Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST40


__ADS_3

"Pasien sedang mengandung selama 10 Minggu selain itu dia juga di diagnosa menderita kanker darah stadium lanjut" ucap dokter membacakan kesimpulan dari hasil pemeriksaan Inka


Arya dan Rahmi begitu terkejut mendengar penjelasan sang dokter,Rahmi tidak menyangka bahwa anak yang selama ini dia cari begitu di penuhi dengan nasib malang,kanker? seperti Dejavu mengingat Airin dulu.


Mengetahui seberapa parah penyakit Inka,Arya langsung mencari informasi tentang rumah sakit yang menangani pasien kanker. Ibu Rahmi meminta Arya mencari pengobatan yang terbaik untuk anak keponakannya yang tak lain sudah seperti cucunya sendiri. Rahmi tidak ingin kehilangan keluarga yang baru saja ia temukan,sebisa mungkin keduanya akan membantu proses penyembuhan Inka.


Inka sudah sadar dari pingsannya dan mencoba membuka matanya, kepalanya sedikit pusing dan perut Inka sangat mual.


"Kenapa aku ada disini?"


"Kamu sudah bangun sayang?" ucap Rahmi


Inka hanya mengangguk.


"Tadi kamu pingsan sayang,dan dokter sudah memeriksa keadaan kamu. Nak,mulai saat ini tinggal lah bersama Oma dan Arya. Ya mulai saat ini aku adalah oma mu dan Arya adalah om mu ,terserah kau mau memanggil nya kakak atau apapun" ucap Rahmi


Inka terlihat bingung.


"Kami sudah mengetahui perihal penyakit kamu dan juga bayi yang kamu kandung,Oma mohon izinkan Oma merawat kamu dan memberikan kehidupan yang layak untuk kamu"


"Tapi aku punya suami ,Bu"


"Oma,sayang panggil ibu ini Oma" ucap Rahmi


"Iya,o__ma"


"Suami mu? bukankah dia tidak perduli dengan dirimu dan juga anak yang kamu kandung? kenapa kamu masih berharap dengan suami yang tidak bertanggung jawab?"


Inka menundukkan kepalanya,semua yang di katakan oleh Oma nya adalah sebuah kebenaran,Putra tidak pernah perduli sedikitpun dengan keadaan Inka dan bayi yang di kandungnya. Mengingat hal itu Inka merasa begitu hina sebagai seorang istri.


"Bagaimana sayang?"tanya Rahmi kembali


Inka pun menganggukkan kepalanya,tanda bahwa dia menyetujui untuk tinggal bersama Rahmi dan Arya. Inka beranggapan bahwa umurnya tidak akan lama lagi,sebelum Dia benar-benar pergi, setidaknya dia berada di tempat orang-orang yang menginginkannya.


"Namun sebelum itu,bolehkah aku berpamitan dengan seseorang yang sudah membantuku ?" ucap Inka


"Siapa Dia,kalau kamu mau,kamu boleh membawanya ikut dengan kita"


"Tidak,mereka adalah pekerja di rumah yang aku tinggali. Mereka tidak bisa aku ajak,karena aku hanya menumpang di rumah majikan keduanya, setidaknya aku ingin pamit dan mengucapkan terima kasih."

__ADS_1


"Baiklah kalau seperti itu,Oma akan mengantar kamu"


"Tidak perlu Oma,aku bisa pergi sendiri"


"Jangan membantah sayang,kamu sedang sakit,Oma antar kamu atau jangan pergi sekalian"


"Baiklah,Oma"


Hari ini Arya sedang di sibukkan dengan meeting di perusahaannya, perusahaan yang bergerak di bidang properti yang ia rintis oleh almarhum ayahnya,dan sejak lulus kuliah Arya meneruskannya dan membuatnya menjadi semakin besar. Selain sebagai CEO,Arya pun memutuskan untuk menjadi dosen di sela-sela kesibukannya mengurus perusahaan,karena menurutnya sangat menyenangkan bisa berbagi ilmu pengetahuan,dan mengajarkan mahasiswanya sukses di usia muda.


Rahmi sudah meminta izin pada putra semata wayangnya,dan Arya menyetujuinya terlebih saat ibu Rahmi mengatakan kalau Inka akan tinggal bersama mereka berdua.


