan membuang ketakutan ibu,ayah pun berusaha mencintai ibu dan itu sampai sekarang"
"Syukurlah Bu,aku ikut bahagia mendengarnya. Semoga keluarga kita selalu diliputi kebahagiaan, meskipun tidak bisa aku pungkiri bahwa aku sempat kecewa pada keluarga ku sendiri yang sudah memisahkan aku dengan Bunda,tapi semua sudah terjadi. Aku tidak ingin jadi pendendam dan ingin meneruskan hidupku dengan tenang"
__ADS_1
"Terima kasih Ka,dan maafkan ibu" sahut Bu Maya dan langsung memeluk Inka erat.
Saat mereka sedang berpelukan, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah dua sosok laki-laki yang Bu Maya yakini adalah Guru Inka.
"Ada apa ini,kenapa kalian berpelukan?" tanya pak Erwin yang sejujurnya merasakan kebahagian melihat pemandangan yang mengharukan itu.
"Tidak ada apa-apa yah,ibu hanya ingin memeluk anak gadis ibu saja"
"Apa ayah boleh ikutan?"
"Tidak, kami menyudahinya karena ayah"
"Loh kenapa?"
"Ayah banyak nanya,siapa yang bersama ayah?" tanya ibu pura-pura tidak tahu
"Oh ini, perkenalkan dia Putra Bu,guru Inka waktu di Asrama"
"Oh jadi ini laki-laki yang sudah menarik perhatian Inka"
Erwin pun mengernyitkan keningnya sementara Inka merasa malu dan tak habis pikir kalau ibunya akan se frontal ini.
"Apa maksud ibu?"
"Ini loh yah ..." belum selesai sang ibu meneruskan ucapannya tiba-tiba Inka memberikan cubitan di lengan sang ibu pertanda kalau ibunya harus diam.
"Aduhhhh"
"Ibu kenapa?"
"Tidak yah,ibu di gigit semut" ucapnya berkilah
"Tadi ucapan ibu sempat terputus,kenapa dengan Inka?"
"Anak mu malu yah,kalau ternyata dia menyukai gurunya sendiri" ucap ibu dengan satu tarikan nafas
Inka sudah kehilangan muka di depan Putra,dia tidak berani mengangkat wajahnya dan memilih untuk bersembunyi di balik tubuh sang ayah.
"Benar begitu nak?" tanya Erwin yang semakin memojokkan Inka.
Erwin hanya tersenyum dan memperkenalkan Putra pada Maya, sedangkan Putra yang sedang menjadi bahan obrolan hanya bersikap tenang dan sesekali melihat ke arah Inka yang sedang dilanda malu.
***
Minimal like dan komen itu sudah sebuah semangat buat aku melanjutkan cerita ini. Tidak berharap ada di atas ranking atau apapun itu ,kalian hadir dan membaca pun sudah Alhamdulillah. ❤️
__ADS_1