
Kesabaran Arumi akhirnya membuat Rafa mau masuk ke dalam sekolah,hari sebelumnya Arumi sudah mendaftarkan rafa untuk masuk ke sekolah,kebetulan Tu di sekolah ini adalah tetangga Arumi.
Rafa mengekor dibelakang Arumi menghindari tatapan mata dari orang-orang, setelah sampai di depan kelasnya,Rafa langsung menduduki bangku di urutan no 3. Entah kenapa anak itu masih diam tak berani membuka suaranya.
"Rafa ibu tinggal ya,nanti pas pulang sekolah ibu jemput lagi?" Arumi sejujurnya ragu meninggalkan Rafa,namun hari ini banyak pesanan yang harus di kerjakan.
"Aku takut Bu" ucap Rafa yang belum menemukan kenyamanan saat berada di kelas
"Tapi ibu harus segera pergi untuk bekerja. Ibu janji akan kembali untuk menjemput kamu "
"Yasudah ibu boleh pergi" Mau tidak mau Rafa merelakan ibunya pergi,karena dia tahu ibunya harus mencari uang.
"Anak pintar,sekolah yang pintar ya, weekend nanti kita jalan-jalan ke taman hiburan,kamu mau?" hibur Arumi agar Rafa tidak murung.
Rafa hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Arumi langsung pergi meninggalkan sekolah.
Jam belajar akan segera di mulai Rafa masih pada posisinya menunduk dan menghindari tatapan mata dengan orang-orang yang ada di kelas itu. Tiba-tiba ada yang duduk di bangku yang sama dengan Rafa.
"Hai, perkenalkan namaku Arka" ucap arka memperkenalkan diri dengan memberikan tangannya untuk bersalaman
Rafa masih fokus menundukkan kepalanya,sampai akhirnya ia melihat sosok Arfa yang tidak menyerah untuk berkenalan dengan dirinya.
"Tangan ku pegal tolong terima perkenalan ku" Arka mengeluh karena belum mendapatkan respon dari Rafa
Rafa menerima uluran tangan Arka.
"Siapa namamu?" tanya Arka
"A__ku Rafa" sahut Rafa gugup
"Oh jadi nama kamu Rafa,kenapa dari tadi kami selalu menundukkan kepala,kamu seperti orang ketakutan?"
"Ti__tidak apa apa,aku hanya belum terbiasa saja"
"Apa kamu sudah memiliki teman?" tanya Arka penasaran
Rafa pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Yasudah mulai sekarang kita berteman ya?" ucap Arka meminta Rafa menjadi temannya
"Memang kamu mau berteman dengan aku?" tanya Rafa ragu
Sedangkan Arka begitu aneh dengan pertanyaan yang diberikan Rafa.
"Maksud kamu apa?" tanya Arka heran
"Orang-orang tidak mau berteman dengan ku hanya karena aku tidak memiliki seorang ayah" sahut Rafa kembali menundukkan kepalanya karena takut mendengar jawaban Arka.
"Ya ampun,apa mereka sejahat itu? kalau kamu takut tidak memiliki teman, mulai saat ini aku akan menjadi teman mu kalau perlu aku akan berbagi ayah dengan mu ," ucap polos arka namun sangat menyentuh.
Rafa pun melihat ke arah Arka seolah meminta penjelasan.
"Mulai hari ini dan seterusnya kita berteman."Ucap Arka meyakinkan.
"Kamu serius?" tanya Rafa masih tidak percaya ,bahwa di hari pertamanya masuk sekolah akan mendapatkan teman baik.
"Tentu saja"
Hari pertama masuk sekolah di lewati dengan penuh suka cita,tergambar jelas di wajah yang masih polos dan lucu itu. Rafa memilih pamit lebih dulu,karena ibunya berpesan agar Rafa menunggu di pos satpam,kata ibu agar lebih mudah saat menjemput.
Sedangkan Arka,memilih menunggu di ruang tunggu sekolah bersama mbak Ayu, sebentar lagi ayahnya akan me jemput. Hari ini orang tua Arka dan Rafa sepertinya sedikit terlambat menjemput,suasana sekolah sudah sepi hanya ada beberapa petugas kebersihan dan guru yang belum meninggalkan sekolah.
