Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST36


__ADS_3

Inka sudah menaruh air seninya kedalam cup kecil dan dia pun melakukan instruksi sesuai yang ada di tespek itu. Menunggu beberapa menit,dan Inka masih berdoa dalam hati agar apapun hasilnya adalah yang terbaik.


3 menit sudah cukup bagi Inka untuk melihat hasilnya dan apa yang ia lihat saat ini membuatnya tak bisa membendung air matanya.


benda berukuran panjang itu menampilkan garis dua yang begitu jelas,Inka bukan perempuan yang tidak tau apa artinya itu,terlebih pembungkus tespek menjelaskan secara lengkap dan jelas ,satu garis untuk negatif dan dua garis untuk positif yang berarti sedang mengandung.


Inka merasakan perasaan yang bercampur aduk,bahagia dan juga sedih. Ditengah kemelut rumahtangga dan suami yang tidak mencintainya,hal itu membuat Inka serba salah mengatakan atau tidak. Kemungkinan buruk yang akan Inka terima adalah Putra tidak mau menerima anak yang di kandung seperti Dia yang tidak pernah di cintai sebagai seorang istri.


Namun bagaimana pun Inka harus menceritakan semuanya,namun menunggu waktu yang tepat,dan dia memilih untuk bercerita dengan Bu Darmi.


Inka keluar dari kamarnya dan mencari sosial wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Setelah menemukan Bu Darmi Inka langsung memeluknya dan menangis haru.


"Mbak Inka kenapa,kok menangis?" tanya Bu Darmi yang sedang menyapu halaman belakang


Inka pun menggelengkan kepalanya.


"Bu,aku ingin berbagi kebahagiaan dengan ibu" ucap Inka sambil menghapus airmatanya


"Maksud mbak Inka kebahagiaan apa?" tanya Bu Darmi penasaran.


"Bu, seperti dugaan ibu sebelumnya ternyata aku memang sedang mengandung bi" ucap Inka menceritakannya dengan haru


Bu Darmi yang sudah yakin dengan feeling sebagai seorang ibu yang tidak bisa diragukan lagi pun tidak terlalu kaget,dan hanya memberikan selamat dan doa.


"Alhamdulillah,selamat ya mbak semoga janin dan ibunya sehat terus sampai lahir kedunia"


"Aamiin,makasih ya Bu. Oiya jangan bilang-bilang mas putra dulu ya,aku ingin membicarakan semuanya di waktu yang tepat.


"Loh, memangnya kenapa mbak,ini kabar baik kenapa harus di tunda,saya yakin pak putra pasti senang mendengar kehamilan mbak Inka"


Inka terdiam.


"Saya tidak yakin mas putra akan senang dengan kehamilan saya,saya bukan wanita yang Dia cintai,bahkan adanya anak ini pun adalah sebuah kekeliruan untuk suami saya. "


Bu Darmi bingung harus merespon apa,ini ranah privasi,namun ia harus memberikan tanggapan agar Inka merasa tidak sendirian.

__ADS_1


"Mbak Inka yang sabar ya, semuanya sudah Allah atur,termasuk kebahagiaan dan kesedihan kita. Berdoa saja yang terbaik untuk rumah tangga mbak dan pak putra,semoga semuanya baik baik saja."


"Terima kasih Bu,hanya ibu yang memahami perasaan saya"


"Iya sama-sama mbak,Oiya apa tidak sebaiknya memeriksakan kehamilan mbak pada dokter kandungan"


"Hmmh nanti deh kalau ada waktu luang sekarang tugas kuliah ku numpuk gara-gara beberapa hari bolos kuliah ."


"Baiklah kalau seperti itu,mbak jangan terlalu kecapean,mbak harus mikirin kondisi tubuh mbak,karena saat ini mbak tidak sendiri,ada janin yang perlu mbak Inka Jagan dan lindungi."


"Baik Bu, terima kasih"


***


Menjelang malam putra sudah pulang lebih awal tidak seperti biasanya,Inka melihat sepertinya keadaan Putra baik-baik saja. Akhirnya dengan tekad yang bulat Inka akan memberitahukan tentang kehamilannya pada putra.


