Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST33


__ADS_3

Malam itu hujan cukup deras,Putra terbangun dari tidur lelapnya, setelah memikirkan banyak hal dia tidur lebih awal. Sedangkan Inka sudah nyenyak tidur di lantai dengan karpet sebagai alas,juga selembar selimut yang membungkus tubuh mungilnya,ada rasa bersalah yang menyeruak . Putra merasa bersalah pada istrinya karena beberapa bulan menjadi suaminya,putra masih tidak memperlakukannya dengan layak.


Atas dorongan rasa bersalah Putra memberanikan diri memindahkan Inka ke atas tempat tidur,gadis itu masih nyaman dengan mimpinya tanpa terusik sedikit pun. Putra meletakkannya dengan hati-hati,sampai tatapan mata putra mengarah pada inka ,istri kecil yang ia nikahi beberapa bulan lalu.


Bukan salah Inka hadir diantara keputusasaan cintanya,Inka hanyalah korban yang tidak layak menerima kebencian,jika tidak bisa mencintainya, setidaknya perlakukan dia dengan baik. Putra masih menatap wajah Inka lebih dekat,sampai Inka menyadari ada hal yang menimpa tubuhnya,dan ada hawa panas yang mengenai wajahnya.


Seketika Inka terkejut dan mencoba menetralkan detak jantungnya,laki-laki yang sudah menjadi suaminya berada tepat di depan wajahnya.


"Ma__mas mau apa?" ucap Inka gugup


Tidak ada jawaban dari mulut putra selain suara petir dan hujan yang menjadi pengiring situasi yang tidak biasa di antara keduanya.


Entah dorongan hati atau nafsu Putra semakin mendekatkan wajahnya lebih dekat dan tatapan matanya mengarah pada bibir mungil berwarna merah alami,sedetik kemudian Putra melakukannya,mencium bibir Inka dan melakukannya lebih dalam lagi tanpa berpikir si pemilik merasa terkejut.


Inka terdiam tidak tahu harus merespon atau menolak perbuatan Putra, hingga sejurus kemudian perbuatan Putra sudah tidak terkontrol dan melakukan apa yang ia inginkan.


Inka memilih pasrah toh mereka adalah suami istri yang sah di mata hukum dan agama,Inka menikmati apa yang Putra lakukan sampai hasrat itu tidak bisa tertahan wajar saja putra adalah pria normal yang menginginkan hal dewasa. Suasana hujan dan petir yang sesekali bersuara tak lupa lampu kamar yang temaram menyembunyikan berbagai ekspresi dari wajah keduanya.


Putra sudah berhasil melepaskan apa yang melekat pada tubuh istrinya,begitu juga dengan dirinya,sejenak ia melupakan raya yang menjadi fokus pikirannya sejak siang, bagaimana pun raya adalah wanita pertama yang mengisi hari-harinya,dan jika boleh jujur perasaan itu masih tersimpan kuat.


Lampu yang temaram benar-benar berhasil menyembunyikan wajah malu Inka karena harus membiarkan tubuhnya polos tanpa apapun,begitu juga ia menyadari bahwa putra juga dalam keadaan polos.


Naluriah ketika keduanya bisa melakukan hubungan intim tersebut,Putra memperlakukan malam ini dengan lembut,desahan demi desahan yang keluar dari bibir mungil Inka semakin membuatnya terbakar. Sampai detik hal klimaks itu tiba dan putra membuat kesalahan yang membuat hati Inka hancur berkeping-keping.


"Sebut namaku Ray..." ucap putra di saat keduanya mencapai puncak kenikmatan.

__ADS_1


Sejenak Inka mencoba mencerna teriakan penuh nafsu dari suaminya,sebuah intrupsi yang keluar dari mulut Putra agar memanggil namanya,tapi sayang nama raya menjadi penghancur. Rasa sakit yang dirasakan Inka menjadi berlipat-lipat,rasa sakit karena menyerahkan keperawanannya dan rasa sakit hati Inka karena tubuhnya hanya sebagai pemuas nafsu sedangkan hati Putra untuk wanita lain.


Kenikmatan yang semula Inka rasakan berubah menjadi kepahitan, airmatanya jatuh begitu saja tanpa menunggu perintah dari sang empunya. Suasana hujan dan lampu kamar yang gelap membuat putra tidak menyadari hal itu,bahkan mungkin teriakannya beberapa waktu tentang nama Raya, mungkin saja ia tidak mengingatnya.