Lama menunggu akhirnya Putra datang menjemput Arka.
"Sayang,maafkan Ayah sedikit terlambat me jemput mu,tadi ada meeting yang tidak bisa di tunda" Putra sedikit menjelaskan karena khawatir kalau Arka akan merajuk dan marah.
"Ya sudah tidak apa-apa,ayo kita pulang" sahut Arka singkat karena merasa lelah karena terlalu lama menunggu.
Saat mereka akan meninggalkan halaman sekolah Arka masih melihat keberadaan Rafa yang belum di jemput oleh ibunya.
"Yah,tunggu sepertinya itu teman baru ku" intrupsi Rafa meminta sang ayah untuk memberhentikan laju kendaraannya.
"Siapa nak?" tanya Putra sambil mengalihkan tatapannya pada apa yang dilihat Arka.
Arka pun membuka jendela mobilnya,dan menyapa Rafa yang mulai kebosanan menunggu sang ibu.
__ADS_1
"Rafa,kamu masih di sini?" tanya Arka mengejutkan Rafa yang hampir mengantuk.
"Ehh Arka,ibu ku belum menjemput ku, sepertinya Dia sedang sibuk dengan pekerjaannya" Rafa tau kalau sang ibu sering kali memberikan pengertian jika ia telat kembali dari pekerjaannya, pasti tak lain karena kesibukan sang ibu.
"Hmmh, bagaimana kalau kamu ikut dengan ku saja,kita main dulu di rumah ku,nanti aku antar kan pulang ke rumah mu" ajak Arka pada Rafa " Bolehkan yah?" tanya Arka meminta izin
"Ya sudah ,ajak teman mu masuk ke dalam mobil,tapi sebelum itu biar ayah berbicara dengan pak satpam. Ayah takut ibunya mencari teman mu
"Iya ,ayah."
Putra pun berbicara panjang lebar dengan pak satpam dan meninggalkan kartu nama dirinya ,Putra berpikiran kalau orangtuanya pasti panik karena tidak mendapati keberadaan anaknya.
"Saya titip kartu nama saya dan ini adalah nomor pribadi milik saya,nanti kalau orang tua anak ini mencarinya berikan saja kartu nama ini,bahkan alamat saya pun tertulis jelas."
"Baik pak,saya percaya. Saya yakin anak itu aman bersama bapak" sahut pak satpam sekolah
"Yasudah saya pamit pak"
"Silahkan pak,"
Rafa kini sudah berada di dalam mobil. Arka tidak sekalem saat tadi tidak bersama Rafa,saat ini dia lebih banyak tertawa dan bercanda.
"Nama kamu siapa nak?" tanya Putra saat Rafa dan Arka tengah bercanda.
"Hhmhh,namaku Rafa om" sahutnya malu-malu
"Oh Rafa, perkenalkan om ayahnya Arka"
"Iya,om. Aku merepotkan om ya?"
"Tidak ko,cuma om penasaran sudah siang begini kamu belum di jemput. Ayah kamu pasti sibuk ya? sama seperti om" ucap Putra belum mengetahui kalau Rafa tidak memiliki ayah.
Rafa menundukkan kepalanya,bocah 5 tahun itu merasa sedih dengan pertanyaan yang lagi-lagi membuatnya tidak percaya diri. Namun sesaat kemudian Arka langsung menaruh telunjuknya diatas bibir lalu menghalau sang ayah, untuk tidak bicara lebih banyak lagi. Putra merasa heran dengan tingkah sang anak,dan akhirnya putra menyadari bahwa ucapannya sudah menyinggung Rafa.
"Maafkan ayahku ya,Ayah tidak tahu kalau kamu tidak memiliki ayah. Kamu jangan sedih aku pun sama seperti mu yang kehilangan salah satu orang tua ku,bedanya aku kehilangan ibu,dan kamu kehilangan ayah. Bagaimana kalau kita menyatukan ayahku dan ibumu jadi kita sama-sama memiliki ayah dan ibu?"
Perkataan polos arka membuat Rafa yang sedang menunduk langsung meluruskan pandangannya,seolah setuju dengan pendapat Arka. Sedangkan Putra merasa terkejut dengan ucapan sang anak, bagaimana bisa pertanyaannya menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri.
__ADS_1