Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST18


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sebentar lagi aku akan meninggalkan sekolah ini,segala macam suka cita pernah aku rasakan,bahkan tentang perasaanku terhadap salah satu guru. Terlepas dari itu semua, kebahagiaan ku adalah saat Ibu tiriku sudah menerima ku sepenuhnya.


Beberapa hari yang lalu aku di kunjungi oleh ayah dan ibunya,mereka memeluk ku penuh cinta, nampaknya kepergianku untuk melanjutkan sekolah dan mengambil beasiswa bukanlah keputusan yang salah.


Saat ini aku sedang fokus untuk belajar,karena sebentar lagi akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Aku memiliki rencana yang sudah dipikirkan,saat nanti lulus sekolah aku akan langsung mendaftar ke perguruan tinggi, setelah itu melamar pekerjaan untuk menghasilkan uang sendiri.


Semenjak kejadian waktu itu ,dan kesibukan ku sebagai salah satu siswi di organisasi sekolah,membuat aku melupakan sejenak perasaan ku pada guruku,hal itu memang tidak seharusnya terjadi.


**


Hari ini Susana sekolah sedikit gaduh,banyak siswi yang membicarakan tentang pertunangan seorang guru,aku sebenarnya tidak peduli toh itu hak orang dewasa untuk meresmikan sebuah hubungan kejenjang yang lebih serius. Namun ke tidak pedulian ku seketika berubah,saat aku mendengar bahwa yang bertunangan adalah Pak Putra dan Bu Raya,ada rasa sakit di sudut hati,entah ini wajar atau tidak namun aku merasakan perih.


Setiap jalan menuju kelas ,semua siswi membicarakan hal ini, nampaknya hari ini patah hati masal di Asrama Putri Harapan Bangsa. Aku menyembunyikan kesedihan itu,memilih untuk menikmati rasa sedih sendirian, cukup hatiku yang berdebat di dalam sana dan bibir ku harus tetap tersenyum.


Selang beberapa hari Pak Putra sudah kembali mengajar setelah 3 hari dia tidak masuk sekolah, mungkin karena kesibukannya mempersiapkan hari paling bersejarah dalam hidupnya. Pak putra masuk ke dalam kelas dengan raut wajah seperti biasanya,wajah datar tanpa ekspresi.


Menyapa para siswi dan memulia pembelajaran seperti biasanya. Namun kali ini ada yang tidak biasa perhatian ku tertuju pada jari manis milik pak putra,ada cincin yang melingkar di jari manis,hal itu semakin memperkuat bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk hati lain singgah, alangkah baiknya menyerah.


Ternyata bukan aku saja yang memperhatikan, ternyata teman-teman sekelas ku pun ikut memperhatikan bahkan tak segan bagi mereka untuk bertanya.


"Pak bagaimana acara pertunangan bapak lancar?"


"Kenapa pertunangan dilakukan secara mendadak?"


"Apa bapak berniat melakukan pernikahan dalam waktu dekat?"


Dan masih banyak lagi pertanyaan yang di lontarkan oleh para siswi, sedangkan aku fokus pada buku yang aku baca, berpura-pura tidak peduli adalah hal menyelamatkan aku untuk saat ini.


Tak satupun pertanyaan para siswi di jawab ,pak putra malah memulai pelajaran dan sedikit mengancam akan mengurangi nilai bila keadaan kelas masih gaduh dengan pertanyaan yang tidak penting.


Saat aku menulis dan mendengarkan penjelasan yang di terangkan oleh pak Putra,sejenak tatapan kami saling bertemu,dan aku langsung mengalihkan pandangan ku ke arah Gigi,Dia sibuk bertanya dan merengek karena tidak mengerti dengan penjelasan guru,kali ini aku bersyukur pada tingkah gigi .


Tugas dan tugas itulah yang di berikan di sisa akhir kami di kelas 11,aku ingin segera lulus dan meninggalkan asrama ini, seperti kehidupan di luar cukup menantang.


"Inka,saya rasa kamu sudah tidak sibuk lagi,tolong kumpulkan tugas teman-teman kamu dan bawa ke ruangan saya, sekarang juga!" ucap pak putra dan pergi begitu saja setelah mengucapkan salam.


Mau tidak mau aku pun melakukan perintahnya.


"Baik pak.


Tugas teman-teman ku sudah di tangan dan kini tinggal usahaku membawa tugas ini ke ruangan pak Putra, ruangan yang hampir beberapa minggu ini aku hindari.


"Semangat Inka" begitulah Lala berucap seolah aku akan pergi berperang.