Pukul 3 sore Inka dan Bu Rahmi di antar oleh supir untuk berpamitan pada kedua asisten yang selama beberapa bulan ini sudah berbaik hati mengurusnya.


Satu jam kemudian keduanya sudah sampai,satpam di rumah itu membukakan gerbang setelah tau siapa yang ada di dalam mobil. Pak Diman yang sedang mengelap mobil pun menghentikan aktivitasnya karena penasaran dengan kedatangan mobil mewah kedalam rumah majikannya.


Setelah beberapa saat keluar lah seseorang yang pak Diman kenali.


"Mbak Inka,saya pikir siapa? mbak dari mana saja hampir seharian pergi,kami telponin hp mbak nggak aktif"


"Iya pak ,maaf"


Tak lama turunlah Bu Rahmi dari mobilnya,dan menghampiri keduanya.


"Oh ini,bapak yang sering mengantarkan kamu kemana saja. Salam kenal pak,terima kasih sudah menjaga Inka dengan baik" ucap Bu Rahmi yang membuat pak Diman bingung dengan sosok asing di hadapannya.


"I__iya Bu,sudah tugas saya"


"Yasudah ,yu masuk Oma,"


"Iya sayang"


"Oiya pak Diman,apa mas Putra belum kembali?" tanya Inka sambil melangkah kedalam rumah.


Dengan wajah yang merasa iba pak Diman pun menggelengkan kepalanya.


"Yasudah,tidak apa-apa, mungkin dia sedang sibuk mengurus perusahaannya di kota"


Inka pun masuk kedalam rumah,dan tak lama ia melihat Bu Darmi yang baru selesai bebersih dari kamar belakang.

__ADS_1


"Bu Darmi" panggil Inka.


"Eh mbak Inka,kemana saja mbak baru pulang kami khawatir mbak kenapa-kenapa"


"Saya baik-baik saja Bu,oiya perkenalkan ini Oma saya"


Bu Darmi pun terlihat sungkan karena dari penampilannya wanita paruh baya ini bukan orang sembarangan.


"Darmi Bu," ucap Bu Darmi


"Saya Rahmi,Omanya Inka. Terima kasih selama ini telah membantu Inka,saya bersyukur dengan adanya kalian"


"Sama-sama Bu,sudah kewajiban kami."


"Sayang,hari sudah sore Ambi apa yang ingin kamu bawa dan kita harus cepat pulang,kamu juga perlu istirahat" ucap Bu Darmi pada inka.


Inka pun mengangguk dan masuk ke dalam kamar tamu.


"Oma disini dulu ya? "


"Bu,tolong temani Oma saya"


"Iya sayang" sahut Bu Rahmi


"Baik mbak" ucap Bu Darmi


Inka pun masuk kedalam kamar miliknya dan mengambil koper yang pertama kali dia bawa,Inka memasukan semua barang-barang miliknya tidak ada yang tersisa satu pun kecuali kotak beludru berwarna merah. Sebelum keluar kamar Inka menulis sebuah surat.


...Assalamualaikum Mas....


Semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja,sudah lama ya kita tidak bertegur sapa atau melihat satu sama lain,bahkan hape dalam genggaman ku pun begitu senyap.


Mas, sepertinya aku menyerah dengan pernikahan kita,aku tidak bisa membuatmu mencintai ku,dan aku semakin merasa bersalah karena menjadi orang ketiga di antara mas putra dan Bu Raya.


Mulai saat ini mas tidak perlu khawatir lagi dengan ku dan anak dalam kandungan ku,aku berjanji akan menjaganya dengan baik bahkan aku rela mempertaruhkan hidup ku untuk anak dalam kandungan ku ini.


Aku pamit mas,jaga dirimu baik-baik,aku berdoa untuk kebahagiaan mas dan Bu raya. Aku mengembalikan cincin pernikahan dan semua yang pernah kamu berikan,aku merasa tidak layak menerima. Berbahagialah mas,semoga kita masih memiliki kesempatan untuk saling bertemu.


...Inka Amira...

__ADS_1


***


Semoga sebelum akhir tahun sudah selesai ya.🙏


__ADS_2