Surat Terakhir

Surat Terakhir
ST22


__ADS_3

Pertemuan demi pertemuan menjadikan hubungan keluarga Erwin dan Putra semakin akrab. Erwin menyukai sosok putra yang dewasa dan bertanggung jawab, apalagi terlihat dari ia mengurus ibunya.


Ibu Maya dan Bu Puri saling bertukar kabar dan sesekali keduanya saling berkunjung,Inka yang selalu menjadi bahan pembicaraan antara ibunya dan juga Ibu Puri.


"Bagaimana kalau kita jodohkan saja anak-anak kita, sepertinya mereka sangat serasi." ucap Bu Puri membuka obrolan


"Wah ,saya setuju Bu. Tapi kita tanya anak-anak kita dulu ya, takutnya mereka tidak sejalan dengan kita" sahut Bu Maya bahagia


Inka yang mendengar pembicaraan keduanya nampak tak bisa berkata-kata,entah dia harus bahagia atau bersikap biasa saja. Putra masih menjadi sosok utama yang bertahta di hati Inka, cinta pandangan pertama memang tidak mudah di lupakan, apalagi alam seolah berpihak karena kedekatan keluarga mereka.


Berbeda dengan putra yang seolah pasrah dan mengikuti keinginan sang ibu. Dia tidak ingin mengecewakan sang ibu dan lebih memilih pasrah dengan siapa dia di jodohkan,karena menurutnya akan buang-buang waktu jika ia mencari sendiri pendamping hidup, walaupun harus mengorbankan perasaan.


***


Semua keluarga sepakat untuk keduanya bertunangan, setelah usia Inka genap 20 tahun maka mereka akan menikah. Namun rencana bisa saja berubah sewaktu-waktu,karena Bu Puri sudah tidak sabar ingin memiliki cucu.


"Pak Erwin,apa boleh kalau rencana pernikahan anak kita di percepat saja" ucap Bu Puri


"Tapi Bu,anak saya masih kuliah dan usianya baru menginjak 18 tahun"


"Menikah tidak akan menghentikan pendidikan Inka pak,saya yakin anak-anak kita bisa sukses di karir dan juga rumah tangga"


Pak Erwin nampak menimbang-nimbang ucapan Bu Puri,di satu sisi dia tidak ingin melepas anaknya dengan cepat,namun di sisi lain pak Erwin tidak yakin bisa menemukan orang yang tepat untuk mendampingi anaknya,Dia sudah terlanjur percaya dengan sosok Putra.


"Nak, katakan lah jika kamu ingin menikahi Inka secepatnya,ibu sudah tidak muda lagi untuk menunggu. Ibu takut waktu ibu tidak banyak" bisik ibu Puri pada putranya.


Putra merasa tertekan dengan ucapan ibunya,ingin rasanya Putra membantah namun sesuai janjinya. Putra akan bersedia menikah dengan siapapun dan tidak akan mengecewakan ibunya. Dengan berat hati Putra merangkai kata untuk meyakinkan pak Erwin agar bisa menikahi putrinya.


"Benar apa yang dikatakan oleh ibu saya,jika bapak mengijinkan,saya ingin meminang Putri bapak untuk menjadi istri saya" ucap Putra


"Apa kamu serius Put?" tanya pak Erwin


"Benar pak,saya serius untuk menjadikan anak bapak sebagai pendamping hidup saya"


"Sebaiknya saya tanya Inka terlebih dahulu"

__ADS_1


Tatapan mata pun beralih melihat kearah Inka,seolah meminta jawaban atas pertanyaan yang di ajukan oleh Putra.


"Nak,apa kamu berniat menikah muda dan menjadikan Putra sebagai pendamping mu? ayah tidak akan memaksa, semuanya ayah kembalikan padamu,yang terpenting adalah kebahagiaan mu" ucap Erwin berbicara ke arah putrinya


Lama Inka terdiam seperti menimang kata yang akan dia ucapkan,tak ingin gegabah dan salah langkah dalam mengambil keputusan.


Inka tetap diam sampai akhir pak Erwin menyadarkan putrinya.


"Bagaimana nak?"


"Yah, sejujurnya aku sangat bahagia ketika Pak Putra meminang ku secara langsung pada ayah,namun sebelum aku memutuskan langkah selanjutnya aku ingin lebih dulu bertanya pada pak Putra"


"Tanyakanlah nak"


"Baiklah. Jadi yang ingin aku tanyakan adalah,apa Pak putra berniat menikahi saya tanpa paksaan dari siapapun dan tulus dari hati bapak? Saya tidak ingin mendengar penyesalan di kemudian hari,jadi saya harap bapak melakukan ini karena bapak tulus ingin menikahi saya bukan karena yang lainnya."