Langkah demi langkah seolah berat untuk ku, kebodohan ku adalah bermain rasa, ternyata setelah sakit ini. Saat sudah di depan ruangan pak Putra,aku tak sengaja melihat Bu Raya keluar dari sana,entah apa yang mereka lakukan namun Bu Raya terlihat senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Tok ... tok


"Masuk"


"Permisi pak,ini tugas yang bapak minta untuk di kumpulkan"


"O iya silahkan taruh di atas meja saya saja,"


"Baik pak,"


Aku pun menaruh tugas itu di atas mejanya dan ingin segera keluar dari sana.


"Kalau gitu saya permisi pak,"


"Tunggu" ucap pak putra menghentikan langkahku.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu lagi?" ucapku bertanya


"Tidak ada,saya hanya merasa senang saja bisa melihat kamu kembali, bagaimana kabar kamu,saya dengar akhir-akhir ini kamu sibuk ya?"


Aku terkejut dengan apa yang di katakan Pak Putra,apa maksudnya bicara seperti itu membuat aku berbunga-bunga saja,namun secepatnya aku tersadar bahwa hal itu tidak baik.


"Iya pak ,karena saya siswi beasiswa jadi harus ikut berpartisipasi dalam semua kegiatan,dan alhamdulillah kabar saya baik. O iya selamat ya pak atas pertunangannya,saya ikut senang mendengarnya"


"Hmh Terima kasih" sahutnya singkat


"Kenapa kamu terkesan menghindar dari saya,apa saya memiliki salah?" tanya pak putra tiba-tiba.


Aku sedikit terkejut, bingung harus menjawab apa.


"Itu hanya perasaan bapak saja, seperti yang bapak tahu saya memang sedang si sibukkan dengan kegiatan sekolah"


"Benarkah?"


"Memangnya apalagi pak? saya benar-benar sedang sibuk dengan kegiatan sekolah"


"Apa kamu kecewa mendengar saya bertunangan secara tiba-tiba?" ucap pak Putra tiba tiba yang membuatku tersenyum miris.


"Kenapa saya harus kecewa pak? toh itu hak bapak"


"Baiklah mungkin itu perasaan saya saja,kamu boleh kembali ke kelas kamu"


Aku sedikit terdiam , mencerna apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pak Putra.


"Baik pak"


Aku pun meninggalkan ruangan pak Putra dengan perasaan yang tidak karuan,apa yang sebenarnya coba di katakan oleh pak Putra,kenapa dia membuat ku bertanya-tanya,ah bodo amat.

__ADS_1


***


Sebelum Inka masuk ke ruangan Putra..


Raya berjalan dengan anggun dan senyum yang tak lepas dari bibirnya, akhirnya dia sudah resmi menjadi tunangan Putra. Dan sekarang Raya sedang berjalan ke arah ruangan putra.


Tok...tok


"Masuk"


"Selamat siang ,sayang." ucap raya menyapa tunangannya.


"Selamat siang,Ray. Kita masih ada di lingkungan sekolah sebaiknya kamu memanggil ku seperti biasanya saja,tidak enak kalau ada yang mendengar."


"Tapi kan kita ada di dalam ruangan milik kamu,tidak akan ada yang mendengarnya"


"Hhmh terserah kamu saja,Put papa ku ingin bertemu dengan kamu"


Putra yang sedang memeriksa tugas siswinya pun melihat ke arah Raya.


"Ada apa?"


"Entahlah, mungkin ingin membahas pernikahan kita"


"Apa kamu yakin Ray,papa mu benar-benar mengijinkan kita menikah, sedangkan kamu baru menyelesaikan pendidikan kamu. Aku tidak yakin akan semudah itu" ucap putra putus asa.


"Maksud kamu apa?"


"Sejujurnya sejak awal aku sudah tidak yakin dengan hubungan ini,kamu anak satu-satunya dan harapan keluarga kamu,mana mungkin papa mu akan melepaskan kamu pada laki-laki seperti aku"


"Put,kamu jangan pesimis seperti ini. Aku sudah berjuang untuk kita bisa ketahap pertunangan dan aku harap kamu pun berjuang untuk kita ke jenjang pernikahan"


"Aku tidak sepercaya diri itu Ray"


"Put,apa perjuangan mu hanya sampai di sini saja,apa jangan-jangan kamu tidak sedikit pun mencintai aku?"


"Perasaan ku sejak dulu tetap sama,hanya saja rasa percaya diriku yang berkurang. Apa kamu yakin kalau kita bisa melewati ini?"


"Bersamamu aku yakin put,"


"Baiklah,aku akan berjuang untuk hubungan kita"


"Nah gitu dong,aku bahagia mendengarnya, kalau begitu aku pamit kembali ke ruangan ku,sampai jumpa nanti malam."


"Baiklah,sampai jumpa nanti.


Raya pun meninggalkan ruangan Putra dengan perasaan senang. Senang karena putra ingin memperjuangkan hubungan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2