Setelah aktivitas panas itu berakhir putra menjatuhkan tubuhnya kesamping,ia seolah melupakan apa yang sebenarnya terjadi,semua masalah yang dihadapi dan hari esok ,ah sejenak terbuang bersama peluh dan kini putra merasakan kepuasan batin,ia pun tertidur dalam hitungan detik.


Berbeda dengan Inka yang merasakan sesak di dadanya,begitu sakit dan takterperi kebahagiaan karena bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri hancur dalam waktu yang bersamaan,Inka menangis tanpa suara,dia meratapi hidupnya yang tidak pernah merasakan kebahagiaan utuh,Inka begitu terluka.


"Apa kamu tidak bisa berpura-pura mencintai ku mas, setidaknya jangan sebut nama wanita lain di hadapanku. Aku harus apa mas dengan hubungan ini,apa aku menyerah saja setelah apa yang kita lakukan malam ini" ucap Inka sambil menangis tanpa suara


Beberapa saat kemudian setelah Inka merasa tenang,ia membersihkan dirinya ke kamar mandi,suasana dingin di luar seperti tak terasa di tubuh Inka belum lagi kucuran air yang berasal dari keran shower dan laju airmatanya seolah jadi satu,dan Inka tidak perduli kalau tubuhnya sudah menggigil kedinginan.


Inka terus menangis dan mempertanyakan semua hal yang terjadi dalam hidupnya, tentang dia yang harus berpisah dengan ibu kandungnya, tentang Inka yang menerima penolakan dari keluarga sang ayah,tentang Inka yang tidak mendapatkan kasih sayang utuh dan tentang semua kepahitan lainnya.


Kesedihan seolah menjadi teman akrab yang tidak bisa di pisahkan,sempat senyum itu datang namun kesedihan yang datang begitu lebih besar.


Inka mengambil pakaian di dalam koper miliknya dan setelah mengenakannya Dia menjalankan shalat subuh dan mengadu rasa perihnya pada Allah, setelah cukup mengadu ia membaringkan tubuhnya diatas lantai, dengan derai air mata yang membasahi wajahnya hingga terlelap tidur.


Pagi menjelang putra terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa semalam ada yang terjadi,dia bergegas membersihkan diri dan menjalankan kewajibannya. Setelah selesai Putra melihat kearah tempat tidur ,ada bercak darah di seprai berwarna putih itu dan setelah itu ia melihat ke arah lain,yang tak lain adalah Inka, seingat Dia semalam Putra tidur bersama Inka.


"Sejak kapan dia pindah?"


Baru saja putra akan melangkahkan kakinya keluar, tiba-tiba ia mendengar suara rintihan,pelan namun masih bisa di dengar oleh Putra. Demi menghilangkan rasa penasarannya Dia pun menghampiri Inka,benar saja tubuhnya menggigil dan dipenuhi keringat dingin.


"Ya ampun badannya panas sekali," ucap Putra panik.

__ADS_1


"Inka bangun,ka kamu sepertinya demam. ka bangun" ucap putra yang masih mencoba membangunkan Inka.


Sadar bahwa Inka sedang demam tinggi akhirnya dia memindahkan Inka ke atas tempat tidur. Setelah memindahkan istrinya dia bergegas pergi ke dapur untuk meminta di buatkan bubur sama Bu Darmi.


"Bu kotak obat dimana?"


Bu Darmi yang sedang menyiapkan sarapan pun langsung menghampiri Putra.


"Ada di sebelah sana pak, memangnya siapa yang sakit?"


"Istri saya demam tinggi bu,tolong buatkan bubur untuk istri saya,"


"Baik pak"


Pukul setengah tujuh demam Inka sudah menurun,Putra tidak memanggil dokter dia berusaha menangani Inka sendiri, jika demam tidak turun Dia akan membawanya ke rumah sakit.


"Syukurlah demamnya sudah turun,kenapa Dia bisa demam seperti ini,apa mungkin efek penyatuan semalam?"


"Maafkan saya Inka karena mungkin saya menyakiti kamu dan melakukannya tanpa persetujuan kamu."


Saat Putra sedang berdialog dengan Inka yang sedang tertidur tiba-tiba hapenya berbunyi. Nomor baru,takut penting Putra pun mengangkatnya.


"Halo" diam tanpa ada sahutan


"Akhirnya aku menemukanmu"

__ADS_1


***


Jangan lupa dukungannya ❤️😊


__ADS_2