Inka bertanya demikian karena Dia tau perjalanan cinta pak Putra sangatlah rumit,jadi Dia tidak mungkin begitu saja menjalin hubungan dengan wanita lain, sedangkan hatinya masih tertinggal di sana.


Putra sempat terkejut mendengar apa yang ditanyakan oleh Inka,namun secepat mungkin Dia bersikap biasa saja dan menjawab apa yang ditanyakan oleh Inka.


"Saya tahu ajakan menikah ini terlalu cepat,dan kamu pasti meragukannya. Namun saya akan berkomitmen dalam hubungan yang akan kita bina nanti, meskipun kita harus memulai semuanya dari awal, termasuk masalah perasaan. Jika kamu mau berjuang bersama ,dan membangun rumah tangga sesuai harapan kita,maka kita akan melakukannya" ucap Putra penuh keyakinan


"Baiklah,dengan mengucapkan bismillah Inka menerima lamaran Pak Putra dan bersedia mendampingi sampai maut memisahkan"


"Alhamdulillah," jawaban serentak keluarga besar.


Hari ini sudah di putuskan bahwa keduanya akan mengadakan acara akad 1 bulan dari sekarang. Inka sangat bahagia,akhirnya Dia bisa bersanding dengan laki-laki yang sejak awal bertahta di hatinya .


Sedangkan ekspresi wajah Putra tidak terbaca apakah dia bahagia ataupun tidak. Seusai acara lamaran selesai dilakukan dan hari bahagia di tentukan,semua keluarga mulai menyusun rencana untuk menciptakan pernikahan impian bagi keduanya.


***


Sesampainya di rumah putra langsung masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Banyak hal yang menjadi beban pikirannya, bagaimana bisa Dia memutuskan menikah dengan mantan muridnya selain itu usia mereka terpaut cukup jauh. Putra seperti memakan buah simalakama.


Ia pun terlelap dan melupakan sejenak apa yang akan terjadi besok, berharap semuanya hanya mimpi,dan akan hilang ketika ia terbangun nanti.

__ADS_1


Sedangkan di kamar Inka, gadis cantik itu nampak diliputi kebahagiaan, bagaimana tidak bahagia kalau laki-laki yang Dia cintai akan menjadi imam dalam rumahtangganya.


"Aku berjanji akan menjadi istri yang baik,istri yang patuh dan menghormati suami. Terima kasih Ya Allah sudah mengabulkan semua do'a ku"


Inka pun memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya,karena beberapa hari ini Dia harus menggantikan ibunya pergi ke toko. Semenjak Bu Maya sakit hampir sebagian urusan toko Inka yang urus. Akhir-akhir ini Inka sering merasakan pusing yang berlebihan namun saat Dia meminum obat dan mengistirahatkan tubuhnya semuanya baik-baik saja,wajar saja Dia harus membagi urusan toko dengan kuliahnya.


***


Pagi ini Inka pergi ke kampus dan di antar oleh pak Putra. Tadi setelah shalat subuh Dia menghubungi Inka untuk memberi tahu bahwa pagi ini dia akan menjemput Inka.


Setelah berpamitan pada kedua orangtuanya dan kedua adiknya,Inka dan Putra pun sudah berada di dalam mobil untuk berangkat menuju kampus.


"Pak,apa tidak merepotkan ? pagi-pagi seperti ini bapak sudah menjemput saya"


"Saya tidak repot, kebetulan satu arah menuju sekolah tempat saya mengajar"


"Apa bapak masih mengajar di Asrama?"


"Masih,namun tidak terikat kontrak seperti waktu itu. Dan saya sambil menjalankan usaha keluarga saya"


"Oiya,apa Minggu besok bapak mau mengantar saya memilih undangan?"


"Panggilan kamu ke saya terlalu formal bagaimana kalau menggantinya. Saya merasa tidak nyaman"


"Baiklah,tapi saya harus memanggil bapak apa? "


"Terserah kamu"


"Bagaimana kalau Mas saja?"


"Tidak buruk,saya setuju"


"Mas juga harus berhenti berbicara formal. Saya ... saya"


Putra sedikit tersenyum mendengar ocehan Inka,tidak di sangka bahwa Dia akan menikahi muridnya sendiri. Bisakah Dia memulai semuanya dengan baik,dan bisa menjadi suami Inka sampai akhir.

__ADS_1


***


Surat terakhir tidak akan sampai 50 bab. Jadi jangan bosan buat baca cerita ini dan berikan dukungan kalian buat aku . Terima kasih ❤️


__ADS_2