Pukul 8 malam setelah selesai makan,Inka meminta sedikit waktu Putra.


"Mas,ada yang ingin aku bicarakan" ucap Inka membuka suara.


"Tapi boleh tidak kalau mas fokus padaku dan mendengarkan apa yang akan aku sampaikan"


Putra pun menghentikan kegiatannya.


"Sepertinya sangat serius, sebaiknya kita berbicara di ruangan kerja saja"


"Baiklah, sepertinya itu lebih baik"


Keduanya pun berjalan bersisian, setelah berada di ruang kerja keheningan kembali menyeruak. Sampai akhirnya putra membuka .


"Kita sudah berada disini, memangnya apa yang ingin kamu bicarakan sepertinya sangat penting?"


Inka mengumpulkan keberanian lagi setelah rasa percaya dirinya sedikit berkurang.


"Kenapa kamu malah diam?"

__ADS_1


"Mas___" ucap Inka menghentikan ucapannya


"Kamu terlalu bertele-tele, sebenarnya apa yang ingin kamu ucapkan?


"Mas aku HAMIL" ucap Inka dalam satu tarikan nafas , setelah itu dia menundukkan kepalanya kebawah takut mendengar jawaban putra yang tidak menerima kehamilannya.


Putra duduk mematung mendengar penuturan yang di ucapkan oleh Putra.


"Bagaimana mungkin?" ucap putra


"Apa maksud mu mas dengan ucapan bagaimana mungkin ,apa aku terlihat seperti wanita nakal yang bisa hamil oleh banyak laki-laki?!" ucap Inka tersinggung karena hormon kehamilannya.


"Bukan begitu maksudku,kita melakukannya hanya sekali bagaimana mungkin bisa langsung hamil?" sahut putra menjelaskan


"Saat kau mengambil kesucian ku sepertinya itu masa suburku,pasti mas sudah tau apa artinya itu"


Putra pun mengangguk.


"Aku hanya ingin memberi tahu hal ini,tidak memaksa kamu untuk bertanggung jawab atau menyukainya,setidak aku sudah mengatakannya, masalah kamu mengakui atau tidak aku sudah mengikhlaskannya, seperti mas yang tidak akan pernah mencintai dan menerima ku" ucap Inka mengungkapkan isi hatinya.


Putra terkejut mendengar penuturan Inka, bagaimana bisa Inka bicara seperti itu seolah dirinya bukan laki-laki yang bertanggung jawab.


"Aku mengakuinya Inka,tapi beri aku waktu"


"Aku akan memberikan pengertian terlebih dahulu pada inka setelah itu aku akan menemui Raya dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya mengenai kehamilan Inka, berharap raya menerima dan menyerah untuk tetap mengejar Ku" ucap putra dalam hatinya


"Jangan memaksakan semuanya mas,aku sudah terbiasa hidup dalam situasi yang kurang berpihak padaku. dibenci,dikucilkan tak dianggap,kurang kasih sayang dan lainnya. Aku berharap jika aku tiada,ada tempat yang layak untuk aku singgahi,disini aku tidak punya tempat"


Putra merasa tercubit mendengar penuturan Inka.


"Mas,jika kamu ingin hidup dengan wanita yang kamu cintai, bertahanlah sampai anak ini lahir,aku akan menjelaskan pada orang tua ku bahwa pernikahan kita tidak baik-baik saja dan aku akan membuat alasan sebijak mungkin untuk membuat mereka mengerti dan tidak menyudutkan dirimu"


"Aku tidak ingin jadi penghalang kebahagiaan mu,kamu pun tidak perlu khawatir dengan anak ini,aku akan membawanya bersamaku,ia tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ibu sama seperti ku. Dan aku juga ingin membuat permohonan pada mu mas,tolong jangan ambil anakku seperti ayahku yang mengambilku dari ibuku." ucap Inka yang tidak bisa menahan laju airmatanya.


Putra tetap diam,dia bingung harus menjawab apa,dia sangat merasa bersalah dan juga iba akan semua ucapan yang di katakan oleh Inka. Akankah Dia menjadi penyebab luka selanjutnya untuk Inka.

__ADS_1


***


__ADS_2